jurusan-jurusan ekonomi, sub bidang Riset dan Teknologi membawahi jurusanTeknik, dan seterusnya.Jika wacana ini diamini, maka peralihan sistem pendidikan dari depertemen di luar Depdiknas harus tetap dalam bingkai standarisasi pendidikan nasional. Artinya, Jikakita ingin menghasilkan mutu pendidikan yang standar, maka manajemen, kurikulum,dan kualifikasi pengajar pada depertemen non-Depdiknas pun harus ikutmenyesuaikan dengan apa yang berlaku di Depdiknas. Yang lebih penting peralihanini tidak hanya perubahan sistem birokrasi saja, tetapi harus dapat menyesuaikansistem dan manajemen pendidikan yang sesuai dengan Undang-Sundang Sisdiknasyang berlaku. Di Depag misalnya, penyelenggaraan IAIN/UIN harus dipisahkan darisudut pandang agama. IAIN/UIN harus dilihat sebagai persekolahan atau bagian dari pendidikan nasional. Karena itu, IAIN/UIN hendaknya dikelola secara profesionaloleh Depdiknas seperti halnya perguruan tinggi umum.Alternatif yang kedua adalah menghilangkan fungsi Depdiknas (bisa jugakeberadaanya dibubarkan). Dalam prakteknya, pendidikan akan dikelola oleh masing-masing depertemen yang sesuai bidang ilmunya masing-masing. Misalnya, ada jurusan kedokteran, keperawatan, maka ia akan bertanggungjawab kepada MenteriKesehatan bukan ke Mendiknas, ada jurusan manajemen dan ekonomi maka akan berada di bawah kendali Menteri Perekonomian, begitu seterusnya. Sistem pendidikanyang dijalankan dengan model kedua ini akan memiliki tingkat keprofesionalan yangtinggi karena didukung tenaga-tenaga yang memang benar-benar ahli di bidangnyatetapi berakibat lemah pada aspek manajemen.Menyinggung masalah profesionalisme, maka sebenarnya pilihan pertama juga tidak lebih rendah dibanding pilihan kedua. Ketika urusan pendidikan semuanyaditanggung oleh Depdiknas, maka dalam pelaksanaannya, Depdiknas tidak harus berdiri sendiri, misalnya untuk menangani jurusan Teknik, Depdiknas dapat berkonsultasi dan melakukan koordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi, begitu juga lainnya. Sehingga kalau ini dapat berjalan efektif maka akan mengungguli padaopsi yang kedua. Kelemahan pada opsi kedua adalah orang-orangnya masih diragukankemampuannya untuk mengelola sistem pendidikan.Berpijak pada pemikiran di atas, masing-masing opsi memiliki kelebihan dankekurangan. Hemat penulis, bahwa pendidikan akan dapat berjalan secara profesionaldan menghasilkan lulusan yang berkualitas, apabila didukung oleh tenaga edukatif yang memiliki keahlian sesuai bidangnya dan didukung tenaga profesional yangmemiliki kemampuan dalam manajemen sistem pendidikan, karena penyelenggaraan pendidikan di tanah air kita tidak dapat dilepaskan dari sistem administrasi-birokrasi.Sehingga ke depan, pendidikan Indonesia harus lebih baik dari sekarang. Sistem pendidikan Indonesia harus dikelola oleh dua tenaga, yaitu tenaga edukatif yangmumpuni dan tenaga profesional yang canggih. Sudah bukan waktunya lagi, kitarebutan proyek pendidikan , siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi atasannya,sebaiknya pendidikan dikelola secara kolektif yang nantinya akan menghasilkan buah pendidikan yang juga dapat dirasakan secara kolektif. Dengan sistem pendidikan yang baik, maka masa depan Indonesia juga akan semakin maju.Dengan demikian, maka harus ada satu departemen yang khusus menangani bidang pendidikan sejak tingkat dasar sampai jenjang perguruan tinggi. Dalam hal iniseharusnya hanya Depdiknas yang berhak mengurusi bidang pendidikan. Namun,sesuai dengan paparan di atas, agar dalam pelaksanaannya pendidikan lebih professional maka Depdiknas harus selalu saja melakukan konsultasi dan koordinasidengan departemen atau intansi terkait yang sesuai dengan bidang keilmuan. Sekalilagi, yang perlu ditekankan adalah sistem birokrasi pendidikan di Negara kita