Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
73Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah III

Makalah III

Ratings:

4.95

(19)
|Views: 51,116|Likes:
Published by hendramadjid
Kondisi Pendidikan di Kalimatan SElatan, Wahyu MS
Kondisi Pendidikan di Kalimatan SElatan, Wahyu MS

More info:

categoriesTypes, Research
Published by: hendramadjid on May 31, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/17/2013

pdf

text

original

 
DESKRIPSI KONDISI SEABAD PENDIDIKANDI INDONESIA PADA UMUMNYA DANKALIMANTAN SELATAN KHUSUSNYA¹)OLEH : WAHYU²)Pendahuluan
Pendidikan memang tidak lepas dari politik, dan juga tidak lepas daritransformasi kebudayaan bangsa dan masyarakat Indonesia. Di dalam perjalanan perjuangan kebangsaan Indonesia kita lihat hubungan yang sangat erat antara pendidikan dan perjuangan nasional.Kekuatan penjajah, khususnya Belanda, yang telah terlaksana hampir 350 tahun benar-benar telah mengungkung kemajuan bangsa Indonesia. Kekuatan kolonialBelanda telah mengakibatkan kemelaratan dan kebodohan. Segala kebijakan kaum penjajah diarahkan kepada sebesar-besarnya mengangkut kekayaan bumi Indonesiauntuk kepentingannya. Yang tersisa adalah bangsa Indonesia yang tetap hidup melaratdan hidup di dalam alam kebodohan. Namun, kehidupan dunia semakin terbuka, komunikasi antar bangsa semakin berjalan pesat, dan berbagai tokoh politik Belanda mulai menyadari akan kekeliruanmereka. Maka muncullah apa yang disebut
gerakan politik etis
di Belanda, yaitu kaum penjajah harus mengakui akan kekeliruannya terhadap daerah jajahannya. Akibattekanan dan kecaman tokoh-tokoh kaum humanis dan sosial demokrat di Belandamemaksa pemerintah Belanda untuk meninjau kembali politik kolonialnya.Pada tahun 1901, muncullah
gerakan politik etis
tersebut yang antara laindibukanya yang lebih besar bagi anak-anak Bumi Putera (Indonesia) untuk memperoleh pendidikan Barat. Dengan pendidikan Barat inilah muncul suatu elit baru bangsaIndonesia yang berpendidikan. Salah satu hasil dari politik etis ini ialah munculnyainisiatif para pemuda pelajar Stovia di Jakarta pada 17 Maret 1915 mendirikan
Trikoro
¹) Materi ini disampaikan pada acara Konferensi Pendidikan, Tema Momentum SeabadKebangkitan Nasional Menuju Pendidikan Indonesia Lebih Baik, Minggu 25 Mei 2008 di Gedung SultanSuriansyah Kayutangi Banjarmasin.²) Guru Besar Sosiologi FKIP Unlam Banjarmasin.
1
 
1
 
Dharmo
, yang didirikan oleh Dr. R. Satiman, meskipun gerakan ini masih berorientasietnik Jawa. Tapi gerakan ini kemudian melahirkan perkumpulan Jong Java yang sudah bersifat umum, yang kemudian diikuti oleh perkumpulan kesukuan lainnya, seperti JongSumatera (1917), Jong Ambon (1910), Jong Minahasa (1919), Jong Celebes, JongBatak, Sekar Rukun (Pemuda Sunda, 1920), dan lain-lain.Para Pemuda masa itu bergandengan dengan gerakan politik nasional yangmempunyai berbagai persamaan. Mereka bersepakat untuk memperbanyak kesempatanmemperoleh pendidikan dengan membuka sekolah-sekolah sehingga dapat menampungsemakin banyaknya anak Indonesia.Betapa eratnya gerakan nasional dengan pendidikan nasional, yang antara lain bisa dilihat buah pikiran dari para tokoh gerakan nasional. Seperti, WahidinSudirohusodo mengatakan “hanya dengan banyak belajarlah orang-orang akan maju danterbebaskan dari situasi serba tertindas” (Nasution, 1987; Tilaar, 1995). KongresPasundan tahun 1930, ketika ketuanya Otto Subrata, menegaskan bahwa gerakan itu berorientasi pada lima bidang, yaitu : (1) pengajaran dan pendidikan, (2) urusan sosial,(3) ekonomi, (4) politik, dan (5) keuangan. Di sini jelas sekali, betapa gerakan nasional berjalan seiring dengan rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta menempatkan pengajaran dan pendidikan sebagai salah satu sarana yang utama. Dalam kaitan ini,Ki Hajar Dewantara tahun 1922 telah merumuskan siasat atau strategi perjuangannasionalnya dalam bentuk mendirikan pendidikan nasional yang dinamakan TamanSiswa.Lainnya, perkumpulan Partai Politik seperti PSSI, di dalam Anggaran Dasar yang dirumuskan tahun 1938 antara lain dikemukakan bahwa ada dua tujuan pengajaran : (1) Memenuhi keperluan rakyat dalam hal pengajaran, (2) Mengadakanaturan tentang kewajiban belajar. Begitu juga Pidato Pembelaan Bung Hatta tahun 1927di pengadilan Den Haag antara lain menyebutkan supaya ada perbaikan di bidang sosial,antara lain pembinaan pendidikan nasional.Dari uraian singkat ini, penulis ingin menegaskan kembali bahwa di dalamsejarah perjuangan nasional kita, maka tampak dengan jelas betapa pendidikanmenempati tempat yang sangat strategis. Di dalam organisasi perjuangan para pemudaitu, ada organisasi yang secara jelas menempatkan pendidikan sebagai salah satu program perjuangannya, malah ada organisasi yang menjadikan pendidikan nasional2
 
sebagai sarana perjuangan utamanya, seperti Perguruan nasional Taman Siswa. Dapatlahdiambil kesimpulan bahwa seluruh organisasi politik nasional kita telah menjadikan pendidikan sebagai salah satu program utamanya.
Pendidikan Pada Masa Kolonial Belanda
Tilaar (1995) dalam pandangannya menyebutkan ada 5 ciri yang dapatditemukan pendidikan kita di masa Kolonial Belanda, yaitu :1.
Sistem Dualisme
Dalam sistem dualisme diadakan garis pemisah antara sistem pendidikan untuk golongan Eropah dan sistem pendidikan untuk golongan Bumi Putera. Jadi, di sinidiadakan garis pemisah sesuai dengan politik kolonial yang membedakan antaraBumi Putera dan pihak penjajah.2.
Sistem Konkordansi
Sistem ini berarti bahwa pendidikan di daerah penjajahan diarahkan ataudisesuaikan dengan pendidikan yang terdapat di Belanda. Sistem ini diasumsikan bahwa dengan sistem yang berkonkordansi dengan sistem yang ada di NegeriBelanda, maka mutu pendidikan akan terjamin setingkat dengan pendidikan di Negeri Belanda. Oleh karena itu, lulusan sekolah dari daerah jajahan dapatmelanjutkan ke sekolah tinggi yang terdapat di Negeri Belanda.3.
Sentralisasi
Kebijakan pendidikan di zaman kolonial diurus oleh sebuah DepartemenPengajaran. Departemen ini yang mengatur segala sesuatu mengenai pendidikandengan perwakilannya yang terdapat di Propinsi-propinsi yang besar.4.
Menghambat Gerakan Nasional
Sistem pendidikan pada masa itu sangat selektif karena bukan diperuntukan untuk masyarakat Bumi Putera untuk mendapatkan pendidikan yang seluas-luasnya atau pendidikan yang lebih tinggi. Di dalam kurikulum pendidikan kolonial pada waktuitu, misalnya, sangat dipentingkan penguasaan bahasa Belanda dan hal-halmengenai Negeri Belanda. Misalnya, di dalam mata pelajaran Ilmu Bumi, anak-anak Bumi Putera harus menghafal kota-kota kecil di Negeri Belanda, dll.3

Activity (73)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Arlin Cristina liked this
Lodi Risaldi liked this
mas tiar liked this
Marta Lena liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->