Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
24
BAB IIANALISA TEORITIK TENTANG PEMBIASAAN MEMBACAASMA’UL HUSNA TERHADAP AKHLAK SISWA
.
A. Pembiasaan dan Permasalahannya
Secara etimologis kata
“pembiasaan”
berasal dari kata
“biasa”.
DalamKamus Besar Bahasa Indonesia kata biasa berati lazim, biasa dan umum, sepertisediakala sebagaimana yang sudah-sudah, sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, sudah menjadi adat, sudah seringkali. Jadi,kata pembiasaan berasal dari kata dasar “biasayang memperoleh imbuhan prefiks “pedan sufiks “an”, yang berarti proses membiasakan, yang padaakhirnya akan menghasilkan suatu kebiasaan atau adat. Pembiasaan adalah sebuahupaya sehingga terjadinya sebuah kebiasaan. Kebiasaan adalah sesuatu yang biasadikerjakan, pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yangdipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk halyang sama (http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)Pada konteks pembiasaan sebagai upaya menjadikan kebiasaan, makakebiasaan itu adalah suatu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpadirencanakan dulu, serta berlaku begitu saja tanpa dipikir lagi” ( Edi Suardi,tt.123).Kata “kebiasaan” berarti sesuatu yang telah biasa dilakukan, atau adat(Poerwadarminta, 2007: 153).Adapun istilah pembiasaan dilihat dari dimensi Pendidikan memiliki beberapa indikator. Adapun indikator tersebut adalah:
 
25
1.Pembiasaan mengandung unsur Tuntutan Kebiasaan
Dalam proses pembiasaan, unsur tuntutan kebiasaan berperan pentingdalam hal pendidikan Akhlak. Dalam kajian pendidikan akhlaq bentuk tuntutanini lebih dikenal dengan
dressur 
/pendidikan bersifat paksaan.
(Fadil Yani; 2007 :17).
 Dalam proses pendidikan perlu adanya sebuah latihan dan pembiasaaandengan konsisten dan disiplin. Hal ini berdasar pada sebuah kutipan:
“ berdisiplin selain akan membuat seorang memiliki kecakapan mengenaicara belajar yang baik, juga merupakan suatu proses ke arah pembentukan watak yang baik.watak yang baik dalam diri seseorang akanmencipatakan suatu kepribadian yang luhur.”
(The Liang Gie, 1985 : 59)Seperti dari layaknya seorang prajurit yang terampil (professional) dalammenggunakan senjata berat, ternyata sebelumnya mereka dilatih dengan metodedrill dan penuh disiplin. Sehingga ketika menghadapi musuh di medan tempur mereka sangat mudah dan tanpa pemikiran yang lambat bahkan terjadi karenaspontanitas (http://www.kodam-jaya.mil.id/arsif-artikel-kontribusi/967).Dengan alasan tersebut, begitu pentingnya disiplin hingga Allah berfirman pada Surah Ash-Shaaf:4 yang di tuturkan pula oleh seorang panglima besar yakni imam Ali bin Abi Thalib r.a mengingatkan bahwa
"Kebenaran yang tidak terorganisasi dengan rapi, dapat dikalahkan olehkebatilan yang diorganisasi dengan baik".
(Muhammad Syakir Sula
:610)
Dengan demikian tampaklah bahwa tuntutan akan nilai kedisiplinan,sangat penting dalam proses pendidikan.
 
26Hal lebih lanjut tentang kedisiplinan dijelaskan Merriam pada Webster’s New Dictionary (1984:248) sebagai berikut:1)Latihan yang mengembangkan pengendalian diri, karakter ataukeadaan serba teratur dan efisiensi.2)Hasil latihan serupa itu mengembangkan diri, perilaku tertib3)Penerimaan atau ketundukan kepada kekuasaan dan kontrol4)Suatu cabang ilmu pengetahuan.
2. Bersifat Lazim.
Sebuah pembiasaan berarti pula sebagai pelaziman. lazim berarti sediakala dan umum adanya (KBBI:2010). Konsep pembiasaan berarti pulamembiasakan kembali atau melanjutkan sesuatu yang menjadi kelaziman bagikomunitas tertentu. Bagi seluruh ummat muslim membaca asma’ul husna adalahhal yang lazim, sedangkan pembiasaan membaca asma’ul husna juga lazimdilakukan di kalangan ummat muslim (ESQ 165 Magazine : 2010). Perintah Allahmengenai Pengamalan Asma’ul husna dapat ditemukan pada Al-Quran:
نَ ود ُ حح ِ ل ْ يُ َ يذ ِ ححّا اْ ورُَ وَححه َ بِُ عُْفَى َ س ْ  ُ ْا ءم َ ْ َا  ِ ل  ِ وَ نَ ل ُ م َ  ْ يَاْ ُكََنَ وْ ز َ ج ْ  ُ َ ِ ئِ آم َ ْأَفِ: اعا)180
)
 Hanya milik Allah asmaulhusna, maka bermohonlah kepada-Nya denganmenyebut asmaaulhusna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nantimereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.
(Departemen Agama Republik Indonesia,1987:252)
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more