Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
16Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Al Afdal Permana Ujian Tengah Semester Sistem Administrasi NEgara Indonesia

Al Afdal Permana Ujian Tengah Semester Sistem Administrasi NEgara Indonesia

Ratings: (0)|Views: 2,787|Likes:
Published by Al Afdal Permana
UTS Sistem Administrasi Negara Indonesia
UTS Sistem Administrasi Negara Indonesia

More info:

Published by: Al Afdal Permana on May 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2012

pdf

text

original

 
Ujian Tengah Semester
Sistem Administrasi NegaraIndonesia
Al Afdal Permana
0810842026
Program Studi Ilmu Administrasi NegaraFakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Andalas2010
 
 JAWABAN UTS SISTEM ADMINISTRASI NEGARA INDONESIA
1.Sejarah Administrasi dari zaman kemerdekaan sampai sekarang danreformasi yang telah terjadi dari zaman itu sampai sekarang?I.Pasca Kemerdekaan: Kepemimpinan Soekarno (Orde Lama)
Sebelum menguraikan bagaimana administrasi negara dijalankan ataudiimplementasikan di negeri ini, perlu dipahami sebelumnya bahwa administrasimerupakan sebuah proses sivilisasi yang berkesinambungan secara kontinu. Artinya, apayang terjadi dalam pelaksanaan sistem administrasi di Indonesia dewasa ini tidak dapatdipisahkan dari apa yang terjadi di masa lalu.Untuk mengetahui sejarah pelaksanaan adminisrasi negara di negeri ini, dapat ditelisikbuku karangan Bintoro Tjokroamidjojo yang berjudul
Perkembangan Ilmu AdministrasiNegara di Indonesia: Research di Indonesia 1945-1966
.”Di dalamnya dikatakan, sebelum tahun 1945, administrasi yang dianut oleh negeri iniadalah sistem administrasi pemerintahan Kerajaan Belanda, karena pada masa ituIndonesia belum merdeka akibat penjajahan Belanda. Pengaruh konsep kontinental sangatkuat saat itu, di mana pendidikan hukum dianggap sebagai persiapan utama dan bahkansatu-satunya syarat untuk membentuk dan mempersiapakan seorang administrator yangakan bertugas. Akibatnya, corak administrasi negara saat itu bersifat terlampau legalistis-formal dan normatif, yang pada akhirnya menjadikan birokrasi sebagai lembaga yangsteril.Selepas Indonesia merdeka pada tahun 1945, barulah negeri ini berkuasa secarapenuh dan otonom untuk melaksanakan sistem administrasinya sesuai dengan suasanadan keadaan lingkungan saat itu dan sesuai dengan apa yang menjadi kebutuhan saat itu.Ditambah dengan semangat untuk lepas dari warisan kolonial dan euforia kemerdekaanbergelora di masyarakat, maka berusahalah diciptakan pembaruan tatanan administrasinegara. Namun seperti yang telah dijelaskan dalam tulisan pembuka bab ini bahwaadministrasi pada dasarnya berjalan secara
incremental
dan tidak bisa dilepaskan daripengaruh masa lalu, maka dapat ditebak penyelenggaraan administrasi negara pada masapascakemerdekaan tidak jauh berbeda dengan praktik yang telah ada sebelumnya karenamasih kuatnya pengaruh sistem administrasi Belanda. Selain itu, sistem administrasi jugatidak dapat berjalan dengan efisien dan efektif karena para administrator dan pejabatnegara pada waktu itu menempati posisi-posisi administrasi tanpa pernah mengecappendidikan administrasi negara sebelumnya, dan juga tanpa kesempatan bekerja di bawahpengawasan ahli administrasi yang berpengalaman dan kompeten.Menyadari akan kekurangan dan kelemahan dalam penyelenggaraan sistemadministrasi negara, Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia mencanangkanreformasi administrasi. Pada tahun 1954, Soekarno bersama Perdana Menteri H. Djuandamengundang guru besar ilmu administrasi publik dari Cornel dan Pitsburgh, Edward H.Litchfield dan Alan C. Ranlin untuk mengadakan penelitian mengenai administrasikepegawaian di Indonesia. Agaknya pemerintah waktu itu terpukau dengan sistemadministrasi negara di Amerika Serikat (AS) yang dikembangkan melalui pendekatan yangmodern, praktis, dan efisien. Sebagai hasilnya, penelitian mereka dirumuskan dalam suatusaran program aksi kepada pemerintah yang mereka beri judul
Training Administration onIndonesia
. Beberapa saran yang diberikan oleh perutusan ini kepada pemerintah antaralain perlu didirikannya lembaga pendidikan administasi yang nantinya dapat dipergunakanmendidik para pegawai dan administrator pemerintah, ditatanya susunan kementerianyang efektif, didirikannya fakultas dan universitas yang mengajarkan ilmu administrasinegara seperti yang dikembangkan oleh AS, dan dibangunnya badan perancang nasional.Sebagai tindak lanjut atas rekomendasi tersebut, pemerintah pun mendirikan LembagaAdministrasi Negara (LAN) di Jakarta, Fakultas Sosial dan Politik di Universitas Gadjah Mada(UGM) dengan Jurusan Ilmu Usaha Negara (yang kemudian menjadi Jurusan IlmuAdministrasi Negara), Badan Perancang Nasional (yang kelak di kemudian hari berubahmenjadi Badan Perencanaan Nasional), dan Kantor Urusan Pegawai (yang kelak kemudianmenjadi Badan Administrasi Keegawaian Negara dan sekarang berubah menjadi Badan
 
Kepegawaian Negara). Seterusnya, reformasi administrasi yang digalakkan ini mampumenjadikan sistem administrasi Indonesia meninggalkan coraknya yang legalistis seperti diEropa menjadi lebih bersifat modern, praktis, pragmatis, efisien, dan efektif seperti yang juga banyak dikembangkan di AS.Cerita di atas dapat dikatakan merupakan buah dari reformasi administrasi pertamayang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Selanjutnya, reformasi administrasi yang keduaterjadi seiring dengan pergantian pucuk kepemimpinan dari Soekarno ke Soeharto, darirezim Orde Lama ke rezim Orde Baru.
II.Kepemimpinan Soeharto; Orde Baru
Reformasi kedua yang dilakukan pada masa pemerintahan Soeharto ini menurutpenulis bukanlah merupakan suatu reformasi administrasi yang dilakukan karenakebutuhan untuk melakukan reformasi administrasi itu sendiri, melainkan hanyamerupakan ekses, atau bahkan dapat dikatakan
externalities
yang mau tak mau harusterjadi, dari kebijakan penguasa.Soeharto menjalankan kekuasaan dengan motif utama untuk melanggengkankekuasaannya. Untuk itu, berbagai strategi pun ia tempuh. Menurutnya, kekuasaan yang iapegang hanya akan mampu dipertahankan apabila negara mengalami kestabilan sosial,politik, dan terutama ekonomi. Untuk melakukannya, pembangunan di dalam negeri iagenjot habis-habisan karena hanya dengan pembangunanlah maka pertumbuhan ekonomiakan meningkat, sedangkan pertumbuhan ekonomi merupakan syarat utama kestabilanekonomi. Untuk mewujudkan keinginan mewujudkan stabilitas ini pula, maka visi danpenyelenggaraan pemerintahan, dalam bidang apa pun, harus dilaksanakan secarasentralistis. Lima tahun setelah menjabat presiden, payung hukum untuk mewujudkannegara sentralistis ini diwujudkan salah satunya melalui diterbitkannya PeraturanPemerintah (PP) Nomor 44 dan 45 Tahun 1975 yang mengatur penyusunan sistem sertastruktur lembaga birokrasi pemerintah. Sebagai akibatnya, semua hal yang berkaitandengan penyelenggaraan birokrasi pemerintah diseragamkan, mulai dari kelembagaan dansistem departemen, sistem penyusunan, pelaksanaan, pertanggungjawaban anggaran,rekrutmen pegawai, pengangkatan pejabat, sistem diklat pegawai, sistem penggajianpegawai, sampai sistem pengawasan.Dari perspektif ilmu administrasi publik, program pembangunan Orde Baru ini dapatdikatakan menghancurkan bangunan pemahaman akan konsepsi dan pengimplementasianilmu administrasi publik yang sejati yang dilakukan oleh Indonesia yang sedangmembangun dan berkembang usai kemerdekaan diraih. Pada masa itu, dikenalkan suatukonsep baru administrasi yang terkesan berusaha untuk dikompatibelkan terhadapprogram pembangunan pemerintah, yaitu administrasi pembangunan.
III.Orde Reformasi
Kini setelah Orde Baru tumbang dan memasuki Orde Reformasi, wajarlah kiranya bilaistilah adminstrasi negara di Indonesia diganti menjadi administrasi publik, sesuai denganterjemahan harafiah dari sumber aslinya:
 public administration
. Hal ini sudah seharusnyaterjadi karena dengan bergantinya penyelenggaraan negara dari otoriter menjadidemokratis, maka penyelenggaraan administrasi publik pun haruslah sesuai dengansemangat dan asas yang terjadi di ranah politik: bersifat demokratis. Dalam bahasa yanglain,
Indonesian public administration
yang baru merupakan perubahan paradigma dari

Activity (16)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Ade Victorio liked this
Vemy Claudia liked this
rachma10 liked this
fanila latte liked this
Shoe Djie liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->