MATI KETAWA Cara daripada SoehartoPengantar Penerbit 3/88
e m u r s o e h a r t o
Pengantar Penerbit
Di tengah krisis ekonomi yang membuat ribuan rakyat kecil bertambahpenderitaannya, sejumlah, pejabat Indonesia menyatakan bahwa rakyatIndonesia adalah orang yang paling terbiasa dengan penderitaan. Barangkalipernyataan ini benar adanya tapi juga barangkali pernyataan ini adalah sebuahhumor baru yang lebih mirip sebuah parodi.Belakangan ini orang Indonesia kian produktif menciptakan humor. Parapelaku ekonomi di Indonesia juga tak mau kalah bikin humor segar denganmerespon pembelian dolar Amerika secara besar-besaran saat RAPBNdibacakan Soeharto. Demikian juga ketika Soeharto menyatakan takluk padatuntutan IMF, orang kembali memborong dolar. Rupiah jadi anjlok. Juga saatSoeharto menyatakan kesediaannya dicalonkan jadi presiden lagi olehHarmoko. Lantas anak presiden dan sejumlah pejabat membalasnya denganhumor pula. Antara lain dengan melancarkan Gerakan Cinta Rupiah danperlombaan menyumbang emas secara mencengangkan. Tampaknya dalamsituasi krisis, orang kian butuh humor.Boleh jadi pers dibungkam, aktivis prodemokrasi dipenjara, organisasikemahasiswaan dan pemuda dibonsai, wakil rakyat sejati di-recall, aspirasirakyat disumbat, tapi siapa yang bisa melarang orang bikin humor? Barangkalihumor adalah sebuah bentuk katarsis orang dari ketidakberdayaannya dalamdunia nyata. Bisa saja penataran P-4 telah dijalankan secara sistematis, gerak-gerik setiap warganegara diawasi dan para wakil rakyat diberi pembekalan,tapi apa memang “ya” lantas semua jadi serba seragam?Kumpulan humor dalam buku ini, paling tidak membuktikan bahwaternyata tidak semua manusia Indonesia telah “mati pikir” di negerinyasendiri. Ada sejumlah orang yang masih kreatif dan berotak sehat. Buktinyamereka bisa membuat humor. Dan lewat humor-humor bikinannya itu merekaberhasil mengundang orang lain untuk tersenyum. Meski kadang sinis danmenyakitkan.Kumpulan humor yang diterbitkan dalam buku ini seluruhnya di-download dari internet. Sebuah media yang hingga kini belum bisa dikontrol apalagidibredel oleh Polri, ABRI, Bakin, BIA atau demit sekali pun. Apalagi olehDeppen yang hingga kini masih sibuk melakukan pembinaan terhadap parapemimpin redaksi media cetak lewat telepon, faksimili dan sejumlahpemanggilan.