Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
31Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsumtivisme Dan Hedonisme Dalam Media Massa

Konsumtivisme Dan Hedonisme Dalam Media Massa

Ratings: (0)|Views: 1,212 |Likes:

More info:

Categories:Types, Research
Published by: AG. Eka Wenats Wuryanta on May 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
1|
A E W / S M I B / u a s - u i  
KONSUMTIVISME DAN HEDONISME DALAM MEDIA MASSA
Tinjauan Teori Kritis Sensualisme pada Majalah PriaMenurut Perspektif KritisHerbert Marcuse dan Jean Braudillard
(AG. Eka Wenats Wuryanta)
PENDAHULUANMasyarakat modern ditandai dengan semakintingginya waktu untuk bertukar informasi, baik denganmedia komunikasi maupun dengan pemakaian teknologi komunikasi seperti telepon dan komputer.Media komunikasi, dalam hal ini media massa, memiliki fungsi-fungsi bagi masyarakat. McQuailmengemukakan fungsi-fungsi media massa sebagai pemberi informasi, pemberi identitas pribadi,sarana intergrasi dan interaksi sosial dan sebagai sarana hiburan (Denis McQuail, 2000).Selain sebagai pemberi informasi media massa juga berfungsi sebagai pemberi identitas pribadikhalayak. Sebagai pemberi identitas pribadi, media massa juga berfungsi sebagai model perilaku.Model perilaku dapat kita peroleh dari sajian media. Apakah itu model perilaku yang sama dengan yangkita miliki atau bahkan yang kontra dengan yang kita miliki.Selain berfungsi menjadi model perilaku, sebagai pemberi identitas media massa juga berfungsisebagai sarana untuk mengidentifikasikan diri dengan nilai-nilai lain (dalam media). Manusia memilikinilai-nilai hidupnya sendiri yang pada gilirannya akan ia gunakan untuk melihat dunia. Namun manusiajuga perlu untuk melihat nilai-nilai yang diciptakan oleh media. Seperti yang kita ketahui, mediamembawa nilai-nilai dari seluruh penjuru dunia. Implikasinya adalah konsumen media dapatmengetahui nilai-nilai lain di luar nilainya.Fungsi lain media massa sebagai pemberi identitas, dimana media merupakan sarana untukmeningkatkan pemahaman mengenai diri sendiri. Untuk melihat serta menilai siapa, apa danbagaimana diri kita, pada umumnya dibutuhkan pihak lain. Kita harus meminjam kacamata orang lain.Media dapat dijadikan sebagai salah satu kacamata yang dipergunakan untuk melihat siapa, apa sertabagaimana diri kita sesungguhnya.Bersosialisasi dengan orang lain di saat kita tidak berusaha untuk mengadakan komunikasi denganorang tersebut merupakan hal yang sulit. Di lain pihak, akan sulit bagi kita untuk berkomunikasi denganorang lain apabila kita tidak mengetahui topik apa yang bisa digunakan untuk membangun komunikasidengan orang tersebut. Media membantu kita dengan memberikan berbagai pilhan topik yang bisadigunakan dalam membangun dialog dengan orang lain. Hal ini pada gilirannya menjadikan mediamassa sebagai sarana integrasi dan interaksi sosial berfungsi untuk penyedia bahan percakapandalam interaksi sosial.Media massa memungkinkan seseorang untuk dapat mengetahui posisi sanak keluarga, teman danmasyarakat. Baik posisi secara fisik, secara intelektual maupun secara moral mengenai suatuperistiwa. Fungsi media massa yang satu ini biasanya dapatdilihat pada surat untuk redaksi, kolompembaca dan yang sejenis. Pada multimedia fungsi ini menjadi sangat menonjol karena kitadimungkinkan untuk berinteraksi langsung dengan orang lain dalam waktu relatif lebih cepat.Fungsi keempat media massa menurut McQuail adalah sebagai hiburan. Berkaitan dengan itu mediamassa menjalankan fungsinya sebagai pelepas khalayak dari masalah yang sedang dihadapi. Rasajenuh di dalam melakukan aktivitas rutin pada saat tertentu akan muncul. Di saat itulah media menjadi
This document was created with free TRIAL version of eXPert PDF.This watermark will be removedafter purchasing the licensed full version of eXPert PDF. Please visitwww.visagesoft.comfor more details
 
2|
A E W / S M I B / u a s - u i  
alternatif untuk membantu kita di dalam melepaskan diri dari problem yang sedang dihadapi atau laridari perasaan jenuh.Khalayak juga memperoleh kenikmatan jiwa dan estetis dari mengkonsumsi media massa. Manusiatidak saja perlu untuk memenuhi kebutuhan fisiknya, namun ia juga harus memenuhi kebutuhanrohaninya, jiwanya. Kebutuhan ini dapat terpuaskan dengan adanya media massa. Media massamemenuhi kebutuhan tersebut dengan sajian yang menurut media yang bersangkutan dapat dinikmatidan memiliki nilai estetika.Media massa juga dapat berfungsi sebagai pengisi waktu, dimana ini juga termasuk fungsi mediamassa sebagai sarana hiburan bagi khalayak. Kadang orang melakukan sesuatu tanpa ada tujuan.Mengkonsumsi media massa tanpa memiliki tujuan adalah salah satunya.Penyaluran emosi. Ini merupakan fungsi lain dari media massa sebagai sarana hiburan. Emosi pastimelekat dalam diri setiap manusia. Dan layaknya magma yang tersimpan di dalam perut bumi, emosiada saatnya untuk dikeluarkan. Emosi butuh penyaluran,dan salah satu salurannya adalah denganmengkonsumsi media massa atau bahkan memproduksi media yang senada dengan emosinya.PERMASALAHANBerdasarkan fungsi-fungsi media massa yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dapat dikatakan pulabahwa media massamemiliki peran di dalam menciptakan apa yang disebut dengan daya tarik seks(sex appeal). Mengenai hal ini dapat diasumsikan bahwa fungsi media massa sebagai salah satusarana pembangkit gairah seks adalah fungsi yang paling dapat menjelaskan mengapa media massadipandang berperan di dalam menciptakan apa yang berkaitan dengan seks. Entah itu standarisasidaya tarik seks yang perlu dimiliki seseorang, apa yang perlu dilakukan untuk mendapat daya tarikseks yang tinggi, apa yang akan didapat dengan memilikidaya tarik seks tertentu, dan sebagainya.Model-model yang ditampilkan pada sebuah majalah, misalnya, bisa diartikan sebagai bagian upayamedia massa di dalam mengatakan apa yang mereka nilai sebagai orang yang memiliki daya tarikseks. Seperti yang kitalihat, majalah-majalah tidak sembarangan di dalam memilih model yang akandijadikan model sampulnya. Ada semacam kriteria tertentu yang harus dimiliki model tersebut agar iadapat ditampilkan oleh majalah yang bersangkutan.Memang, daya tarik seks pada umumnya sering disamakan dengan daya tarik fisik pria atauperempuan. Bentuk tubuh, wajah, bibir, rambut, dan sebagainya yang menyangkut fisik adalah kriteriayang digunakan untuk mengukur daya tarik seks seseorang. Namun ternyata ada hal lain selain dayatarik fisik yang diperlukan untuk membentuk daya tarik seks. Karisma, tingkat intelektual yang tinggi,kesuksesan, dan kemapanan secara materi, merupakan beberapa diantara hal yang bisa dikategorikansebagai unsur yang menjadikan seseorang memiliki daya tarik seks. Kesemuanyaini pada gilirannyaakan bermuara pada konsumerisme dan hedonisme.Materi apa yang dikatakan oleh media massa sebagai sesuatu yang memiliki daya tarik seks akanmendorong khalayak untuk memiliki gaya hidup konsumtif karena media massa memiliki kekuatanuntuk menawarkan apa yang saat ini sedang tren, apa yang saat ini dicari orang, apa yang saat iniharus dimiliki orang, dan berbagai pikiran yang sejalan dengan itu, termasuk menentukan apa yangharus dimiliki khalayak untuk dapat memiliki sex appeal. Begitu juga dengan apa yang melekat padaorang-orang yang memiliki sex appeal, dapat mendorong orang kepada gaya hidup hedonis.Hedonisme dapat didefinisikan sebagai bentuk dari kecintaan seseorang pada dunia, sehingga apasaja yang dilakukannya berorientasi pada kepuasan duniawi semata.
This document was created with free TRIAL version of eXPert PDF.This watermark will be removedafter purchasing the licensed full version of eXPert PDF. Please visitwww.visagesoft.comfor more details
 
3|
A E W / S M I B / u a s - u i  
Media massa, dalam hal ini, memiliki pengaruh terhadap penciptaan kriteria daya tarik seks pada priadan perempuan. Dukungan terhadap kriteria daya tarik seks itu sendiri pada dasarnya dilandasi olehkepentingan ekonomi.Hal tersebut juga dapat diartikan bahwa pria dapat digolongkan sebagai pengendali perekonomian,dimana mereka merupakan pasar potensial bagi barang konsumen. Kecenderungan ini dapat dilihatdari fenomena mulai maraknya produksi barang yang diperuntukkan bagi kaum pria. Bukan sajabarang-barang yang memang dekat dengan bidang produksi (mobil, alat-alat telekomunikasi, dansebagainya), tetapi juga bidang domestik (perawatan tubuh dan wajah, pakaian, penambah vitalitas(gairah seks). Walaupun mungkin tidak sebesar potensi yang dimiliki perempuan sebagai big spender,namun pria tetap saja dapat digolongkan sebagai pasar yang menjanjikan. Ditambah lagi dengansemakin banyaknya majalah atau media massa lain yang mulai bermain di celung segmen khususpria’. Mulai dari majalah, tabloid, dan radio semakin mengukuhkan pria sebagai golongan yang memilikitempat khusus dihati pelaku ekonomi yang kapitalistik.MASYARAKAT DAN KOMODITASSaat ini partisipasi masyarakat dunia amat tinggi, dan fenomena partisipasi aktif ini tidak terlepas dariperkembangan kapitalisme. Masyarakat kapitalis mutakhir disebut Jean Braudillard denganmasyarakat konsumer(Jean Braudillard, 2005) dan Adorno dengan masyarakat komoditas”(
commoditysociety
) (Ibrahim dalam Ibrahim,hal. 1997, hal. 24).Adorno mengemukakan empat aksioma penting yang menandai masyarakat komoditas”. Empataksioma tersebut adalah ; Pertama, masyarakat yang di dalamnya berlangsung produksi barang-barang, bukan terutama bagi pemuasan keinginan dan kebutuhan manusia, tetapi demi profit dankeuntungan. Kedua, dalam masyarakat komoditas, muncul kecenderungan umum ke arah konsentrasikapital yang massif dan luar biasa yang memungkinkan penyelubungan operasi pasar bebas demikeuntungan produksi massa yang dimonopoli dari barang-barang yang distandarisasi. Kecenderunganini akan benar-benar terjadi, terutama terhadap industri komunikasi. Ketiga, hal yang lebih sulitdihadapi oleh masyarakat kontemporer adalah meningkatnya tuntutan terus menerus, sebagaikecenderungan dari kelompok yang lebih kuat untuk memelihara, melalui semua sarana yang tersedia,kondisi-kondisi relasi kekuasaan dan kekayaan yang ada dalam menghadapi ancaman-ancaman yangsebenarnya mereka sebarkan sendiri. Dan keempat, karena dalam masyarakatkita kekuatan-kekuatanproduksi sudah sangat maju, dan pada saat yang sama, hubungan-hubungan produksi terusmembelenggu kekuatan-kekuatan produksi yang ada, hal ini membuat masyarakat komoditas “saratdengan antagonisme(full of antagonism). Antagonismeini tentu saja tidak terbatas pada wilayahekonomi(economic sphere) tetapi juga ke wilayah budaya(cultural sphere).Masyarakat kini hidup dalam budaya konsumer. Ada tiga perspektif utama mengenai budaya konsumermenurut Featherstone (1991). Tiga perspektif yang dimaksud adalah ; Pertama, budaya konsumer didasari pada premis ekspansi produksi komoditas kapitalis yang telah menyebabkan peningkatanakumulasi budaya material secara luas dalam bentuk barang-barang konsumsi dan tempat-tempatuntuk pembelanjaan dan untuk konsumsi. Hal ini menyebabkan tumbuhnya aktivitas konsumsi sertamenonjolnya pemanfaatan waktu luang (leisure) pada masyarakat kontemporer Barat.Kedua, perspektif budaya konsumer berdasarkan perspektif sosiologis yang lebih ketat, yaitu bahwakepuasan seseorang yang diperoleh dari barang-barang yang dikonsumsi berkaitan dengan aksesnyayang terstruktur secara sosial. Fokus dari perspektif ini terletak pada berbagai cara orang
This document was created with free TRIAL version of eXPert PDF.This watermark will be removedafter purchasing the licensed full version of eXPert PDF. Please visitwww.visagesoft.comfor more details

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->