Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
32Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional

20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional

Ratings:

4.67

(3)
|Views: 3,384 |Likes:
Published by Achmad Hidayat
Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.
Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakan suatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali oleh tokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasi Syarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni pada tahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, dan mencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Achmad Hidayat on Jun 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2011

pdf

text

original

 
20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Bag.1)
Kelahiran organisasi Boedhi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 sesungguhnya amattidak patut dan tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, karenaorganisasi ini mendukung penjajahan Belanda, sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka, a-nasionalis, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnyamerupakan anggota Freemasonry Belanda (Vritmejselareen).Dipilihnya tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya merupakansuatu penghinaan terhadap esensi perjuangan merebut kemerdekaan yang diawali olehtokoh-tokoh Islam yang dilakukan oleh para penguasa sekular. Karena organisasiSyarikat Islam (SI) yang lahir terlebih dahulu dari Boedhi Oetomo (BO), yakni padatahun 1905, yang jelas-jelas bersifat nasionalis, menentang penjajah Belanda, danmencita-citakan Indonesia merdeka, tidak dijadikan tonggak kebangkitan nasional.Mengapa BO yang terang-terangan antek penjajah Belanda, mendukung penjajahanBelanda atas Indonesia, a-nasionalis, tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka,dan anti-agama malah dianggap sebagai tonggak kebangkitan bangsa? Ini jelaskesalahan yang teramat nyata.Anehnya, hal ini sama sekali tidak dikritisi oleh tokoh-tokoh Islam kita. Bahkan secaramenyedihkan ada sejumlah tokoh Islam dan para Ustadz selebritis yang ikut-ikutanmerayakan peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei di berbagai event. Mereka inisebenarnya telah melakukan sesuatu tanpa memahami esensi di balik hal yangdilakukannya. Rasulullah SAW telah mewajibkan umatnya untuk bersikap: “Ilmu qablaamal” (Ilmu sebelum mengamalkan), yang berarti umat Islam wajib mengetahuiduduk-perkara sesuatu hal secara benar sebelum mengerjakannya.Bahkan Sayyid Quthb di dalam karyanya “Tafsir Baru Atas Realitas” (1996) menyatakanorang-orang yang mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup adalah samadengan orang-orang jahiliyah, walau orang itu mungkin seorang ustadz bahkanprofesor. Jangan sampai kita “Fa Innahu Minhum” (kita menjadi golongan mereka)terhadap kejahiliyahan.Agar kita tidak terperosok berkali-kali ke dalam lubang yang sama, sesuatu yangbahkan tidak pernah dilakukan seekor keledai sekali pun, ada baiknya kita memahamisiapa sebenarnya Boedhi Oetomo itu.
Pendukung Penjajahan Belanda
Akhir Februari 2003, sebuah amplop besar pagi-pagi telah tergeletak di atas mejakerja penulis. Pengirimnya KH. Firdaus AN, mantan Ketua Majelis Syuro Syarikat Islamkelahiran Maninjau tahun 1924. Di dalam amplop coklat itu, tersembul sebuah bukuberjudul “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa”karya si pengirim. Di halaman pertama, KH. Firdaus AN menulis: “Hadiah kenang-kenangan untuk Ananda Rizki Ridyasmara dari Penulis, Semoga Bermanfaat!” Di bawahtanda tangan beliau tercantum tanggal 20. 2. 2003.KH. Firdaus AN telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Namun pertemuan-pertemuan dengan beliau, berbagai diskusi dan obrolan ringan antara penulis dengan
 
beliau, masih terbayang jelas seolah baru kemarin terjadi. Selain topik pengkhianatanthe founding-fathers bangsa ini yang berakibat dihilangkannya tujuh buah kata dalamMukadimmah UUD 1945, topik diskusi lainnya yang sangat konsern beliau bahas adalahtentang Boedhi Oetomo.“BO tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena merekapara pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yangdilakukan tuannya atas Indonesia. Dan BO tidak pula turut serta mengantarkan bangsaini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. BO adalahorganisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yangboleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya, ” tegasKH. Firdaus AN.BO didirikan di Jakarta tanggal 20 Mei 1908 atas prakarsa para mahasiswa kedokteranSTOVIA, Soetomo dan kawan-kawan. Perkumpulan ini dipimpin oleh para ambtenaar,yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. BOpertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaanBelanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran AryoNotodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangatsetia dan patuh pada induk semangnya.Di dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasarorganisasi, BO menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernahsekali pun rapat BO membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yangmerdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasibgolongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batusandungan bagi upaya mereka, ” papar KH. Firdaus AN.Di dalam Pasal 2 Anggaran Dasar BO tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalangkerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis. ”Inilah tujuan BO, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan.Noto Soeroto, salah seorang tokoh BO, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten vanKartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging berkata: “Agama Islam merupakanbatu karang yang sangat berbahaya... Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agarperahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ”Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik BO di bawah asuhan Dr.Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisanterdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”,“Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor24, 1938.Karena sifatnya yang tunduk pada pemerintahan kolonial Belanda, maka tidak ada satupun anggota BO yang ditangkap dan dipenjarakan oleh Belanda. Arah perjuangan BOyang sama sekali tidak berasas kebangsaan, melainkan chauvinisme sempit sebatasmemperjuangkan Jawa dan Madura saja telah mengecewakan dua tokoh besar BOsendiri, yakni Dr. Soetomo dan Dr. Cipto Mangunkusumo, sehingga keduanya hengkangdari BO.
 
Bukan itu saja, di belakang BO pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketuapertama BO yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, ternyata adalahseorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895.Sekretaris BO (1916), Boediardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnyasendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “TarekatMason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th.Stevens), sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggotaMason Indonesia.Dalam tulisan kedua akan dibahas mengenai organisasi kebangsaan pertama diIndonesia, Syarikat Islam, yang telah berdiri tiga tahun sebelum BO, danperbandinganya dengan BO, sehingga kita dengan akal yang jernih bisa menilai bahwaHari Kebangkitan Nasional seharusnya mengacu pada kelahiran SI pada tanggal 16Oktober 1905, sama sekali bukan 20 Mei 1908. (Bersambung/Rizki Ridyasmara)
20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional (Tamat)
Dalam tulisan bagian pertama, telah dipaparkan betapa organisasi Boedhi Oetomo (BO)sama sekali tidak pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Karena BO tidakpernah membahas kebangsaan dan nasionalisme, mendukung penjajahan Belanda atasIndonesia, anti agama, dan bahkan sejumlah tokohnya ternyata anggota Freemasonry.Ini semua mengecewakan dua pendiri BO sendiri yakni Dr. Soetomo dan Dr. CiptoMangunkusumo, sehingga keduanya akhirnya hengkang dari BO.Tiga tahun sebelum BO dibentuk, Haji Samanhudi dan kawan-kawan mendirikanSyarikat Islam (SI, awalnya Syarikat Dagang Islam, SDI) di Solo pada tanggal 16 Oktober1905. “Ini merupakan organisasi Islam yang terpanjang dan tertua umurnya dari semuaorganisasi massa di tanah air Indonesia, ” tulis KH. Firdaus AN.Berbeda dengan BO yang hanya memperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura—jugahanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, sehingga para pengurusnya punhanya terdiri dari orang-orang Jawa dan Madura—sifat SI lebih nasionalis. KeanggotaanSI terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan parapengurusnya pun terdiri dari berbagai macam suku seperti: Haji Samanhudi dan HOS.Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dariSumatera Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.Guna mengetahui perbandingan antara kedua organisasi tersebut—SI dan BO—maka dibawah ini dipaparkan perbandingan antara keduanya:Tujuan:- SI bertujuan Islam Raya dan Indonesia Raya,- BO bertujuan menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran DasarBO Pasal 2).Sifat:- SI bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia,- BO besifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya Jawa-Madura,

Activity (32)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nova Levira liked this
zahid1990 liked this
adieurhythm liked this
Jum'atil Fajar liked this
kehati liked this
Iwan R Hafsin liked this
Andi Hamitra liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->