Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
25Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Skema Pembiayaan Perumahan Syariah - Rhesa Yogaswara

Skema Pembiayaan Perumahan Syariah - Rhesa Yogaswara

Ratings: (0)|Views: 3,591|Likes:
Published by rhesayogaswara
Rumah saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan setiap manusia. Sehingga permintaan
dari tahun ke tahun pun akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan angka
pertumbuhan penduduk disuatu negara atau daerah. Di suatu daerah yang memiliki
peningkatan jumlah penduduk signifikan, akan berdampak kepada tingginya jumlah keluarga di
masa yang akan datang, yang pada akhirnya permintaan akan rumah pun akan meningkat
signifikan.
Dalam memenuhi kebutuhan akan rumah tersebut, tidak setiap orang dapat membeli
rumah secara tunai. Sehingga terbitlah produk KPR dalam sistem keuangan konvensional yang
diberikan oleh lembaga keuangan konvensional untuk mempermudah msayarakat dalam
membeli rumah.
Dalam Islam, pembiayaan rumah pun menjadi prioritas dalam mewujudkan keadilan.
Sehingga target pasarnya pun tidak hanya orang-orang yang memenuhi kriteria bank. Tidak
hanya orang yang mampu saja yang berhak mendapatkan pinjaman, tetapi juga masyarakat
yang tidak mampu pun berhak untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.
Sebuah instrumen pembiayaan perumahan harus memenuhi akad atau kontrak yang
diperbolehkan oleh aturan Syariah. Akad-akad tersebut adalah Ba'i Bithaman Ajil, Ijarah
Muntahia Bittamlik, Istisna wal Istisna, dan akad Musyarakah Mutanaqisah. Keseluruhan akad
tersebut tidak mengandung riba, maysir, dan dharar. Empat skema tersebut dapat dijadikan
pilihan untuk mengembangkan inovasi produk pembiayaan rumah syariah di Indonesia.
Empat skema pembiayaan tersebut memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan
masing-masing. Dimana perbedaan ini dapat disesuaikan dengan karakteristik pasar dan
kesiapan lembaga penerbit produk pembiayaan rumah syariah dalam mengatasi resiko yang
mungkin terjadi.
Rumah saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan setiap manusia. Sehingga permintaan
dari tahun ke tahun pun akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan angka
pertumbuhan penduduk disuatu negara atau daerah. Di suatu daerah yang memiliki
peningkatan jumlah penduduk signifikan, akan berdampak kepada tingginya jumlah keluarga di
masa yang akan datang, yang pada akhirnya permintaan akan rumah pun akan meningkat
signifikan.
Dalam memenuhi kebutuhan akan rumah tersebut, tidak setiap orang dapat membeli
rumah secara tunai. Sehingga terbitlah produk KPR dalam sistem keuangan konvensional yang
diberikan oleh lembaga keuangan konvensional untuk mempermudah msayarakat dalam
membeli rumah.
Dalam Islam, pembiayaan rumah pun menjadi prioritas dalam mewujudkan keadilan.
Sehingga target pasarnya pun tidak hanya orang-orang yang memenuhi kriteria bank. Tidak
hanya orang yang mampu saja yang berhak mendapatkan pinjaman, tetapi juga masyarakat
yang tidak mampu pun berhak untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.
Sebuah instrumen pembiayaan perumahan harus memenuhi akad atau kontrak yang
diperbolehkan oleh aturan Syariah. Akad-akad tersebut adalah Ba'i Bithaman Ajil, Ijarah
Muntahia Bittamlik, Istisna wal Istisna, dan akad Musyarakah Mutanaqisah. Keseluruhan akad
tersebut tidak mengandung riba, maysir, dan dharar. Empat skema tersebut dapat dijadikan
pilihan untuk mengembangkan inovasi produk pembiayaan rumah syariah di Indonesia.
Empat skema pembiayaan tersebut memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan
masing-masing. Dimana perbedaan ini dapat disesuaikan dengan karakteristik pasar dan
kesiapan lembaga penerbit produk pembiayaan rumah syariah dalam mengatasi resiko yang
mungkin terjadi.

More info:

Published by: rhesayogaswara on Jun 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

01/04/2013

pdf

text

original

 
1
Skema Pembiayaan Perumahan Syariah – Rhesa Yogaswara
SKEMA PEMBIAYAAN PERUMAHAN SYARIAH
Rhesa Yogaswara
1
 Penulisan ini dipresentasikan dalam Seminar Internasional IBFI Trisakti:
Potensi Lembaga Keuangan Syariah Mikro dalam Skema Pembiayaan Perumahan secara Syariah 
ABSTRACT
Rumah saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan setiap manusia. Sehingga permintaan dari tahun ke tahun pun akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan angka pertumbuhan penduduk disuatu negara atau daerah. Di suatu daerah yang memiliki peningkatan jumlah penduduk signifikan, akan berdampak kepada tingginya jumlah keluarga di masa yang akan datang, yang pada akhirnya permintaan akan rumah pun akan meningkat signifikan.Dalam memenuhi kebutuhan akan rumah tersebut, tidak setiap orang dapat membeli rumah secara tunai. Sehingga terbitlah produk KPR dalam sistem keuangan konvensional yang diberikan oleh lembaga keuangan konvensional untuk mempermudah msayarakat dalam membeli rumah.Dalam Islam, pembiayaan rumah pun menjadi prioritas dalam mewujudkan keadilan.Sehingga target pasarnya pun tidak hanya orang-orang yang memenuhi kriteria bank. Tidak hanya orang yang mampu saja yang berhak mendapatkan pinjaman, tetapi juga masyarakat yang tidak mampu pun berhak untuk mendapatkan fasilitas pembiayaan.Sebuah instrumen pembiayaan perumahan harus memenuhi akad atau kontrak yang diperbolehkan oleh aturan Syariah. Akad-akad tersebut adalah Ba'i Bithaman Ajil, Ijarah Muntahia Bittamlik, Istisna wal Istisna, dan akad Musyarakah Mutanaqisah. Keseluruhan akad tersebut tidak mengandung riba, maysir, dan dharar. Empat skema tersebut dapat dijadikan pilihan untuk mengembangkan inovasi produk pembiayaan rumah syariah di Indonesia.Empat skema pembiayaan tersebut memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan masing-masing. Dimana perbedaan ini dapat disesuaikan dengan karakteristik pasar dan kesiapan lembaga penerbit produk pembiayaan rumah syariah dalam mengatasi resiko yang mungkin terjadi.
I. PENDAHULUAN
Rumah saat ini sudah menjadi sebuah kebutuhan setiap manusia. Sehingga permintaandari tahun ke tahun pun akan terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan angkapertumbuhan penduduk disuatu negara atau daerah. Hal ini pun berimplikasi terhadap hargarumah yang terus berubah sesuai dengan banyaknya permintaan akan perumahan. Di suatudaerah yang memiliki peningkatan jumlah penduduk signifikan, akan berdampak kepadatingginya jumlah keluarga di masa yang akan datang, yang pada akhirnya permintaan akanrumah pun akan meningkat signifikan.
1
 
 Associate Islamic Finance Professional 
.
Kandidat 
 
Chartered Islamic Finance Professional 
. INCEIF, Kuala Lumpur. Malaysia
Mahasiswa Magister Bisnis dan Keuangan Islam
. Universitas Paramadina, Jakarta, IndonesiaEmail:rhesayogaswara@yahoo.com 
 
2
Skema Pembiayaan Perumahan Syariah – Rhesa Yogaswara
Apabila terjadi suatu kondisi dimana seluruh permintaan akan rumah tidak terpenuhi,maka harga rumah akan naik. Namun sebaliknya jika tingkat pertumbuhan populasi suatudaerah mengalami penurunan, maka akan terjadi kelebihan ketersediaan rumah. Hal ini akanmengakibatkan harga rumah turun. Tidak hanya laju pertumbuhan penduduk yang perludipertimbangkan, tetapi juga kemampuan daya beli masyarakat dalam membeli rumah danpertumbuhan ekonomi pun akan mempengaruhi pergerakan harga rumah.Apabila ekonomi suatu negara mengalami pertumbuhan yang baik, yang didukungdengan penurunan tingkat pengangguran akan berdampak kepada meningkatnya daya belimasyarakat. Sehingga penjualan rumah diharapkan mengalami peningkatan. Pada akhirnya,dalam kondisi seperti ini, pasar perumahan akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Hargaperumahan akan mengalami penurunan dapat dikarenakan faktor daya beli masyarakat yangmenurun sebagai akibat dari turunnya perekonomian suatu negara.Pada saat pendapatan perkapita naik, maka harga rumah pun akan mengalamikenaikan. Keadaan ini terjadi dalam keadaan dimana perekonomian suatu negara mengalamipertumbuhan. Namun, meski daya beli masyarakat tidak mengalami peningkatan yangsignifikan, kebutuhan akan perumahan bagi masyarakat masih tetap tinggi. Sehingga timbulketergantungan bagi masyarakat akan sebuah instrumen keuangan yang membantumasyarakat dalam memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Instrumen keuangan ini, saat inidikenal dengan nama Kredit Kepemilikan Rumah (KPR).
2
 Tingkat ketergantungan masyarakat terhadap KPR saat ini semakin meningkat. Dalamsistem keuangan konvensional saat ini, suku bunga kredit telah menjadi indikator terhadappertumbuhan perumahan. Pada saat keadaan perekonomian suatu negara mengalamipertumbuhan positif, maka suku bunga kredit akan menurun. Hal ini dimanfaatkan oleh sektorperbankan untuk mengoptimalkan pengucuran dana kredit perumahan untuk memenuhikebutuhan pembelian rumah. Maka pada saat perekonomian membaik, permintaan perumahanpun akan meningkat.
II. GAMBARAN UMUM PEMBIAYAAN PERUMAHAN KONVENSIONAL
KPR dalam sistem keuangan konvensional merupakan salah satu produk pinjaman yangdiberikan oleh lembaga keuangan konvensional yang diberikan kepada calon pembeli rumahdengan skema besaran pinjaman sampai pada 70% dari harga rumah yang akan dibeli. Untukdi Indonesia, lembaga keuangan yang mengeluarkan produk KPR ini didominasi olehperbankan dan beberapa perusahaan pembiayaan (leasing).Pinjaman yang diberikan ini akan mengikat peminjam selama jangka waktu yangditentukan sesuai perjanjian, untuk membayar pinjaman pokok ditambah dengan bunga sesuaidengan suku bunga kredit setiap bulan. Suku bunga kredit tersebut telah ditentukan oleh bankyang mengeluarkan produk KPR tersebut.Dalam skema KPR, pembelian perumahan tidak sepenuhnya ditanggung oleh bank.Konsumen yang ingin membeli rumah tersebut pun diharuskan untuk membayar uang muka.Pada umumnya, uang muka yang harus dibayarkan oleh pembeli rumah minimal sebesar 30%
2
Harefa, Andrias, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis. Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN. TimIndonesia School of Life (ISOL). Harian Umum Sore Sinar Harapan
 
3
Skema Pembiayaan Perumahan Syariah – Rhesa Yogaswara
dari harga rumah, dan bank akan memberikan pinjaman maksimum sebesar 70% dari hargarumah. Sebagai contoh, apabila rumah yang akan dibeli senilai 100 juta, maka pembeli rumahharus membayar uang muka minimal sebesar 30 juta. Sementara bank akan memberikanpinjaman maksimum sampai 70 juta rupiah. Bunga atas pinjaman yang harus dibayarkan akansemakin besar dengan semakin panjangnya jangka waktu yang disepakati.
III. PEMBIAYAAN PERUMAHAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Dalam pandangan Islam, KPR yang merupakan salah satu bentuk transaksi usaha yangperlu dikritisi dari sudut pandang Islam. Islam diturunkan oleh Allah SWT untuk segala urusanmanusia di muka bumi. Penerapan aturan Islam secara lengkap dapat memberikan petunjukbagi manusia untuk semua permasalahan yang terjadi.Dalam bidang ekonomi, Islam telah memberikan petunjuk bagi manusia dalammelakukan berbagai aktivitas yang terkait didalam cakupan ekonomi. Islam telah memberikanarahan bahwa didalam setiap aktivitas ekonomi, motivasi setiap individu tidak hanya motivasiuntuk hal yang bersifat duniawi, tetapi juga motivasi yang didasari petunjuk Islam untuk urusanakhirat.Prinsip dasar ekonomi konvensional yang berkembang saat ini, motivasi utama individudalam melakukan aktivitas ekonomi adalah pemuasan kebutuhan materi yang sesungguhnyatidak terbatas. Sehingga banyak kegiatan ekonomi yang dilakukan hanya demi urusankeuntungan duniawi semata. Hal-hal yang telah dilarang oleh Islam pun telah banyak dilanggar,salah satunya adalah penerapan riba, transaksi yang bersifat gharar, dan transaksi yang penuhspekulasi (maysir).Riba telah dilarang didalam Al-Quran secara jelas di dalam ayat-ayat sebagai berikut.
(QS Ar-Ruum 30:39)
. Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambahpada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamuberikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yangberbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).
(QS An-Nisaa 4:161)
. Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya merekatelah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yangbatil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yangpedih.
(QS Ali-Imran 3:130)
. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba denganberlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.
(QS Al-Baqarah 2:275)
. Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdirimelainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat),sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli danmengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, laluterus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelumdatang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambilriba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Marisa Darmawan liked this
khaulah_syahidah liked this
Putradi Triroe liked this
Ummu Salamah liked this
Ummu Salamah liked this
Fatimah Azzahra liked this
Koss Kiss liked this
inisoraya liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->