Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
9Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Masalah Industri Dan Ketenagakerjaan

Masalah Industri Dan Ketenagakerjaan

Ratings: (0)|Views: 1,082 |Likes:
Published by Doriska Agustomi

More info:

Published by: Doriska Agustomi on Jun 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

 
Masalah Industri dan Ketenagakerjaan
Fungsi pemerintah di bidang ketenagakerjaan lima tahun berlalu nyaris seperti alat daur-ulang sampah arah kebijakan nasional yang salah. Setidaknya bidang ini harus menerima dampakkegagalan di dua bidang terkait, yaitu pendidikan dan ekonomi.PendidikanDari total 104,49 juta angkatan kerja, 55,43 juta diantaranya berpendidikan SD ke bawah. Sisanya,19,85% berpendidikan SMP, 15,43% yang berpendidikan SMA, 7,19% yang berpendidikan diploma,dan 6,90% yang berpendidikan tinggi (sarjana).Karakteristik pendidikan dasar ini berjalan sesuai dengan program wajib belajar 9 tahun milikpemerintah. Dalam situasi dunia semaju sekarang, program pemerintah tersebut jelas ketinggalanzaman. Lulusan pendidikan dasar dan menengah hanya bisa tertampung di industri berteknologirendah, di samping pertanianyang juga masih tertinggal (bahkan di level ASEAN). Atau tragisnyadikirim ke luar negeri demi devisa. Tampak, strategi dan kebijakan pemerintah di bidang pendidikandalam relevansinya dengan ketenagakerjaanmasih berangkat dari paradigma politik upah murahsebagai keunggulan komparatif.Sementara yang berhasil memperoleh pendidikan lebih tinggi pun tidak luput dari masalah. Tahun2004 sampai 2008 jumlah sarjana yang menganggur naik dua kali lipat dari 5,7% menjadi 11,4%(500 ribu menjadi 1,1 juta).Selain mahal bagi mayoritas rakyat (terutama untuk menjangkau level SMA ke atas), terdapat faktorekonomi lain yang secara tidak langsung menghambat akses rakyat terhadap pendidikan. Banyakditemui anak yang dipaksa bekerja menopang kelanjutan hidup keluarga. Tahun 2003 terdapat 1.502.600 anak berusia 10 hingga 14 tahun yang bekerja dan tidak bersekolah, sekitar 1.621.400anak tidak bersekolah serta membantu di rumah atau melakukan hal lainnya.International Labor Organization (ILO) bersama pemerintah RI telah meluncurkan program penghapusan pekerja anak (Antara, 09/07/2008), tapi program ini tidak menyentuh akar alasankenapa anak-anak tersebut terpaksa bekerja mencari nafkah.EkonomiStruktur ketenagakerjaan Indonesia, sesuai struktur perekonomiannya, mayoritas berada di sektorpertanian dan perkebunan. Namun kontribusi terbesar untuk PDB masih berasal dari sektor industripengolahan, dengan 13,22 juta tenaga kerja (2007). Pada tahun 2005, sektor pertanian hanyamenyumbang 13,4% terhadap PDB, sementara sektor industri pengolahan menyumbang 28,1%terhadap PDB. Struktur industrinya pun bermasalah, karena tidak berdiri kokoh di atas basis modaldan kebutuhan dalam negeri melainkan bergantung modal dan pasar asing.Sejak krisis ekonomi tahun 1997 lalu pertumbuhan industri manufaktur di Indonesia tumbuh minus,atau yang dikenal dengan istilah deindustrialisasi. Menteri Perindustrian MS Hidayat menggambarkan:"Gejala deindustrialisasi ini juga terlihat dari konsumsi BBM industri yang terus turun sejak 2000, jugakonsumsi listrik industri. Per 2008, peran industri manufaktur tinggal 27,9% dari PDB setelah sempat 
 
mendekati 35%. Sejak krisis ekonomi 1997-1998, industri manufaktur mengalami penurunanpertumbuhan sangat drastis. Pada 10 tahun menjelang krisis (1987-1996), industri manufakturnonmigas tumbuh rata-rata 12%/tahun, lima poin lebih tinggi dari pertumbuhan produk domestikbruto (PDB) pada waktu itu (6,9%). Setelah krisis (2000-2008), industri manufaktur nonmigas rata-rata tumbuh 5,7%/tahun, sedikit lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan PDB (5,2%)."Sementara, berikut ini kutipan contoh situasi deindustrialisasi saat terjadi kenaikan harga BBM tahun2008 (Kompas, 17/05/2008):"Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia Benny Soetrisno menyatakan, industri tekstil skalabesar telah merumahkan sebagian karyawan dengan tetap membayar 50 persen gaji per bulan.Industri tekstil skala kecil dan menengah kebanyakan kerja dengan sistem borongan, jadi tinggalmenghentikan pekerjaan. Kalau industri besar enggak gampang PHK karena biayanya mahal,ujarnya.Menurut Benny, pengurangan tenaga kerja seiring turunnya volume produksi, karena permintaanpasar domestik dan ekspor turun 10 persen. Padahal, harga bahan baku rata-rata naik 23 persen.Sementara biaya produksi, termasuk energi, distribusi, dan pengemasan, naik 7 persen Harga jualproduk harus naik minimal 15 persen. Padahal, permintaan pasar turun, ujarnya. Tenaga kerja yangtersingkir di sektor formal umumnya beralih ke sektor informal, misalnya berdagang di kaki lima."Ekonom Dr. Hendri Saparini, dalam artikel Deindustrialisasi, Buah Neoliberalisme, menyebut tigafaktor penyebab deindustrialisasi. Pertama, liberalisasi ekspor bahan baku (contoh kasus rotan);kedua, liberalisasi impor produk barang konsumsi (tekstil, garmen, dll), dan ketiga, liberalisasi padasektor energi (ekspor batubara, minyak, dan gas). Faktor lainnya yang banyak disebut adalahorientasi pembiayaan perbankan yang lebih besar untuk kebutuhan konsumsi dan properti. Tahun2008 sektor industri pengolahan hanya peroleh 16% dari total kredit yang dikeluarkan perbankkan,atau jauh menurun dibanding tahun 1985 yang mencapai 40%.Kemampuan sektor industri untuk menghasilkan lapangan kerja juga menjadi terbatas di sampingPHK yang terus terjadi. Situasi ini memberi sumbangan bagi meningkatnya jumlah pekerja sektorinformal yang selama ini dibangga-banggakan sebagai penyelamat oleh sebagian kalangan.Menurut data Depnakertrans, dari 97 juta tenaga kerja terdapat 63 juta (sekitar 70%) yang bekerjadi sektor informal. Artinya terdapat 70% rakyat Indonesia yang berupaya secara mandiri tanpaperan bantuan negara dalam tiap-tiap usaha/kerja mereka. Dalam hemat kami, hal tersebut tidakpatut dibanggakan, apalagi diplintir seolah demikianlah maksud dari kampanye perekonomianmandiri yang disampaikan oleh ekonom dan kekuatan politik anti neoliberal.Selain mencetak semakin banyak sektor informal, solusi pragmatis yang diambil pemerintah adalahmengirimkan tenaga kerja ke luar negeri. Target pengiriman TKI yang dipatok pemerintah terusmeningkat dalam dua periode pemerintahan terakhir, dari target 4 juta TKI per 2004-2009 menjadi 5 juta TKI per 2009-2014. Sementara jaminan dan perlindungan bagi TKI ini sangat minim, atau seringditelantarkan.Solusi politik: industrialisasiBaru-baru ini masalah deindustrialisasi diulas oleh berbagai media massa. Pembahasan di forumKADIN, yang kemudian diulas lebih lanjut oleh media massa, mengkonfirmasi bahwa masalah inibutuh penanganan serius dan segera. Sejumlah solusi sudah dirumuskan namun sedikit yang bisadijanjikan.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->