Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
28Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Layanan Program Akselerasi

Layanan Program Akselerasi

Ratings: (0)|Views: 1,387 |Likes:
Published by Edha W. S Ltc

More info:

Published by: Edha W. S Ltc on Jun 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/25/2013

pdf

text

original

 
PROGRAM PERCEPATAN BELAJAR ( AKSELERASI)SEBAGAI SALAH SATU INOVASI LABSCHOOLDALAM MEMBERIKAN LAYANAN BELAJARBAGI SISWA CERDAS ISTIMEWA
oleh :
 M. Fakhruddin*
PENDAHULUANMemasuki tahun pelajaran 2008/2009 ini, program percepatan belajaratauprogram akselerasi sebagaimana yang dikenal oleh para guru dan penyelenggarasekolah akan memasuki satu dasa warsa dari awal penyelenggaraannya di tahun 1998atau sewindu dari saat program ini digagas dan dicobakan pertama kalinya oleh SMP-SMA Labschool Jakarta. Program yang secara
bottom up
muncul dari para praktisi ditingkat sekolah ini dalam perjalanannya kemudian difasilitasi dan dikembangkan olehDepartemen Pendidikan Nasional menjadi salah satu program dari DirektoratPendidikan Luar Biasa Ditjen Dikdasmen (sekarang Direktorat Pembinaan SekolahLuar Biasa Mandikdasmen). Bahkan, pada tahun 2000 program ini secara resmiditetapkan oleh Menteri Pendidikan Nasional RI sebagai salah satu program nasionalmelalui ujicoba dan diseminasi penyelenggaraanprogram terhadap beberapa sekolahdi seluruh Indonesia.Dari saat program ini digulirkan sampai ketika pihak Departemen PendidikanNasional menfasilitasi upaya kajian dan pengembangan lebih lanjut menjadi sepertiyang saat ini banyak dilaksanakan, program ini tidak sepi dari berbagai kritik. Namundemikian, program layanan ini masih tetap berjalan dan bahkan semakinmenunjukkan adanya peningkatan, baik dari segi jumlah sekolah penyelenggara dan jumlah siswa yang dapat dilayani, maupun berbagai program pengembangan yangdilakukan terutama oleh Departemen Pendidikan Nasional melalui DirektoratPembinaan Sekolah Luar Biasa serta telah menghasilkan berbagai kajian yangdilakukan oleh berbagai kalangan akademisi terutama di berbagai perguruan tinggi.Hal ini menunjukkan bahwa terlepas dari kekurangannya, program akselerasi munculsebagai salah satu alternatif dari model penyelenggaraan layanan belajar bagi siswacerdas istimewa.Tulisan singkat ini sama sekali tidak berpretensi untuk dapat memotretberbagai halyang menjadi dinamika penyelenggaraan program akselerasi selama ini.Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk mengupas beberapa perkembangan isu yangmembayangi seputar penyelenggaraan program akselerasi pada akhir-akhir ini. Diantara isu dimaksud adalah seputar pengembangan konsep keberbakatan,pengembangan alat identifikasi, berdirinya asosiasi CI/BI, dan model penyelenggaranakselerasi di tengah persiapan pengembangan Sistem Kredit Semester (SKS) untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.
      
(Prof. Dr. SC. Utami Munandar)
 
TINJAUAN HISTORISPENYELENGGARAAN PROGRAM AKSELERASIUpaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan khusus bagipeserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa sebenarnya telahdilakukan sejak tahun 1974 dengan pemberian beasiswa bagi siswaSekolah Dasar(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), danSekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan berprestasi tinggi tetapilemah kemampuan ekonomi dan keluarganya.Selanjutnya pada tahun 1982, Balitbang Dikbud membentuk Kelompok KerjaPengembangan Pendidikan Anak Berbakat (KKPPAB). Kelompok Kerja ini mewakiliunsur-unsur struktural serta unsur-unsur keahlian seperti Balitbang Dikbud, DitjenDikdasmen, Ditjen Dikti, Perguruan Tinggi, serta unsur keahlian di bidang sains,matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa dan humaniora,serta psikologi. Kelompok Kerja tersebut antara lain bertugas untuk mengembangkan
”Rencana Induk Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat”, serta merencanakan,
mengembangkan, menyelengga-rkan, dan menilai kegiatan-kegiatan yang sesuaidengan rencana induk pengembangan anak berbakat.Kemudian, pada tahun 1984 Balitbang Dikbud menyelenggarakan perintisanpelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat SD, SMP, dan SMA di satudaerahperkotaan (Jakarta) dan satu daerah pedesaan (Kabupaten Cianjur). Programpelayanan yang diberikan berupa pengayaan
(enrichment)
dalam bidang sains (Fisika,Kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa), matematika, teknologi(elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa (Inggris dan Indonesia), humaniora,serta keterampilan membaca, menulis, dan meneliti. Pelayanan pendidikan dilakukandi kelas khusus di luar program kelas reguler pada waktu-waktu tertentu. Perintisanpelayanan pendidikan bagi anak berbakat ini pada tahun 1986 dihentikan seiringdengan pergantian pimpinan dan kebijakan di jajaran Depdikbud.Selanjutnya, pada tahun 1994 Departemen Pendidikan dan Kebudayaanmengembangkan program Sekolah Unggul
(Schools of Excellence)
di seluruh propinsisebagai langkah awal kembali untuk menyediakan program pelayanan khusus bagipeserta didik dengan cara mengembangkan aneka bakat dan kreativitas yangdimilikinya. Namun akhirnya, program ini dianggap tidak cukup memberikan dampak positif pada siswa berbakat untuk mengembangkan potensi intelektualnya yang tinggi.Keluhan yang muncul di lapangan secara bersamaan didukung oleh temuan studiterhadap 20 SMA Unggulan di Indonesia yang menunjukkan 21,75 % siswa SMAUnggulan hanya mempunyai kecerdasan umum yang berfungsi pada taraf di bawahrata-rata, sedangkan mereka yang tergolong anakmemiliki potensi kecerdasan danbakat istimewa hanya 9,7 % (Reni H., dkk., 1998).Pada tahun 1998/1999, SMP dan SMA Labschool Jakarta serta SMA Al-AzharSyifa Budi Cikarang mencoba memberikan pelayanan pendidikan bagi anakyangmemiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam bentuk program percepatanbelajar (akselerasi). Pada tahun 2000 program dimaksud dicanangkan oleh MenteriPendidikan Nasional pada Rakernas Depdiknas menjadi program pendidikan nasional.Pada kesempatan tersebut Mendiknas melalui Dirjen Dikdasmen menyampaikan SuratKeputusan (SK) Penetapan Sekolah Penyelenggara Program Percepatan Belajarkepada 11 (sebelas) sekolah yakni satu SD, lima SMP, dan lima SMA di DKI Jakartadan Jawa Barat. Kemudian pada tahun pelajaran 2001/2002 diputuskan penetapankebijakan pendiseminasian program percepatan belajar pada beberapa sekolah dibeberapa propinsi di Indonesia. Sejak itu upaya pendiseminasianprogram ini
 
dilakukan oleh Direktorat Pendidikan Luar Biasa bekerjasama dengan DinasPendidikan Propinsi dan Kabupaten/Kota melalui berbagai tahapan seperti pemetaan,sosialisasi, penetapan program rintisan, serta berbagai program pembinaan. Padatahun 2001, seiring perkembangan otonomi daerah maka Direktorat Pendidikan LuarBiasa membatasi ujicoba penyelenggaraan program akselerasi kepada 56 sekolahyang telah mendapatkan SK, dan selanjutnya penetapan sekolah penyelenggaraprogram akselerasi diserahkan kewenangannya kepada Dinas Pendidikan Propinsi danKabupaten /Kota.Patut dicatat pula bahwa bagi Labschool model penyelenggaraan akselerasiyang dilakukan mulai tahun 1998/1999 ini sebenarnya bukan kali yang pertamakarena sebelumnya Labschool pernah mengembangkan program maju berkelanjutanatas dasar prinsip belajar tuntas serta model layanan sistim TKR. Program majuberkelanjutan dengan sistim moduldilakukan pada saat Labschool berstatus sebagaiProyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) tahun 1974-1986 dan sistim TambahanKredit (dikenal dengan sebutan TKR) pada kurun waktu 1986-1990 tatkala kurikulum1984 yang diberlakukan kala itu menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS). Melaluimodel program maju berkelanjutan maupun sistem TKR, Labschool telah melayanisiswa yang memiliki keberbakatan intelektual untuk dapat menyelesaikan masabelajarnya lebih awal dibandingkan dengan siswa lainnya.PERKEMBANGAN JUMLAH SEKOLAH PENYELENGGARAPROGRAM AKSELERASIMerujuk kepada data yang dihimpun oleh Direktorat Pembinaan Sekolah LuarBiasa, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah DepartemenPendidikan Nasional, perkembangan jumlah sekolah penyelenggara dan peserta didik yang mengikuti program akselerasi menunjukkan adanya kecenderungan peningkatandari tahun ke tahun. Jika pada tahun 1998/1999 baru dilaksanakan oleh 3 sekolahdengan jumlah peserta didik kurang dari 45 orang, maka pada tahun 2008 ini jumlahsekolah penyelenggara program akselerasi di seluruh Indonesia tercatat sejumlah 228sekolah yang terdiri 53 SD, 80 SMP, dan 95 SMA dengan jumlah peserta didik sebanyak 5.488 yang terdiri atas 472 peserta didik jenjang SD, 2.399 SMP, dan 2.617 jenjang SMA. Angka ini diprediksikan akan mengalami peningkatan pada tahun 2009menjadi 242 sekolah penyelenggara dengan jumlah peserta didik sejumlah 5.724orang. Selengkapnya data dan proyeksi jumlah siswa dan sekolah yang memberikanlayanan program akselerasi dari tahun 2003-2009 adalah sebagai berikut :
 
: Direktorat Pembinaan PLB, 2008.

2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
SISWA SDSEKOLAH SDSISWA SMPSEKOLAH SMPSISWA SMASEKOLAH SMA

Activity (28)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
user-165584288 liked this
Rizki Nuranisa liked this
Dian Puspa Dewi liked this
Ysugeng Prihanto liked this
Ysugeng Prihanto liked this
Ysugeng Prihanto liked this
Kenzi Nicky liked this
Aandi Juansyah liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->