kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis",Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberikelapangan untukmu. dan apabila dikatakan:"Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allahakan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat. dan Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah: 11)
Kebenaran ilmiah ataupun keilmuan memiliki empat teori secarafilosofis, diantaranya adalah teori kebenaran sebagai persesuaian, teorikebenaran sebagai keteguhan, teori pragmatis tentang kebenaran dan teori performatif tentang kebenaran.Dari keempat teori tersebut, memiliki pengertian yang berbeda- beda tentang arti dari sebuah kebenaran ilmiah atau keilmuan. Teorikebenaran sebagai persuasaian telah diungkapkan oleh filsuf Aristoteles,menurutnya kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang harus, sesuai dengankeadaannya dan fakta yang ada di lingkungan kita atau bisa dikatakanharus sesuai dengan apa yang kita klaim. Teori kebenaran sebagaiketeguhan adalah teori yang lebih bersifat logis-rasional, teori inimenyatakan bahwa kebenaran bisa dikatakan benar jika ada relasi antara proporsi baru dengan proporsi yang sudah ada. Kebenaran tidaklah perludibuktikan tapi cukup dengan menghubungkan proporsi yang sudah adadan dengan pemikiran yang logis. Jika diteori pragmatis tentangkebenaran, filsuf pragmatis menganggap kebenaran sama dengankegunaan.Berbeda pula dengan teori kebenaran performatif yang dinyatakan pars filsuf seperti Frank Ramsey, John Austin, dan Peter Strawson yangmenganggap "benar" dan "salah" adalah ungkapan deskriptif. Jadikebenaran keilmuan yang dimaksud adalah suatu realitas keilmuan yanglebih bersifat rasional-logis dimana akal budi yang digunakan secara baik.
2 Departemen Agama,
Al-Qur’an dan Terjemahan,
(Bandung: CV. Diponegoro, 2000),hlm. 434
3