Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
6Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Desentralisasi Kelembagaan Program Kb Di Ska

Desentralisasi Kelembagaan Program Kb Di Ska

Ratings: (0)|Views: 2,637|Likes:
Published by Prafitri Windyasari

More info:

Published by: Prafitri Windyasari on Jun 20, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/21/2012

pdf

text

original

 
DESENTRALISASI KELEMBAGAAN PROGRAM KB ERA OTONOMIDAERAH DI KOTA SURAKARTA
TUGAS MATA KULIAHISU-ISU OTONOMI DAERAHDisusun Oleh :1.Desita Dwi NataliaD 01070432.Irwanti MelatiD 01070673.Prafitri WindyasariD 0107085
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARETKOTA SURAKARTA2009
BAB IPENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia dewasa ini masih menghadapi tiga persoalan pokok kependudukan, yakni jumlah penduduk besar dengan tingkat pertumbuhan tinggi. Kualitas penduduknya masihrendah, dan persebarannya tidak merata. Pada saat ini, menurut data di BKKBN, jumlah penduduk Indonesia telah mencapai sekitar 220 juta orang. Tingkat pertumbuhannya sekitar 1,48 persen per tahun dan tingkat kelahiran (TFR) sebesar 2,6. Berkat kerja keras jajaranBKKBN dan seluruh lapisan masyarakat, baik instansi pemerintah, tokoh masyarakat, tokohagama, LSM dan institusi kemasyarakatan lainnya, tingkat kelahiran tersebut telah berhasilditekan dari sekitar 5,6 pada awal 1970-an. Sementara tingkat pertumbuhannya diturunkandari sekitar 2,3 pada periode 1980-an.Para pakar dan pemerhati masalah kependudukan memperkirakan jumlah penduduk Indonesia akan terus bertambah hingga mencapai jumlah sekitar 298 juta jiwa pada tahun2050 sebelum akhirnya akan terjadi keseimbangan antara jumlah yang lahir dan jumlah yangmeninggal, yang disebut penduduk tanpa pertumbuhan. Namun harus dicatat proyeksi tersebut mengikuti tren kondisi kependudukan padatahun 1980-2000, yakni saat perhatian seluruh komponen masyarakat dan kebijakan pemerintah dari pusat hingga ke desa/kelurahan mendukung sepenuhnya program KeluargaBerencana (KB) nasional. Maklum, dengan adanya otonomi daerah, kebijakan dari pusat belum tentu sepenuhnya disambut sepenuh hati oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah kota. Jika ternyata kepedulian para pengambil kebijakan terhadap program KBmelemah, bukan tidak mungkin jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2050 akan melebihi298 juta jiwa.Desentralisasi Program KB berpengaruh terhadap komitmen kabupaten/kota yangumumnya sangat bervariasi dan kurang memberikan prioritas terhadap Program KB.Keragaman kelembagaan mempengaruhi pengelolaan program KB di tingkat kabupaten/kota.Perubahan kewenangan pengelolaan Program KB (yang ditandai dengan P3D) sehubungandengan otonomi daerah. Perubahan tersebut berpengaruh terhadap bervariasinya nomenklatur SKPD Pengelola KB. Adanya kekuatiran terhambatnya Program KB sehingga dapat memiculedakan jumlah penduduk.Menyikapi era otonomi daerah yang menempatkan program KB sebagai urusan wajib(sesuai PP Nomor 38 Tahun 2007 dan PP Nomor 41 Tahun 2007), BKKBN berupaya secaraterus menerus menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dengan menggalangkemitraan dengan berbagai pihak, termasuk dengan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
 
KB dan Pemberdayaan Perempuan yang merupakan unsure pemerintah daerah tingkatkabupaten/kota yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Sesuatu hal yang tidak mudah, tapi jika melihat gejala pertumbuhan penduduk dan dampaknya harus tetap optimis.BKKBN juga berupaya mewujudkan program KB nasional yang responsif gender, yaitu yangsudah memperhatikan kepentingan laki-laki dan perempuan, dengan terlebih dahulumeresponsifkan petugas pengelola dan pelaksana program hingga ke tingkat lini lapangan.Untuk mewujudkan ini BKKBN membentuk Pusat Pelatihan Gender dan PeningkatanKualitas Perempuan. Melalui institusi ini BKKBN berupaya menyosialisasikan (melalui pelatihan, sosialisasi, dll) informasi tentang gender, termasuk mengenai kekerasan dalamrumah tangga.Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah program KB banyak menuai kendala.Baik dari segi kelembagaan maupun pelaksaan teknis program KB itu sendiri. Adanyadesentralisasi pada otonomi daerah juga mempengaruhi pelaksaan program KB di daerah.Alasan Kami mengambil tema tersebut yaitu karena ingin mengetahui program KBdijalankan di Kota Surakarta dan ingin mengetahui peletakan kelembagaan program KB diKota Surakarta.
B. Rumusan Masalah
1.Bagaimana desentralisasi kewenangan program KBdi era otonomi daerah?2.Bagaimana kelembagaan program KB di Kota Surakarta sebelum dan sesudahotonomi daerah ?3.Bagaimana kondisi program KB sebelum dan sesudah otonomi daerah di KotaSurakarta?
C.Tujuan Penulisan
1.Untuk mengetahui bagaimana desentralisasi kewenangan program KB di era otonomidaerah.2.Untuk mengetahui bagaimana perbedaan bentuk kelembagaan program KB di KotaSurakarta sebelum dan sesudah otomi daerah.3.Untuk mengetahui bagaimana kondisi program KB sebelum dan sesudah otonomidaerah di Kota Surakarta.
BAB IIPEMBAHASAN]

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Iwan Hernawan liked this
mattpart liked this
h4lilintar liked this
justme_here liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->