Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
4Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Modus Aceh - Edisi 06, Tahun 6, 2008

Modus Aceh - Edisi 06, Tahun 6, 2008

Ratings:

4.6

(5)
|Views: 1,454 |Likes:
Published by Indonesia

More info:

Published by: Indonesia on Jun 04, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2010

pdf

text

original

 
Rp 4000,-
(Luar Aceh Rp 4.500,-)
TABLOID BERITA MINGGUAN
M DUS ACEH
BIJAK TANPA MEMIHAK
www.modusaceh-news.com
NO.06/TH.VI
Minggu IV
, Mei 2008
   F  o   t  o   /   D  e  s  a   i  n   C  o  v  e  r  :   F   i  r  m  a  n  s  y  a   h
 
HabaPeuingat 
HabaPeuingat 
Redaksi
2
MODUS ACEH
MINGGU IV, MEI 2008
Dalam menjalankan tugas-tugas jurnalistik, wartawan MODUS dibekali dengan Kartu Pers. Tidak dibenarkan menerima atau meminta apapun dalam bentuk apapun dari siapapun.
Penerbit
: PT. AGSHA MEDIA MANDIRI.
Bank Account
: PT Agsha Media Mandiri, Bank BPD Aceh, 01.05.641993.1, Bank BRI0037.01.001643.30.9,
Alamat
Redaksi Jl. T. Iskandar No.102 Simpang Anoe Lambhuk Banda Aceh. Tlp. 0651-635322 Fax.0651-635316, email: modus_aceh@yahoo.com,
Biro Lhokseumawe
Jl. Teumpok Teurendam No. 17 Pasar Inpres Lhokseumawe.Tlp. 0645-42312,
Pimpinan Perusahaan/Redaksi
: Muhammad Saleh,
Direktur Usaha
: Agusniar,
Direktur Operasional:
Rizki Adhar
Konsultan Hukum
: Ansharullah Ida, SH,
Sekretaris Redaksi
: Risky
Penanggung Jawab Foto
: Dadang Herianto,
Ilustrasi/ Desain Grafis
: Firmansyah,
Pemasaran/Sirkulasi
: Firdaus, M. Ichsan, Zubir,
Iklan
: Zainuddin
Sekretariat/ADM
: Aida Rifni,Putra Erwanda, Abdul Khalik, Iskandar
Keuangan
: Fitriani.
Wartawan:
Dadang Heryanto, Fitri Juliana, Martha Andival, Juli Saidi.
Daerah:
Takengon: Jurnalisa, Bener Meriah, Arsadi Laksamana, Suherdi Win Konadi
Bireuen:
Suryadi, Ikhwati,
Lhokseumawe:
Murthalamuddin,Siti Aima, Hamdani, Robi Junaidi,
(Sirkulasi)
.
Aceh Besar:
Khaidir,
Aceh Selatan:
Hendri. Z.
Simeulue:
Rahimuddin
(Redaksi menerima sumbangan tulisan yang sesuai dengan misi tabloid ini. Tulisan diketik dua spasi, maksimal lima halaman kuarto.Redaksi berhak merubah isi tulisan tanpa menghilangkan makna, arti dan substansi dari tulisan tersebut)
MODUS ACEH
Tabloid BeritaBijak Tanpa Memihak
APA
Karim minta maaf terlebih dahulukarena sudah memakai kata-kata paraPawang Aceh pada saat merajah orangsakit. Tapi kalimat “
Èk mi èk jén, kurajah ku rajén, puleh nyo teuka laén” 
sangat pasuntuk keadaan sekarang ini.Baik untuk
Nanggroë Endatu 
itu sendiri
atawa 
di
Nanggroë-nanggroë laén man si gom donya.“Puleh nyo teuka laén”,
selesai satumasalah muncul masalah lain. Itulah gamba-ran sekarang, lebih kurang seperti itu.Malahan ada masalah atawa perkarayang tidak bisa diselesaikan dengan satudua jurus Kambing Hitam, dan akhirnyalahir persoalan-persoalan lain. Tentu sajaKambing Hitam berubah menjadi “
Badek klo tulo prip” 
.Masalah yang ada belum selesai, sudahantri masalah yang baru. Apa boleh buat,tutup mata, tutup telinga, tutup hati,…….habis perkara.La ku lihat wala ku ingat, aku selamatorang sekarat. Inilah hobi orang sekarang,yang penting dirinya sendiri, perkara orangibarat “
ta prak geunthot bak punggong lemo 
”.Inilah
teungku-teungku meutuah 
, jangandipikir ini perkara
si at dua at 
, tapi perkaraseperti ini yang membuat umat menderitasetiap saat.Seperti APBA, sampai saat ini belumselesai-selesai.
Teungku Waki Aceh ka mumang ulèè bak piké 
. Kalau sudah begini,
Teungku Waki Ace
harus diajak jalan-jalannaik kapal terbang ke
Nanggroë 
Penang.Dan anggaran naik kapal terbang masihbisa diselipkan ke dalam APBA 2008.
Nyan..barou gadoh mumang.
Apa Karim tak cukup tinta untuk menulissatu persatu perkara yang ada, semua jugapasti tahu karena setiap hari mengikutiinformasi baik dari media lokal atawa luarnegeri.Atas nama kebijakan penguasa, sudahtentu hamba sahaya menderita, seolah-olahini sudah menjadi budaya, apalagi di negerikita.Lain lagi di luar sana, contohnya sajaNegara Adi Kuasa, yang menciptakanpolitik distribusi bencana. Tentu saja dengancara menyebarkan ketegangan dalambentuk program informasi harian yangmenyiarkan berbagai krisis pada setiapsiaran berita.Perang dulu belum berdamai, muncullagi perang lain.
Ibarat geuken, ”akai Mi agam” 
, tidak bisa melihat Negara lain maju.Ada-ada saja alasan yang dibuat untukmenekan Negara yang ingin maju.
Èk mi èk jén,kurajah ku rajén, puleh nyo teuka laén 
Pembaca Budiman,
Keputusan pemerintahmenaikkan harga dasar bahan bakar minyak (BBM), sukaatau tidak, membuat parapegiat industri di media cetakmenjadi sedikit terpukul.Bagaimana tidak, setelahsebelumnya harga kertas yangmerangsek naik secara drastis,kini keputusan pemerintahuntuk menaikkan harga bahan bakar minyak, semakinmembuat beban industri dimedia bertambah.Untuk menyikapi bebantersebut, suka tidak suka, parapengusaha industri mediapun melakukan segala carauntuk menyikapinya. Adayang mengurangi halaman,pengurangan pegawai, hinggamenaikkan harga kertas. Dancara yang terakhir kami ambilagar bisa tetap bernafas dalammasa yang sulit ini.Seperti yang telah kamisampaikan, terhitung 1 Juni2008, harga media ini mengal-ami kenaikan Rp 500 pereksemplar. Dari harga sebel-umnya Rp 4000, naik menjadiRp 4500, untuk pasaran diwilayah Aceh. Sementara diluar Aceh, dari Rp 4.500menjadi Rp 5000.Tentu saja, beban ini akankami imbangi dengan penga- jian informasi yang tetaptajam, akurat, terpercaya sertaindependen. Bagi kamipembaca setia, Anda adalahpenentu. Sebab, sebagai medialokal yang mandiri, kami taktergantung pada pemerintah, bantuan donor asing hinggapara pejabat atau pengusahahitam. Kami ada dan tetap bertahan, karena kami percaya bahwa kami adalah mediayang memang pantas untukAnda baca dan miliki.Semoga saja, masa-masakritis, kenaikan harga BBM initidak merembes ke sektorsosial lain sehingga semakinmenambah beban inflasi diAceh, yang rata-rata di atasangka nasional. Semoga.
MODUS/Rizki Adhar
 
Bireuen
3
MODUS ACEH
MINGGU IV, MEI 2008
PT. Cipta Karya Aceh (CKA),sebuah perusahaan jasakonstruksi di Bireuen,diduga telah mengkonsumsiBahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.Benarkah karena tingginyadisparitas harga bersubsididengan non subsidi?
ila Anda melintasi JalanMedan-Banda Aceh, persisdi Desa Paya Meuneng, Ke-camatan Peusangan, KabupatenBireuen. Jangan lupa melirik se- jenak ke arah selatan. Pasti mataAnda akan tertuju dengan sebuah bangunan yang megah dan cukupunik.Dikatakan unik, karena di atasatap bangunan itu bertengger se- buah kubah hijau tua. Tapi jangansalah, walaupun ada kubahnya, bangunan yang lumayan luas itu bukanlah mesjid, tempat ibadahummat Islam. Makanya jangan per-nah berhenti dan masuk untuksembahyang, kalau kebetulan tibadi sana pas waktu shalat lima wak-tu. Bisa-bisa Anda dicegat Satpamyang selalu siap siaga 24 jam didepan.Ya, siapa sangka bangunanmentereng tadi adalah sebuah ru-mah. Melihat rumah yang arsitek-turnya tak lazim itu pasti Anda ber-tanya-tanya, siapa pemiliknya?Tidak lain adalah milik H. Saifan-nur, seorang pengusaha jasa kon-struksi yang cukup dikenal di Bi-reuen, bahkan Nanggroe AcehDarussalam.Di belakang rumah yang konon berarsitektur gaya Turki tersebutada kantor PT. Cipta Karya Aceh(CKA), perusahaan jasa konstruksimilik Haji Saifan, begitu panggilanakrab H. Saifannur. Di kantor itu-lah dia
 
me
-manage
perusahaanyang sering memenangkan tenderpembangunan jasa konstruksi ber-skala besar di berbagai daerah diprovinsi paling ujung barat Indo-nesia ini.Nah, untuk men-support PT.CKA, Haji Saifan “menyulap” ka-wasan perbukitan yang letaknyatak jauh dari lokasi tempat tinggal-nya itu, menjadi kawasan industripengolahan bahan material ban-gunan. Seperti pabrik
 Asphal Mix-ing Plant
(AMP
), Batching Plant
, danS
tone Crusher
.Selama ini tidak ada masalahdengan pabrik-pabrik pengolah bahan bangunan milik Haji Saifantadi. Namun belakangan ini terci-um aroma tidak sedap dari ka-wasan perbukitan Paya Meunengitu. Terendus kabar, untuk mengop-erasikan pabrik-pabrik berteknolo-gi tinggi tersebut, Haji Saifandiduga telah melakukan praktikyang kurang terpuji. Yakni, meng-
Saat BBM BersubsidiUntuk Industri
gunakan BBM jenis solar yang te-lah disubsidi pemerintah kepadamasyarakat.Padahal sesuai aturan yang ber-laku, BBM bersubsidi tidak dibenar-kan dikonsumsi untuk keperluanindustri. BBM bersubsidi hanyadiperuntukkan untuk bahan bakarkendaraan bermotor atau kebutu-han lainnya bagi kepentinganmasyarakat banyak. Sedangkanuntuk kebutuhan perindustrian,pemerintah telah menentukan BBMtersendiri yang tidak disubsidi.Celakanya
 ,
industri raksasa mi-lik pengusaha sukses itu ditenga-rai telah menggunakan solar ber-subsidi sejak didirikan dua tahunlalu dengan begitu mulus. Sedikit-nya membutuhkan 5 ribu liter solarsetiap hari kalau beroperasi untukmenghidupkan pabrik-pabrik terse- but. Mencuatnya dugaan tadi, sete-lah Harian Aceh, edisi Jumat, 23Mei 2008 lalu, mengendus masalahini.Sumber media ini yang layakdipercaya menyebutkan, untukmendukung operasional pabrik
 As- phalt Mixing Plant
(AMP),
BatchingPlant
dan
Stone Cruisher
, PT CKA te-lah menggunakan BBM bersubsidisebagai bahan bakar utama. Den-gan harga pasaran selama ini seki-tar Rp 4.300 per liter (sebelumkenaikan harga BBM-
red
). Jauh di bawah harga solar untuk industri berskala besar yang berkisar di atasRp 9 ribu per liter.Dalam menjalankan usahanyauntuk dapat memperoleh solar den-gan harga murah itu, Haji Saifandisinyalir berkolaborasi dengansejumlah pengusaha SPBU yangada di Bireuen maupun luar Kabu-paten Bireuen. SPBU-SPBU itu telahmenjalin kontrak kerja sama danselalu menyediakan solar bersubsi-di untuk kebutuhan industri HajiSaifan.Biasanya modus operandi pe-masokan solar ke kawasan indus-tri tadi dilakukan pada malam hari,ketika SPBU dan kendaraan di jalansudah agak sepi. Itu kalau merekamemasoknya dalam partai besar.Tapi kadang-kadang dilakukan juga pada siang hari, kalau perse-diaan solar di pabrik sudah meni-pis.Informasi dari beberapa saksimata, pengangkutan solar dariSPBU menggunakan armada truckyang di dalamya ditaruh drum min-yak berisi solar. Selama dalam pros-es penyuplaian solar bersubsidi, ir-ing-iringan truck tersebut selaludibawah pengawalan ketat orang-orang tertentu. Sehingga tidak adakendala apapun selama dalam per- jalanan menuju kawasan industriPaya Meuneng.Entah kenapa, praktik penyim-pangan penggunaan BBM bersub-sidi yang diduga dilakukan peru-sahaan penerima sertifikat Interna-tional Standar Organization (ISO)9001:2000 itu, tidak tercium samasekali oleh aparat keamanan. Seh-ingga “penyedotan” solar bersub-sidi untuk keperluan industri pen-gusaha sukses itu berjalan mulus-mulus saja sampai sekarang.Tentu praktik semacam itu telahmembebani Anggaran Pendapatandan Belanja Negara (APBN). Sebab,telah ikut menikmati pengeluarankeuangan negara untuk mensubsi-di BBM, yang seyogyanya diperun-tukkan bagi masyarakat. Jelasnya,yang terjadi di lapangan, BBM ber-subsidi telah salah sasaran. Sebagi-an besar bukan lagi dinikmatimasyarakat banyak, tapi dinikmatikalangan pengusaha industri.Memang tak dapat disangkal,tingginya disparitas (perbedaan)harga antara BBM bersubsidi den-gan non subsidi, salah satupenyebab terjadinya penyelewen-gan BBM bersubsidi di lapangan.Pengusaha industi akan berusahadengan berbagai cara agar dapatmembeli BBM bersubsidi yang har-ganya relatif murah. Ketimbangmembeli BBM non subsidi untukkebutuhan industri yang hargan-ya mencapai dua kali lipat dariharga BBM bersubsidi.Lihat saja disparitas harga so-lar di antara keduanya yang cuk-up mencolok. Harga solar bersub-sidi selama ini Rp 4.300 per liter.Sedangkan harga solar non subsi-di untuk kebutuhan industri men-capai Rp 8.550 per liter. Hal inilahyang membuat pengusaha indus-tri enggan membeli solar non sub-sidi dan lebih memilih menadahsolar bersubsidi dari para pelang-sir atau SPBU, yang harganya leb-ih murah.Dari kenyataan itu sangatlah beralasan apabila Haji Saifan leb-ih memilih membeli solar bersub-sidi di sejumlah SPBU untuk meng-hidupkan pabrik pengolah bahanmaterial bangunan yang dimilikin-ya. Walau secara aturan yangditetapkan Menteri Pertambangandan Energi, hal tersebut tidak dibe-narkan. Sebab, BBM bersubsidihanya untuk kebutuhan masya-rakat yang non industri.Menurut M. Fauzi, S.Si, anggo-ta DPRD Bireuen, apa yang telahdilakukan H. Saifan dengan meng-gunakan solar bersubsidi untukkebutuhan industrinya, merupa-kan sebuah penyimpangan. Sebab,kata Fauzi, H. Saifan telah men-
B
Kantor PT Cipta Karya Aceh dan PT Mutiara Aceh Lestari milik H. Saifannur.
   ■ 
      M      O      D      U      S      /      S    u    r    y    a      d      i

Activity (4)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nik Rakib liked this
jenjokaceh liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->