Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hukum perdukunan

Hukum perdukunan

Ratings: (0)|Views: 616 |Likes:
Published by Chardan Hasektio

More info:

Published by: Chardan Hasektio on May 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2012

pdf

text

original

 
Date : October 18th, 2009Category :AqidahAuthor : abidun No comments Sesungguhnya di antara musibah besar yang masih melanda umat Islam adalah masalah perdukunan. Siapapundapat merasakannya dengan jelas dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita sering melihat orang yangkehilangan barang-barangnya lalu ia menanyakannya kepada orang yang dianggap tahu masalah-masalah gaibatau mampu menerawang benda-benda dari jarak jauh yang tidak tembus oleh pandangan mata biasa. Kita jugasering melihat orang yang sedang kebingungan dalam masalah pekerjaan, jodoh, atau tentang nasib hidupnyayang lain lalu ia datang kepada dukun untuk mempertanyakan hal tersebut, apakah yang lebih cocok untuknya,dengan berdasarkan anggapan atau keyakinan bahwa sang dukun tersebut mengetahui masa depan atau nasibmanusia yang rahasia. Atau yang sering kita lihat, yakni ketika akan mengadakan acara perkawinan atau acaralain yang penting, bahkan yang tidak penting juga, mereka datang kepada orang yang dianggap tahu tentanghari-hari tertentu yang baik menurut perhitungan primbon dan semacamnya.Apakah pandangan Islam yang sebenarnya tentang masalah-masalah tersebut dan kenapa ia masih begitumengakar kuat dalam kehidupan umat Islam, terkhusus umat Islam Indonesia? Marilah kita bahasa bersama-sama di bawah ini.
Hakikat Perdukunan
(Kihanah)
Menurut bahasa,
kihanah
adalah pekerjaan seorang
kahin
atau dukun. Lalu apakah yang dimaksud dengan
kahin
?
 Kahin
adalah orang yang menyampaikan berita tentang hal-hal yang terjadi pada masa yang akan datangdan mengaku mengetahui rahasia-rahasia dan sesuatu yang gaib. Demikian definisi
kahin
yang terdapat dalamkamus
 Lisanul Arab
(13/362).Arti
kahin
menurut istilah syara’ tidak jauh berbeda dengan artinya menurut bahasa. Menurut Imam Khathabi,ada perbedaan antara
kahin
dan
arraf.
 
 Kahin
adalah orang yang melakukan pemberitaan tentang perkara- perkara yang terjadi pada masa yang akan datang dan mengaku mengetahui rahasia-rahasia. Sedangkan
‘arraf 
adalah orang mengaku mengetahui benda yang dicuri, tempat sesuatu yang hilang, dan sejenisnya. (Nawawi,
Syarh Shahih Muslim
, 5/22)Dari penjelasan para ulama tentang makna
kahin
, kita dapat menyimpulkan bahwa
kahin
adalah orang yangmengaku mengetahui masalah gaib tanpa melalui cara yang benar. Apapun istilahnya dan siapapun pelakunya, jika seseorang termasuk dalam kategori definisi di atas disebut dengan
kahin.
(Lihat
 Fatawa al-Azhar,
7/374dan
Syarh Shahih Muslim
, 18/48)Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan gaib? Di dalam
 Fatawa al-Azhar 
(7/374) dijelaskan bahwagaib adalah sesuatu yang berada di luar pengetahuan manusia. Di antara gaib ada yang dapat diketahui dengancara-cara biasa, misalnya benda yang hilang diketahui dengan cara mencarinya dan ilmu yang belum diketahuidiketahui dengan cara mempelajarinya seperti masalah listrik, dunia virus dan sejenisnya. Dan ada juga gaibtidak dapat diketahui dengan cara-cara biasa, melainkan harus dengan berita yang benar, misalnya masalah-masalah akhirat dan sesuatu yang berada di balik materi (metafisika). Untuk gaib jenis yang kedua ini kita tidak dapat mengetahuinya melainkan dengan penjelasan wahyu, yakni Al-Qur`an dan As-Sunnah. Demikianlah penjelasan Syekh Athiyah Shaqr dalam
 Fatawa Al-Azhar 
tersebut.Setelah kita memahami definisi
kahin
seperti di atas, kita dapat menilai bahwa orang yang mengakumengetahui masalah nasib, rezeki, perkara jodoh atau sejenisnya, hari naas dan hari yang tidak naas, ramalanrasi bintang (horoskop dan sejenisnya), barang-barang yang dicuri, benda-benda yang hilang adalah termasuk 
kahin.
Dan kita dapat mengatakan bahwa orang yang mendatanginya untuk menanyakan hal-hal tersebut, baik 
 
ia percaya atau tidak percaya adalah orang yang mendatangi
kahin
yang hukumnya akan dijelaskan sebentar lagi.Kita jangan tertipu dengan ucapan sebagian
kahin
yang memang sengaja untuk membodohi orang-orang awam.Yaitu ketika ia mengatakan bahwa yang menentukan segala sesuatu adalah Allah swt, adapun dirinya hanyalahsebatas memberikan bantuan. Hal itu karena ia jelas-jelas telah masuk dalam area yang sangat terlarang.Sesungguhnya telah dikatakan,
lisanul hal afshah min lisanil maqal,
artinya: lisan keadaan (perbuatan) lebih jelas daripada lisan ucapan.
Hukum Perdukunan
Hukum perdukunan dosa besar berdasarkan dalil-dalil Al-Qur`an, hadits, dan ijma’ ulama, bahkan sampaikepada kekafiran. Dalam kitab
az-Zawajir ‘an Iqtifaf al-Kaba`ir 
(2/498)
 ,
al-Faqih Ibnu Hajar al-Haitamimemasukkan
kihanah
(perbuatan
kahin
) dan
‘irafah
(perbuatan
‘arraf 
) sebagai dosa besar. Begitu jugamendatangi
kahin
dan
‘arraf 
.Di dalam
al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah
(37/173-174) disebutkan bahwa para ahli fiqih telah bersepakat (ijma’) untuk mengharamkan perdukunan dan menjadikannya sebagai profesi. Para ahli fiqihmenghukumi dukun sebagai orang yang kafir. Adapun orang yang mendatanginya untuk menanyakan sesuatu,shalatnya tidak diterima empat puluh hari. Dan jika ia sampai membenarkan ucapan-ucapan dukun tersebut, ia juga kafir alias keluar dari agama Islam.
Dalil-Dalil Terlarangnya Perdukunan
1. Dalil Al-Qur`an
Dalam banyak ayat, Allah swt menjelaskan bahwa hanya Allah lah yang mengetahui masalah gaib kecuali paraRasul yang telah diberitahu tentang hal itu dengan jalan wahyu.- Allah swt berfirman,
لٍ و ْ سُ رّن ْ مِىض َ تَ رْا ن ِ مَّإِاًدحَأَه ِ ب ِ ي ْ غَىع  ُ  ِ ظ ْ ُ َ فَ ِ ي ْ ا  ُ ِعَ
.
“Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya.”
 
(al-Jinn: 26-27)
Ayat yang mulia ini mengatakan dengan tegas bahwa hanya Allah lah yang mengetahui perkara gaib dan tidak ada manusia yang mengetahui masalah gaib kecuali Rasul yang Dia ridhai. Dengan kata lain, pengetahuantentang gaib yang dimiliki para Rasul bersumber dari wahyu. Hal ini berbeda dengan para dukun yang mengakumengetahui gaib berdasarkan terkaan dan kebohongan saja.- Allah swt berfirman,
  ِ ي ْ خَْا ن َ مِُ  ْ ث َ ك ْ  َ سْَ َ ي ْ َْا  ُ  َ عْأَ ُ  ْ ُو ْ َ َه ُ ا ءَشَمَّإِا  ََ َ ً  ْ َ ْ  ِ  ْ  َ ِ ُ  ِ مْأََ ْ قُ
.
“Katakanlah, ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya.”
 
(al-A’raf: 188)
 
Dari ayat ini, kita memahami bahwa Rasulullah saw tidak mengetahui gaib. Tetapi, para dukun dan sejenisnyadengan sombong mengaku mengetahui masalah gaib. Pantas saja, jika para Fuqaha menyatakan bahwa paradukun adalah kafir dan orang yang membenarkan mereka juga kafir.Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat sebelumnya dan hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwaRasulullah saw mengetahui sebagian dari hal-hal gaib, karena pengetahuan beliau tersebut bersumber dariwahyu. Ayat ini berarti bahwa pada dasarnya para Rasul tidak mengetahui masalah gaib karena masalah gaibhanya Allah yang memonopolinya, kemudian ayat yang sebelumnya mengecualikan ayat ini. Pendek kata,sebagian dari masalah gaib yang diketahui para Rasul bersumber dariu wahyu Allah. Adapun sumber ilmu gaibyang diakui para dukun adalah berdasarkan dugaan, terkaan, dan tebakan semata, tidak lebih!- Allah swt berfirman,
 
ن ِ ي ِ  ُ ْا ِاذ َ  َ ْا  ْ فِاوث ُ ب ِ َمَ َ ي ْ  َ ْا َ و ْ  ُ  َ  ْ َاوُَو ْ َْأَن  ج ِ ْا  ِ  َ ي ّ ب َ تَ ّ َ ّ  َ فَ
.
“Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaibtentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan.”
 
(Saba`: 14)
Jika sebagian dukun mengaku mengetahui hal gaib dengan bantuan jin, maka Allah swt melalui firman di atasmenegaskan bahwa jin tidak mengetahui yang gaib. Nabi Sulaiman sebenarnya telah lama meninggal dalamkeadaan berdiri dengan tongkatnya. Para jin yang bekerja tidak tahu bahwa Nabi Sulaiman telah wafat. Justrumereka tahu setelah hewan rayap menggerogoti tongkatnya sampai akhirnya ia tersungkur. Dan mereka punmenyesal, seandainya mereka tahu yang gaib, mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan, yaknitidak terus bekerja atas perintah Sulaiman. Renungkanlah tentang pengakuan mereka ini, lalu bandingkandengan aksi-aksi para dukun!
2. Dalil Hadits
-Hadits Aisyah r.a.
لُ و ْ سُ رَ ْ  ُ َلَ َ فَِ ّ ك ُ ْا ن ِ عَ– س هيع ها ىص – ه ِ ا لَ و ْ سُ رَٌَأُلَ َ سَ:ة ُ  َ ئِعَ ْ َقَ ًي َ حْأََ وُد   َ ُ ْ  ُ ّ ِ فَه ِ  ّ ا لَ وسُ رََ:اوُقَ. « ءٍى ْ  َ ِاو ُ ي ْ َ» :- س هيع ها ىص – ه ِ  ّ ا   َ ْا ن َ مِة ُ  َ  ِ ك َ ْا  َ  ْ تِ» :- س هيع ها ىص – ه ِ  ّ ا لُ وسُ رَلَ َ فَ.  حَُ و ْ ك ُ َءِى ْ  ّ ِ ة ٍ َذ ْ َة ِ ئَمِن ْ مِ َ ث َ ْأَ َ يفِَ و ْ ط ُ  ِ خْي َ فَ، ة ِ ََد ّ ا  ّ قَه ِ ي  ِ َِُأُىفِَ    ُ ي َ فَ،ى    ج ِ ْا  َ  ُ ط َ خْَ 
»
Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah saw ditanya tentang para kahin, lalu beliau menjawab,
‘Mereka tidak bernilaiapa-apa!’ 
Para sahabat berkata,
 
‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka terkadang memberitakan sesuatudengan benar.’ Beliau bersabda,
‘Kalimat yang benar itu berasal dari pencurian jin, lalu jin menyuarakannyadi telinga walinya (dukun) seperti suara ayam betina yang berkokok (sehingga menggugah teman-temannya)),lalu para setan (yang mendengarnya) mencampurinya dengan seratus kedustaan.’”
 
(HR Bukhari danMuslim)
 
Imam Nawawi berkata, “Qadhi (Iyadh) mengatakan bahwa dukun Arab itu ada tiga macam; salah satunyaseseoang yang memiliki teman dari jin yang memberikan kabar kepadanya dari hasil pendengarannya secaradiam-diam dari langit. Jenis yang pertama ini telah batal sejak diutusnya Rasulullah saw” Selanjutnya QadhiIyadh menyebutkan jenis dukun yang kedua, yakni dukun yang memberitahu apa yang sedang terjadi di tempatlain, dan dukun yang ketiga, yakni ahli nujum.
(
 Syarah Shahih Muslim
, 14/223)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Imam Qurthubi mengatakan bahwa orang-orang Arab pada masa jahiliah sukamengajukan masalah-masalah dan hukum-hukum kepada para dukun dan mereka menjadikan perkataan paradukun tersebut sebagai pegangan. Perdukunan telah terputus dengan diutusnya Rasulullah saw. Namun, masih

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Pangeran Capunk added this note
ijin mau download

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->