Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
29Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Mantik

Mantik

Ratings:

4.0

(2)
|Views: 5,393|Likes:
Published by opied

More info:

Published by: opied on May 30, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/21/2012

pdf

text

original

 
Mantik: Hakikat dan Sejarahnya
Salah satu perbedaan manusia dari binatang adalah kemampuannya untukmengabstraksi sesuatu. Yakni, ketika inderanya mencerap suatu benda, akalbekerja melepaskan benda itu dari sifat-sifat material, lalu membandingkannyadengan benda-benda lain yang serupa dengannya dan memproduksi sebuahkonsep bersama. Akal terus menerus mengabstraksi hingga mencapai sebuahkonsepsi universal paling abstrak (basith) yang mewadahi semua wujud. Ketikaia melihat manusia, misalnya, imajinasinya mengabstraksi benda itu menjadisebuah spiecies (nau’) yang menaungi semua manusia yang lain. Ia kemudianmembandingkan konsep ini dengan konsep binatang, lalu mengabstraksinyamenjadi sebuah genus (jenis) yang menaungi keduanya. Proses abstraksi iniberlanjut ketika ia membandingkannya dengan konsep tumbuhan, demikianseterusnya hingga mencapai genus tertinggi yang disebut substansi (jauhar).Pada saat itu, akal berhenti mengabstraksi.Ahli mantik berkata bahwa pengetahuan yang dicapai manusia hanya duamacam, yakni tashawwur (pengetahuan konseptual), tanpa menetapkan hukumapa-apa atasnya, dan tashdiq (pengetahuan relasional) antara dua hal denganmenetapkan penilaian benar atau salah. Atas dasar ini, aktifitas berpikir manusiahanyalah menyusun satu persatu konsepsi universal (kulliyyat) di otaknya untukmenghasilkan konsepsi universal baru yang sesuai dengan realitas, atau menilaisesuatu dengan sesuatu lainnya. Aktifitas berpikir ini bisa keliru dan bisa jugabenar. Maka dibutuhkan sebuah aturan-aturan berpikir tertentu untuk menjagaakal dari kekeliruan berpikir. Dan kumpulan aturan-aturan berpikir itu disebutmantik (logika).Sebenarnya, Aristoteles bukan orang pertama yang menyusun aturan-aturanberpikir ini, sebab sebelumnya Socrates dan Plato pernah berbicara tentang halini. Namun karena Aristoteles adalah orang pertama yang mengumpulkan danmenyusunnya, menetapkannya sebagai kunci ilmu pengetahuan sertamenulisnya dalam sebuah karya, ia digelari sebagai “guru pertama”. Organon,bukunya tentang mantik, terdiri dari delapan bagian: Categoria (membahas
 
tentang genus dan bagian-bagiannya), Hermeneutika (tentang proposisi),Sylogisme (tentang qiyas), Demonstrasi (tentang qiyas yang menyimpulkankeyakinan), Dialektika (ilmu debat), Sofistika (qiyas yang menyesatkan), Retorika(seni agitasi massa) dan Poetica (seni menyusun kata-kata puitis).Pada masa penerjemahan literatur asing atas perintah Khalifah Al Makmun (w.218 H), buku-buku ini menarik perhatian banyak cendikiawan muslim pada saatitu hingga beberapa dekade setelahnya. Abu Nashr Al Farabi, Abu Ali Ibn Sinadan Ibn Rusyd menulis berbagai komentar dan penjelasan tentang cabang ilmuini. Kemudian datang generasi selanjutnya yang menyempurnakan ilmu inidengan memandangnya sebagai ilmu tersendiri, bukan hanya ilmu alat(organon), dengan menambah yang kurang dan membuang yang tidak perlu.Orang pertama yang melakukan ini adalah Imam Fajruddin bin Al Khatib laluAfdhaluddin Khawanji. Proyek mereka sungguh sukses sehingga berhasilmenenggelamkan karya tokoh-tokoh sebelumnya dan mengalahkan metodemereka.
Al Ghazali dan Mantik
Sejak awal kehadirannya di dunia Islam, mantik menyalakan perdebatan sengitdi kalangan para ulama, terutama ahli kalam. Mereka sangat anti kepada mantikdan melarang manusia untuk mempelajarinya. Ibn Khaldun berkata bahwaantipati ini lahir karena persinggungan prinsip ilmu kalam dengan mantik yangmelahirkan pilihan: terima mantik maka tinggalkan kalam atau terima kalammaka tinggalkan mantik. Padahal, ilmu kalam adalah ilmu dasar yang bertugasmenetapkan akidah islamiah menyangkut keesaan Allah dan kebaharuan alamsemesta. Bahkan Al Qadhi Abu Bakar Al Baqillani menyatakan bahwa prinsip-prinsip ilmu kalam adalah bagian dari akidah. Menyerangnya sama denganberusaha menghancurkan sendi-sendi akidah islamiah.Kemudian datang Hujjatul Islam Abu Hamid Al Ghazali (w. 505 H) yangmendamaikan keduanya. Kharisma dan argumentasinya berhasil mengakhiriperdebatan ini dan membuat ilmu mantik diterima di kalangan sunni. Meskiterkenal sebagai musuh besar filsafat, bahkan berhasil membuatnya pingsandengan Tahafut ul Falasifah-nya, Al Ghazali sangat menyayang anak kandung
 
filsafat ini. Ia menulis beberapa karya tentangnya, antara lain Mi’yar ul-‘Ilm, AlMankhul, Mihak un-Nazhar, beberapa lembar di mukaddimah Al Mustashfa dansecara tersirat dalam dialog dengan seorang penganut Syiah Ismailiah di AlQisthas ul-Mustaqim. Berikut sedikit ringkasan tentang mantik ala Al Ghazaliyang bisa penulis tampilkan pada kesempatan kali ini.Seperti Al Farabi dan Ibn Sina, Al Ghazali berpendapat bahwa mantik adalahaturan-aturan berpikir yang berfungsi meluruskan akal dalam menarikkesimpulan dan membebaskannya dari campuran prasangka dan imajinasi.Tugas utama mantik dengan demikian adalah menjaga akal dari kesalahanberpikir. Mantik bagi akal sepadan dengan posisi nahwu bagi bahasa Arab danilmu ‘Arud bagi ritme puisi (syair). Meminjam analogi Al Farabi, mantik bagi akalibarat neraca dan takaran yang berfungsi mengukur bobot benda yang tak bisadiketahui ukurannya dengan tepat jika hanya menggunakan indera. Atau ibaratpenggaris untuk mengukur panjang dan lebar sesuatu yang indera manusiasering keliru dalam memastikannya.Al Ghazali bahkan menegaskan bahwa mantik merupakan mukaddimah(organon) seluruh ilmu –bukan hanya pengantar filsafat. Maka barangsiapa yangtidak menguasai mantik, seluruh pengetahuannya rusak dan diragukan.Sebagaimana telah dijelaskan di muka, pengetahuan manusia terbagi dua, yaitutashawur dan tashdiq. Pengetahuan tashawur terbagi dua: pertama,pengetahuan yang telah ada di otak manusia sejak awal (a priori) sehinggapengetahuan tentangnya tidak membutuhkan penjelasan panjang lebar. Contoh,pengetahuan tentang makna ‘ada’, ‘banyak’ dan beberapa benda-benda inderawilainnya. Kedua, pengetahuan tentang konsep-konsep samar yang memerlukanpenjelasan lebih lanjut. Untuk yang kedua ini diperlukan sebuah definisi(had/ta’rif) yang memperjelas makna kata tersebut. Sementara itu, pengetahuantashdiq juga terbagi menjadi dua: relasi aksiomatik (musallamah) yangkebenarannya tidak perlu pembuktian dan relasi hipotetik (nazhariah) yang harusdibuktikan kebenarannya. Alat pembuktian itu disebut demonstrasi (sylogisme).Dengan demikian, pokok bahasan mantik tersimpul pada empat komponen, yaitupembahasan tentang tashawwur, had (definisi), tashdiq dan sylogisme. Di atas

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->