Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
21Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tanggulangi CVPD Pada Tanaman Jeruk

Tanggulangi CVPD Pada Tanaman Jeruk

Ratings: (0)|Views: 2,936 |Likes:
Published by Wiwik Septiani

More info:

Published by: Wiwik Septiani on May 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/19/2013

pdf

text

original

 
Tanggulangi CVPD pada Tanaman Jeruk Anda Sejak Dini
CVPD
(Citrus Vein Phloem Degeneration) atau sering disebut greening yang kini namanyainternasionalnya disebut penyakit " Huang lung Bin" ini termasuk salah satu penyakit jeruk yang masih menjadi momok bagi para petani. Bagaimana tidak? Petani jeruk di sebagian besar sentra produksi pernah merasakan kehebatan serangan penyakit ini yang mampu memusnahkan seluruhtanaman jeruk bahkan hingga saat ini masih ada yang belum terbebas dari serangan penyakit tersebut. Dengan program upaya pengendalian terpadu kebun jeruk sehat yang diformulasikan team peneliti  BPTP Karangploso Malang, diharapkan serangan penyakit 
CVPD
yang hingga saat ini masihmenyerang dapat dikendalikan.
 
CVPD tidak lain dan tidak bukan adalah penyakit yangmenyebabkan daun jeruk berwarna kuning. Penyakit ini menyerang pada hampir seluruh jenis tanaman jeruk yang ada di Indonesiaseperti : jeruk keprok Pulung, jeruk keprok Batu 55, keprok Madura, jeruk manis Pacitan, jeruk nipis Perak, jeruk keprok dan jeruk Siamdan lain-lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri perusa jaringan
 phloem
yang tidak dapat dikulturkan disebut
 Liberobacter asiaticum
dan berbeda dengan yang berkembang di benua Afrikayaitu
 Liberobacter africanum
. Penyebaran penyakit ini ditularkanoleh kutu loncat (pembawa patogen) dan bibit jeruk yang terinfeksiCVPD. Serangan utama penyakit ini biasanya pada kuncup daun dantunas-tunas muda. Serangan terhadap tunas-tunas muda ini akanmengakibatkan tunas menjadi keriting dan pertumbuhannyaterhambat. Pada tingkat serangan lebih lanjut, bagian yang terserangsecara bertahap menjadi kering kemudian mati. Serangga penular  penyakit CVPD ini akan lebih aktif pada suhu tinggi (dataran rendah)dibandingkan suhu rendah (dataran tinggi). Tanaman inang kutuloncat ini adalah kemuning (
Muraya peniculata
) dari famili
 Rutaceae
.
 
 Daun menguning dengan tulang daun yang masih hijau, merupakan gejala awal  serangan CVPD
 
Kutu loncat ini juga menghasilkan sekresi berwarna putih berbentuk spiral yang diletakkan di atas permukaan daun atau pucuk tunas. Kutu daun yang memiliki nama Latin
Diaphorina citri
mempunyai 3siklus hidup yaitu telur, nimfa, dan dewasa. Siklus hidupnya berlangsung selama 16-18 hari pada suhu
 
 panas atau + 45 hari pada suhu dingin. Serangga penular ini mampu bertelur sebanyak + 800 butir selamamasa hidupnya yang biasanya diletakkan secara tunggal atau berkelompok pada kuncup dan tunas-tunasmuda sehingga pola pertunasan merupakan faktor penting dalam perkembangannya.Pengendalian dengan musuh alami juga mampu menurunkan/menekan jumlah serangan.Penggunaan musuh alami yang mampu mengendalikan vektor penyebab penyakit ini adalah
Tamarixiaradiata
dan
 Diaphorencyrtus aligarhensis
, sedangkan predator yang juga mampu mengendalikan vektornyaseperti
Curinus coeruleus, Coccinella repanda, Syrpidae
dan
Chryophydae
. Namun demikian, penelitianmengenai agen hayati sebagai predator tersebut diatas masih terus dilakukan.Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka mengatasi serangan penyakit ini seperti programrehabilitasi jeruk yang menitik beratkan pada eradikasi (pemusnahan terhadap tanaman yang diserang), pengendalian dengan infusan
Oxytetrasiklin-HCl 
, pengendalian terpadu yang melibatkan seluruhkomponen pengendalian termasuk eradikasi, infusan dengan antibiotika, penggunaan bibit jeruk bebas(gejala) penyakit CVPD dan pemberantasan vektor (pembawa) penyakit tersebut. Namun demikian, upaya-upaya tersebut di atas belum memberikan hasil yang memuaskan, penyebabnya adalah penerapan teknologi pengendalian yang dilakukan petani belum sepenuhnya, benar dan berkesinambungan.
Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat
BPTP (Balai Pengkajian Teknologi pertanian) Karangploso dalam paket rakitan teknologinya yangdisusun Arry Supriyanto dkk, merumuskan beberapa strategi/cara-cara pengendalian penyakit CVPD dalam bentuk Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) Adapun strategi PTKJS meliputi lima macamteknologi yang harus diterapkan secara utuh dan tidak bisa dipisahkan yaitu : (1) penggunaan bibit jeruk  berlabel bebas penyakit, (2) pengendalian serangga penular CVPD
 Diaphorina citri Kuw.
secara cermat,(3) melakukan sanitasi kebun secara konsisten, (4) memelihara tanaman secara optimal, dan (5) koordinasi penerapan teknologi pengelolaan kebun dalam suatu wilayah target pengembangan. Program PTKJS iniakan efektif/berjalan dengan baik serta mencapai sasaran bila diterapkan pada daerah pengembangan baruatau daerah yang akan direhabilitasi yang telah bebas dari pohon jeruk yang terinfeksi CVPD pada radius 5km.
Penggunaan Bibit Jeruk Bebas Penyakit
Bibit bermutu diartikan sebagai bibit yang bebas patogen bibit penyakit sistemik seperti CVPD,CTV,
Vein enation, Exortis, Psorosis, Xyloporosis
dan
Tatter leaf 
, sesuai induknya yaitu batang bawah dan batang atasnya dijamin kemurniannya dan proses produksinya berdasarkan program sertifikasi jeruk yang berlaku sesuai dengan teknologi produksi bibit jeruk bebas penyakit. Petani di daerah target pengembangandiharuskan hanya menanam bibit berlabel/bersertifikat bebas penyakit dan tetap dilarang menanam bibit
 
liar yang tidak diketahui asal usulnya dengan alasan apapun. Dengan menanam bibit berlabel bebas penyakit maka wilayah target pengembangan bebas dari sumber inokulan penyakit CVPD.
Pengendalian Serangga Penular CVPD
Monitoring/pengamatan terhadap perkembangan populasi serangga penular CVPD merupakanlangkah yang tepat agar pengendalian serangan penyakit ini lebih tepat sasaran. Hal ini berkaitan denganfakta bahwa dinamika/pergerakan serangga pembawa penyakit yaitu
 D. citri
tersebut sangat dipengaruhikondisi lingkungan setempat. Melalui pengamatan ini diharapkan kita dapat mengetahui kapan waktu yangtepat mengendalikan serangga sebelum tanaman kita terjangkit CVPD. Monitoring dapat dilakukan denganmenggunakan perangkap kuning ("
 yellow trap" 
) yang dipasang setinggi tajuk (kanopi) tanaman.Pengamatan itu sendiri akan berhasil bila dilakukan secara bersama-sama dan dilakukan serentak olehsetiap anggota kelompok tani jeruk. Artinya setiap kelompok tani bertanggungjawab terhadap sistem pengendalian serangga
 D. citri
di wilayah masing-masing.
 Diaphorina citri
dapat dikendalikan secara efektif dengan metode penyaputan atau pengolesan batang menggunakan insektisida bahan aktif 
imidakloprid 
seperti Winder 25
WP
dan Winder 100
EC
atau pestisida sistemik lainnya. Penyaputan batang dapat dilakukan dengan interval setiap 2 – 4 minggu. Selainitu dapat juga dilakukan penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif 
 Dimethoate
2 cc/l pada saattanaman sedang bertunas. Insektisida berbahan aktif 
 Endosulfan
0.05% ampuh untuk mengendalikan telur 
 D. citri
sehingga efektif diterapkan pada awal pertunasan. Dengan metode penyaputan batang, diharapkanmusuh alami
 D. citri
tidak ikut mati. Tahapan pelaksanaan penyaputan batang dapat dilakukan sebagai berikut : (1) bagian batang di atas bidang penempelan hingga di bawah cabang utama dibersihkan darikotoran yang menempel, (2) disaput dengan kuas yang sebelumnya dicelupkan dalam Insektisida murni(tidak dilarutkan) dengan tinggi saputan selebar diameter batangnya. Penyaputan batang dapat jugamenggunakan alat/mesin khusus penyaput batang. Untuk lingkar batang 18 – 20 cm dosis yang digunakansebaiknya 10 – 15 ml, (3) tanaman kemudian disiram. Adapun waktu dan frekuensi aplikasi disajikan padaTabel 1 dan Tabel 2.Ilmu tentang Virus disebutVirologi. Virus (bahasa latin) = racun. Hampir semua virus dapatmenimbulkan penyakit pada organisme lain. Saat ini virus adalahmahluk yang berukuran paling kecil.Virus hanya dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan lolos dari saringan bakteri (bakteri filter).
SEJARAH PENEMUAN
D. Iwanowsky (1892)danM. Beyerinck (1899)adalah ilmuwan yang menemukan virus, sewaktu keduanya meneliti penyakit mozaik daun tembakau.KemudianW.M. Stanley (1935)seorang ilmuwanAmerika berhasil mengkristalkan virus penyebab penyakit mozaik daun tembakau (virus TVM).

Activity (21)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
EndRa BaToer liked this
Urmianto Efendi liked this
Rinii Dyah liked this
Leni Lidiasari liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->