Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAHASA BETAWI

BAHASA BETAWI

Ratings: (0)|Views: 6,546|Likes:
Published by buncit8
Penggunaan kata-kata seperti dèh, ngga, èmang, blingsatan, banget, duilé, elu, blo’on, bègo, guè/gua merupakan ciri leksikal Bahasa Melayu Betawi, yang juga dikenal dengan nama Bahasa Betawi...
Penggunaan kata-kata seperti dèh, ngga, èmang, blingsatan, banget, duilé, elu, blo’on, bègo, guè/gua merupakan ciri leksikal Bahasa Melayu Betawi, yang juga dikenal dengan nama Bahasa Betawi...

More info:

Published by: buncit8 on Jun 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2012

pdf

text

original

 
BAHASA BETAWIPenggunaan kata-kata seperti dèh, ngga, èmang, blingsatan, banget, duilé, elu, blo’on, bègo, guè/gua merupakan ciri leksikal Bahasa Melayu Betawi, yang juga dikenal dengan nama Bahasa Betawi . Penduduk asli kota Jakarta —pernah mempunyai nama Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia—berbahasa Melayu. Di Pelabuhan Sunda kelapaterjadi pertemuan para pedagang dari dalam (Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, JawaTimur dan Malaka) dan luar Nusantara (orang Arab dan Cina datang lebih dulu daripada orang Portugis dan Belanda) dengan penduduk setempat. Pertemuan antarbangsa ini mengakibatkan kontak bahasa. Dalam berkomunikasi dagang digunakan Bahasa Melayu sebagai lingua franca . Salah satu dampak kontak itu adalah penyerapan kata-kata asing ke dalam Bahasa Melayu.Persentase jenis kosakata dalam Bahasa Melayu Betawi dapat didasari padadua sumber data. Kamus Wörterverzetchnis des Omong Djakarta karya Hans Kähler (1966) menunjukkan 35,21% kosakata Bahasa Melayu Betawi berasal dari Bahasa Melayu, 22,05% dari Bahasa Jawa-Sunda, 18,37% Bahasa Jawa, 8,64% Bahasa Sunda, dan 15,73% dari bahasa Bali, Sasak, Lampung, Madura, Batak, Cina, Arab, Portugis, Inggris, Belanda, dan Sanskerta (Muhajir 1999:68). Sumber lain, Daftar Kosakata Swadesh, mencatat 93% kata-kata Betawi yang dihimpunnya sama dengan kosakata BahasaIndonesia yang berarti juga berasal dari Bahasa Melayu. Sisanya, 7% berasal dari Bahasa Jawa, Sunda, Bali dan Cina (Muhajir (1999:61). Walaupun kosakata bahasaCina yang diserap tidak banyak, tetapi kuantitas penggunaannya cukup mencolok karena berhubungan dengan penyebutan uang dan kata sapaan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.Dalam kontak bahasa antara penduduk Batavia yang berbahasa Melayu dengan bangsalain, penggunaan kata-kata dari bahasa asing itu terasa perlu, karena ketiadaankonsep tentang hal baru dalam Bahasa Melayu. Dengan demikian, terjadilah penyerapan kata-kata dari bahasa asing itu. Telah diutarakan di atas bahwa kosakata bahasa asing yang diserap ke dalam Bahasa Melayu berasal dari Bahasa Arab, Cina, Portugis, Belanda, Inggris dan Sanskerta. Penyerapan dari bahasa-bahasa itu turutmemberikan ciri kepada Bahasa Melayu yang dituturkan oleh penduduk Jakarta aslisehingga menjadi Bahasa Melayu dialek Betawi . Dialek Betawi memiliki ciri khasfonetis yang membedakannya dengan Bahasa Melayu dialek lainnya.Bahasa Cina, terutama Bahasa Hokkian, merupakan bahasa asing yang turutmemperkaya khazanah kosakata Bahasa Melayu Betawi.Bahasa Indonesia NonformalBahasa Melayu Betawi banyak digunakan dalam percakapan berbahasa Indonesia padasituasi nonformal. Kata-kata Cina yang telah diserap oleh Bahasa Melayu Betawi pun turut masuk ke dalam Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi II menandai kata-kata dari bahasa Cina dengan label Cn (singkatan Cina). Namun, kata-kata seperti bangsat, bècak, calo, jitu, kecoak, kèki, lotèng, sampan,bakso, bakwan tidak berlabel Cn. Bahkan gua, lu diberi label Jk (Jakarta). Halini menunjukkan tingginya tingkat integrasi kata-kata itu di dalam Bahasa Indonesia, sehingga dianggap—kemungkinan besar juga karena tidak diketahui lagi asal usulnya—sebagai bagian dari Bahasa Melayu.Kata-kata itu muncul dalam situasi formal maupun nonformal, tidak hanya digunakan oleh penduduk Jakarta yang keturunan Cina saja, tetapi juga oleh yang bukan keturunan Cina. Ceban, cecèng, gocèng, ngkoh, ncik, amoi (sudah jarang terdengar),kamsia, konyan muncul dalam situasi nonformal jual beli di pasar, warung dan toko, walaupun kedua pihak bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Kué, loncèng, nyonya, tukang muncul dalam situasi nonformal maupun formal.Dewasa ini penduduk Jakarta, baik yang keturunan Cina maupun bukan, berasal daripelbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka turut memperkaya perbendaharaankata serapan di dalam Bahasa Indonesia tanpa melalui penutur Bahasa Melayu Betawi seperti pada masa lalu. Hongshui, fengshui, xiexie, gongxi facai merupakan kata serapan yang baru muncul sekitar 7-8 tahun lalu.Derasnya arus kedatangan kelompok etnis lain ke Jakarta, terutama setelah tahun1965, membuat penduduk Jakarta secara garis besar terbagi atas dua jenis: pendud
 
uk Jakarta asli atau orang Betawi dan penduduk pendatang. Begitu pula, bahasa percakapan di kota Jakarta juga secara umum terdiri dari dua jenis. Bahasa MelayuBetawi atau Bahasa Betawi merupakan bahasa penduduk Jakarta asli. Bahasa ini mengacu kepada bahasa yang digunakan oleh orang yang menamakan dirinya orang Jakarta asli atau orang Betawi seperti pemain lenong Betawi Mandra, Omas, Mat Solar,Bokir, Pak Tile, Mpok Nori. Sebaliknya, Bahasa Melayu Jakarta atau Bahasa Jakarta mengacu kepada bahasa penduduk kota Jakarta multietnis yang bukan orang Betawi. Secara garis besar Bahasa Melayu yang ada di Jakarta terdiri dari dua dialek:(1) Bahasa Melayu Betawi, digunakan oleh orang Jakarta asli (2) Bahasa Melayu Jakarta, digunakan oleh penduduk Jakarta yang multietnis. Kedua dialek ini berbeda di bidang leksikal, fonetis dan morfologis.Bahasa CinaApa yang dimaksud dengan bahasa Cina? Secara umum dikatakan Bahasa Indonesia adalah bahasa orang Indonesia, Bahasa Inggris adalah bahasa orang Inggris. Dengan demikian bahasa Cina adalah bahasa orang Cina. Tetapi bahasa orang Cina cukup banyak, ada 54 bahasa. Dari 54 bahasa itu ada satu yang dijadikan bahasa nasional,sisanya merupakan bahasa daerah. Jadi bahasa mana yang dimaksud bahasa Cina?Untuk itu, kita perlu mengetahui sedikit situasi kebahasaan di RRC. Pembagian bahasa di RRC didasarkan pada jumlah penuturnya: (1) bahasa mayoritas dan;(2) minoritas. Bahasa mayoritas adalah Bahasa Han, terdiri dari 7 bahasa daerahyang salah satunya diangkat menjadi bahasa nasional RRC, yakni Bahasa Mandarindengan nama resmi Putonghua di RRC, Guoyu di Taiwan, Huayu di Singapura dan Malaysia. Bahasa Han, bahasa suku mayoritas, terdiri dari 7 bahasa daerah: Bahasa Utara atau Mandarin, Hokkian, Hakka, Kanton, Shanghai, Gan, Xiang. Bahasa minoritas adalah bahasa suku-suku minoritas yang juga merupakan bahasa rakyat Cina.Dari uraian di atas jelaslah bahwa yang dimaksud bahasa Cina tidak lainadalah bahasa-bahasa yang ada di RRC, berjumlah 54. Apakah kosakata dari 54 bahasa itu diserap ke dalam Bahasa Indonesia, atau hanya dari beberapa bahasa saja?Ternyata, dari 54 bahasa itu hanya 4 bahasa daerah saja yang diserap, yakni 3 bahasa daerah—Bahasa Hokkian, Hakka, Kanton—dan bahasa nasional RRC, Bahasa Mandarin. Jumlah kata serapan terbesar ditempati oleh Bahasa Hokkian. Hal itu disebabkan penutur Bahasa Hokkian paling awal datang ke Nusantara. Mereka merupakan kelompok imigran terbesar yang datang ke Nusantara sampai pada abad 19 (Shozo 1942:5-17). Kontak antara orang Cina dan orang pribumi di Nusantara tidak hanya di bidang perdagangan dan politik, tetapi juga bidang bahasa. Ketaktermilikkan istilahdari sebuah konsep Cina menyebabkan diserapnya kata dalam bahasa Cina itu ke dalam Bahasa Indonesia.Setelah berintegrasi selama puluhan tahun—mungkin ratusan tahun—ke dalamBahasa Indonesia dengan mengalami penyesuaian fonetis atau perubahan makna, sebagian besar kata serapan itu tidak menampakkan lagi ciri asingnya. Akibatnya, kita menganggap bècak, kecoa, kué, kèpang, bopèng, anglo memang berasal dari Bahasa Indonesia/Melayu; gua dan lu/elu dari Bahasa Betawi.Kamus Bahasa Melayu BetawiPenelitian ini didasarkan pada beberapa sumber data. Kamus Dialek Melayu Jakarta– Bahasa Indonesia disusun oleh Abdul Chaer (1976). Sarjana Sastra Indonesia IKIP Jakarta (sekarang UNJ) yang mempunyai pengalaman di bidang leksikografi ini,menyusun kamus di atas berdasarkan data yang diperoleh melalui informan, pencatatan kata-kata yang didengar dalam percakapan sehari-hari, menggunakan kamus lain sebagai data, serta cerpen yang ditulis dalam Bahasa Betawi. Dengan bantuan kemahirannya sebagai penutur Bahasa Melayu Betawi dan penyusunan yang cukup ilmiah, kamus ini merupakan yang paling lengkap bila dibandingkan kamus atau daftar kosakata sejenis lainnya.Chaer memasukkan kata serapan dari bahasa Cina sebagai bagian dari perbendaharaan kata yang dimiliki oleh penutur Bahasa Melayu warga Jakarta asli. Seluruh kataserapan itu berjumlah 159 dari 1.261 lema utama atau sekitar 12,38%. Persentaseini jauh lebih besar dari pada yang dinyatakan dalam Daftar Kata Swadesh (7% untuk 3 bahasa daerah dan bahasa Cina) atau Kamus Wörterverzetchnis des Omong Djak
 
arta (15,73% untuk beberapa bahasa daerah dan bahasa-bahasa asing termasuk bahasa Cina).Kamus mutakhir Bahasa Betawi lainnya karya Bundari berjudul Kamus Bahasa Betawi-Indonesia (2003), hanya memuat 9 lema kata serapan bahasa Cina (0,74%) dari 1210lema. Akan tetapi, kata-kata guè, lu yang muncul dalam contoh kalimat tidak dicatumkan sebagai lema. Tampaknya jumlah lema dalam kamus itu belum mewakili kosakata Bahasa Betawi secara keseluruhan karena engkong, kué, kecoak tidak tercantum. Ketidaklengkapan ini diakui oleh penyusun kamus ini. Hal itu disebabkan sumberdata kamus sarjana magister real estat yang merupakan penutur Bahasa Betawi diGandaria, Jakarta Selatan ini adalah kata-kata yang didengar dan dialaminya sejak kecil dalam keluarga dan masyarakat Betawi (Bundari 2003:v).Muhajir menyajikan dua jenis daftar kata Bahasa Betawi. Daftar pertama terdapatdi dalam buku Morfologi Dialek Jakarta (1984) yang juga merupakan disertasinya.Dalam buku itu terhimpun 11 kata serapan Cina (1,33%) dari 825 kata. Daftar kedua di dalam buku Bahasa Betawi: sejarah dan perkembangannya (1999.) Buku ini ditujukan bagi murid sekolah menengah sebagai muatan lokal. Isi buku ini mengenai sejarah dan bahasa orang Betawi serta perkembangannya sampai dewasa ini. Pada bagian akhir buku terdapat lampiran yang memuat 11 kata bahasa Cina (2,44%) dari seluruh kosakata yang berjumlah 450 kata. Seluruh kata itu dikutip dari Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan Republik Indonesia.Penelitian yang agak berbeda dilakukan oleh Philip Leo. Ia keturunan Cina, bermukim di Jakarta sejak zaman Belanda. Bahasa ibunya adalah bahasa Hakka, mampu berbahasa Mandarin dan Kanton. Penelitiannya mengenai kata serapan dari bahasa CinaHokkian, Hakka, Kanton, dan Mandarin dilakukan dari 1951-1973. Pada salah satubagian penelitiannya “kata serapan dari bahasa Cina yang digunakan penduduk Jakarta sebagai Bahasa Jakarta” dihimpun 95 kata dari bahasa Cina di dalam Bahasa Jakarta. Sayangnya, Leo tidak menjelaskan apa dan siapa penutur Bahasa Jakarta, apakah penduduk pendatang, penduduk asli Jakarta atau penduduk keturunan Cina diJakarta. Dua kata, duit dan Cina yang tidak berasal dari bahasa asing lainnya dianggap Leo berasal dari bahasa Cina.Data (lih. Lamp.1) yang terhimpun dari 5 sumber data ini menunjukkan keragaman pendapat penyusun mengenai penyerapan kata bahasa Cina ke dalam Bahasa Betawi. Kamus karya Chaer dan daftar Leo menunjukkan banyak persamaan, walaupun kata-kataserap yang dihimpun Chaer jauh lebih lengkap. Dalam kedua sumber data itu ditemukan akèw/akèu, amoi, Capgomè, Cèngbèng, Pecun, konyan (Tahun Baru Imlek), cabo,kamsia, ceki, kuntau/kuntao, sohun/so’un/so’on, lumpia, lihai, ceban, captun, bak (tinta Cina) dan sebagainya. Leo memasukkan topo ‘kain lap’, taukè/tokè, bakso, bakmi, bapao, kecoa, angpau, giwang, cawan, gua, lu sebagai kata serapan dalamBahasa Indonesia, padahal kata-kata itu juga ditemukan dalam kamus karya Chaer.Ini menunjukkan kata-kata itu juga muncul dalam Bahasa Betawi. Kata-kata dalamdaftar Leo yang tidak ditemukan dalam 4 sumber lainnya adalah hwa-hwé (judi yangmarak pada tahun 1970-an), hunkwéé, kiambwéé (manisan buah sejenis kana), muaci, maciok (permainan judi ), caima (wanita vegetarian bekerja dan tinggal di kelenteng), pauhi (sop sirip ikan hiu), taucang, wo ‘saya’, dan sebagainya. Mengenai wo ‘saya’, kata ini berasal dari Bahasa Mandarin. Dengan dicantumkannya beberapa kata terakhir ini tampak bahwa yang dimaksud “Bahasa Jakarta” oleh Leo adalahpenduduk keturunan Cina di Jakarta, karena kiambwéé, wo, pauhi, taucang, mua/moa, taukua/tokwa (kulit tahu) hanya muncul di antara golongan keturunan Cina saja.Sebaliknya, kata-kata Betawi dalam kamus Chaer yang tidak ditemukan dalam daftarLeo, adalah: ancoa, angkin, angkong (permainan judi), anglo, bakiak, bangsat, bèca, bihun, kucai, bopèng, cat/cèt, catut, cincau, kongsi, kèki, kongkalikong, kuya, kué, langseng, lihai, liangsim, liong, loncéng, ngkong, sekuteng/sekoteng,sentiong, siomai, dan sebagainya. Beberapa dari kata-kata di atas dapat dipastikan juga digunakan oleh penduduk keturunan Cina Jakarta. Bila demikian, kata serapan itu seharusnya juga terdapat dalam daftar Leo.Tiga sumber data lainnya memuat kata serapan bahasa Cina dalam kuantitas rendah.Centèng, kata yang sering muncul dalam lenong Betawi ternyata tidak ditemukan dalam kedua daftar kata Muhajir (1984,1999). Muhajir (1999) tidak memasukkan pang

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nugget F Gunawi liked this
Deni Kurniawan liked this
Deni Kurniawan liked this
Yoosye Sirait liked this
Ridium Piston liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->