Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Relevansi Uni Eropa Dengan Teori Optimum Currency Area

Relevansi Uni Eropa Dengan Teori Optimum Currency Area

Ratings: (0)|Views: 426|Likes:
Published by Erika Angelika

More info:

Published by: Erika Angelika on May 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2014

pdf

text

original

 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
Tugas Counter Review IV Mata Kuliah Rezim Keuangan Internasional
Nama : ErikaNPM : 0706291243Sumber Bacaan : Frankel, Jeffrey A. 1999.
 No Single Currency Regime is Right for All Countries or at All Times
. NBER WorkingPaper 7338.
Relevansi Uni Eropa dengan Teori
Optimum Currency Area
Keputusan suatu negara dalam memilih suatu bentuk rejim nilai tukar (
exchange rate regime
)merupakan pilihan yang sangat penting karena akan menentukan kehidupan perekonomian negara tersebut.Pembahasan mengenai rejim nilai tukar inilah yang kemudian dibahas lebih lanjut oleh Jeffrey A. Frankel
dalam tulisannya yang berjudul “
 No Single Currency Regime is Right for all Countries or at All Times
”. Dalam
tulisannya, Frankel menyebutkan 9 tipe pengaturan nilai tukar, mulai dari yang paling ketat hingga yang palingbebas. Sembilan tipe rejim nilai tukar tersebut adalah
currency union
,
currency board 
,
“truly fixed” exchange
rate, adjustable peg, crawling peg, basket peg, target zone
atau
band, managed float 
, dan yang terakhir adalah
 free float 
.Dalam praktiknya, hanya 47 negara dunia yang menerapkan rejim nilai tukar tetap (
 fixed exchangerate
) dan 45 menerapkan rejim nilai tukar mengambang
(floating exchange rate
), sementara 93 sisanyamenerapkan rejim transisi (
intermediate regime
). Frankel mengatakan walaupun kenyataannya mayoritasnegara dunia menerapkan rejim transisi, tetapi pada akhirnya eksistensi rejim transisi tersebut perlahan-lahanakan memudar karena para investor kemudian akan menuntut sebuah transparansi yang memaksa negara untuk memilih antara rejim tetap atau rejim mengambang. Frankel juga membahas mengenai perbandingan rejimtetap dan rejim mengambang dari sisi keuntungan yang akan didapat suatu negara bila ia menerapkan rejimtersebut. Rejim tetap, misalnya, akan memberikan dua keuntungan berupa pengurangan biaya transaksi danresiko nilai tukar yang pada akhirnya akan meningkatkan perdagangan dan investasi yang masuk, serta akanmemberikan kesan adanya kebijakan moneter yang terpercaya di suatu negara pada dunia internasional.Sementara rejim mengambang akan memberikan keuntungan berupa tercapainya kondisi kebijakan moneteryang independen bagi suatu negara. Akan tetapi, dalam praktiknya, keuntungan yang didapat tersebut akanbersifat
trade-off 
karena itu tidak heran bila Frankel mengatakan bahwa tidak ada suatu rejim nilai tukar yangbersifat strategis bagi semua negara di semua kondisi.Lantas, bila tidak ada suatu rejim nilai tukar yang dapat diterapkan di semua negara, bagaimana negaradapat memilih rejim apa yang paling baik diterapkan untuk negaranya? Dalam menjawab pertanyaan ini,Frankel menggunakan teori
Optimum Currency Area
(OCA). OCA sendiri dimengerti sebagai sebuah wilayahyang tidak terlalu kecil sehingga ia akan cenderung menggantungkan mata uangnya pada mata uang wilayahtetangganya, ataupun tidak terlalu besar yang kemudian menjadikan wilayah tersebut lebih baik dipecah
 
Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . UniversitasIndonesia
menjadi
sub-region
dengan mata uang yang berbeda-beda. Dalam mendeksripsikan sebuah OCA, unsur yangpenting adalah keterbukaan, di mana dalam wilayah tersebut terdapat integrasi ekonomi yang kuat daninterdependensi antar negara yang memaksa mereka untuk menerapkan rejim nilai tukar yang sama. Adapundua faktor yang menentukan grafik OCA adalah faktor integrasi perdagangan dan faktor korelasi pendapatan, dimana faktor pertama memiliki hubungan positif dengan garis OCA, dan faktor kedua sebaliknya. Frankelmencontohkan wilayah Eropa sebagai wilayah di mana teori OCA dapat diterapkan. Integrasi ekonomi yangsedemikian erat yang terjadi di wilayah Eropa, serta interdependensi antar negaranya menjadikan wilayahEropa sebagai wilayah yang paling tepat untuk menerapkan rejim nilai tukar yang sama.Akan tetapi, benarkah wilayah Eropa merupakan wilayah OCA ideal seperti yang dijelaskan olehFrankel sebelumnya? Menyinggung pendapat Frankel yang menyebutkan salah satu syarat terbentuknya OCAadalah adanya integrasi ekonomi yang kuat antar anggotanya, penulis merasa negara-negara yang tergabungdalam
 European Monetary Union
(EMU) sebenarnya tidak terlalu memiliki tingkat integrasi ekonomi yangdalam.
1
Hal tersebut dikarenakan untuk dapat memiliki tingkat integrasi yang dalam, dibutuhkan unsur
convergence
2
yang terlebih dahulu harus dimiliki. Unsur
convergence
dalam Uni Eropa inilah yang belakanganini mulai dipertanyakan, terutama setelah usul dilakukannya perluasan anggota Uni Eropa. Tidak adanya unsur
convergence
di kalangan masyarakat Uni Eropa sangat mudah terlihat dari adanya perbedaan pendapatan perkapita negara-negara Uni Eropa, di mana misalnya pendapatan per kapita pada negara-negara besar sepertiJerman dan Perancis mencapai $20.000 pada akhir 1990, sementara untuk negara miskin seperti Yunani,Spanyol dan Portugal, hanya mencapai sekitar $10.000.
3
 Perbedaan yang sangat besar dari negara-negara Uni Eropa yang juga membuktikan tidak adanyaunsur
convergence
dalam Uni Eropa adalah dari sisi pengangguran. Pada Spanyol, misalnya, angkapengangguran begitu tinggi hingga mencapai 20%. Hal yang berbeda terjadi di Perancis, Italia, dan Irlandiayang memiliki angka pengangguran sebesar 10%; di mana pada negara anggota Uni Eropa lain, angkapengangguran relatif kecil yaitu kurang dari 10%.
4
Kedua perbedaan ini diperparah dengan masuknya anggotabaru Uni Eropa, seperti Turki yang walaupun memiliki wilayah dan populasi yang besar, tetap memilikimasalah
deficit trade balance
yang besar, ditambah lagi masalah tingkat pengangguran yang sangat tinggi danrendahnya industrialisasi. Segala macam perbedaan ini menjadikan unsur
convergence
pada negara-negara UniEropa semakin dipertanyakan.Semakin dipertanyakan unsur
convergence
yang menjadi inti analisa penulis ini menjadikan penulis
1
Hüseyin Mualla,
 
Why European Union is Not an Optimal Currency Area?
http://eab.ege.edu.tr/pdf/6_2/C6-S2-M6.pdf, diaksespada 6 Maret 2010, pukul 20.03.
2
Pendapat akan pentingnya unsur
convergence
ini antara lain disampaikan oleh pemikir Neoklasik seperti misalnya oleh G. Pohl danP. Sorsa, dalam tulisannya yang berjudul
“Is European
 
Integration Bad News for Developing Countries”,
 
The World Bank ResearchObserver 
, Vol.9, No.1, (January 1994), hal.147-155.
3
Data didapatkan dari European Commissi
on’s Annual Statistic
 , European Economy
:
 Annual Statistics,
(Luxembourg: Office for theOfficial Publications of the European Communities, 2000).
4
 
 Ibid.

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
Sarah Farida liked this
1 thousand reads
1 hundred reads
Sagita Purnomo liked this
gakky_77 liked this
Sisca Nalansuci liked this
Erick Jackson liked this
laonga liked this
debbie naomi liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->