Alasan klasik yang sering di utarakan rumah sakit adalah masalah biayaoperasional rumah sakit. Inilah salah satu dilema yang dihadapi rumah sakit dalammelakukan layanan kesehatan bagi warga tidak mampu. Jika melayani warga yang tak mampu membayar, tentu rumah sakit akan kehilangan penghasilan. Dan, ini akan berdampak buruk terhadap keberlangsungan operasional RS itu sendiri. Ini merupakandilema yang berat bagi rumah sakit.Program pemerintah yang dibuatpun harus dibuat sebijaksana dan seefektif mungkin agar tercipta rasa adil bagi rumah sakit dan tentunya masyarakat. Sehinggatujuan pembiayaan kesehatan yang adalah tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi, teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-gunadan berdaya-guna, untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan gunameningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat tercapai.Dari pemaparan di atas, kami mencoba menelaah sebuah kasus yang bisadijadikan contoh kasus yang terjadi di Indonesia yang berhubungan dengan pembiayaan Rumah Sakit. Berikut ini adalah kasusnya :
Pasien Miskin dan Jaminan SosialSenin, 7 Juni 2010
Meski sudah banyak aturan dan anjuran agar fasilitas kesehatanmendahulukan pertolongan kepada pasien, namun penolakan layanankepada pasien dengan alasan ekonomi masih kerap terjadi. Kasus penolakan terhadap Elsa Ainurohmah, bayi berusia enam bulan, putri pasangan Paidi (34) dan Septi Nuraini (30) oleh RS Sari Asih, KarawaciTangerang, beberapa waktu lalu, misalnya, menambah panjang catatanhitam kasus serupa di Tanah Air.Bayi mungil itu tidak mendapatkan layanan medis semestinya karenaorangtuanya tak mampu menyanggupi uang muka Rp 10 juta yang diminta pihak rumah sakit. Akhirnya, orangtuanya memutuskan untuk memindahkan Elsa ke RSU Tangerang. Namun, akibat terlambatmendapatkan layanan medis, Elsa meninggal sebelum tiba di RSUTangerang.
Page
2