Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
31Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Merombak Sistem Birokrasi Pendidikan

Merombak Sistem Birokrasi Pendidikan

Ratings: (0)|Views: 1,467 |Likes:

More info:

Published by: Dr. Munirul Abidin, M.Ag on May 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

 
Merombak sistem birokrasi pendidikanTema pendidikan selalu menarik untuk dikaji kapanpun dan dimana saja berada. Salahsatunya adalah mengenai struktur dan sistem birokrasi pendidikan di tanah air tercinta. Secara menyeluruh pendidikan di Indonesia ditangani oleh DepartemenPendidikan Nasional (Depdiknas) di bawah kendali Menteri Pendidikan Nasional.Tetapi, dalam prakteknya banyak juga penyelenggaraan pendidikan yangdikendalikan oleh Departemen atau intansi lain, seperti Departemen Agama (Depag)membawahi sekolah yang berlabel Madrasah dan Kampus Islam (PTAI), DepartemenKeuangan membawahi STAN, Kepolisian, dan sebagainya.Fakta di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan dalam dunia pendidikan akibatdari tidak bersatunya dalam pengelolahan sistem pendidikan ini. Banyak yang berpendapat sekolah yang di bawah asuhan Depag memiliki kualitas yang tidak lebih baik dibanding dengan sekolah yang ditangani oleh Depdiknas.Dalam tulisan ini, penulis memfokuskan pembahasannya hanya pada pendidikantinggi. Misalnya, ketika pihak IAIN/STAIN mengajukan permohonannya untuk  berubah menjadi Univeritas Islam Negeri (UIN) terjadi perdebatan yang sangat alotantara Depdiknas dan Depag. Menurut perundangan yang berlaku, maka Universitashanya ditangani oleh Depdiknas. Dengan demikian akan ada pengalihan anggaran dariDepag ke Depdiknas khususnya yang terkait dengan perubahan status dariIAIN/STAIN menjadi Universitas.Tetapi, seperti yang kita saksikan saat ini, PTAIN yang telah berubah menjadiUniversitas secara struktural tetap ditangani Depag, namun untuk program studi non-agama dalam pelaksanaannya di bawah pembinaan Depdiknas. Sehingga perjalananUIN akan mengalami banyak hal yang dilematis, karena harus mengikuti sistem pendidikan yang berlaku di Depag maupun di Depdiknas. Program studi umum diUIN akan memiliki kualitas rendah dibanding dengan program studi yang di bawahkendali Depdiknas. Salah satu faktor penyebabnya adalah Depag tidak memiliki ataukekurangan tenaga yang ahli di bidang non-agama. Sementara kalau mengikuti aturandi Depdiknas itu hanya sebatas konsultasi (baca: pembinaan) saja sehingga kurangmaksimal dan dalam pelaksanaannya cenderung hanya formalitas saja.Terkait hal ini, penulis mencoba menelorkan wacana dalam dunia pendidikan, yaknimemberikan dua pilihan untuk kembali melakukan perombakan sistem birokrasi pendidikan kita. Hal ini dimaksudkan agar sistem pendidikan kita benar-benar  profesional dan lulusan yang dihasilkan juga profesional. Semestinya, kalau berpijak  pada landasan fungsional Depdiknas di tanah air ini, tentunya memiliki tugas untuk mengurusi segala yang berhubungan dengan pendidikan, mulai dari tingkat dasar,menengah, hingga perguruan tinggi. Baik itu yang berbentuk pendidikan formalmaupun non formal. Kesemuanya itu seharusnya ditangani oleh pakar-pakar  pendidikan yang tergabung dalam Depdiknas.Dengan demikian, maka tidak akan ada Depertemen lain yang mengurusi pendidikan.Departemen Agama yang tugasnya menangani bidang pembinaan keagamaan maka iatidak berhak untuk mengurusi pendidikan. Mengacu pada hal ini, maka keberadaanmadrasah, IAIN, UIN atau lainnya seharusnya berada di bawah naungan Depdiknas.Begitu juga Departemen Keuangan yang menangani Sekolah Tinggi Akuntasi Negara(STAN), Akademi Kepolisian. Kalau memang sistem yang diterapkan demikian,maka struktur dalam tubuh Depdiknas menjadi gemuk. Tetapi agar professional, makaharus dibentuk sub-sub yang menangani bidang-bidang tertentu. Misalkan Sub pendidikan agama yang mengurusi IAIN/UIN, sub bidang ekonomi yang menangani
 
 jurusan-jurusan ekonomi, sub bidang Riset dan Teknologi membawahi jurusanTeknik, dan seterusnya.Jika wacana ini diamini, maka peralihan sistem pendidikan dari depertemen di luar Depdiknas harus tetap dalam bingkai standarisasi pendidikan nasional. Artinya, Jikakita ingin menghasilkan mutu pendidikan yang standar, maka manajemen, kurikulum,dan kualifikasi pengajar pada depertemen non-Depdiknas pun harus ikutmenyesuaikan dengan apa yang berlaku di Depdiknas. Yang lebih penting peralihanini tidak hanya perubahan sistem birokrasi saja, tetapi harus dapat menyesuaikansistem dan manajemen pendidikan yang sesuai dengan Undang-Sundang Sisdiknasyang berlaku. Di Depag misalnya, penyelenggaraan IAIN/UIN harus dipisahkan darisudut pandang agama. IAIN/UIN harus dilihat sebagai persekolahan atau bagian dari pendidikan nasional. Karena itu, IAIN/UIN hendaknya dikelola secara profesionaloleh Depdiknas seperti halnya perguruan tinggi umum.Alternatif yang kedua adalah menghilangkan fungsi Depdiknas (bisa jugakeberadaanya dibubarkan). Dalam prakteknya, pendidikan akan dikelola oleh masing-masing depertemen yang sesuai bidang ilmunya masing-masing. Misalnya, ada jurusan kedokteran, keperawatan, maka ia akan bertanggungjawab kepada MenteriKesehatan bukan ke Mendiknas, ada jurusan manajemen dan ekonomi maka akan berada di bawah kendali Menteri Perekonomian, begitu seterusnya. Sistem pendidikanyang dijalankan dengan model kedua ini akan memiliki tingkat keprofesionalan yangtinggi karena didukung tenaga-tenaga yang memang benar-benar ahli di bidangnyatetapi berakibat lemah pada aspek manajemen.Menyinggung masalah profesionalisme, maka sebenarnya pilihan pertama juga tidak lebih rendah dibanding pilihan kedua. Ketika urusan pendidikan semuanyaditanggung oleh Depdiknas, maka dalam pelaksanaannya, Depdiknas tidak harus berdiri sendiri, misalnya untuk menangani jurusan Teknik, Depdiknas dapat berkonsultasi dan melakukan koordinasi dengan Menteri Riset dan Teknologi, begitu juga lainnya. Sehingga kalau ini dapat berjalan efektif maka akan mengungguli padaopsi yang kedua. Kelemahan pada opsi kedua adalah orang-orangnya masih diragukankemampuannya untuk mengelola sistem pendidikan.Berpijak pada pemikiran di atas, masing-masing opsi memiliki kelebihan dankekurangan. Hemat penulis, bahwa pendidikan akan dapat berjalan secara profesionaldan menghasilkan lulusan yang berkualitas, apabila didukung oleh tenaga edukatif yang memiliki keahlian sesuai bidangnya dan didukung tenaga profesional yangmemiliki kemampuan dalam manajemen sistem pendidikan, karena penyelenggaraan pendidikan di tanah air kita tidak dapat dilepaskan dari sistem administrasi-birokrasi.Sehingga ke depan, pendidikan Indonesia harus lebih baik dari sekarang. Sistem pendidikan Indonesia harus dikelola oleh dua tenaga, yaitu tenaga edukatif yangmumpuni dan tenaga profesional yang canggih. Sudah bukan waktunya lagi, kitarebutan proyek pendidikan , siapa sebenarnya yang paling berhak menjadi atasannya,sebaiknya pendidikan dikelola secara kolektif yang nantinya akan menghasilkan buah pendidikan yang juga dapat dirasakan secara kolektif. Dengan sistem pendidikan yang baik, maka masa depan Indonesia juga akan semakin maju.Dengan demikian, maka harus ada satu departemen yang khusus menangani bidang pendidikan sejak tingkat dasar sampai jenjang perguruan tinggi. Dalam hal iniseharusnya hanya Depdiknas yang berhak mengurusi bidang pendidikan. Namun,sesuai dengan paparan di atas, agar dalam pelaksanaannya pendidikan lebih professional maka Depdiknas harus selalu saja melakukan konsultasi dan koordinasidengan departemen atau intansi terkait yang sesuai dengan bidang keilmuan. Sekalilagi, yang perlu ditekankan adalah sistem birokrasi pendidikan di Negara kita
 
sebaiknya harus melebur ke depdiknas saja, dengan harapan agar semuanya dapatterkontrol dengan baik secara profesional, tidak ada yang di anak-emaskan maupunanak-tirikan. (http://www.penulislepas.com/v2/?p=501(Ditulis Oleh: Abdul Halim Fathoni
Birokrasi Pendidikan ditinjau dari aspek ontologishttp://azharighalib.wordpress.com/2008/07/28/birokrasi-pendidikan-ditinjau-dari-perspektif-ontologi
/
PendahuluanHampir sepuluh tahun setelah Indonesia memasuki era “reformasi”(pascakepemimpinan Soeharto), negara ini tetap belum mampu membangun sebuahtata kelola pemerintahan yang baik, yang menempatkan kepentingan rakyat di atassegalanya dan mampu meredam ambisi pribadi para pengelolanya.Kekuatan birokrasi Indonesia sebetulnya bisa menjadi mesin penggerak yang luar  biasa apabila mampu didayagunakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Namun,yang saat ini terjadi justru sebaliknya.Birokrasi Indonesia—sebut saja sekitar 3,6 juta pegawai negeri di luar polisi danmiliter—justru menjadi beban negara. Sampai-sampai pemerintah sempatmengeluarkan kebijakan zero growth untuk mengurangi kemubaziran tenaga pemerintah di instansi-instansi sipil.Mengapa birokrasi kita tak mampu menjadi sebuah kekuatan pengubah? Bisa jadikarena pemerintah memang tak memiliki visi kepemimpinan maupun grand designuntuk melakukan reformasi.Belum lagi struktur kepegawaian sipil di Indonesia begitu “gemuk”. Terdiri dari limaeselon (tertinggi eselon 1), empat golongan (tertinggi golongan IV), Begitu juga birokrasi dalam pendidikan belum mampu memberikan konstribusi yang berarti bagi peningkatan mutu pendidikan. Dalam tulisan ini ingin dikaji tentang hakikat birokrasi pendidikan (aspek ontologi) yang mungkin bisa mengurai benang kusut birokrasi pendidikan.Asumsi Dasar Dalam dunia pendidikan, sebuah organisasi sangat diperlukan dalam rangkamemperlancar fungsi dan proses pendidikan. Dalam menjalankan fungsi pendidikantidaklah dapat dipisahkan dengan birokrasi. Pada dasarnya, birokrasi ini hakikatnyaadalah salah satu perangkat yang fungsinya untuk memudahkan pelayanan publik.Birokrasi digunakan untuk dapat membantu mempermudah dalam memberikanlayanan pendidikan yang pasti akan mempengaruhi dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. Birokrasi merupakan instrumen pembangunan pendidikan. Kekuatan birokrasi Indonesia sebetulnya bisa menjadi mesin penggerak yang luar biasa apabilamampu didayagunakan untuk memajukan kesejahteraan rakyat. Jika birokrasidijalankan dengan benar, konsisten dan bertanggungjawab, maka kualitas pendidikanakan maju. Singapura, Hongkong, Malaysia dan Thailand merupakan contoh nyatanegara yang menerapkan birokrasi dengan baik, sehingga pendidikan merekamempunyai kualitas lebih baik dikarenakan birokrasinya yang profesional, tegas danefisien. Namun terdapat gejala atau fakta yang menunjukkan bahwa birokrasi tidak mampumemberikan layanan yang baik kepada pelanggan pendidikan. Hal ini dapat dilihatdari fakta-fakta berikut ini:1.Adanya keterlambatan dalam mensosialisasikan tentang perubahan kurikulum. 2.Menurut laporan banyaknya pungutan liar pada instutusi pendidikan yang bermula

Activity (31)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Valenciano Raden liked this
rorosetia liked this
Nur Hidayah liked this
Hazarizah Adam liked this
Boy Redzone liked this
Ume Ana Manjha liked this
Sunardy Bae liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->