Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
26Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Variasi Bahasa Dan Komponen Tutur

Variasi Bahasa Dan Komponen Tutur

Ratings: (0)|Views: 1,511 |Likes:
Published by pocidogu

More info:

Published by: pocidogu on Jun 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

 
VARIASI BAHASA DAN KOMPONEN TUTUR 
OLEH AL-ASHADI ALIMIN (Sumber naskah asli: dochttp://publikasi.umm.ac.id/download.php?id=216 ) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangVariasi bahasa yang disebut juga dialek merupakan keanekaragaman bahasa yang digunakan dimasyarakat yang disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, misalnya usia, topik pembicaraan,keturunan, kondisi geografi, kesejarahan dan lain-lain. Wujud nyata penggunaan bahasa yang beragam di masyarakat itulah yang sebenarnya disebut dialek (Soeparno, 2002:70). Lebih lanjutdijelaskan bahwa variasi bahasa di masyarakat dapat dibedakan antara lain: a) variasi kronologis, b) variasi geografis, c) variasi sosial, variasi fungsional, d) variasi gaya/style, e) variasi kulturaldan f) variasi individual. Kaitannya dengan permasalahan penelitian ini variasi bahasa yang lebihtepat ialah variasi fungsional. Variasi fungsional disebabkan oleh perbedaan fungsi pemakaian bahasa. Sampai sejauh ini fungsi-fungsi bahasa dapat dimanifestasikan dalam sebutan fungsilek.Penggunaan bahasa pada pokok pembicaraan khusus dan modus yang jelas dapat kita temui dimasyarakat. Hal ini disebabkan karena kondisi masyarakatnya paling tidak menguasai dua bahasa (bilingual). Pada masyarakat perkotaan seperti halnya di kota Malang, penutur bahasaminimal menguasai dua bahasa atau lebih. Dengan demikian, mereka lebih leluasa untuk menciptakan kode-kode tertentu atau sekaligus mampu menggunakan dalam peristiwa yang berlainan. Sangatlah menarik ketika kita mengamati peristiwa penggunaan bahasa dengan latar  belakang penutur yang sangat hiterogen. Mereka akan menggunakan kode-kode bahasa secara bergantian. Hal ini dapat dijumpai pada masyarakat Pecinan (lingkungan masyarakat Cina).Kategori penutur bahasa semacam ini sangat beragam, sehingga kalau diamati istilah alih kode,campur kode, dan interferensi sangat mungkin terjadi. Sejalan dengan perkembangan bahasasebagai alat komunikasi yang senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman, maka perubahan segmen-segmen bahasa juga dapat terjadi di masyarakat. Perubahan bahasa tersebutmengakibatkan adanya variasi kebahasaan. Penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat akanselalu dipengaruhi unsur-unsur bahasa lainnya baik dari dalam maupun dari luar, misalnya bahasa Inggris, Portugis, Belanda, Cina, Arab dan sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa bahasa daerah atau nusantara akan selalu berdampingan kehidupannya dengan bahasa Indonesia,sehingga hal ini sangat memungkinkan terjadinya pembentukan dialek-dialek tertentu di dalamtuturan bahasa Indonesia. Salah satu fenomena penggunaan bahasa Indonesia yang cukupmenarik diteliti adalah penggunaan bahasa Indonesia pada masyarakat Cina peranakan di kotaMalang. Indocinwa merupakan dialek yang dituturkan oleh masyarakat cina peranakan (MPC)dengan materi campuran bahasa Indonesia, Cina, dan Jawa yang disebut minoritas karena hanyadituturkan oleh sebagian masayarakat bahasa di kota Malang. Berdasarkan keterpengaruhan bahasa Indonesia oleh bahasa asing atau bahasa nusantara terutama bahasa Cina maka penelitianini perlu dilakukan. Sepengalaman peneliti pendeskripsian bentuk-bentuk bahasa Indonesiaterutama yang digunakan oleh masyarakat Cina peranakan Jawa. 1.2 Permasalahan PenelitianPermasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: a. Bagaimana penggunaansegmen Fonologis dan Morfologis pada masyarakat Indonesia Cina Jawa (Masyarakat CinaPeranakan)? b. Bagaimana fungsi pemakaian dialek oleh masyarakat Indonesia Cina Jawa(Masyarakat Cina Peranakan)? c. Bagaimana konteks pemakaian dialek oleh masyarakatIndonesia Cina Jawa (Masyarakat Cina Peranakan)? 1.3 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: a. penggunaan segmen Fonologis dan Morfologis padamasyarakat Indonesia Cina Jawa (Masyarakat Cina Peranakan). b. fungsi pemakaian dialek olehmasyarakat Indonesia Cina Jawa (Masyarakat Cina Peranakan). c. konteks pemakaian dialeoleh masyarakat Indonesia Cina Jawa (Masyarakat Cina Peranakan). 1.4 Penegasan Istilah a.Dialek adalah penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat tertentu yang ditandai oleh sifat-
 
sifat kedaerahan atau ciri-ciri kebangsaan. b. Segmen bahasa adalah satuan bahasa yangdiabstraksikan dari kontinum wicara atau teks (wacana dialog) misalnya kata, frase, klausa, dankalimat sebagai akibat satua gramatikal. c. Indocinwa adalah masyarakat cina peranakan Jawayang menggunakan bahasa Indonesia (kata, frase, kalimat, wacana) pada tuturan informal. 1.5Kontribusi Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh: 1) para ahli bahasasebagai bahan pertimbangan dalam mendeskripsikan atau mengkaji bahasa pada masyarakat, 2) para ahli tata bahasa deskripsi sebagai bahan pertimbangan dalam deskripsi paramasastra dialek Indocinwa, 3) para guru sebagai bahan pelajaran terutama pada m,asalah interferensi bahasa danmenyarankan kepada siswanya agar pemakaianIndocinwa dibatasi pada situasi tidak formal, jangan meluas pada situasi formal (di kelas), bicara dengan guru). BAB II KERANGKA TEORI2.1 Penggunaan Bahasa dalam Masyarakat Para pakar Sosiolinguistik berharap dapatmemasukan dialektologi dalam bidang kajian sosiolinguistik. Alasan mereka adalah kajian dialek sejak dulu telah memusatkan diri pada kebiasaan ujar (speech habits) kelompok-kelompok sosialyang berbeda dengan komunitas ujar/ masyarakat ujar dalam menggunakan sistem bahasastandar (baku). Sistem bahasa standar ini merupakan variasi yang lazim dibicarakan dalam pakar Linguistik murni. Oleh sebab itu, kajian dialek selalu mengaitkan penggunaan variasi bahasadalam masyarakat. Setiap penggunaan dialek, penutur mengetahui norma-norma sosial yangmengontrol tingkah laku dan pembicaraan mereka. Selain itu, pemahaman terhadap faktor-faktor sosiokultural yang mampu menentukan hubungan interpersonal dan interaksi antara pengguna bahasa menjadi penting. Agar pengguna dialek dapat menempatkan dirinya dengan situasi yangdihadapinya, maka pemilihan kode-kode bahasa menjadi penting. Terdapat dua hal yang harusdiperhatikan ketika penutur bahasa mengadakan pemilihan kode bahasa yaitu tingkat formalitashubungan antar pembicara dan status sosial yang dimiliki antara pembicara yang satu denganlainnya. Tingkat formalitas hubungan antara pembicara dapat ditentukan oleh tiga hal: a. tingkatkeakraban hubungan antar pembicara, b. tingkat umur, c status sosial yang dimiliki antar  pembicara. Status sosial ditentukan oleh faktor: keturunan dan latar belakang pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, status perkawinan, dan kesukuan. Selain itu, masih ada faktor-faktor yang digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan hubungan antara pembicarayang satu dengan lainnya. Jakobson dalam pateda (1987: 5) menjelaskan terdapat beberapafaktor dalam suatu komunikasi yang menggunakan bahasa antara lain: a. pembicara, b. pendengar, c. tersedianya alat, d. faktor lain yang muncul ketika pembicara berkomunikasi, e.setting, f. bentuk-bentuk pesan (message), g. topik/konteks pembicaraan, dan h. peristiwakomunikasi. Dalam peristiwa komunikasi, penutur hendaknya memperhatikan fungsi bahasasebagai sarana komunikasi. Melalui bahasa yang dapat dipahami oleh penutur dan pendengar,maka komunikasi yang dikehendaki dapat berjalan secara baik. Selain difungsikan sebagaisarana komunikasi, bahasa dapat difungsikan sebagai wahana kebudayaan, penanda perorangandan sebagai sarana pendidikan. Sebagai wahana kebudayaan, bahasa dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan budaya masyarakat, jalur penerus kebudayaan, dan penandaadanya ragam kebudayaan. Fungsi perorangan ini berkenaan dengan pembuatan klasifikasi penggunaan bahasa dalam masyarakat yakni a. instrumentalia, b. menyuruh, c. interaksi, d.kepribadian, e. pemecah masalah, dan f. untuk berkhayal. Fungsi pendidikan yang dimaksudkandalam paparan di atas yaitu untuk menyatakan sikap dan pendekatan guru di dalam dunia pendidikan. Sikap dan pendekatan yang digunakan guru selalu dapat dinyatakan melalui penggunaan bahasa. Kalau kita perhatikan penggunaan bahasa di masyarakat banyak dijumpairagam atau variasi bahasa. Bahasa yang digunakan oleh sekelompok masyarakat bahasa dalamlingkup kecil banyak juga kita jumpai. Antar suku yang terdapat di Indonesia ini akanmenggunakan bahasa yang berbeda. Bahasa yang digunakan oleh kelompok kecil dalam suatumasyarakat disebut logat/bahasa daerah. Logat ini digunakan untuk menandai adanya variasi
 
 bahasa yang khas pada suatu masyarakat kelompok kecil. 2.2 Karakteristik Penutur BahasaBanyaknya suku bangsa yang terdapat di Indonesia sangat memungkinkan penggunaan variasi bahasa. Melihat fakta yang demikian ini paling tidak terdapat satu bahasa yang dikuasai oleh penutur sebagai alat komunikasi. Penutur bahasa yang hanya menguasai satu bahasa baik secaraaktif maupun pasif disebut monolingual. Penutur bahasa yang menguasai dua bahasa sebagai alatkomunikasi disebut bilingual, sedang penutur yang menguasai tiga bahasa atau lebih disebutmultilingual. Dalam suatu pembicaraan penguasaan suatu bahasa yang sama menjadi faktor  penentu keberhasilan dalam peristiwa komunkasi. Bahasa pertama atau yang biasanya disebutsebagai bahasa ibu menjadi faktor utama di dalam peristiwa komunikasi. Akan tetapi, tidak semua penutur akan selalu menggunakan bahasa pertamanya di dalam komunikasi, terkadang pada topik tertentu bahasa kedua atau ketiga digunakan. Penggunaan bahasa semacam inidimaksudkan untuk memperlancar peristiwa komunikasi. Seorang penutur tidak ingin mengalamikegagalan untuk menyampaikan pesan tertentu. Peristiwa penggunaan bahasa oleh seseorangsecara bergantian disebut juga bilingualisme. Nababan mengatakan kedwibahasaan dapat dipakaiuntuk perorangan dan dapat juga untuk masyarakat atau kelompok. Kebiasaan penggunaan bahasa semacam ini terdapat pada masyarakat bilingual atau multilingual. Haugen dalamRusyana (1989:2) mengatakan dua dialek dari satu bahasa dalam kedwibahasaan disebut juga bilingualisme. Untuk itu, pemahaman terhadap penggunaan dialek pada masyarakat tertentudapat dianggap sebagai kedwibahasaan. Penggunaan bahasa atau dialek pada suatu masyarakat bukanlah merupakan gejala bahasa melainkan dalam kajian parole (performance). Kalau kita perhatikan peristiwa pembelajaran bahasa pada anak-anak, orang tua atau lingkungan tempattinggal pertama merupakan faktor utama untuk memperoleh bahasa ibu (pertama). Adapun bahasa kedua diperoleh melalui proses pendidikan formal. Seorang anak akan terus menerusmempelajari bahasa pertama yang dilanjutkan dengan mempelajari bahasa kedua. Secarahistories anak semacam ini akan menjadi dwibahasawan dan akan berkomunikasi dengan kontak yang lebih luas. Kontak bahasa oleh dwibahasawan pada umumnya terjadi tanpa direncanakanatau dipikirkan terlebih dahulu. Kontak ini terjadi secara spontan karena antar penutur salingmembutuhkan informasi, adanya tujuan tertentu, memiliki maksud yang sama, dan dalam situasiyang kondusif. Kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa atau dialek secara bergantian baik pada peristiwa alih bahasa atau campur bahasa sangat diharapkan pada penutur yang berkarakteristik bilingual atau multilingual. Salah ciri utama kedwibahasaan adalahdipergunakannya dua bahasa atau lebih oleh seseorang atau kelompok orang, tetapi kedua bahasaitu tidak mempunyai peranan sendiri-sendiri di dalam masyarakat pemakai bahasa. Kepadasiapapun mereka berbicara, di manapun pembicaraan berlangsung, tentang masalah apapun yangdibicarakan dan dalam situasi bagaimanapun pembicaraan itu berlangsung kedua bahasa ataulebih itu dapat dipergunakan. Pemilihan bahasa manakah yang akan dipergunakan semata-mata bergantung kemampuan pembicara dan pendengarnya. Pemilihan bahasa ini dilakukan ketika para pembicara menguasai benar tentang bahasanya. Jika hal ini dilaksanakan sebaik-baiknyaantara penutur dan pendengar maka pesan yang akan disampaikan dapat diterima secara baik.Kebiasaan melakukan pemilihan bahasa tidak sekaligus dapat dilakukan sebaik-baiknya tetapi perlu melalui proses belajar. Mungkin saja prosesnya terjadi secara serentak atau keduanya bahasa dipelajari secara bersama-sama. Kontak bahasa yang terjadi pada suatu kelompok  bahasawan sering terjadi pengaruh-mempengaruhi antara bahasa yang satu dengan lainnya.Pengaruh ini akan membawa perubahan pada langue dan parole para penutur lainnya. Kontak  bahasa ini akan mampu mempengaruhi pola pikir para penuturnya dan sekaligus kebiasaan berbahasanya. Selain itu, performance (penampilan) penggunaan bahasa seseorang akan berubahsewaktu penutur bahasa selalu mengadakan kontak bahasa. Dalam masyarakat yang tergolongdwibahasa (bilingual) dan multibahasa, kelancaran dan ketepatan penyampaian pesan, maksud,

Activity (26)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Tulik Mamaeabid liked this
Wldn Thalieb liked this
Razif Pahlevi liked this
Zanuf'i Yuda liked this
iyull liked this
Devi Kalfika liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->