Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tugas Public Relations

Tugas Public Relations

Ratings: (0)|Views: 509 |Likes:
Published by Indry As Indie

More info:

Published by: Indry As Indie on May 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/20/2010

pdf

text

original

 
PENDAHULUAN
Kita tidak habis mengerti atas tragedi yang terjadi di TanjungPriok. Bentrokan antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)dengan masyarakat sampai menyebabkan beberapa korban tewasdan sedikitnya 80 orang lainnya luka-luka. Bagaimana sebuahupaya pembebasan lahan bisa berakibat fatal seperti itu. Bukanhanya bentrokan yang brutal kita saksikan, tetapi peristiwakekerasan yang dipertontonkan sungguh sangat tidakberperikemanusiaan. Kita ingin mengritik secara keras perilakuyang diperlihatkan Satpol PP. Mereka sama sekali tidakmemperlihatkan dirinya sebagai aparat pemerintah daerah yangseharusnya mengayomi warganya. Perilaku kekerasan sepertinyamenjadi bagian keseharian mereka. Bukan di Koja saja merekamemperlihatkan sikap pamer kekuasaannya, tetapi dalam tindaktanduk sehari-hari mereka selalu mempertontonkan sikapnya yangmenyakiti hati warga.Tidak ada hari dari tindakan mereka yangtidak diwarnai aksi kekerasan. Kita lihat sikap yang merekapertontonkan sehari sebelumnya ketika
 
mengusir secara kasarwarga China Benteng di Tangerang.Tindakan brutal yang dilakukanSatpol PP di Koja sungguh tidak bisa kita benarkan. Mereka bolehkesal dan marah atas tindakan warga yang melawan dan bahkanmelukai mereka. Namun ketika mereka menyeret warga apalagiyang usianya masih muda tanpa henti-hentinya mereka pukuli,merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan.Apa yang terjadi di Koja merupakan cerminan dari kegagalanGubernur DKI Jakarta untuk membina aparat Satpol PP. Bagaimanaaparat Pemda itu bisa terus menerus menunjukkan perilaku yangsarat dengan kekerasan.Ketika hal itu terjadi di zaman Orde Baru,kita bisa memahami karena sistem politik yang berlaku adalahsistem otoriter yang cenderung represif. Ketika kemudian kitamelakukan reformasi dan mengubah sistem politik menjadidemokrasi, maka sikap dan perilaku kita haruslah berubah.Sistem
 
demokrasi sangatlah mengharamkan adanya kekerasan. Segalamacam persoalan harus dilakukan dengan cara negosiasi danhukum. Tidak boleh lagi ada kekerasan yang dipakai untukmenyelesaikan perbedaan.Cara negosiasi dan persuasi itulah yangseharusnya dipakai ketika hendak membebaskan lahan milik PTPelindo di Koja. Kalau pun tahu bahwa pembebasan itu menjadisensitif karena ada makam Mbak Priok, seharusnya dicari carauntuk bernegosiasi dengan pemuka masyarakat.Satpol PP terlalu biasa untuk memaksakan kehendak. Merekaterlalu terbiasa untuk menggunakan kekuasaan dalam menjalankantugasnya. Mereka selalu merasa bahwa dengan kekuatannya tidakada yang pernah menghalangi mereka.Apa yang dipertontonkanSatpol PP di Koja harus dimintai pertanggungjawabannya. GubernurDKI Jakarta merupakan pihak yang paling harus bertanggung jawab,karena membiarkan kekerasan terjadi begitu telanjang.Satu yangkita khawatirkan, kekerasan yang dipertontonkan begitu telanjangakan memancing kemarahan masyarakat. Kejadian di Koja akanmudah menjadi pemicu pelampiasan kekecewaan atas kehidupanyang semakin mengimpit. Kita pernah mengalami pengalaman pahitseperti ini di tahun 1998. Kita tentunya tidak ingin peristiwa kecilsampai merusak seluruh Jakarta.Kita sudah melihat bagaimanawarga kemudian kehilangan rasa hormatnya kepada aparat. Merekaberani untuk melawan dan bahkan merebut peralatan yangdipegang aparat. Mereka bahkan merusak dan membakarikendaraan milik Satpol PP.Kerusuhan yang terjadi di Kojasepantasnya membuat pimpinan nasional untuk turun tangan.Kekerasan yang dipertontonkan tidak bisa lagi ditolerir. Tindakanbrutal dari Satpol PP sungguh merupakan pelanggaran terhadapnilai-nilai kemanusiaan.Jangan salah bahwa kejadian itu terjadi diibu kota negara. Di depan mata para petinggi Republik ini. Anehapabila itu tidak memantik rasa prihatin. Ini sungguh-sungguhmerupakan pelanggaran kemanusiaan yang sangat bertentangan
 
dengan sistem demokrasi yang sedang kita bangun.Satpol PP telahmencoreng demokrasi yang sudah susah payah kita tegakkan.Mereka jauh dari sikap menghormati nilai kemanusiaan dansepantasnya mereka untuk dihukum. Tanpa itu mereka akan terusmemperlihatkan sikap brutal yang hanya menyakiti hati warga.
SEJARAH
Nama Tanjung Priok disebut berasal dari Mbah Priok atau HabibHasan bin Muhammad Al-Hadad. Beliau lahir di Ulu Palembangtahun 1727. Habin Hasan disertai para pengikutnya kemudianberlayar ke Jawa tahun 1756 untuk menyebarkan dakwah Islam.Menurut catatan, dalam perjalanannya, perahu layar Habib Hasanlalu dibom oleh Belanda. Bom itu meleset, tapi kemudian ombakbesar menggulung kapal yang ditumpangi sang Habib. Akibatombak besar, perahu tersebut tenggelam, mengakibatkan wafatnyaHabib Hasan bin Muhammad Al-Hadad yang dijuluki Mbah Priok.Nama lengkapnya Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasanbin Muhammad Al Haddad RA.Jasadnya kemudian ditemukanpenduduk. Di samping jasadnya ditemukan periuk nasi. Setelahdimakamkan, periuk nasi itu serta dayung perahu kemudiandiletakkan di makamnya, sekaligus sebagai nisan yang menandaimakamnya. Mitos berbau mistik yang dihubungkan dengan periuknasi itu, kemudian berkembang menjadi kisah turun temurun.Misalnya periuk nasi itu seakan mengeluarkan cahaya, atau nampakseakan-akan membesar, dan mitos lainnya. Mitos tentang periuk inibegitu melekat, sehingga penduduk menamakannya Mbah Priok.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->