|
www.gizi.net
|
Artikel
|
20091
Mengapa menyusui perlu dilindungi?
a
Oleh: dr. Dian Nutjahjati Basuki, IBCLC
b
a
Tulisan ini disiapkan dalam rangka advokasi penghapusan klausul susu formula dari Undang-undang Kesehatan
b
Penulis adalah staf di Sentra Laktasi Indonesia (SELASI) yang saat ini sedang menempuh studi master di FKUIKekhususan Gizi Komunitas (SEAMEO-TROPMED Regional Center for Community Nutrition), UniversitasIndonesia
Pendahuluan
emberian makanan pada bayi dan anak usia 0-24 bulan yang optimal menurut
Global Strategy on Infant and Young Child Feeding
(WHO/Unicef, 2002) adalah: menyusui bayisegera setelah lahir; memberikan ASI eksklusif yaitu hanya ASI saja tanpa makanandan minuman lain sampai bayi berumur 6 bulan; memberikan Makanan PendampingASI (MP-ASI) yang tepat dan adekuat sejak usia 6 bulan; dan tetap meneruskan pemberianASI sampai usia anak 24 bulan. Di Indonesia, Surat Keputusan Menteri Kesehatan RepublikIndonesia Nomor: 450/MENKES/SK/IV/2004 menetapkan pemberian Air Susu Ibu (ASI)secara eksklusif bagi bayi sejak lahir sampai dengan berumur enam bulan dan dianjurkandilanjutkan sampai anak berusia dua tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
adalah istilah untuk bayi dengan beratbadan lahir kurang dari 2.500 gram, untukbayi prematur, dan bayi yang berukurankecil jika dilihat usia kehamilannya. Bayiberat badan lahir rendah memiliki risikobesar terkena infeksi, dan lebih memerlukanASI dibandingkan bayi yang lebih besar,akan tetapi justru lebih sering diberimakanan buatan melalui botol (susuformula). Setiap makanan/minuman buatanyang diberikan sebelum menyusui mantapdisebut
makanan pralaktal
. Bahaya makananpralaktal adalah menggantikan kolostrumsebagai makanan bayi yang paling awal,sehingga meningkatkan risiko bayi terkenainfeksi seperti diare, septikemia danmeningitis serta lebih mungkin menderitaintoleransi terhadap protein di dalam susuformula tersebut, serta alergi.
Kondisi di Indonesia
Menurut RISKESDAS (2007), giziburuk dan gizi kurang bahkan tercatatsudah dialami oleh bayi berusia 0-5 bulan,berturut-turut prevalensinya adalah 6,5%dan 8,2%. Sebanyak 19 provinsi mempunyaiprevalensi gizi buruk dan gizi kurang balitadi atas prevalensi nasional, yaitu NanggroeAceh Darussalam, Sumatera Utara,Sumatera Barat, Riau, Jambi, NusaTenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur,Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara,Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku, MalukuUtara, Papua Barat dan Papua.Kabupaten/kota dengan prevalensitertinggi gizi buruk dan gizi kurang padabalita adalah Aceh Tenggara (48,7%), RoteNdao (40,8%), Kepulauan Aru (40,2%),Timor Tengah Selatan (40,2%), Simeulue(39,7%), Aceh Barat Daya (39,1%), MamujuUtara (39,1%), Tapanuli Utara (38,3%),Kupang (38,0%), dan Buru (37,6%).Proporsi nasional bayi berat lahirrendah (BBLR) adalah sebesar 11,5%.Provinsi dengan persentase BBLR tertinggiadalah Papua (27,0%), Papua Barat (23,8%),NTT (20,3%), Sumatera Selatan (19,5%),dan Kalimantan Barat (16,6%). Sedangkan 5provinsi dengan persentase BBLR terendahadalah Bali (5,8%), Sulawesi Barat (7,2%),Jambi (7,5%), Riau (7,6%), dan SulawesiUtara (7,9%). Persentase BBLR sedikit lebihtinggi di perdesaan (12,2%) dibandingkan diperkotaan (10,8%).Di perkotaan, ibu lebih banyakmelahirkan di RS Pemerintah, RS Swasta,Puskesmas/Pustu serta RB/RBIA/Klinikdibandingkan di perdesaan. Sedangkan diperdesaan, ibu lebih banyak melahirkan dirumah dan di Polindes/Poskesdes.
Hubungan praktik menyusui denganstatus gizi, penyakit, ketahanan pangan
Menurut hasil Survei Demografidan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun2006-2007, data jumlah pemberian ASIeksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan
PP