Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword or section
Like this
24Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Konsep & Paradigma KayaSejati

Konsep & Paradigma KayaSejati

Ratings: (0)|Views: 450 |Likes:
Buku panduan untuk mencapai KayaSejati melalui jalan spiritualitas Islam
Buku panduan untuk mencapai KayaSejati melalui jalan spiritualitas Islam

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Hilmy Bakar Almascaty on Jun 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/06/2012

pdf

text

original

 
Dr. Hilmy Bakar Almascaty 
Konsep
KayaSejati
Meraih Kekayaan Melalui Spiritualitas Islam
Insya Allah terbit dipasaran secepatnya...Mohon do’a para pembaca
 
Pendahuluan
Bagian Pertama
Fiqih KayaSejati
(Pengantar Memahami KayaSejati)
”Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan, maka di-faqih-kannya dalam agama” 
(al-Hadits)
1. Kesalahfahaman Terhadap KeutamaanMiskin
Beberapa waktu lalu di Kuala Lumpur Malaysia saya bertemu denganseorang konglomerat Malaysia yang sudah memiliki kekayaan berlimpahruah dengan segala kemewahannya. Beliau menunjukkan kekecewaanmendalamnya pada sebuah latihan motivasi terkenal asal Jakarta yangmenurutnya justru berdampak negatif terhadap kekayaan. ”Saya heran,setelah mengikuti latihan motivasi yang mahal itu, banyak teman dan anakbuah saya yang membenci dunia, menganggap kekayaan dan uang tidakpenting”. Beliau menilai paradigma tentang dunia dan akhirat yangditawarkan pelatihan itu salah kaprah, sehingga orang yang kurang fahamIslam akan menganggap dunia tidak penting, kekayaan dan uang tidak perlubahkan mendorong orang lari dari semua itu.Dengan bersemangat beliau menceritakan, ”Seorang teman saya yangmemiliki rumah besar, mobil besar dan penghasilan besar menyalahkansemua yang dimiliki dan mencampakkannya setelah mengikuti latihan itu.Kekayaan yang dimilikinya itu dianggapnya telah menghambat dirinyamenjadi seorang yang baik. Anehnya mereka memungut biaya besar untuklatihan yang menganggap duit tidak penting, padahal kami memungut biayamurah untuk mengajarkan pentingnya kaya dan duit bagi kehidupan”serunya kesal.Saya pernah mendengar keluhan-keluhan seperti itu akibat darikesalah fahaman dalam memahami hakikat dunia dan akhirat serta polakehidupan Rasulullah dengan para sahabat. Ironisnya para motivator mahalitu menyerukan tidak pentingnya kekayaan dan harta dalam kehidupan duniaini, namun pada saat yang sama mereka menunjukkan kemewahan atautepatnya kemubaziran para pencinta dunia. Tinggal di rumah super mewahdengan perlengkapan mewahnya, mobil dan kantor yang mentereng sertamenginap di hotel-hotel berpintang lima tempat tinggal para hartawan.Ironisnya motivator-motivator ini menyerukan tidak pentingnya sebuahkekayaan, sehingga orang yang tadinya memiliki kekayaan dengan usahakerasnya mencampakkan keberhasilannya akibat sebuah pelatihan salahyang dibayarnya mahal.
2
 
”Seharusnya dengan biaya mahal itu mereka mendorong para pesertauntuk menjadi orang-orang kaya yang memahami pentingnya kekayaanuntuk beramal saleh dan membantu sesamanya” kata pengusaha yang telahbergelar Dato’ ini. ”Sudah berkali-kali saya ingatkan motivator itu untukmerubah paradigmanya tentang dunia akhirat, namun responnya lambat.Saya mengusulkan agar kekayaan didudukkan sebagaimana mestinyasebagai jalan untuk menggapai kemenangan akhirat”.Setelah berdiskusi panjang, kami berdua menyimpulkan bahwa paramotivator itu salah faham dalam menjelaskan urusan pentingnya kekayaanuntuk jalan kebaikan dan kemeanngan akhirat. Sebenarnya para motivatoritupun mengetahui nikmatnya kekayaan, buktinya mereka memiliki segalakemewahan dari hasil latihan yang mahal ini. Mereka seharusnya lebih tegaslagi menyampaikan pentingnya kekayaan atau wajibnya kaya bagi kaummuslimin agar tidak ada yang salah faham dan menganggap kemiskinansebagai sebuah pilihan utama hidup, sebagaimana yang telah menimpateman Dato’ itu.Saya juga pernah menghadiri sebuah ceramah seorang ustadz dipinggiran Jakarta yang sedang membahas masalah ”keutamaan hidupmiskin”. Dengan fasihnya ustadz muda ini membaca ayat-ayat al-Qur’an danhadits Nabi yang diperkuat dengan beberapa argumen dari kitab
Ihya’ Ulumal-Dien
karya agung Imam al-Ghazali. Dengan seksama saya simak dalil-dalilyang dibacakannya, sangat menarik. Saya mulai gelisah ketika sang ustadzmenyatakan bahwa ”orang miskin akan cepat masuk surga, karena tidakterhalang oleh hisab kekayaannya sebagaimana orang kaya, yang akandihisab dari mana memperoleh kekayaan dan ke mana mengeluarkannya”.Mungkin dia berfikir timbangan (mizan) Allah itu seperti alat manualmanusia, sehingga jika jumlahnya banyak akan terkesan sangat lamadihitung dibandingkan jumlah yang sedikit. Dia berfikir jika orang kayabanyak harta akan dihitung bertahun-tahun yang menyebabkannya tertahanmasuk surga. Padahal timbangan Allah mampu menghisab segala sesuatudalam hitungan cepat, bahkan lebih cepat dari perhitungan komputertercanggihpun.Materi ceramah yang disampaikan tidak asing lagi bagi saya, karenasaya juga pernah menganut pemahaman serupa di pengajian yangmendoktrinkan mulianya hidup miskin dalam spektrum yang berbeda. Namunreferensi dan pengertiannya hampir sama. Akibat pemahaman ini, ketikamuda dulu saya selalu mencibir orang-orang kaya sebagai kapitalis danmaterialis, bahkan secara tidak sadar saya membenci orang kaya dankekayaan yang mereka miliki. Ketika saya menjadi ustadz muda, sepertipenceramah ini, saya juga seringkali membaca ayat-ayat dan hadits yangdibacakannya, menyerukan pendengar agar tidak mencintai dunia yangorientasinya menjadi orang yang hidup dalam kesederhanaan, bahkan lebihmenjurus pada kemiskinan. Ironisnya ketika saya akan membangun gedunguntuk lembaga pendidikan yang saya pimpin, saya datang kepada orang-orang kaya yang saya cerca dan benci untuk meminta-minta bantuan dana. Jadi saya agak mengerti keadaan ustadz ini yang kurang memahamiatau minimal salah faham terhadap paradigma kemiskinan yang dibolehkanIslam. Dia terjebak dalam metode pembahasan Imam al-Ghazali yang jikatidak dicermati secara menyeluruh seakan-akan lebih mengutamakankemiskinan dari amalan-amalan lainnya. Padahal di lain tempat beliau juga
3

Activity (24)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nur Kholiq liked this
'Puthe Manda' liked this
Nur Kholiq liked this
Kopral Cepot liked this
Kopral Cepot liked this
rodzul87 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->