Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
17Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Industri Baja Indonesia Hadapi Pasar Bebas AC-FTA, 2010

Industri Baja Indonesia Hadapi Pasar Bebas AC-FTA, 2010

Ratings: (0)|Views: 2,872|Likes:
Kondisi Industri Baja Indonesia Hadapi Pasar Bebas AC-FTA
Kondisi Industri Baja Indonesia Hadapi Pasar Bebas AC-FTA

More info:

Categories:Business/Law, Finance
Published by: MEDIA DATA RISET, PT on Jun 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

11/08/2012

pdf

text

original

 
 
Penawaran Studi
KONDISI INDUSTRI BAJA INDONESIAHADAPI PASAR BEBAS AC-FTA, 2010 Juni, 2010
Kondisi industri baja tahun 2008 mengalami pencapaian spektakuler, namun tahunberikutnya 2009 jatuh hingga ketitik ekstrim. Meski pada 2008 paruh pertama sektor ini mampumencetak laba signifikan dari pergerakan harga baja di pasar dunia, namun keuntungan yangdiraih produsen pupus hanya dalam waktu tiga bulan. Sejumlah perusahaan baja hulu dan hilirmeraup untung dari tingginya harga baja dunia seperti HRC-hot rolled coil yang sempatmenembus US$ 1.250 per ton pada Juli 2008, namun sejak September harga baja merosot dengancepat hingga hanya US$ 450 per ton pada Desember tahun itu juga. Merosotnya harga baja HRCtersebut bertahan hampir di sepanjang tahun 2009, bahkan Mei 2009 mencapai titik terendahhanya US$ 395 per ton.Dengan demikian, kinerja produksi dan penjualan industri baja di dalam negeri merosotdrastis sepanjang 2009. Sehingga tingkat pemanfaatan kapasitas terpasang (utilisasi) tercatat hanya35%-40% dari kondisi normal yang berkisar 60%.Sementara itu, dari sisi konsumsi juga cenderungstagnan dibandingkan dengan penyerapan pasar pada 2008 yang mencapai 10 juta ton. Penurunanproduksi pemanfaatan bahan baku berupa bijih besi dan produk baja setengah jadi (
semi finished
)yang sebagian besar dipasok dari impor itu merosot tajam. Kemerosotan kinerja sepanjang 2009tersebut disebabkan imbas resesi keuangan dunia yang menekan harga baja hingga lebih dari 50%.Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 1 Februari 2010 menunjukkan nilaiimpor produk besi dan baja (kelompok pos tarif No. 72) sepanjang 2009 merosot 47,37% dariUS$8,282 miliar menjadi hanya US$4,357 miliar.Pada sisi lain, impor barang dari besi dan baja (HSNo. 73) pada 2009 juga merosot 16,55% dibandingkan dengan 2008 dari US$3,335 miliar menjadiUS$2,783 miliar. Sehingga berdsarkan data itu, Sehingga berdasarkan data KementerianPerindustrian (Kemenperin), sepanjang 2009 pertumbuhan industri logam dasar besi dan bajamerosot ke titik terendah sepanjang 5 tahun terakhir menjadi -7,19% dibandingkan dengan 2008yang masih tumbuh sebesar 1,3%.Kondisi harga baja dunia baru pulih mengalami peningkatan yang cukup signifikan dipenghujung tahun 2009, dimana pada Desember 2009 harga HRC dunia menyentuh US$ 585 perton dan Februari 2010 meningkat menjadi US$ 620 per ton. Diperkirakan pada tahun ini hargaHRC dunia bisa menembus titik tertinggi US$800 per ton, di didorong oleh kenaikan harga bijihbesi (
iron ore
) dan pemulihan ekonomi global sejak November 2009.World Steel Association (
Worldsteel
), mengungkapkan negara-negara pemasok bijih besi,seperti Brazil dan Australia, kini meningkatkan harga bahan baku karena China, India, danKawasan Timur Tengah masih menjaga kestabilan produksi baja di titik tertinggi. Sementara itu,harga besi bekas (scrap) yang menjadi bahan baku kelompok baja
long product
, seperti besi profildan penunjang infrastruktur, juga meningkat di kisaran yang lebih rendah.China sebagai produsen baja terbesar di dunia memiliki pasokan baja yang sangatmelimpah dalam menghadapi kenaikan permintaan tahun ini.Di tengah resesi global, China justrumemacu produksi baja secara besar-besaran hingga melonjak 13,5% menjadi 567,8 juta ton. Karenaitu, kalangan pengusaha mengkhawatirkan dampak implementasi liberalisasi pasar ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) yang dapat memacu impor baja secara besar-besaran dariChina. Bahkan, Kementrian Perindustrian sempat memprediksikan implementasi ACFTA dapatmenyebabkan impor baja asal China pada 2010 meroket 170,76% dibandingkan dengan realisasiimpornya pada 2009 dari 554.000 ton menjadi 1,5 juta ton.Implementasi ACFTA akan menyebabkan nilai komponen bea masuk produk baja Chinadihapuskan, padahal China masih memberikan fasilitas export VAT rebate (subsidi pajak) 9%-13%
 
 
di sektor baja. Keadaan itu menyebabkan harga baja China semakin kompetitif dibandingkandengan produk baja lokal. Akibatnya harga baja dunia bisa mereka kendalikan, sedangkanprodusen di dalam negeri sulit menyaingi China karena dihadapkan pada kenaikan biayaproduksi, bahan baku, transportasi, begitu juga belanja pemerintah yang menyerap produk bajalokal masih rendah.Dalam menghadapi pasar bebas ACFTA ini, pemerintah berencana memundurkan jadwalpelaksanaannya, khusus untuk produk baja yang semula tahun ini menjadi pada 2018. Begitu jugaupaya Kemenperin untuk memperketat produk impor baja asal China dengan menerapkan SNIwajib untuk sejumlah produk yang belum ber-SNI, seperti CRC (cold rolled coil). KemudianPermendag No.21/ M-DAG/PER/6/2009, tentang importasi produk baja dan besi wajibdiverifikasi lebih dahulu di pelabuhan asal muat, terhitung mulai 25 Juli 2009.Di sisi lain, untuk meningkatkan daya saing, PT Krakatau Steel di antaranya akanmempercepat pembangunan pabrik baja hulu PT Meratus Jaya tahun ini di Kalimantan Selatansenilai US$ 250 juta. Meratus merupakan usaha patungan (joint venture) PT Krakatau Steel dan PTAneka Tambang Tbk. Berikutnya, bekerjasama dengan BUMN Korea Selatan, Pohang Iron andSteel Company (Posco), Agustus 2010 ini PT KS akan memulai pembangunan tahap I pabrik platemill dengan kapasitas produksi 3 juta ton di Cilegon Banten. Rencana ini merupakan bagian darirencana pembangunan pabrik baja terpadu berbasis baja canai panas (hot rolled coils/HRC), slab(bahan baku pelat dan HRC) dan pelat baja berkapasitas total 6 juta ton senilai investasi US$6miliar. Bahkan untuk menargetkan perolehan dana Rp 1 – 2 trilun, PT KS akan segera melakukanpenawaran umum (
initial public offering
/IPO) pada Oktober 2010 di Bursa Efek Jakarta.Karena itu, sangat menariknya kondisi dinamika industri baja belakangan ini, PT MediaData Riset sebagai salah satu perusahaan jasa penyedia data dan informasi, telah menyusunkajian “
Kondisi Industri Baja di Indonesia dalam Menghadapi Pasar Bebas AC-FTA
”. Dalamstudi ini, dibahas kondisi terkini industri baja hulu (bahan-baku dan baja dasar), baja kasar (slabdan bilet), baja antara HRC/CRC serta berbagai produk hilirnya. Kajian ini meliputi kapasitasproduksi, perkembangan produksi, proyek baru & perluasan, konsumsi, proyeksi konsumsi,perkembangan harga dan prospeknya.Dengan kelengkapan studi ini, menjadikan laporan yang tersaji sangat bermanfaat bagipara pelaku di sektor industri baja, calon investor, lembaga pembiayaan, maupun industri terkaitlainnya. Buku studi ini kami susun dalam dua jilid, yaitu jilid pertama mengenai industri bajahulu dan setengah jadi, selanjutnya jilid kedua tetang industri baja hilir. Buku studi ini kamitawarkan seharga
Rp 6.500.000
(Enam juta lima ratus ribu rupiah) per copy (dua jilid) untuk versibahasa Indonesia, atau
US$ 900
(Sembilan ratus US Dollar) per copy (dua jilid) dalam versi bahasaInggris. Peminat dapat langsung menghubungi
PT Media Data Riset,
 Jakarta, melalui telepon
(021) 809 6071, 809 3140
atau melalui
faksimile (021) 809 6071
atau e-mail
info@mediadata.co.id
,.Formulir Pemesanan terlampir. Pemesanan untuk luar negeri atau luar Jakarta akan ditambahbiaya pengiriman.Demikian penawaran ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkanterima kasih.
 
 Jakarta, Juni 2010
PT Media Data Riset
Drh. H. Daddy Kusdriana M.SiDirektur Utama
 
 
DAFTAR ISI
KONDISI INDUSTRI BAJA INDONESIAHADAPI PASAR BEBAS AC-FTA, 2010 Juni, 2010
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang1.2. Tujuan1.3. Ruang Lingkup1.4. Pendekatan dan Metode Penelitian
2. KONDISI MAKRO INDUSTRI BAJANASIONAL
2.1. Gambaran Umum Tentang Baja.2.1.1. Proses Pembuatan Baja2.1.2. Klasifikasi Baja2.1.3. Tipe Baja2.1.4. Pengaruh Beberapa Unsur Paduandalam Baja.2.1.5. Spesifikasi Baja Secara Umum.2.1.6. Struktur/Pohon Industri2.2. Permasalahan yang Dihadapi IndustriBaja.2.2.1. Ketergantungan Bahan Baku Bajadari Impor2.2.2. Supplay Energi Gas dan ListrikTidak Mencukupi2.2.3. Manipulasi Nomor HS (
Harmony
 
System
)2.2.4. Dampak Pasar Bebas ACFTA2.3. Kondisi Umum Industri Baja Nasional2.3.1. Perkembangan Kapasitas Produksi2.3.2. Gambaran Pemain Utama2.3.3. Perkembangan Produksi2.3.4. Harga Baja Tengah CenderungPulih2.3.5. Investasi Baru dan Perluasan2.4. Impor Baja Indonesia2.4.1. Perkembangan Impor2.4.2. Wajib Verifikasi Impor2.4.3. Baja impor ilegal marak2.5. Ekspor Baja Indonesia2.5.1. Lonjakan Ekspor Tidak Ada NilaiTambah2.6. Konsumsi Indonesia Masih Rendah
3. PASAR BAJA DI ASEAN, 2008 - 2009
3.1. Kondisi Ekonomi3.2. Paket Stimulus3.3. Industri baja ASEAN sebelum dansetelah krisis ekonomi global3.3.1. Supply dan Demand Baja Asean3.3.2. Pelemahan ekonomi dampaknyapada permintaan baja3.3. Konsumsi
apparent steel
ASEAN turuntajam setelah krisis global3.4. Pasok
Scrap
dunia dan Asean3.4.1. Perkembangan pasok
 ferrous scrap
 dunia dan dampaknya di ASEAN3.4.2. Analisa konsumsi baja
scrap
diAsean
 
3.5. Industri baja di China
 
3.5.1. Perkembangan Ekonomi China3.5.2. Indusri baja tumbuh moderat padatahun 20083.5.3. Impor dan ekspor produk bajaChina tahun 20083.5.4. Revitalisasi industri baja China3.6. Industri Baja China dan Dampaknya diAsia Tenggara3.7. Ekspor baja China dan dampaknya diAsean3.8. Dampak pelemahan harga baja China diAsia Tenggara3.8.1. Harga baja di China menurun3.8.2. Pergerakan harga baja3.8.3. Implikasi pergerakan harga baja3.9. Industri baja di India3.9.1. Kebutuhan baja domestik India3.9.2. Produksi baja domestic India
 
3.9.3. Bijih besi dan scrap3.9.4. Nippon Steel dan Tata bangunpabrik
steel sheet
di India3.10. Industri Baja Indonesia ditengahPersaingan Global3.10.1. Pertumbuhan Industri BajaKonservatif3.10.2. Industri baja Indonesia rugi Rp3,76 triliun akibat CAFTA3.10.4. Perlu Kaji Strategi Konsolidasi3.10.5. Bentuk IISIA3.10.6. Pelaksanaan SNI industri bajaharus diperketat
4. KEBIJAKAN PEMERINTAH
4.1. Tarif Bea Masuk (BM)4.2. Harmonisasi Tarif4.3. Baja Tertentu Kembali Dikenakan BM0%4.4. Impor Baja Canai Panas dari 5 NegaraSempat Dikenai BMAD4.5. Kebijakan Impor Baja Khusus4.5.1. BM 0% untuk 4 Sektor Industri
 
4.5.2. 12 Perusahaan Dapat Fasilitas BeaMasuk Baja 0%4.6. ACFTA baja bakal diundur hingga 20184.7. Standar Nasional Indonesia (SNI)4.7.1. Revisi SNI Wajib Baja4.7.2. Kemenperin Perluas SNI WajibProduk Baja

Activity (17)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ria Dwi Agustin liked this
Sugeng Pangraksa liked this
Achmad Doanx liked this
Marina Ulfah liked this
SingCat Network liked this
mettyfauziah liked this
day14 liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->