panas atau + 45 hari pada suhu dingin. Serangga penular ini mampu bertelur sebanyak + 800 butir selamamasa hidupnya yang biasanya diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada kuncup dan tunas-tunasmuda sehingga pola pertunasan merupakan faktor penting dalam perkembangannya.Pengendalian dengan musuh alami juga mampu menurunkan/menekan jumlah serangan.Penggunaan musuh alami yang mampu mengendalikan vektor penyebab penyakit ini adalah
Tamarixiaradiata
dan
Diaphorencyrtus aligarhensis
, sedangkan predator yang juga mampu mengendalikan vektornyaseperti
Curinus coeruleus, Coccinella repanda, Syrpidae
dan
Chryophydae
. Namun demikian, penelitianmengenai agen hayati sebagai predator tersebut diatas masih terus dilakukan.Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka mengatasi serangan penyakit ini seperti programrehabilitasi jeruk yang menitik beratkan pada eradikasi (pemusnahan terhadap tanaman yang diserang), pengendalian dengan infusan
Oxytetrasiklin-HCl
, pengendalian terpadu yang melibatkan seluruhkomponen pengendalian termasuk eradikasi, infusan dengan antibiotika, penggunaan bibit jeruk bebas(gejala) penyakit CVPD dan pemberantasan vektor (pembawa) penyakit tersebut. Namun demikian, upaya-upaya tersebut di atas belum memberikan hasil yang memuaskan, penyebabnya adalah penerapan teknologi pengendalian yang dilakukan petani belum sepenuhnya, benar dan berkesinambungan.
Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi pertanian) Karangploso dalam paket rakitan teknologinya yangdisusun Arry Supriyanto dkk, merumuskan beberapa strategi/cara-cara pengendalian penyakit CVPD dalam bentuk Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) Adapun strategi PTKJS meliputi lima macamteknologi yang harus diterapkan secara utuh dan tidak bisa dipisahkan yaitu : (1) penggunaan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, (2) pengendalian serangga penular CVPD
Diaphorina citri Kuw.
secara cermat,(3) melakukan sanitasi kebun secara konsisten, (4) memelihara tanaman secara optimal, dan (5) koordinasi penerapan teknologi pengelolaan kebun dalam suatu wilayah target pengembangan. Program PTKJS iniakan efektif/berjalan dengan baik serta mencapai sasaran bila diterapkan pada daerah pengembangan baruatau daerah yang akan direhabilitasi yang telah bebas dari pohon jeruk yang terinfeksi CVPD pada radius 5km.
Penggunaan Bibit Jeruk Bebas Penyakit
Bibit bermutu diartikan sebagai bibit yang bebas patogen bibit penyakit sistemik seperti CVPD,CTV,
Vein enation, Exortis, Psorosis, Xyloporosis
dan
Tatter leaf
, sesuai induknya yaitu batang bawah dan batang atasnya dijamin kemurniannya dan proses produksinya berdasarkan program sertifikasi jeruk yang berlaku sesuai dengan teknologi produksi bibit jeruk bebas penyakit. Petani di daerah target pengembangandiharuskan hanya menanam bibit berlabel/bersertifikat bebas penyakit dan tetap dilarang menanam bibit