konjugasi hepar ( defisiensi enzim glukoronil transferase ) atau bayi menderita gangguan eksresi,misalnya penderita hepatitis neonatal atau sumbatan saluran empedu ekstra/intrahepatik.
V. Diagnosis
Anamnesis ikterus pada riwayat onstetri sebelumnya sangat membantu dalam menegakandiagnosis hiperbilirubnemia pada bayi. Termasuk anamnesis mengenai riwayat inkompabilitasdarah, riwayat transfusi tukar atau terapi sinar pada bayi sebelumnya. Disamping itu faktor risikokehamilan dan persalinan juga berperan dalam diagnosis dini ikterus/hiperbilirubinemia pada bayi. Faktor risiko itu antara lain adalah kehamilan dengan komplikasi, obat yang diberikan padaibu selama hamil/persalinan, kehamilan dengan diabetes mellitus, gawat janin, malnutrisiintrauterine, infeksi intranatal, dan lain-lain.Secara klinis ikterus pada bayi dapat dilihat segera setelah lahir atau setelah beberapa harikemudian. Pada bayi dengan peninggian bilirubin indirek, kulit tampak berwarna kuning terangsampai jingga, sedangkan pada penderita dengan gangguan obstruksi empedu warna kuning kulittampak kehijauan. Penilaian ini sangat sulit dikarenakan ketergantungan dari warna kulit bayisendiri.Tanpa mempersoalkan usia kehamilan atau saat timbulnya ikterus, hiperbilirubinemia yangcukup berarti memerlukan penilaian diagnostic lengkap, yang mencakup penentuan fraksi bilirubn langsung (direk) dan tidak langsung (indirek) hemoglobin, hitung lekosit, golongandarah, tes Coombs dan pemeriksaan apusan darah tepi. Bilirubinemia indirek, retikulositosis dansediaan apusan memperlihatkan petunjuk adanya hemolisis akibat nonimunologik. Jika terdapathiperbilirunemia direk, adanya hepatitis hepatitis, fibrosis kistis dan sepsis. Jika hitungretikulosit, tes Coombs dan bilirubin indirek normal, maka mungkin terdapat hiperbilirubinemiaindirek fisiologis atau patologis.Ikterus fisiologis. Dalam keadaan normal, kadar bilirubin indirek dalam serum tali pusat adalah 1 – 3 mg/dl dan akan meningkat dengan kecepatan kurang dari 5 mg/dl /24 jam; dengan demikianikterus baru terlihat pada hari ke 2 -3, biasanya mencapai puncak antara hari ke 2 – 4, dengankadar 5 – 6 mg/dl untuk selanjutnya menurun sampai kadar 5 – 6 mg/dl untuk selanjutnyamenurun sampai kadarnya lebih rendah dari 2 mg/dl antara hari ke 5 – 7 kehidupan.Hiperbilirubin patologis. Makna hiperbilirubinemia terletak pada insiden kernikterus yangtinggi , berhubungan dengan kadar bilirubin serum yang lebih dari 18 – 20 mg/dl pada bayiaterm. Pada bayi dengan berat badan lahir rendah akan memperlihatkan kernikterus pada kadar yang lebih rendah ( 10 – 15 mg/dl)
VI. Diagnosis banding
Ikterus yang timbul 24 jam pertatama kehidupan mungkin akibat eritroblstosis foetalis, sepsis,rubella atau toksoplasmosis congenital. Ikterus yang timbul setelah hari ke 3 dan dalam minggu pertama, harus dipikirkan kemungkinan septicemia sebagai penyebabnya. Ikterus yang permulaannya timbul setelah minggu pertama kehidupan memberi petunjuk adanya septicemia,atresia kongental saluran empedu, hepatitis serum homolog, rubella, hepatitis herpetika, anemiahemolitik yang disebabkan oleh obat-obatan dan sebagainya.Ikterus yang persisten selama bulan pertama kehidupan memberi petunjuk adanya apa yangdinamakan “inspissated bile syndrome”. Ikterus ini dapat dihubungkan dengan nutrisi parenteraltotal. Kadang bilirubin fisiologis dapat berlangsung berkepanjangan sampai beberapa mingguseperti pada bayi yang menderita penyakit hipotiroidisme atau stenosis pylorus.
VII. Komplikasi
Kernikterus adalah suatu sindrom neurologik yang timbul sebagai akibat penimbunan tak terkonjugasi dalam sel-sel otak
VIII. Terapi
Tujuan utama penatalaksanaan ikterus neonatal adalah untuk mengendalikan agar kadar bilirubinserum tidak mencapai nilai yang dapat menimbulkan kernikterus/encefalopati biliaris, sertamengobati penyebab langsung ikterus tersebut. Pengendalian bilirubin juga dapat dilakukandengan mengusahakan agar kunjugasi bilirubin dapat dilakukan dengan megusahakanmempercepat proses konjugasi. Hal ini dapat dilakukan dengan merangsang terbentuknyaglukoronil transferase dengan pemberian obat seperti luminal atau fenobarbital.Pemberian substrat yang dapat menghambat matabolisme bilirubin ( plasma atau albumin ),