Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
4Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Makalah Mahsun Fuad

Makalah Mahsun Fuad

Ratings: (0)|Views: 800|Likes:
Published by Hampa Terasa

More info:

Published by: Hampa Terasa on Jun 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/06/2011

pdf

text

original

 
Abstrak 
Pembaruan metode penemuan hukum Islam denganpendekatan terpadu analisis inferensi historis dan tekstual,merupakan satu capaian intelektual yang cukup maju. Dalam hal inisifat
sui-generis
metode penemuan hukum Islam yang merupakan
trade mar
yang harus ada, coba diimbangi dengan apresiasiproporsional terhadap realitas sosial yang dibawa masuk dalamanalisis penyimpulan hukumnya. Dengan membawa realitas empirikmasuk ke dalam analisis penemuan hukum, terasa ada jaminanhukum Islam dapat tampil lebih kreatif dan hidup di tengah-tengahproses regulasi sosial modern. Tawaran pendekatan ini sengaja diarahkan pada upayamerekonstruksi pemahaman dalam wilayah baru yang belum adateks hukumnya dengan menghargai tradisi secara proporsionalsekaligus mengurangi kesan arogansi intelektual. Upaya inidilakukan melalui penggabungan teori sistem dan teori aksi didalam perangkat analisisnya. Inilah yang secara substansialmembedakannya dari tawaran pembaruan pemikiran hukum Islamyang diajukan oleh Fazlur Rahman, Muhammad Sahrur dan lainnyayang lebih mengkonsentrasikan pada interpretasi makna baruterhadap teks yang ada dan kurang memberikan mekanisme yang jelas tentang bagaimana bersikap secara metodologis terhadapsuatu fenomena yang tidak ada teksnya.Kata kunci: pembaruan metode, pendekatan terpadu, hukum Islamdan sosial
PENDEKATAN TERPADU HUKUM ISLAM DAN SOSIAL
(Sebuah Tawaran Pembaruan Metode Penemuan Hukum Islam)Oleh: Mahsun Fuad
A.Pendahuluan
Berkaitan dengan banyak hal, era modern saat ini telahmengantarkan fiqih (hukum Islam) pada posisi problematis dandilematis. Fiqih bukan hanya kesulitan menuntaskan berbagaimasalah dan isu sosial yang dihadapi tapi juga masih gagapmendefinisikan kediriannya, terutama dalam konteks merumuskanmetode hukum yang
viable
dipergunakan menuntaskan berbagaimasalah tersebut. Dalam pandangan Coulson, problem inilah yangmerupakan di antara sebab terjadinya “konflik dan ketegangan”antara teori dan praktek dalam sejarah penelitian dan penerapanhukum Islam.
1
Di sisi lain, problem akut ini pula yang sekarang initelah menstimulasi berbagai upaya pembaruan dalam bidang ini.
*
Mahsun Fuad Alumni Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Peminat kajianFilsafat dan Hukum Islam, Penulis buku
 Hukum Islam Indonesia: dari Nalar Partisipatoris hingga Emansipatoris
, (Jogjakarta:
LK 
i
, 2005). Tinggal di Mantingan Ngawi.
 
Dalam perspektif umum setidaknya ada tiga level yang mestidilakukan dalam upaya merekonstruksi fiqih.
Pertama
, levelpembaruan metodologis yaitu perlunya interpretasi terhadap teks-teks fiqih klasik secara kontekstual, bukan teks mati; bermazhabsecara metodologis (
manhaj
); dan verifikasi ajaran yang pokok(
usul
) dan cabang (furu’). Dalam level ini setidaknya dapatditempuh dua upaya yaitu dekonstruksi (
al-qat’iyah al-ma’rifiyah
)dan rekonstruksi (
al-tawasul al-ma’rifi
).
Kedua
, pembaruan level etisyaitu perlunya menghindari upaya formalisasi dan legalisasi fiqih,dan lebih meneguhkannya sebagai etika sosial.
Ketiga
, pembaruanlevel filosofis yaitu mengantarkan fiqih sebagai yang selalu terbukaterhadap filsafat ilmu pengetahuan dan teori-teori sosialkontemporer. Kohesivitas dalam ketiga level inilah idealitaspembaruan hukum Islam diharapkan menuai kontinumkeberhasilan.Sebagai langkah awal dari upaya rekonstruksi fiqih, tulisanberikut berihtiar menjelaskan sebuah tawaran solusi metode fiqih,yaitu
a univied approach to shari’ah and social inference.
2
Secarasederhana, metode ini berusaha menjembatani dan “memadukan”pendekatan tekstual (normatif) dan pendekatan kontekstual(historis-empiris) secara simultan dalam model penelitian ilmiahyang “Islami”. Asumsi dasarnya bahwa upaya ini akan bermanfaatbagi alternasi metode penemuan hukum Islam di era multi culturaldan religius ini.
B.Persoalan Tekstualitas Metode Penemuan Hukum Islam.
Dalam perspektif ushul fiqih, setidaknya terdapat tiga pola(
tariqat 
) atau metode ijtihad, yaitu
bayani
(linguistik)
, ta’lili
(
qiyasi
:kausasi) dan
istislahi
(teleologis).
3
Ketiganya, dengan modifikasi di
1
Noel James Coulson,
Conflict and Tension in Islamic Jurisprudence,
(Chicago & London:The University of Chicago Press, 1969), hlm. 58-76.
2
Upaya ini ditawarkan oleh Louay Safi, dalam bukunya
The Foundation of Knowledge AComparative Studyin Islamic and Western Methods of Inquiry,
(Selangor: IIU & IIIT, 1996), hlm.171-196. Muhammad Anas az-Zarqa coba mengembangkan metode ini dalam bidang ekonomi, lihatMuhammad Anas az-Zarqa, “Tahqiq Islamiyah ‘Ilm al-Iqtisad: al-Manhaj wa al-Mafh-m,” dalam
Toward Islamization of Disciplin
, (Herdon: IIIT, 1989), hlm. 317-57.
3
Ijtihad
istihsani
tidak dianggap sebagai pola ijtihad yang berdiri sendiri dengan alasan beberapa bagian aplikasinya masuk bahasan ijtihad
qiyasi
dan sebagian yang lain dalam katagori
 
sana sini, merupakan pola umum yang dipergunakan dalammenemukan dan membentuk peradaban fiqih dari masa ke masa.Dengan berbagai pola dan basis epistemik inilah lahir dan tersusunribuan kitab fiqih dengan derivasi cabang yang bermacam-macamdi dalamnya.Pola ijtihad
bayani
adalah upaya penemuan hukum melaluiinterpretasi kebahasaan. Konsentrasi metode ini lebih berkutat padasekitar penggalian pengertian makna teks. Usaha ini mengandungkelemahan jika dihadapkan dengan permasalahan yang baru yanghanya bisa diderivasikan dengan makna yang jauh dari teks. Polaimplementasi inilah yang berkembang dan dipergunakan oleh paramujtahid hingga abad pertengahan dalam merumuskan berbagaiketetapan hukum. Mereka hanya melakukan reproduksi makna danbelum melakukan produksi makna baru.Sebagai pengembangan, sebenarnya pada masa kontemporerini mulai ada upaya
rethinking
metode ini dengan memakai alatbantu filsafat bahasa yang memungkinkan dapat melakukanproduksi makna baru. Salah satu pendekatan dimaksud adalahinterpretasi produktif yang dikemukakan oleh Gadamer.
4 
Interpretasi produktif sebagai model dari hermeneutika memilikirelevansi tersendiri dalam upaya interpretasi terhadap penemuanhukum Islam. Mekanisme interpretasi produktif Gadamer ini dimulaidengan memandang suatu teks tidak hanya terbatas pada masalampau (masa teks itu dibuat) tetapi memiliki keterbukaan untukmasa kini dan mendatang untuk ditafsirkan menurut pandangansuatu generasi. Sebagai hal yang bersifat historis, sebuahpemahaman sangat terkait dengan sejarah, yaitu merupakangabungan dari masa lalu dengan masa sekarang.Namun, upaya ini sepertinya tidak begitu berkembang.Karena kurangnya spisifikasi analisis sosial dan tiadanya mekanismeoperasional yang jelas adalah di antara faktor kurang berkembang
istislahi,
Lihat lebih lanjut pada Muhammad Ma’ruf ad-Dawalibi,
al-Madhal ila ‘Ilm Usul al-Fiqh,
(Ttp: Dar al-Kitab al-Jadid, 1965), hlm. 419
4
Lihat lebih lanjut pada Hans George Gadamer,
Truth and Method 
, (New York: The SeaburyPress,1975).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->