Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
1

1

Ratings: (0)|Views: 578|Likes:
Published by ana_sayna2256

More info:

Published by: ana_sayna2256 on May 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/22/2012

pdf

text

original

 
1. Latar Belakang Masalah
Pemanasan global adalah peristiwa naiknya intensitas efek rumah kaca yang terjadi karena gasdalam atmosfer yang menyerap sinar matahari yang dipancarkan bumi. Gas tersebut disebut gasrumah kaca (GRK). Dengan penyerapan itu sinar panas terperangkap sehingga naiklah suhu permukaan bumi. Sudah lama dunia politik internasional ditempatkan dalam paradigma timur vs barat untuk menyebut sistem ideologi dan militer, developed dan developing nations untuk menyebut sistem politik dan ekonomi, serta utara vs selatan untuk menyebut “pusat kekuasaan”.Oposisi ini lahir dari fakta bahwa negara-negara yang sudah jauh merdeka sebelum PerangDunia I berkobar, kebetulan merupakan negara-negara industrialis maju dan secara geografisterletak di utara khatulistiwa, sedangkan terminologi selatan lahir sebagai oposisi dari konsep diatas, bahwa negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka pasca Perang Dunia II, secarageografis terletak di bumi belahan selatan, dan konsekuensi dari kemerdekaan yang relatif belumlama tersebut adalah tingkat kemajuan negara menuju industriliasasi pun masih berproses. Namun kesepakatan – kesepakatan internasional yang dilaksanakan dalam kerangka
UnitedNations Framework Convention on Climate Change
( UNFCCC ), yang salah satunyamelahirkan Protokol Kyoto pada tahun 1997, bukanlah sebuah upaya membalikkan keadaan;utara menjadi selatan, dan selatan menjadi utara. Hal ini dilatarbelakangi oleh kepedulian negara-negara di dunia terhadap bumi yang semakin panas sebagai akibat dari efek rumah kaca. Kedua,merupakan bentuk kekhawatiran negara-negara kepulauan di pasifik selatan terhadap kenaikan permukaan laut, dan yang tak kalah pentingnya yaitu kekhawatiran
Least DevelopmentCountries
( LDCs ) atau negara-negara yang pembangunan ekonominya masih terbelakang diAfrika terhadap perubahan iklim yang mengakibatkan kemarau berkepanjangan dan kesulitanair. Masalah lingkungan hidup berubah posisi dari “low politics” menjadi “high politics” karenasudah menyentuh masalah keamanan dan politik luar negeri. Lingkungan pun dipandang sebagaisumber masalah atau pembawa konflik antar negara, contohnya krisis air yang terjadi di Indiadan Timur Tengah ( migrasi besar-besaran terjadi karena tidak meratanya populasi penduduk ).Lingkungan hidup juga erat kaitannya dengan pengambilan kebijakan suatu negara, karena berhubungan dengan
national interest 
negara tersebut. Dan bicara tentang lingkungan hiduptidak bisa dilepaskan dengan bagaimana caranya agar pertumbuhan ekonomi negara melonjak naik, serta munculnya krisis lingkungan hidup yang merupakan produk kapitalisme karenakonsumsi dan produksi yang berlebihan. Negara maju adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap krisis lingkungan, melalui pola produksi dan konsumsi yang lebihmengutamakan pertimbangan jangka pendek, yakni penggunaan GNP per kapita sebagaiindikator sukses sebuah negara dalam pertumbuhan dan pembangunan ekonomi. Hal inikemudian mendorong negara-negara maju untuk terus meningkatkan industrialisasi di dalamnegeri yang telah menangguk keuntungan luar biasa dari eksploitasi sumber daya alam di negaraketiga. Fakta ini semakin diperparah oleh kebijakan-kebijakan serupa yang ditempuh olehnegara yang sedang berkembang dalam merumuskan arah pembangunannya, dimana sumber daya alam terus menerus dieksploitasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tanpamemperdulikan ketersediaanya di alam, dan tanpa memperdulikan beban yang kemudian harusditanggung lingkungan hidup. Negara-negara berkembang yang memiliki kelimpahan tumbuhanhijau dan hutan hujan, justru membuka lahan secara besar-besaran sebagai tempat industridengan menebang pohon-pohon, dalam rangka mengejar ketertinggalannya dengan negara-negara utara; sedangkan negara-negara utara yang sejak masa revolusi industri dahulumementingkan industrialisasi untuk menekan pertumbuhan ekonomi, kehabisan hutan yangsedianya dipakai untuk menyerap emisi GRK yang dihasilkan oleh industrialisasi. Fakta inilahyang semakin mendorong dan memperbanyak kelimpahan GRK di atmosfer bumi, sehingga
 
sebuah upaya global untuk mempertemukan negara-negara didunia dan meminta komitmenmereka terhadap penurunan emisi hingga dianggap mutlak.Sebuah konferensi PBB untuk Lingkungan dan Pembangunan ( UN Conference on Enviromentand Development ) dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brazil pada tahun 1992 untuk rencana aksiyang lebih konkret dalam mengelaborasi konsep dan membahas mengenai upaya untuk menstabilkan GRK di atmosfer pada tingkat tertentu dari kegiatan manusia yang membahayakansistem iklim. Dan pada tahun 1997 Protokol Kyoto lahir di Jepang pada bulan Desember yangmerupakan amandemen yang dihasilkan oleh konferensi para pihak penandatangan UNFCCC.Protokol yang dikenal sebagai persetujuan internasional mengenai pemanasan global inimengatur tentang kewajiban negara-negara industri dan negara eks USSR yang perekonomiannya sedang dalam masa transisi menuju ekonomi pasar untuk menurunkan emisiGRKnya secara kolektif sebesar 5% dari tingkat emisi tahun 1990 pada tahun 2008-2012.Dibawah Protokol Kyoto, Amerika Serikat sebagai salah satu negara penandatangan UNFCCCtidak luput dari kewajiban untuk mengurangi emisi GRKnya hingga 7%. Amerika Serikatmeyakini bahwa hal ini akan memukul industri dalam negerinya yang sangat bergantung padaBBF, sehingga Amerika Serikat mengambil sikap untuk mundur dari protokol dan menolak untuk meratifikasi.
2. Identifikasi Masalah
Kepentingan nasional AS yang sangat terlihat menyangkut penolakkan Amerika Serikat terhadapProtokol Kyoto menyangkut
national well-being dan national prestige,
sebagaimana yangsudah dijelaskan sejak awal bahwa negara – negara di dunia menggunakan GNP sebagaiindikator 
national well-being 
yang diukur berdasarkan nilai total barang dan jasa yang dihasilkansuatu negara dalam satu tahun. Meskipun tidak mencerminkan distribusi pendapatan yangmerata, namun GNP menjadi faktor utama dalam paradigma oposisi yang membagi negara-negara dunia dalam kategori
developed countries
vs
developing countries
. Kategorisasi ini berdampak pada tingkat demokrasi, model pemerintahan yang paling banyak didunia. Dimanatingkat kemakmuran berbanding lurus dengan tingkat pendidikan warga negara, yang menjadisalah satu faktor pendorong munculnya demokratisasi di suatu negara, dan pada akhirnya akanmengubah negara tersebut menjadi demokrasi. Label demokratis menjadi faktor utamamenyangkut
national prestige
.
Protection and Advancement of Technology dan The Pursuitof Power
menjadi alasan lain menyangkut teori kepentingan nasional Amerika Serikat menyoal penolakkannya terhadap Protokol Kyoto. Protokol kyoto mengatur tentang financial commitmentdan emmision trading, dan sebagai derivat dari dua hal ini negara – negara maju berkewajibanuntuk melakukan transfer teknologi yang ramah lingkungan kepada negara-negara sedang berkembang. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan duniaterhadap BBF dan menggantinya dengan bahan bakar alternatif. Seiring dengan menguatnya peran-peran lembaga dunia semisal World Bank dan WTO, negara-negara maju bisa “mangkir”dari kewajiban ini dengan menggunakan Trade Related Intellectual Property Rights ( TRIPs )sebagai dasar bertindak. Ini tidak lain sebagai usaha untuk memproteksi kemajuan teknologi, dan jikapun transfer tersebut ada, harga yang harus dibayarkan oleh negara-negara berkembangsangat mahal. Amerika Serikat bersama Jepang, Swizterland, Canada, Australia, Norway, dan New Zealand yang tergabung dalam kelompok negara JUSSCANNZ menginginkan adanyakegiatan penurunan emisi yang dapat dilakukan di luar negeri mengingat tingginya
opportunitycost 
yang harus dibayarkan jika semuanya harus dilakukan secara domestik. JUSSCANNZ jugakeberatan terhadap target penurunan emisi yang harus dilakukan secara ketat. Namun ketikaakhirnya beberapa negara mulai melunak dengan target penurunan emisi di dalam negeri,Amerika Serikat tetap bersikeras tidak akan melakukan tindakan apapun. Hal ini dipahami
 
sebagai akibat kegiatan industrialisasi perusahaan – perusahaan besar yang menjadi tulang punggung perekonomian Amerika Serikat yang sangat bergantung pada penggunaan BBF.
Small Group Theory
menyatakan bahwa perilaku politik luar negeri suatu negara ditentukanoleh sekelompok kecil orang yang memiliki akses tertentu terhadap sumber daya tertentu.Mundurnya Amerika Serikat sebagai pihak peratifikasi Protokol Kyoto diakibatkan oleh lobbykelompok bernama Global Climate Coalition yang terdiri dari koalisi perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang eksplorasi minyak dan otomotif, yaitu Exxon Mobil Corporation,Ford Motor Company, Royal Dutch Shell, Texaco, British Petroleum, General Motors, danDaimler Chrysler. Kelompok ini terbentuk sebagai respon terhadap laporan-laporan ilmiah yangdikeluarkan oleh Intergovermental Panel on Climate Change, yaitu panel ilmiah yang ditunjuk oleh pemerintah anggota UNFCCC untuk melakukan pengkajian terhadap perubahan iklim.William K. Tabb dalam bukunya “Tabir Politik Globalisasi” menyebutkan bahwa, “di dalam pemerintahan yang kebanyakkan pemain kuncinya adalah orang-orang yang pernah berkarir di bisnis energi, bahwa upaya-upaya penggulingan bukanlah suatu kebetulan belaka”. Penggulingandisini maksudnya adalah usaha Amerika Serikat untuk merusak semangat forum atau tidak setujudengan forum dengan menolak ratifikasi Protokol Kyoto. Selain itu Amerika Serikat jugamenciptakan “ protokol tandingan “ bernama
Asia Pacific Partnership for Clean Developmentand Climate,
yang lahir bersamaan dengan pertemuan ASEAN Regional Forum, yaitu padatanggal 28 Juli 2005. Yang menjadi mitra AS dalam perjanjian kerjasama ini adalah Australia,China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Perjanjian ini mengatur mengenai kerjasama dalam bidang pembangunan dan transfer teknologi yang membantu mengurangi emisi GRK. Tidak seperti Protokol Kyoto, perjanjian kerjasama ini sama sekali tidak mengikat secara hukum, tidak mengakomodir masalah menyangkut periode komitmen, serta tidak memiliki mekanisme penataan.
3.
 Research Questions
 
Pembahasan mengenai “Protokol Kyoto” ini akan terangkum dalam
research question
berikutini, yaitu : – Apa Tujuan dari Pembentukan Protokol Kyoto ? – Alasan apa yang membuat AS menarik diri ?
4. Pembahasan
Protokol Kyoto adalah sebuah amandemen terhadap Konvensi Kerangka Kerja PBB tentangPerubahan Iklim (UNFCCC). Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi GRK atau bekerja sama dalam perdagangan emisi jika mereka menjaga ataumenambah jumlah emisi gas-gas tersebut, yamg telah dikaitkan dengan pemanasan global. Jikasukses diberlakukan, Protokol Kyoto diprediksi akan mengurangi rata-rata cuaca global antara0,02˚C dan 0,28˚C pada tahun 2050.
 
Selain itu Protokol kyoto juga mengatur mengenai target penurunan emisi dan memilikiimplikasi sebagai berikut :→ mengikat secara hukum→ adanya periode komitmen→ digunakan pendataan untuk mencapai target→ adanya jatah emisi→ dimasukkannya enam jenis GRK dan disetarakan CO²

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->