Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Apa dan Siapa : Ziauddin Sardar (sebuah kumpulan tulisan)

Apa dan Siapa : Ziauddin Sardar (sebuah kumpulan tulisan)

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 840 |Likes:
Published by Joko
“Di era global, Islam jangan hanya dipahami secara klasik, melainkan Islam harus dipahami sebagai etika yang dinamis, misalnya jika kita makan tomat di mal yang ternyata tomat produk Amerika, bagaimana hal itu dipahami secara etik?” katanya.
[Ziauddin Sardar, dari liputan NU Online, 2005]
“Di era global, Islam jangan hanya dipahami secara klasik, melainkan Islam harus dipahami sebagai etika yang dinamis, misalnya jika kita makan tomat di mal yang ternyata tomat produk Amerika, bagaimana hal itu dipahami secara etik?” katanya.
[Ziauddin Sardar, dari liputan NU Online, 2005]

More info:

Published by: Joko on Jun 11, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2014

pdf

text

original

 
Minggu, 15 Oktober 2006Ziauddin Sardar Menghargai KetidaktahuanAku menulis, maka aku ada. Bagi Ziauddin Sardar, menulis seperti halnya menghirupudara, makan, atau tidur: sebuah prasyarat untuk bertahan hidup. ''Aku akan mati jika tak menulis,'' kata pemikir Islam paling terkemuka di Inggris itu, kepada
 Republika
, diJakarta, Kamis (5/10) pekan lalu.Empat puluh buku telah dilahirkan Zia --panggilan Sardar-- dalam rentang 30 tahun. Iamenulis
 Aliens R Us: Post Colonial Science Fiction
pada 2002. Pada 2004 ia jugamenulis kajian politik 
Why Do People Hate Amerika?
(
best seller 
), dan
 DesperatelySeeking Paradise
. Sebelumnya Sardar melahirkan
The Futures of Muslim Civilization
(1979), yang menahbiskannya sebagai futuris peradaban Islam.Jelas, Sardar tak memaku karya-karyanya pada isu-isu keagamaan, tapi juga politik, studikebudayaan, bahkan sains dan teknologi. Mengapa? Untuk menyingkap realitas, kataSardar, perlu beragam pendekatan. Untuk menjawab satu pertanyaan, dibutuhkan satumetodologi khusus. Maka, jadilah Sardar seorang
 polymath
: manusia multibidang.Sardar berkaca pada sosok Al-Biruni, cendekiawan muslim Abad Pertengahan, yang jugaseorang
 polymath
. ''
 He is my hero
,'' kata Sardar. Al-Biruni meretas batas-batas disiplinilmu. Ia menulis teks astronomi Abad Pertengahan --kanon Al-Masudi-- sekaligus belajar yoga. Ia menulis sejarah mamoth dunia (Kronologi Bangsa Kuno), namun aktif dalamkegiatan filsafat dan debat teologi di zamannya. Al-Biruni juga berkunjung ke berbagaitempat di dunia dengan beragam budaya.Sardar menyerap inspirasi dari Al-Biruni untuk menjadikan dirinya seperti saat ini. Sardar sekarang adalah guru besar pada Postcolonial Studies, City University, London, meskigelar sarjananya diperoleh dari jurusan teknologi informasi. Sardar juga kondang sebagai penyiar yang wajahnya kerap muncul di televisi Inggris, jurnalis, sekaligus kolumnis di
Observer 
dan
 New Statesman
. Ia kritikus budaya, futuris, sekaligus pemikir Islamkontemporer yang disegani. Seperti Al-Biruni, Sardar pernah tinggal dan berkunjung ke beragam wilayah.Menetap di Arab Saudi (1975-1980), menyaksikan dinamika umat Islam di Irak, Turki,Pakistan, Cina, menyaksikan Revolusi Islam di Iran. Ia sengaja belajar mistik Islam (sufi)sekaligus sempat kecewa dengannya. Sardar juga teman diskusi mantan wakil perdanamenteri Malaysia, Anwar Ibrahim, dan pemikir Islam liberal di sana. Pertarungan sejatiSardar adalah: bagaimana mewujudkan revivalisme Islam di zaman modern ini.Bagaimana Islam dapat cocok di abad ke-21 dan kembali meraih peradaban adiluhungyang sempat lepas.Jika ditelusuri, kegelisahan Sardar adalah bermula dari bakatnya untuk selalu kritisterhadap sesuatu. ''Saya termasuk yang percaya pada pertanyaan. Bertanya, bagi sayaadalah fundamental. Anda lihat buku-buku saya penuh dengan pertanyaan.
Why do people hate America
, misalnya,'' terang Sardar.Sekali lagi, ia terinspirasi Al-Biruni. Dalam kacamata Al-Biruni, setiap Muslim memilikihak untuk mengajukan pertanyaan, bahkan harus melakukannya. Pertanyaan itumencakup wilayah apa saja, termasuk soal Tuhan dan kepercayaan. Sardar banyak menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. ''Kemudian saya harusmenuliskannya,'' terang dia. Karena itulah menulis adalah sebuah konsekuensi, sekaliguskebutuhan, dari pengembaraan intelektual Sardar.Tulisan (buku) itu sendiri, menurut Sardar, adalah pilar fundamental bagi suatumasyarakat. Masyarakat akan mati tanpa tulisan (buku). ''Bukankah penulis adalahseseorang yang merefleksikan dan membangun kesadaran kolektif tentang masa depanmasyarakatnya? Bagaimana seandainya masyarakat tidak tahu masa depan merekasendiri,'' tanya dia.
 
Dan penulis, kata Sardar, harus memulai sesuatunya dari pertanyaan atau bersikap kritis.Itu pulalah yang dilakukan Nabi Muhammad saat menerima wahyu pertama
'Iqra' 
(bacalah). Nabi berusaha menggugatnya, ''Aku tak bisa membaca.''Bagi Sardar, ini adalah pesan yang kuat. Mengapa dalam wahyu pertama, Tuhanmenyuruh Nabi untuk 'membaca', alih-alih mewajibkan shalat, puasa, atau zakat. Dalamwahyu pertama pula, Tuhan menyebut soal kegiatan 'menulis'. Yakni pada ayat yangmenyebutkan bahwa Tuhan mengajar manusia lewat perantaraan kalam. Karena itulah,terang Sardar, bertanya, mencari jawaban, dan menulis, adalah aspek amat fundamentaldalam Islam.
Peran ibu
Lahir di Pakistan pada 1951, hijrah ke Hackney, Inggris di usia sembilan tahun, Sardar  belajar Alquran di pangkuan ibunya. Di Pakistan, anak-anak bersekolah di madrasah. DiInggris, budaya sekular amat kental. Sang ibu khawatir Sardar tercerabut dari tradisikeislamannya. Berbekal buku
 Elementary of Teaching Islam
sang ibu menjadi gurumadrasah bagi Sardar kecil. Sekaligus inspiratornya.Ada tiga jenis jawaban yang diberikan ibunya atas pertanyaan-pertanyaan Sardar, yakni:'Ya', 'Tidak', dan 'Tidak Tahu'. Sang ibu tak malu untuk bilang tidak tahu. Dari situ Sardar kecil diajarkan sikap untuk mengakui ketidaktahuan. Tidak tahu bukan aib, tetapi langkahawal untuk bersama-sama mencari tahu.Pengetahuan itu sendiri, kata Sardar, adalah kekuatan sekaligus kekuasaan --
knowledge is power 
. Kekuasaan, kata dia, tidak terletak pada gagang senjata. Yang memungkinkansenjata tercipta adalah pengetahuan (buku). Inilah yang membuat Barat menjadi kekuatandominan. ''Mereka paham bahwa
 power 
sesungguhnya terletak pada pengetahuan,'' kataSardar.Minggu, 17 September 2006RESENSIPerjalanan Spiritual-Intelektual Sardar Meskipun banyak memotret kegiatan
tabligh
Ziauddin Sardar, buku ini sebenarnyaadalah perjalanan spiritual-intelektual Sardar dan perkembangan pemikiran Islamkontemporer di Eropa. Sardar memang dikenal sebagai pemikir Islam mutrakhir. Tapi, ia juga seorang
broadcaster 
, pakar teknologi dan informasi, jurnalis, dan penulis produktif.Saat ini ia mengajar di City University, London.Lahir pada 1951 di Dipalpur, Pakistan Utara, sejak kecil Sardar berimigrasi ke London bersama keluarganya. Sebagai cendekiawan ia telah menulis lebih dari 40 judul buku.Salah satu bukunya yang ditulis bersama Merryl Wyn Davies,
Why Do People Hate America
, mencatat
bestseller 
internasional. Ia juga kontributor berkala
 New Statesman
.Dalam buku
 Desperately Seeking Paradise
-- juga mencatat
best seller 
-- Sardar menggambarkan kehidupan umat Islam di Inggris, yang kini mencapai lebih dari satu juta jiwa. Suatu jumlah yang terus meningkat, sekalipun akhir-akhir ini mereka seringmendapat tekanan politik sebagai dampak dari isu terorisme global.Dengan menarik Sardar menceritakan kegiatan
 jamaah tabligh
yang datang dari Karachiuntuk melakukan
tabligh
di Inggris. Salah satu anggota jamaah itu adalah Mashud Sahib,yang rela meninggalkan usaha rempah-rempahnya di Pakistan dan istri serta delapananaknya, untuk berkeliling Eropa mengajak orang-orang datang ke masjid. Dengan gigih para anggota jamaah itu berkelana selama dua tahun di jalan-jalan Eropa. Sambilmembunyikan lonceng mereka mengajak siapa saja untuk ikut dalam perdebatan Socratesguna mengenalkan pandangan dan dunia mereka.Saat Sardar memulai petualangannya bersama para pengikut
tabligh
, FOSIS (FederawsiMahasiswa di Inggris dan Irlandia) telah menjadi bagian hidupnya selama beberapatahun. Pelajar Muslim di Inggris adalah wajah kecil dunia Islam yang tak hanya
 
menyebar secara etnis dan geografis, tetapi juga tradisi, modernitas, beserta perkembangan dan bentuknya.Sardar mencatat ada dua katagori anggota di dalamnya: pelajar yang melanjutkan jenjang pendidikan di Inggris, dan
hippies
Amerika yang setelah melakukan pencarian panjangkemudian memeluk Islam dan menjadi sufi. Aku, kata Sardar, adalah tetes pertama darigelombang ketiga. Lahir dari orangtua imigran yang dibesarkan serta belajar di Inggrisdan mencapai pendidikan tinggi.Sardar juga mencatat kedatangan ulama terkemuka Pakistan, Sayyid Abulala Maududi,seorang pembaharu politik Islam yang mendambakan berdirinya negara Islam. Mawdudi,yang juga jurnalis, telah merenungkan keadaan umat Muslim selama beberapa dekadesebelum menyimpulkan bahwa tak akan ada parpol kaum Muslimin yang berhasil tanpa bersandar pada standar tinggi etika dan moralitas Islam, yaitu parpol yang mendesak kaum Muslim untuk menerima dan mengamalkan Islam tanpa kecuali.Ketika diwawancarai oleh
The Muslim
, Maududi berpendapat bahwa mendirikan negaraIslam melalui perjuangan bersenjata bukanlah jalan yang tepat. ''Bahkan jika Andamendirikan negara Islam melalui revolusi bersenjata, negara itu tidak akan berjalan sesuaidengan Islam.'' (hlm 36).Sardar, yang banyak terlibat dalam berbagai pemikiran dan organisasi Islam, tidak dapatmenerima saat
The Muslim
mempublikasikan kesepakatan ulama Pakistan, sebuah fatwa bahwa sosialisme itu kufur, kafir, atau musuh, dan apapun yang menyebabkan sesorangmenjadi sosialis adalah haram, dilarang keras. Dia mengecam pendapat itu. ''Saya banyak  berkawan dengan orang yang berpandangan sosialis. Karena, saya tidak dapat melihatsecara hitam putih,'' tulisnya.Kemudian Sardar berpaling pada pandangan-pandangan sufi dengan megangkat tokoh-tokoh mereka, seperti Gazali, Syekh Abdul Kadir Jaelani dan Al Hallaj. Ia jugamengisahkan Syekh Nadzim Adil Haqqani, seorang sufi yang datang ke Inggris tahun1970-an, dan dalam setahun banyak mengumpulkan pengikut Muslim Inggris sertamendirikan kantor pusat di London Utara.Sardar juga mengomentari novel
 Ayat-ayat Setan (The Satanic Verses)
karya SalmanRusdie dan mengecamnya. ''Saat membalik halaman novel, aku mulai merasakankemarahanku makin meninggi. Aku merasa seakan Rushdie merenggut apa yang kupeluk dengan kasih sayang. Suatu penghinaan terhadap Allah dan Nabi Muhammad saw,''tulisnya.Cendekiawan ternama ini juga kerap mengunjungi Malaysia. Di Kuala Lumpur dia bersahabat dengan Anwar Ibrahim dan mengagumi pemikiran-pemikirannya. Di kota itudia juga beberapa kali bertemu cendekiawan Malaysia, Prof Dr Sayyid Naquib Alatas,salah seorang guru Anwar.Banyak komentar yang diberikan dunia Barat terhadap buku Sardar ini. Tentang buku itu,harian berpengaruh Inggris,
 Financial Times
, menulis bahwa buku ini tidak hanya bertindak sebagai sebuah tuntutan bagi kaum Muslimin namun juga memberikanwawasan dan klarifikasi bagi mereka yang berada di luar agama Islam. Nama Buku: Desperately Seeking ParadisePenbgaran: Ziauddin Sardar Penerbit: Diwan Publishing, JakartaCetakan: Pertama, Juni 2006Tebal: 485 halaman(alwi shahab )Pendidikan IslamProf Sardar: Jangan Bicara Masa Lalu

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Herman SembraNi added this note
pelit download aja susahhhh....
Ulie Udlhiyah liked this
Elhadi Surya liked this
pancokom liked this
arbifadlan1 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->