Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
17Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ANALISIS KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI KORBAN KONFLIK ANTAR-ETNIS DI SAMBAS

ANALISIS KEBIJAKAN RELOKASI PENGUNGSI KORBAN KONFLIK ANTAR-ETNIS DI SAMBAS

Ratings: (0)|Views: 722 |Likes:
Published by thefebsmypoetz
bagaimana memahami kebijakan relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap korban konflik antar-etnis di sambas kalimantan barat
bagaimana memahami kebijakan relokasi yang dilakukan pemerintah terhadap korban konflik antar-etnis di sambas kalimantan barat

More info:

Published by: thefebsmypoetz on Jun 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2011

pdf

text

original

 
 1
BAB IPENDAHULUAN
Latar Belakang
Konflik antar-etnis yang terjadi di Sambas merupakan konflik yangkompleks sehingga sangat sulit bagi Pemerintah untuk menyelesaikan konflik tersebut secara tuntas. Kompleksitas permasalahan yang timbul pada konflik tersebut dimulai pada krisis moneter yang mulai terasa dampaknya di Indonesia pada saat itu, dilanjutkan dengan sub-kultur etnis dayak yang beringas dan dipiculagi dengan perilaku masyarakat pendatang, yang menurut masyarakat lokal, yangtidak dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat lokal. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, pemda sebagai birokrasi yang berwenang pada sektor lokal, harus mengeluarkan kebijakan yang berjangka panjang atau berkesinambungan. Dari gambaran yang dipaparkan Achmad Ridwan, penulismengutip bahwa ada beberapa karakteristik kebijakan yang harus diambil oleh pemerintah dalam rangka penyelesaian konflik yang
 sustainable
atau berjangka panjang, diantaranya adalah:
 pertama
, Kebijakan harus bersifat
 Participation
,keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan baik secara langsungmaupun tidak langsung atau melalui lembaga perwakilan yang dapat menyalurkanaspirasi. Partisipasi tersebut dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
 Kedua
, Kebijakan harus berlandaskan
 Rule of Law
, kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu.
Consensus Orientation
, berorientasi pada kepentingan masyarakatyang lebih luas dan tidak berpihak pada satu golongan saja. Equity, setiapmasyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh kesejahteraan dankeadilan. Faktor ini sangat berpengaruh pada masyarakat Indonesia (Kalbar) yangmajemuk, karena hukum ditempatkan pada tingkat paling tinggi.
1
 
1
Achmad Ridwan Blog, ³Refleksi Sepuluh Tahun Konflik Sambas´,http://achmadridwan.blogspot.com/2009/01/tiga-waktu-tiga-peristiwa.html, diakses pada tanggal 3 April2009.
 
 2Terdapat beberapa faktor yang secara umum menyebabkan terjadinyakonflik etnik di Sambas, faktor-faktor tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
 Pertama
, meningkatnya angka kriminalitas yang diyakini dilakukan oleh bagiantertentu kelompok pemuda Madura, dan ketidak mampuan aparat keamanandalam mengatasi tindak kriminalitas tersebut.
 Kedua
, Tekanan ekonomi yangdirasakan oleh masyarakat lokal. Tekanan ini disebabkan oleh masuknya pemilik modal besar dalam pengelolaan produksi jeruk dan hasil laut.
 Ketiga
, tekanankependudukan yang dirasakan oleh masyarakat lokal akibat membanjirnya migranMadura ke Sambas. Dua tekanan ini mengakibatkan menciutnya sumber ekonomimereka. Suku Madura, dipandang oleh masyarakat lokal, yaitu suku Melayu danDayak, sebagai kelompok yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan tradisilokal, khususnya dalam kegiatan ekonomi, menjadi target kemarahan mereka.Pandangan ini telah mengubur kohesi sosial di tingkat komuniti antara masyarakatlokal dengan Madura yang telah lama hidup di sambas. Tingkat kemarahanmasyarakat lokal yang sudah memuncak tersebut menimbulkan stereotipe tentangmasyarakat Madura oleh masyarakat lokal sebagai ³masyarakat yang berkarakter kasar, arogan, keras, mudah tersinggung dan mau menang sendiri´, apalagiditambah dengan kebiasaan unik masyarakat Madura yang selalu membawa
celurit 
dan sering menyelesaikan permasalahan dengan kekerasan.
2
Hal itumenyebabkan masyarakat lokal memiliki anggapan bahwa dimanapun masyarakatMadura berada mereka akan menyebabkan kekacauan, sehingga akibatnya pascakonflik antar-etnis di Sambas masyarakat lokal cenderung tidak maumenerima kehadiran masyarakat Madura di daerah mereka. Hal ini ditegaskandengan pernyataan empat suku yang bermukim di Sambas, yaitu Melayu, Dayak,Bugis dan Cina, yang menolak warga suku Madura berada di wilayah mereka(Kompas edisi Jumat, 26 Mar 1999 ³Pangab: Sambas Tak Akan Jadi DOM´). Halini menimbulkan persoalan baru dalam penanganan korban konflik Sambas.Persoalan yang muncul yaitu bagaimana kebijakan pemerintah baik pada levellokal maupun pusat merelokasi pengungsi korban konflik Sambas dalam kondisi
2
Setiadi, ³Korban Menjadi Korban: Perempuan Madura Pascakonflik Sambas (Seri Laporan no. 161) ´,PSKK UGM dan Ford Foundation, Yogyakarta:2005, hal. 37-40.
 
 3masyarakat lokal yang tidak mau menerima kehadiran masyarakat Madura sebagaikorban konflik?.Salah satu kebijakan yang penting dalam tahapan penyelesaian konflik adalah kebijakan relokasi pengungsi. Kebijakan relokasi harus didukung dengan pemilihan tempat relokasi yang tepat. Pada konteks relokasi pengungsi Sambasyang kehadirannya tidak diterima oleh masyarakat lokal, seperti yang telahdipaparkan di atas, pemerintah harus menyiapkan tempat pengungsian yangmasyarakatnya lebih bersahabat dengan para pengungsi. Usaha relokasi juga harusmenyertakan pendapat masyarakat lokal yang bersangkutan. Jika masyarakat tidadilibatkan untuk menerima kehadiran pengungsi tersebut, relokasi hanya akanmemindahkan masalah ke tempat yang baru. Penolakan terhadap etnis pendatangini juga terjadi di kabupaten Ketapang, yang ditunjukkan dengan pernyataanmenolak menerima kehadiran transmigran yang sebelumnya pengungsi dariKabupaten Sambas oleh 120 tokoh masyarakat, pemuda dan mahasiswa diKabupaten Ketapang, Kalbar. Akibatnya, satu-satunya solusi untuk relokasi pengungsi korban konflik Sambas adalah memindahkan para pengungsi tersebutke sebuah pulau atau kawasan lain yang belum berpenduduk.
3
Hal itu menegaskankepada pemerintah provinsi agar bersikap hati-hati dan bijaksana dalam memilihtempat pengungsian, hal itu penting agar tidak terjadi permasalahan baru ditempat pengungsian yang baru. Dan hal tersebut ditanggapi pemerintah provinsidengan menyiapkan dua pulau yang memiliki potensi sebagai tempat relokasi pengungsi.Pada umumnya kebijakan pemerintah terhadap masalah relokasi korbankonflik Sambas, menurut penulis, sebagian besar telah benar. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pada umumnya antara lain, yaitu:Keputusan cepat yang diambil oleh pemerintah pusat untuk mengerahkan kapal-kapal TNI-AL dan PELNI untuk mengangkut korban-korban konflik etnis yangingin mengungsi keluar Kalbar, terutama kembali ke tanah Madura di JawaTimur, merasa keberatan dengan membanjirnya pengungsi ke daerahnya.Selanjutnya kebijakan Pemerintah Daerah melalui Surat Keputusan Gubernur 
3
Kompas edisi Jumat 26 Mar 1999 hal. 7, ³Pangab: Sambas Tak Akan Jadi DOM´,

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
prisoner47 liked this
erick_hyuga liked this
Lestari Saryo liked this
Renny S Wirayat liked this
baiqlily liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->