Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
11Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Wiranto Partosudirdjo - Etika Dan Simbolik Di Balik Wayang Kulit

Wiranto Partosudirdjo - Etika Dan Simbolik Di Balik Wayang Kulit

Ratings: (0)|Views: 639 |Likes:
Published by Ibnu Arabi

More info:

Published by: Ibnu Arabi on Jul 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2012

pdf

text

original

 
 Dalam dunia pewayangan perang Bharatayuda mengandung makna-makna simbolik. PerangBharatayuda adalah bagian dari wayang kulit yang mengisahkan perang saudara antara PendawaLima yang terdiri dari lima bersaudara dan Kurawa yang terdiri dari seratus bersaudara. Merekaadalah sama-sama cucu dari Bhegawan Abiyasa berperang untuk memperebutkan kerajaanIndraprasta (Amartapura) yang dikuasai oleh Hastinapura dikarenakan Pandawa Lima kalah judi. Salahsatu syarat dari kalah judi dengan pihak Kurawa, Pandawa harus menjalani hukuman dibuang di hutanselama 12 (duabelas) tahun dan ditambah satu tahun dalam penyamaran yang tidak boleh diketahuikeberadaannya.Dalam buku Mahabharata diceritakan bahwa Pendawa Lima merasa sudah melunasi hukumannyadibuang di hutan selama 12 (duabelas) tahun dan satu tahun dalam penyamaran, tetapi Kurawamempertahankan dan menuduh Pandawa Lima gagal melaksanakan hukumannya. Dalam "wayangkulit" agak sedikit ada kerancuan bahwa penyebab peperangan disebabkan Pendawa Lima inginmendapatkan hak Hastinapura yang dititipkan oleh Panduwinata (ayah Pendawa Lima) yang pada saatitu raja Hastinapura kepada kakaknya yang buta Dhestrarata (ayah Kurawa).Dalam episode Bharatayuda, di dalamnya terdapat kisah "Bhagawatgita" yaitu kisah awal dariBharatayuda ketika Arjuna merasa sangat tidak bersemangat untuk berperang melawanKurawadikarenakan musuh yang dihadapi masih saudara sendiri bahkan diantara musuh yang harus dihadapiadalah para sesepuh yang sangat dihormati yaitu Resi Bisma, Pendita Durna dll.Arjuna merasa kenapa harus berperang untuk memperebutkan kerajaan, kalau perlu biarlah Kurawamenguasai kerajaan. Sri Kresna memberikan nasihat kepada Arjuna bahkan terpaksa memperlihatkanwujud Wisnu yang sebenarnya untuk meyakinkan Arjuna bahwa: Peperangan Bharatayuda bukansekedar perang melawan saudara sendiri tapi adalah peperangan suci yang harus dilaksanakan olehKsatria Utama sebagai dharmanya atau kewajibannya untuk melenyapkan keangkaramurkaan dankebatilan di muka bumi.Sri Kresna kemudian juga mengajarkan kepada Arjuna makna hidup, asal kehidupan, dan akhirkehidupan yang mengalir dalam perwujudan Wisnu yang sebenarnya yang dituliskan dalam kisahBhagawatgita yang juga menjadi salah satu kitab suci pemeluk agama Hindu.Dalam interpretasi perang Bharatayuda dalam kisah "wayang kulit" banyak versi sesuai denganperesapan masing-masing penggemar ataupun pengamat "wayang kulit" yang pada hakekatnya bisadikatagorikan dalam simbolik berupa perubahan yang bersifat mikro (dalam diri manusia sendiri 
 jagad cilik 
- dunia kecil) dan perubahan yang bersikap makro (diluar diri manusia atau dalamkehidupan bermasyarakat, bernegara, maupun semesta alam 
 jagad gede
 dunia besar).
 
 
Arti simbolik Bharatayuda yang bersifat mikro (dalam diri manusia secara individu 
 jagad cilik 
dunia kecil):
 Pengertian simbolik perang Bharatayuda dalam diri manusia adalah peperangan dalam diri manusiadalam rangka mengatasi dirinya antara perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk. Adalahpeperangan yang tiada henti selama hidup dari seseorang sebagai individu untuk mencari nilai budiluhur dan melaksanakan dalam tindakan nyata sehari-hari yang melawan pengaruh buruk yangbersifat kesenangan yang bisa merusak diri dan lingkungannya.A. Bharatayuda sebagai simbol pertarungan/pergulatan etika baik dan buruk dalam diri manusia:Peperangan dalam diri manusia adalah hakekatnya perang saudara, karena apabila manusiamenginginkan sifat baik yang terpancar dalam kehidupannya dia harus berani membunuh sifat burukdalam dirinya yang berarti membunuh sebagian dari dirinya.Betapa sakitnya seseorang yang harus membunuh sifat dalam dirinya yang bersifat kesenangan yangmerusak seperti
m
a-li 
m
a
(lima M) yaitu (
m
adon,
m
adat,
m
aling,
m
ain,
m
abuk 
yang artinya:
m
adon
 berarti - kesenangan dengan wanita/ sex di luar pernikahan,
m
adat 
 kesenangan dengan candu /ganja / ecstacy / heroin / ataupun sejenisnya,
m
aling
 kesenangan memiliki hak / kepunyaan oranglain,
m
ain
 kesenangan berjudi, mabuk - kesenangan minum minuman keras).Kalau seseorang sudah terlanjur mempunyai kesenangan seperti tersebut diatas yang merupakan sifatburuk dalam dirinya, seseorang memerlukan sikap sebagai Arjuna yang harus berani melakukanperang Bharatayuda, untuk membunuh sebagian dari dirinya yang bersifat buruk, betapa hal itusangat berat dan terasa menyakitkan.Apabila sifat Ksatria Utama yang memenangkan peperangan dalam diri seseorang, dia mampumengatasi dirinya untuk tidak berbuat yang kurang terpuji. Dia akan punya sifat berbudi luhur dalamperbuatan nyata untuk dirinya maupun untuk masyarakat sekelilingnya.Kemenangan dalam peperangan ini sebetulnya perubahan yang nyata dari sifat manusia tersebut darimanusia yang kurang terpuji sifat-sifatnya menjadi manusia yang terpuji sifat-sifatnya.B. Bharatayuda sebagai simbol cara kematian seseorang sesuai dengan karma/akibat perbuatannya:Dalam kehidupan seseorang selalu diuji keberpihakannya terhadap nilai-nilai budi luhur ataukecenderungannya terpengaruh oleh perbuatan buruk.Dalam masyarakat modern yang makin heterogen dan dengan makin terbukanya pengaruh-pengaruhberbagai silang budaya kadang-kadang agak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garislurus ataupun garis pemisah antara perbuatan etika moral yang terpuji maupun yang kebalikannyayang kadang agak sulit bagi kita menarik garis hitam putih.Tapi kalau kita mengkaji lebih lanjut kisah / lakon dalam "wayang kulit" hal tersebut bukan sesuatuyang tidak terdeteksi dalam kisah tokoh-tokohnya yang selalu bergulat dalam perbuatan yang terpujimaupun kurang terpuji bahkan terhadap tokoh-tokoh yang diidealkan seperti tokoh Pendawa Limadan Sri Kresna.Hal ini adalah suatu indikasi alamiah ketidak sempurnaan manusia. "Wayang kulit" mengajarkan suatubudaya yang sangat bijaksana berkaitan dengan ketidak sempurnaan manusia dengan menciptakantokoh punokawan yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong (secara lahiriah tokoh-tokoh tersebut juga digambarkan secara tidak sempurna) yang selalu memberikan peringatan terhadappenyimpangan yang dilakukan oleh para raja dan ksatria.Beberapa contoh kisah pewayangan yang menggambarkan ketidak sempurnaan sifat-sifat dari tokohyang dianggap sebagai tauladan:
 
 1. Yudhisthira/Puntodewo yang terkenal kejujurannya dan kebijaksanaannya sebagai seorang rajaternyata dia mempunyai kelemahan yang sangat fatal yaitu kesenangannya dengan judi.Kelemahan tersebut dimanfaatkan oleh Kurawa dengan arsiteknya Patih Sengkuni sehinggamembawa kesengsaraan keluarganya bahkan sampai dengan negaranya, saudara-saudaranya, bahkanistrinya  Dewi Drupadi  dipakai sebagai barang taruhan dan sempat sangat dipermalukan didepanumum oleh Dursasono  salah satu dari Kurawa.Kelemahannya ini yang akhirnya membawa Pendawa Lima harus menjalani hukuman dibuangditengah hutan selama duabelas tahun dan melakukan penyamaran selama satu tahun.2. Arjuna yang sangat pandai dan sakti ternyata punya kelemahan terhadap wanita yangmembawanya dia terkenal kalau dengan istilah sekarang sebagai Don Yuan (beberapa pakarpewayangan hal ini diartikan sebagai simbol kegandrungan Arjuna akan ilmu pengetahuan sehinggadia selalu berguru kepada Bhegawan dan mengawini anak perempuannya yang diartikan /disimbolkan sebagai menguasai ilmu dari sang Bhegawan).3. Sri Kresna yang terkenal bijaksana dan dikatakan sebagai titisan Wisnu ternyata kurang mampumendidik anaknya dan terlalu memanjakan anaknya yang akhirnya membawa pada karmakematiannya melalui seorang pemburu yang tanpa sengaja memanah kakinya yang anak panahnyaberasal dari perbuatan / kesombongan anaknya Samba.Contoh-contoh diatas masih bisa diperpanjang dengan tokoh-tokoh pewayangan seperti Abimanyu(anak Arjuna) yang membohongi istrinya karena mau menikah lagi, Gatutkaca (anak Werkudoro) yangmembunuh pamannya sendiri, Resi Bisma yang membunuh wanita yang mencintainya, Prabu Salyoyang membunuh mertuanya, dan yang lain-lainnya yang pada suatu saat dalam kehidupannya pernahmelakukan perbuatan yang kurang terpuji yang balasan karma dari perbuatan buruknya adalah carakematian mereka yang terjadi pada perang Bharatayuda.Hal ini menjadi suatu interpretasi simbolik lainnya dari makna perang Bharatayuda secara mikro (padaindividu  dunia kecil) yaitu: peperangan terakhir dari manusia menghadapi karma hidupnya, yaitucara kematiannya adalah cermin dari seluruh cara dan perilaku kehidupannya baik ataupun buruk.
 Ar 
ti si 
m
bolik Bha
atayuda yang be
sifat pe
ubahan
m
ak 
o kos
m
os (dilua
di 
m
anusia atau dala
m
 kehidupan be
rm
asya
akat, be
nega
a,
m
aupun se
m
esta ala
m
 jagad gede  dunia besa
r)
 
Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, manusia sebagai individu juga selalu diujikeberpihakkan seseorang terhadap kelompok yang punya nilai-nilai luhur dan kelompok yangcenderung terpengaruh oleh perbuatan buruk.Dalam masyarakat modern yang makin heterogen maupun dengan makin terbukanya suatu negaradari pengaruh-pengaruh berbagai silang budaya sebagai suatu dampak globalisasi. Kadang-kadangagak sulit untuk mengenali dengan cepat dan mengambil garis lurus ataupun garis pemisah antarakelompok-kelompok yang memperjuangkan suatu etika moral yang terpuji maupun yangkebalikannya.Kalau melihat contoh-contoh tokoh dunia pewayangan seperti Yudhisthira, Arjuna, dan Sri Kresna,sebagai manusia mereka tetap mempunyai sifat alamiah tentang ketidak sempurnaan manusia.Walaupun secara umum atau bisa juga dikatakan bahwa sebagian besar perilaku yang diperbuat bisadijadikan contoh walaupun tidak lepas dari cacat dan cela.

Activity (11)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Endro Rastadi liked this
bhen08 liked this
RishitaDewi liked this
dresanala liked this
Dian Nais liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->