KATA PENGANTAR
Beberapa waktu silam media massa melaporkan bahwa sistem pendidikannasional kita terbukti paling jelek di Asia dan Pasifik, bahkan berada di bawahVietnam. Sementara itu, universitas-universitas yang katanya terhebat diIndonesia menduduki peringkat yang tidak membanggakan bila dibandingkandengan universitas sejenis di kawasan Asia. Kedua fenomena di atas menunjukkan bahwa sumber daya manusia Indonesia kurang cerdas, kritis, dan kurangkompetitif. Namun yang lebih menyedihkan adalah dunia pendidikan kita belumlahmencurahkan perhatian yang signifikan untuk menjawab tantangan di atas.Keterampilan berpikir kritis, sebagai kemampuan kognitif yang harus dikuasaiuntuk ikut andil dalam persaingan global, belum dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Pengajaran bahasa, misalnya, sebagai pengajaran alat berpikir kritismasih menitikberatkan pada penguasaan materi melalui hapalan
(rote learning).
Mencermati kondisi di atas, penulis merasa tertantang untuk mencobamengembangkan konsep yang pernah dieksperimentasikan dosen perkuliahanmembaca di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI berupa pemanduanketerampilan berpikir kritis atau
cognitive coaching
. Penulis berupaya untuk memetakan konsep
cognitive coaching
dalam pengajaran MKDU bahasa Inggrisdi perguruan tinggi.Melalui
cognitive coaching
ini, diharapkan keterampilan berpikir kritis dapatdiintegrasikan dengan pengajaran MKDU bahasa Inggris di PT sehinggamahasiswa tidak hanya mampu menguasai pelbagai kaidah bahasa danmenerapkannya dalam komunikasi melainkan juga mampu mengasah kompetensikognitif (berpikir) secara optimal.Penulis memulai mengkaji hasil penelitian Musthafa (2000) ihwal ujieksperimentasi
cognitive coaching
dalam peningkatan berpikir kritis mahasiswayang mengontrak mata kuliah
Extensive Reading 1.
Kemudian penulis mencobamenelusuri dunia internet untuk mencari konsep, data, dan informasi yang
Add a Comment
This document has made it onto the Rising list!
Apologia_Lbt_9050left a comment
eri_kurniawanleft a comment
litasari left a comment