Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tentang bimbel

Tentang bimbel

Ratings: (0)|Views: 781 |Likes:
Published by milla36

More info:

Published by: milla36 on Jun 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

 
Artikel:Ikut Bimbingan Belajar, Perlu Tidak?
Judul: Ikut Bimbingan Belajar, Perlu Tidak?Bahan ini cocok untuk Informasi / Pendidikan Umum bagian PENDIDIKAN /EDUCATION.Nama & E-mail (Penulis):Arief Achmad Saya Guru di BandungTopik: Bimbingan Belajar Tanggal: 25-10-2007
 Ikut Bimbingan Belajar, Perlu Tidak?Oleh: ARIEF ACHMAD*)KETIKA hasil ulangan harian dilaporkan kepada orang tua siswa dalam bentuk laporantengah semester, maka terdapat beragam hasil dengan bermacam reaksi. Ada yangcukup puas karena menggambarkan pencapaian belajar siswa selama ini sehingga nilaimata pelajaran (MP)nya tuntas (¡Ý KKM, sama dengan/lebih dari nilai Kriteria KetuntasanMinimal). Ada yang tidak puas karena nilainya di bawah KKM. Ada pula yang tidak puas,meskipun nilainya tuntas tetapi tidak sesuai dengan target pribadinya, yang menghendakinilai MP tertentu lebih besar dari KKM.Orang tua dan siswa dari dua kelompok terakhir ini tentu saja akan berusaha habis-habisan supaya keinginannya tercapai, yaitu nilai MP mencapai ketuntasan atau sesuaidengan target pribadinya. Upaya instant yang dapat ditempuh untuk mendongkrakprestasi belajar siswa adalah dengan mencari pelajaran tambahan di sekolah, memanggilguru privat ke rumah, atau ikut bimbingan belajar (bimbel). Ketiganya membawakonsekuensi logis secara ekonomis, yakni memerlukan dana-biaya.Sebagai pilihan populer para siswa, bimbel umumnya dijadikan tempat untuk menggenjotnilai hasil belajar di sekolah, selain untuk mempersiapkan diri ke perguruan tinggi. Sah-sah saja kalau siswa dan orang tuanya berpersepsi seperti itu.Adanya prestise, tuntutan, dan kegalauan orang tua agar anaknya memeroleh hasilbelajar yang tinggi ini memang menjadi lahan yang subur bagi bisnis pendidikan yangberkibar sebagai ¡°bimbel¡±. Akan tetapi, apakah bimbel ini benar-benar membimbinganak untuk dapat belajar dengan baik melalui usahanya sendiri dan sesuai denganhakikat belajar? Hakikat belajar ialah suatu proses psikis yang berlangsung dalaminteraksi aktif subjek dengan lingkungannya dan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai-sikap, yang bersikapkonstan atau menetap.Sebagaimana kita ketahui, di bimbel, anak dijejali dan didrill dengan soal-soal. Hakikatbelajar dibelokkan menjadi kemampuan menjawab soal. Nilai tambah bimbel tinimbangsekolah adalah ketersediannya memberikan rumus-rumus praktis pelajaran. Bahkantidak tertutup kemungkinan adanya ¡°oknum¡± bimbel yang berkolusi dengan aparatpendidikan untuk mendapatkan bocoran soal dan kunci jawaban ulangan umum hinggaujian nasional (UN) kepada para siswanya agar memeroleh nilai tinggi di sekolahnya ataululus UN. Anehnya, bimbel yang model begini siswanya melimpah ruah.Fenomena di atas telah mendestruksi nilai-nilai eduatif dan moral anak, sertamenumbuhkembangkan mental menerabas, mau gampangnya saja. Nilai kejujurantercabik-cabik. Terjadilah superioritas semu. Bila anak dikondisikan terus-menerusseperti itu, pada gilirannya akan menimbulkan reduksi moral yang permanen. Orang tua
 
dan masyarakatlah kelak yang akan menanggung dampaknya.Pada hakikatnya, jika seorang siswa belajar dengan sungguh-sungguh di sekolah sertaditeruskan dengan tekun, teratur, dan tertib di rumahnya niscaya akan meraih hasilbelajar yang baik pula. Namun, anak yang terobsesi oleh tuntutan orang tua, terpengaruhteman-temannya, dan terpincut promosi pengusaha bimbel ini sebenarnya adalah anakyang mempunyai kemampuan dan kekurangan sekaligus.Kemampuannya adalah anak sanggup menjaga prestise orang tua, bergaul dengansesamanya (=jadi anak gaul), dan mampu membayar ratusan ribu bahkan jutaan rupiahbiaya bimbel. Kekurangannya adalah cuma satu, kurang pede (percaya diri).Kekurangpercayaan pada kemampuannya sendiri, pada proses belajarnya sendiri, padakegiatan pendidikan di sekolahnya sendiri inilah yang menyuburkan ladang bisnis bimbeldi kota-kota besar.Jadi, ikut bimbel itu perlu atau tidak?Bagi siswa yang sulit belajar mandiri, kurang dapat mengikuti pelajaran dari guru disekolah atau kondisi lingkungan rumahnya tidak kondusif untuk belajar dan (yangterpenting!) orang tuanya memiliki cukup dana-biaya, maka ikut bimbel sangatdirekomendasikan di sini. Tetapi dengan catatan, siswa tetap pro-aktif selama ikutbimbel, jangan pasif, cuma menjadi penonton para pengajar bimbel (tentor) yang sibukmengotak-atik jurus/rumus singkat pemecahan soal. Siswa, selain rajin mencatatpenjelasan para tentor dan menyimak buku-buku panduannya, juga harus aktif bertanyabaik selama proses belajar berlangsung maupun di luar waktu itu, jika sekiranya adamateri soal yang tidak dimengertinya. Jangan menyia-nyiakan ratusan ribu hingga jutaaan rupiah uang orang tua kalau hanya untuk berbengong ria atau ngerumpi sesamasiswa di bimbel!*) Penulis, Guru SMAN 21 Bandung, Ketua AGP-PGRI Jawa Barat.
Saya Arief Achmad setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan diHomepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya sayasendiri dan sah (tidak ada copyright). .
CATATAN:Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap dipertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikelmasing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap,pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.
Artikel:BEDA GURU SEKOLAH NEGERI,SEKOLAH SWASTA,DAN BIMBINGAN BELAJAR 
Judul: BEDA GURU SEKOLAH NEGERI , SEKOLAH SWASTA, DAN BIMBINGANBELAJARBahan ini cocok untuk Sekolah Menengah.Nama & E-mail (Penulis):MUCHTARIDI, MSi, Apt 
 
Saya Dosen di Jurusan Farmasi FMIPA UNPADTopik: Kualitas GuruTanggal: 17 Desember 2004
 Guru merupakan ujung tombak keberhasilan suatu sistem pendidikan. Bagaimanapunsistem pendidikannya, jika guru kurang siap melaksanakannya tetap saja hasilnya sama"jelek". Sistem KBK yang diterapkan saat ini, sebetulnya sudah diterapkan di sekolahswasta yang ekonomi siswanya menengah ke atas. KBK suskses di sekolah swastakarena mereka berani memberikan kesejahteraan guru yang lebih baik dan fasilitas yanglengkap dibandingkan sekolah negeri, setidaknya ini juga disampaikan oleh Pak Said,bahwa sebetulnya yang sangat mempengaruhi kualitas guru adalah kondisi sosial guru.Renungkanlah kalimat yang diucapkan salah seorang guru besar Universiti KebangsaanMalaysia saat melawat ke Jakarta "Di Indonesia sebetulnya gurunya pintar-pintar jikadibandingkan dengan Malaysia, lalu kenapa pendidikan disana lebih maju pesat, karenakami saat mengajar dalam benak kami tidak punya pikiran aduh gimana besok, sehinggakami benar-benar bekerja keras untuk pendidikan", kira-kira itulah sari kalimat yangdisampaikan nya. Jadi, jika kita simak maksud kalimat saat mengajar dalam benak kamitidak punya pikiran "aduh gimana besok", saya yakin maksudnya bahwa agar gurumengajar dengan optinal di kelas, sebaiknya guru diberikan kenyamanan dalam halkondisi sosialnya.Di sekolah swasta yang bonafit, guru benar-benar dikontrol kualitasnya dengan berbagaiprogram yang diadakan yayasan demi menjaga kualitas sekolah tersebut dankepercayaan dari orang tua murid, sehingga hasilnya pun sangat memuaskan. Buktisederhana bagaimana hasil didikan sekolah-sekolah swasta adalah prestasi siswamereka di Olimpiade Sains tingkat Nasional dan Internasional. Misalnya, SMA XaveriusPalembang, SMA IPEKA Medan, dan SMA Aloysius Bandung, SMA BPK Penabur.Guru di PNS (sekolah Negeri), sudah terlanjur terjebak oleh kalimat pahlawan tanpapamrih, sehingga akibatnya posisi guru di masyarakat, bahkan di kalangan pejabatterasa terpinggirkan dan tersisihkan. Pemalsuan ijazah oleh caleg merupakan salah satuindikasi bahwa posisi guru diremehkan. Saat guru berpikir bahwa yang dilakukannyaadalah hanya semata-mata ibadah, lalu godaan pun datang seperti siswamelecehkannya karena merasa "saya punya uang lebih", atau orang tua yang punya jabatan 'wah", seenaknya memaki guru oleh karena anaknya didisiplinkan, atau orangtua ingin anaknya punya rangking, sehingga mengembel-embel hadiah yangmenjanjikan". Godaan itu, menjadi hal yang wajar dalam wajah pendidikan Indonesia,yang akhirnya menyeret keterpurukan bagsa ini. Bagi guru yang berkualitas, godaantersebut seharusnya bisa ditolak, tapi malah ada juga guru yang marah ke siswa karenasiswa tidak memberi hadiah saat kenaikan kelas.Mungkin Pa Said lupa, mengapa banyak guru kurang optimal mengajar di kelas?.Cobalah simak bagaimana sekeksi guru PNS. Mengandalkan Akta IV yang dipunyaicalon, calon guru hanya diuji tes tertulis, kemudian wawancara. Lalu apakan diuji caramengajar atau meyampaikan materi pelajaran?. Ini juga salah satu kelemahan sistemseleksi guru kita di Indonesia (PNS), yang membuat guru mengajar kurang optimal, kitaterlalu percaya bahwa yang punya Akta IV bisa mengajar, saya yakin tidak semua?. Kitapatut puji Diknas Sukabumi, karena sistem seleksi guru di Sukabumi telah menerapkanhal tersebut. Dan ini pula, yang mengakibatkan kualitas guru di bimbel dengan gurusekolah timpang dalam hal menyampaikan materi.Lalu bagaimana kualitas guru di sekolah dan di bimbel? Tulisan Sanita (HU PR Selasa,04/05/04) yang berjudul "Bisakah sistem bimbel diterapkan di sekolah" merupakan ideyang cemerlang, tapi tidak semua betul. Beberapa hal yang mebedakan kuaitas guru dibimbel lebih baik dalam hal menyampaikan materi adalah sebagai berikut.1. Seleksi guru. Di bimbel, sudah tentu syaratnya harus lulusan PTN, karena dia harus jadi panutan bagaimana siswa menembus PTN, tapi guru PNS tentu tidak hanya lulusan

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Doli Ade Saputra liked this
Bayu Adipramono liked this
sigiputri liked this
Sonny Fadli liked this
Erwin Prasetya liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->