Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
AHGN-Pengadilan_HAM_Ad_Hoc_Kasus_Tanjung_Priok

AHGN-Pengadilan_HAM_Ad_Hoc_Kasus_Tanjung_Priok

Ratings: (0)|Views: 17 |Likes:
Published by setia wirawan
HAM Tanjung Priok
HAM Tanjung Priok

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: setia wirawan on Jun 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

 
 1
Pengadilan Ham Ad HocKasus Tanjung Priok : “Sebuah Catatan”
Oleh: Abdul Hakim Garuda NusantaraLebih dari dua puluh tahun yang lalu pada sekitar pertengahan bulanSeptember tahun 1984 terjadi peristiwa pelanggaran hak asasi manusia, dimana sejumlah besar pengunjuk rasa yang kebanyakan beragama islam yangmenuntut pembebasan saudara-saudara mereka yang ditahan di kantorKomando Distrik Militer (KODIM) setempat dianiaya, diberondong dengansenjata api oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia yang menurut laporanditugaskan untuk mengendalikan dan mengamankan situasi yang rusuh.Akibatnya sejumlah besar pengunjuk rasa itu mengalami luka-luka danbanyak yang meninggal dunia. Sebagian dari mereka yang meninggal itusemasa berkuasanya rezim Soeharto tidak diketahui tempat kuburnya.Selanjutnya mengikuti tragedi kemanusiaan berdarah tersebut pemerintahmelakukan penangkapan dan penahanan terhadap banyak pemuka-pemukaislam yang kritis dan vokal terhadap pemerintah otoriter Soeharto. Parapemuka muslim itu tidak hanya mengalami penangkapan dan penahananyang sewenang-wenang. Mereka mengalami pula penyiksaan selama baradadalam tahanan, dan yang lebih tragis lagi mereka harus menghadapipenuntutan dan pengadilan yang melawan hukum dan nurani keadilan. Salahsatu dari banyak pemuka islam yang mengalami penculikan, penahanan,penyiksaan, penuntutan dan pengadilan yang tidak jujur itu adalah sdr AMFatwa. Rezim otoriter Orde Baru menyalah-gunakan sistem peradilan untuk
 
 
memenjarakan dan menghukum lawan-lawan politiknya termasuk parapemuka islam yang vokal dan kritis tersebut.Selama berkuasanya rezim otoriter Orde Baru Soeharto tidak banyakorang dan organisasi kemasyarakatan yang berminat dan berani secaraterbuka mendesak dan menuntut pemerintah untuk melakukan penyelidikanyang obyektif atas peristiwa berdarah di Tanjung Priok. Di antara yangsedikit itu Petisi 50 di mana sdr AM Fatwa menjadi salah satu pengurusnyadan Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) di mana Sdr Adnan Buyung Nasution dansaya kebetulan duduk menjadi pengurusnya. Petisi 50 dan YLBHI pada waktuitu mendesak pemerintah Soeharto supaya membentuk team penyelidikindependen guna menyelidiki duduk perkara sebenarnya peristiwa berdarahTanjung Priok. Pemerintah Soeharto tidak menanggapi desakan tersebut.Alih-alih pemerintah Soeharto menangkap dan menahan sebagian pengurusPetisi 50 seperti, Jenderal HR Dharsono, dan sdr. AM Fatwa. Sedangkanpemuka Petisi 50 lainnnya seperti, sdr. Ali Sadikin, sdr. Dr Anwar Haryono,sdr. Slamet Bratanata, sdr. Hoegeng Iman Santoso, sdr. Azis Saleh, dan lainlain terus berada dalam pengawasan yang ketat oleh para telik Orde Baru.Sementara itu YLBHI sebagai organisasi bantuan hukum dan Ham di isolasidan dipersulit ruang geraknya. Masa itu boleh dikatakan masa-masa yangsangat represif yang dihadapi oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia.Tumbangnya Soeharto dari kursi kekuasaan pada bulan Mei l998membuka peluang lebih lebar bagi perbaikan kondisi hak asasi manusia diIndonesia. Pemerintahan transisi di bawah kepemimpinan Presiden BJ.Habibie nampaknya menjanjikan bagi perbaikan kondisi hak asasi manusia.Langkah perbaikan itu antara lain, dimulai dengan pelepasan para tahanan
 
 
politik, pembuatan Undang-undang Hak Asasi Manusia, reformasi Uu Politikdan Pemilu, dan lain sebagainya. Pada masa ini para korban pelanggaranHam Pemerintah Soeharto, termasuk para korban Priok menuntut keadilan.Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) tak terelakkan wajibmenanggapi secara positif tuntutan masyarakat. Dalam upaya untukmenegakkan keadilan bagi para korban Priok, dan tentunya bagi masyarakatIndonesia yang cinta keadilan KOMNAS HAM membentuk Team Ad Hoc (ataulebih dikenal dengan KPP) penyelidik Pro Justisia kasus pelanggaran Ham diTanjung Priok. Hasil penyelidikan KPP kasus Tanjung Priok inimenyimpulkan, bahwa pada peristiwa berdarah di Tanjung Priok pada tahunl984 itu memenuhi unsur-unsur tindak pidana pelanggaran Ham berat, yaitukejahatan terhadap kemanusiaan. Hasil penyelidikan KOMNAS HAM tersebutkemudian diserahkan kepada Jaksa Agung untuk ditindak-lanjuti denganpenyidikan dan penuntutan.KPP kasus Tanjung Priok berhasil mengidentifikasi 33 (tiga puluh tiga)orang pejabat, termasuk militer yang diduga bertanggungjawab berkenaandengan tragedi berdarah di Tanjung Priok. Di antara yang didugabertanggungjawab itu adalah, Jenderal LB Moerdani, dan Jenderal TrySoetrisno. Hampir tiga tahun berkas hasil penyelidikan KOMNAS HAM itungendon di kantor Jaksa Agung. Dalam pada itu DPR sudah mengusulkankepada Presiden untuk membentuk pengadilan ad hoc HAM kasus TanjungPriok. Dalam kurun waktu hampir tiga tahun itu berbagai peristiwa terjadi.Jaksa Agung terus-menerus disorot dan di demo oleh para korban danmasyarakat luas untuk segera menyelesaikan tugas penyidikannya dansegera menyerahkan berkas perkara ke pengadilan Ham Ad hoc. Di tengah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->