Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
33Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kasus Audit Umum Pt KAI

Kasus Audit Umum Pt KAI

Ratings: (0)|Views: 2,375 |Likes:
Published by Muhammad Ramdhany

More info:

Published by: Muhammad Ramdhany on May 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2013

pdf

text

original

 
Latar Belakang
Menerapkan proses GCG (Good Corporate Governance) dalam suatu perusahaan bukanlah merupakan suatu proses yang mudah. Diperlukan konsistensi, komitmen, dan pemahaman yang jelas dari seluruh stakeholders perusahaan mengenai bagaimana seharusnya proses tersebut dijalankan. Apabila ketiga hal tersebut diatas masih belum dimiliki oleh perusahaan, maka dapat dipastikan bahwa GCG bagi perusahaan hanya sebagai pemenuhan peraturan (formalitas) dan belum dapat dianggap sebagai bagian dari sistem pengawasan yangefektif.Mengamati kasus-kasus yang terjadi baik di BUMN maupun Perusahaan Publik,mungkin dapat disimpulkan sementara bahwa penerapan proses GCG masih setengah hati, belumdipahami dan diterapkan seutuhnya, terutama oleh top management sebagai pengambilkeputusan stratejik. Pembedahan kasus yang terjadi di perusahaan BUMN atas proses pengawasan yang efektif akan dapat menjadi suatu pembelajaran yang menarik dan kiranyadapat kita hindari apabila kita dihadapkan pada situasi yang sama.Salah satu contohnya adalah kasus audit umum yang dialami oleh PT. Kereta ApiIndonesia (PT. KAI). Kasus ini menunjukkan bagaimana proses tata kelola yang dijalankandalam suatu perusahaan, dan bagaimana peran dari tiap-tiap organ pengawas didalammenyajikan laporan keuangan yang tidak salah saji dan mampu menggambarkan keadaankeuangan perusahaan yang semestinya. Sebagai perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pelayanan publik, PT. KAI memiliki business environment yang berbeda dengan perusahaanswasta lainnya dan akan merupakan pembelajaran yang menarik bagi semua badan pengawas perusahaan terutama mengenai bagaimana seharusnya pengawasan yang efektif dapat dibangun.
PT Kereta Api Indonesia (Persero)
adalahBadan Usaha Milik NegaraIndonesiayang menyelenggarakan jasa angkutankereta api. Layanan PT Kereta Api Indonesia (Persero)meliputi angkutan penumpang dan barang. Pada tanggal14 Agustus2008PT Kereta Api Indonesia (Persero) melakukan pemisahan Divisi Jabotabek menjadi
 PT Kereta Api Jabotabek 
untuk mengelola kereta api penglaju di daerah Jakarta dan sekitarnya. selama tahun2008jumlah penumpang melebihi 197 juta.
 
Sejarah kereta api indonesia dimulai setelahProklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan pada tanggal17 Agustus 1945, karyawan perusahaan kereta api yang tergabung dalam
 Angkatan Moeda Kereta Api
(AMKA) mengambil alih kekuasaan perkeretaapian dariJepang.Pada tanggal28 September 1945, pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya menegaskan bahwa mulai hari itu kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsaIndonesiasehinggaJepangsudah tidak berhak untuk mencampuri urusan perkeretaapian diIndonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya tanggal28 September   1945sebagaiHari Kereta Apiserta dibentuknya
 Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia
(DKARI). Nama DKARI kemudian diubah menjadi
 Perusahaan Negara Kereta Api
(PNKA). Namaitu diubah lagi menjadi
 Perusahaan Jawatan Kereta Api
(PJKA) pada tanggal15 September  1971. Pada tanggal2 Januari 1991, nama PJKA secara resmi diubah menjadi
 Perusahaan Umum Kereta Api
(Perumka) dan semenjak tanggal1 Juni1999diubah menjadi
 PT Kereta Api Indonesia (Persero)
sampai sekarang.
 
Perumusan Masalah
Kasus PT. KAI berawal dari perbedaan pandangan antara Manajemen dan Komisaris,khususnya Ketua Komite Audit dimana Komisaris menolak menyetujui dan menandatanganilaporan keuangan yang telah diaudit oleh Auditor Eksternal. Dan Komisaris meminta untuk dilakukan audit ulang agar laporan keuangan dapat disajikan secara transparan dan sesuai denganfakta yang ada. Perbedaan tersebut bersumber pada perbedaan mengenai :1.Masalah piutang PPN.Piutang PPN per 31 Desember 2005 senilai Rp. 95,2 milyar, menurut Komite Audit harusdicadangkan penghapusannya pada tahun 2005 karena diragukan kolektibilitasnya, tetapitidak dilakukan oleh manajemen dan tidak dikoreksi oleh auditor.2.Masalah Beban Ditangguhkan yang berasal dari penurunan nilai persediaan.

Activity (33)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Choi Rani Choi liked this
Djoe Harie liked this
Silfida Auliza liked this
Dwi Kristiana liked this
Monica Precilla liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->