Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
TEORI MSYRKT INFORMASI

TEORI MSYRKT INFORMASI

Ratings: (0)|Views: 513 |Likes:
Published by Ilham Kusuma

More info:

Published by: Ilham Kusuma on Jun 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2012

pdf

text

original

 
TEORI MSYRKT INFORMASI
Saat ini tampaknya tidak ada fenomena yang diakui secara begitu meluas keberadaannya,seperti masyarakat informasi (
information society
).
Secara kasar, dapat dinyatakan bahwamasyarakat informasi adalah masyarakat di mana kreasi, distribusi, difusi, penggunaan,integrasi dan manipulasi informasi merupakan aktivitas ekonomi, politik dan budaya yangsignifikan
.
Ekonomi pengetahuan (
knowledge economy
)
adalah pengimbang ekonomi dimana kemakmuran diciptakan melalui eksploitasi ekonomis terhadap pemahaman(
understanding).
Orang yang memiliki sarana untuk ikut serta dalam bentuk masyarakatseperti ini kadang-kadang disebut warganegara digital (
digital citizens
).
 Spesifik bagi masyarakat jenis ini adalah posisi sentral yang dimiliki teknologi informasi bagi produksi, ekonomi, dan masyarakat luas
.
Masyarakat informasi dipandang sebagai penggantidari masyarakat industrial
.
Konsep-konsep yang terkait erat dengannya adalah masyarakat pasca industri (
 post-industrial society
)
dari Daniel Bell, post-fordism, masyarakat pascamodern (
 post-modern society
)
, Masyarakat Telematika (
Telematic Society
)
, RevolusiInformasi, dan masyarakat jejaring (
network society
)
dari Manuel Castells
.
 Dimungkinkan untuk membedakan secara analitis sejumlah definisi tentang masyarakatinformasi, yang masing-masing menghadirkan kriteria untuk identifikasi
.
Yaitu, dari segi:teknologi, ekonomi, kerja (
occupational 
)
, ruang
(spatial 
)
, dan budaya
(cultural 
).
Kriteria-kriteria ini tidak harus eksklusif satu dengan yang lain, namun sejumlah teoretisi tampak lebih menekankan satu kriteria ketimbang kriteria yang lain
.
 Dalam aspek teknologi, definisi yang paling umum tentang masyarakat informasimenekankan pada inovasi teknologi yang spektakuler 
.
Ide kuncinya adalah bahwa terobosandalam proses informasi, penyimpanan dan transmisinya tampaknya telah mendorong ke arahaplikasi teknologi informasi (IT
)
pada seluruh sudut dan aspek kehidupan masyarakat
.
 Karena sekarang sangat ekonomis dan layak untuk menaruh komputer di mesin tik, mobil,alat masak, arloji, mesin-mesin pabrik, televisi, mainan anak, dan seterusnya, makamasyarakat tentunya akan mengalami gejolak sosial sampai tahapan tertentu yang bisadisebut manusia memasuki era baru
.
Banyak buku, majalah dan presentasi TV telahmendorong cara pandang ini
.
 Teknologi komputer dianggap berperan signifikan pada zaman informasi, sebagaimanahalnya mekanisasi pada zaman revolusi industri
.
Pemikir seperti Alvin Toffler dan banyak lagi yang lain termasuk dalam kelompok pandangan ini
.
 Sementara itu, dalam aspek ekonomi, ada subdivisi dalam ilmu ekonomi yangmemperhatikan ³ekonomi informasi
Fritz Machlup (1902-1983
)
, misalnya, membuat penilaian tentang ukuran dan pertumbuhan industri-industri informasi
.
Ia membedakan limakelompok besar industri (yang kemudian dipecah lagi menjadi 50 cabang
).
Lima kelompok  besar itu adalah: pendidikan (sekolah, perpustakaan, universitas
);
media komunikasi (radio,TV, periklanan
);
mesin-mesin informasi (komputer, alat musik 
);
jasa informasi (hukum,asuransi, kedokteran
);
dan aktivitas informasi lainnya (riset dan pengembangan, aktivitasnirlaba
).
 Dengan kategori semacam ini, dimungkinkan untuk mengukur nilai ekonomis terhadapmasing-masing kelompok industri informasi dan menjejaki kontribusinya pada pendapatannasional bruto (GNP
).
Jika proporsinya terus meningkat signifikan pada GNP, bisa diklaim bahwa telah tumbuh suatu ³ekonomi informasi
Guru manajemen Peter Drucker pada 1960-
 
an bahkan sudah mengatakan, pengetahuan (
knowledge
)
sudah menjadi landasan bagiekonomi modern, ketika terjadi pergeseran dari ekonomi barang (
economy of goods
)
keekonomi pengetahuan (
knowledge economy
).
 Di sisi lain, ukuran populer bagi munculnya ³masyarakat informasi
´
adalah yang berfokus pada perubahan kerja (
occupational change
).
Secara sederhana, dikatakan bahwa kita telahmencapai ³masyarakat informasi
´
manakala dominasi lapangan kerja ditemukan di sektor informasi
.
Misalnya, ³masyarakat informasi
´
sudah tercipta ketika jumlah pekerja kantoran,guru, pengacara, dan penghibur sudah melebihi jumlah pekerja tambang batubara, pekerja pabrik baja, dan pekerja galangan kapal
.
Definisi lapangan kerja juga sering dikombinasikandengan ukuran ekonomis
.
 Daniel Bell, misalnya, melihat adanya pertumbuhan
´
masyarakat kerah putih¶ (
white collar  society
)
±yang diartikan sebagai kerja di sektor informasi²serta menurunnya perubahan buruh industrial (sektor yang mengandalkan kekuatan fisik dan keterampilan manual
).
Hal inidianggapnya sebagai akan berakhirnya konflik politik yang berbasis kelas dan meningkatnyakesadaran komunal
.
 Sedangkan, konsepsi ³masyarakat informasi
´
±meskipun ditarik dari ilmu sosiologi danekonomi²juga memiliki inti penekanan tertentu pada aspek ruang geografis
.
Penekananutamanya adalah pada jejaring informasi (
information networks
)
yang menghubungkanlokasi-lokasi dan sebagai konsekuensinya memberi dampak dramatis pada pengorganisasianruang dan waktu
.
 John Goddard (1992
)
mengidentifikasi empat unsur yang saling berkait dalam transisi ke³masyarakat informasi
Pertama, informasi mulai menduduki panggung utama sebagai³sumberdaya strategis kunci
´
di mana organisasi ekonomi dunia tergantung padanya
.
Kedua,teknologi komputer dan komunikasi menyediakan infrastruktur yang memungkinkaninformasi diproses dan didistribusikan
.
Teknologi ini memungkinkan informasi ditanganidalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah, memfasilitasi perdaganganseketika (
real-time
)
, serta memantau urusan ekonomi, sosial, dan politik di panggung dunia
.
 Ketiga, ada pertumbuhan yang sangat cepat pada ³sektor informasi yang bisadiperdagangkan
´
(
tradeable information sector 
)
dalam ekonomi, mencakup pertumbuhaneksplosif jasa-jasa semacam media baru (siaran lewat satelit, kabel, video
)
dan basis data on-line
.
Keempat, ³informasisasi
´
yang tumbuh pada ekonomi telah memfasilitasi integrasiekonomi nasional dan regional
.
 Terakhir, konsepsi final tentang ³masyarakat informasi
´
yang paling mudah dikenali namunsulit diukur adalah dalam aspek budaya
.
Dari kehidupan sehari-hari kita dapat merasakan,telah terjadi peningkatan yang luar biasa dalam hal informasi pada sirkulasi sosial
.
Jauhmeningkat dari yang pernah ada sebelumnya
.
Televisi, misalnya, telah hadir lebih dari 45tahun di Inggris, namun sekarang TV diprogram untuk siaran 24 jam tiap hari
.
Di Indonesiasaja, kini setidaknya ada sebelas stasiun TV yang bersiaran secara nasional, belummenghitung puluhan TV daerah lainnya
.
 Hal-hal ini menunjukkan fakta, kita kini hidup dalam masyarakat yang sarat-informasi(
media-laden society
)
, namun fitur-fitur informasional dari dunia kita sebenarnya jauh lebihmeresap (penetratif 
)
ketimbang sekadar daftar televisi, radio, dan sistem media lain
.
 Lingkungan informasi jauh lebih akrab, lebih mengatur kita, ketimbang yang kita duga
.
 
 
Bayangkan, bagaimana kita mengatur kehidupan sehari-hari tanpa pesawat telepon, yang kini bahkan bisa digunakan di tengah hutan dengan telepon satelit
.
 Budaya kontemporer tampaknya lebih sarat informasi ketimbang budaya sebelumnya
.
Kita berada dalam lingkungan yang jenuh-media, yang berarti kehidupan pada dasarnya adalahtentang simbolisasi, tentang pertukaran dan penerimaan ±atau upaya untuk menukar danmenolak menerima²pesan-pesan tentang diri kita sendiri dan orang lain
.
Dalam pengakuantentang lonjakan signifikasi inilah banyak penulis menyebut kita telah memasuki µmasyarakatinformasi
 Paradoksnya, mungkin justru lonjakan informasi ini yang mendorong sejumlah penulis lainmengumumkan telah matinya tanda (
 sign
).
Dikepung oleh tanda-tanda di sekitar kita,mendesain diri sendiri dengan tanda-tanda, dan tak sanggup lepas dari tanda-tanda kemanapun kita pergi, dan hasilnya adalah runtuhnya makna (
meaning 
).
Seperti dikatakan JeanBaudrillard: ³ada banyak dan semakin banyak informasi, namun kurang dan semakinkurangnya makna
[
1] Signifikansi informasi pada penghujung abad ke-20 dan awal abad ke-21 adalah sesuatu yangnyata
.
Informasi berperan penting dalam urusan-urusan strategis kontemporer 
.
Informasi berperan dalam segala hal yang kita lakukan, mulai dari transaksi bisnis, mencari hiburan pribadi, sampai aktivitas pemerintahan
.
  Namun, berbagai definisi ini bukannya tanpa kelemahan
.
Jika berbagai definisi ini ditinjau, banyak yang masih bisa diperdebatkan tentang apa yang membentuk, dan bagaimanamembedakan, sebuah ³masyarakat informasi
 Begitu banyak komentar tentang ³masyarakat informasi
´
bermula dari posisi naif yangditerima begitu saja (
taken-for-granted 
)
, bahwa telah terjadi ³revolusi teknologi informasi
´
,yang akan atau sudah memberi konsekuensi sosial yang mendalam, dan dampak-dampak ini perlu diantisipasi atau mungkin dampak ini bahkan sudah terbukti
.
Pandangan inimenetapkan arah yang tegas dan seolah terbukti dengan sendirinya (
 self-evidently
)
, mengikutilogika linear yang rapi ±inovasi teknologi menghasilkan perubahan sosial²dan terkesandeterministik 
.
 Dalam konteks ³masyarakat informasi
´
seperti itulah, posisi manusia dengan kebebasannyamenjadi penting
.
Yaitu, manusia yang hidupnya bukan semata-mata dikekang oleh masa laluatau dipaksa untuk menerima begitu saja hal-hal yang disodorkan padanya oleh pihak luar,entah itu yang namanya pemerintah atau masyarakat
.
Ini adalah manusia bebas yang bisamemilih dan menentukan takdirnya sendiri
.
 
[
1]Baudrillard, Jean
.
1983
.
 
 In the Shadow of the Silent Majorities, or, The End of the Social and Other Essays.
Diterjemahkan oleh Paul Foss, John Johnson dan Paul Patton
.
New York:Semiotext(e
).
Hlm
.
95
.
 Jakarta, Januari 2010

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->