Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
6Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Tugas Uas Sosiologi Kebudayaan

Tugas Uas Sosiologi Kebudayaan

Ratings: (0)|Views: 641 |Likes:
Published by Fikri Riswandi
analisis film warkop DKI "BEBAS ATURAN MAIN", menggunakan konsep-konsep teori dalam sosiologi kebudayaan
analisis film warkop DKI "BEBAS ATURAN MAIN", menggunakan konsep-konsep teori dalam sosiologi kebudayaan

More info:

Published by: Fikri Riswandi on Jul 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2012

pdf

text

original

 
TUGAS UAS SOSIOLOGI KEBUDAYAAN
Fikri RiswandiSosiologi Pembangunan (Reguler 2007)4825072313
Warkop DKI :Bebas Aturan Main
Pendahuluan
 Pengertian film
Film merupakan gambar hidup, secara kolektif film sering disebut sebagaisinema. Secara harafiah film (sinema) adalah
Cinemathographie,
berasal dari
Cinema
+
tho
=
 phytos
(cahaya) +
 graphie
=
 grhap
(tulisan = gambar = citra), jadi artinyamelukis gerak dengan cahaya. Maka karena itu, untuk memproduksi suatu filmharus menggunakan alat khusus, yaitu kamera. Sedangkan film Menurut UU 8/1992,adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan atau bahan hasil penemuan teknologilainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proseselektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkandan atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, eletronik, dan atau lainnya.
1
Kini film termasuk dalam salah satu cabang
 seni
yang dapat dikatakanmemiliki pengaruh yang besar terhadap kehidupan modern. Seperti yang seorangkritikus film pernah katakan “closer to heaven or closer to hell” (lebih dekat ke surgaatau lebih dekat ke neraka), artinya film memiliki pengaruh yang baik bagi kehidupanmanusia, misalnya di bidang pendidikan, penerangan, hiburan yang sehat, dan jugaseni. Film – film yang lebih menonjolkan bidang – bidang tersebut, pengaruhnya lebih bersifat konstruktif. Akan tetapi, film juga memiliki pengaruh yang buruk, seperti1
 
film-film yang menonjolkan porno dan kekerasaan, yang dapat merangsang nafsu – nafsu kebinatangan, dan yang dapat membawa penontonnya ke jalan yang sesat. Film – film seperti ini, pengaruhnya lebih bersifat destruktif .
2
Dalam kenyataan sekarang, film yang merupakan produk 
industri budaya
sudah menjadi bagian dari masa kehidupan modern, sehingga tidak dapat dielakkandan harus diterima.
3
Meskipun memang film memiliki pengaruh positif dan negatif yang besar terhadap kehidupan manusia. Maka karena itu, hidup di masa modernseperti sekarang tanpa film, sulit untuk dibayangkan.Film yang merupakan salah satu cabang
 seni
adalah hasil dari produk budaya.Definisi seni sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah“keahlian membuat karya yang bermutu (dilihat dari segi kehalusannya,keindahannya, dan lain sebagainya).
4
Produk budaya merupakan gabungan dari duakonsep, yakni
barang budaya
dan
 jasa budaya
.
5
Film dapat dikategorikan masuk jasa budaya juga karena secara umum jasa budaya juga mencakup jasa audiovisual(distribusi film, pertunjukan film, serta kepemilikan dan pengoperasian perfilman).
6
 Karena dalam pembuatan film terdapat peran dari jasa audiovisual maka karena itufilm juga dikategorikan termasuk ke dalam jasa budaya.
Sejarah perfilman di Indonesia
Setelah Indonesia dinyatakan merdeka pada tahun 1945, memasuki tahun 1950 pemerintah banyak melakukan pembangunan di berbagai sektor (ekonomi,
2 Gayus Siagian.
Sejarah Film Indonesia Masa Kelahiran-Pertumbuhan
, (Jakarta: Fakultas Film danTelevisi Institut Kesenian Jakarta, 2010), hlm. 1.3 Istilah
industri budaya
berlaku pada industri yang menggabungkan daya cipta, produksi, sertakomersialisasi produk yang bersifat tak kasat mata dan kultural. Ini dilindungi oleh hak cipta dan dapat berwujud barang atau jasa. Berdasarkan konteksnya, industri budaya disebut sebagai “industri kreatif”,“matahari terbit”, industri berorientasi masa depan” dalam istilah ekonomi, atau “
content industries
dalam istilah teknik. Industri budaya umumnya meliputi penerbitan, percetakan, produksi multimedia,audio-visual,
 fonografi
(rekaman suara), sinematografi, dan juga termasuk kerajinan dan desain.4 Ely Setiadi dkk, 2006.
 Ilmu Sosial Budaya Dasar 
, (Jakarta: Kencana Predana Media Group), hlm.160.5 Istilah
barang budaya
mengacu pada barang – barang konsumen yang dapat menyampaikan gagasan,simbol, dan pandangan hidup yang memberikan informasi atau hiburan, membantu pembentukanidentitas kelompok, dan mempengaruhi praktek – praktek budaya. Sebagai hasil daya cipta peroranganatau kelompok, ini memiliki hak cipta, diperbanyak dan ditingkatkan kualitasnya melalui prosesindustri dan distribusi global. Istilah
 jasa budaya
dipahami sebagai aktivitas – aktivitas yang bertujuanmemenuhi kepentingan atau kebutuhan budaya. Aktivitas ini khususnya meliputi semua tindakan dansarana pendukung praktek praktek budaya yang disediakan pemerintah, lembaga swasta dansemipublik, atau perusahaan yang khususnya disediakan untuk masyarakat.6 Kanisius, 2005.
 Kebudayaan, perdagangan, dan globalisasi
, hlm. 19.
 
infrastruktur, sosial, dan budaya). Industri perfilman nasional yang termasuk dalamranah industri hiburan di masa itu, tidak lepas dari pembangunan yang dilakukan pemerintah. Produksi film nasional yang dibuat pada awal tahun 1950an, makin banyak menggunakan artis artis dari orang indonesia, mempergunakan bahasaIndonesia, meskipun lebih mirip bahasa Melayu Pasar. Akan tetapi tetap sajakedudukan orang – orang film Indonesia di masa itu tidak jauh berbeda dengankeadaan sebelum merdeka. Karena pimpinan, modal produksi, sarana – prasarana,distribusi, dan eksibisi berada di tangan orang – orang yang non-pribumi (terutamationghoa). Sedangkan posisi kedudukan orang – orang Indonesia lebih banyak yang bekerja di bawah bangsa asing, tidak turut berbicara maupun ikut serta dalammenentukan kebijakan, dan ini terdapat dalam hampir semua bidang perdagangan.Berikut adalah kesimpulan umum yang menjadi ciri-ciri sejarah produksi filmnasional pada tahun 1950, yaitu
7
:Film sebagai lapangan baru dengan potensi atau presfektif yang menguntungkanatau komersial.Daya tarik barang baru bagi yang berjiwa perintis, maupun sebagai alat objek spekulasi atau petualangan.Tahap meniru belum ada gagasan yang jelas mengenai fungsinya, kecuali sebagaialat hiburan.Tidak didorong oleh idealisme seni dan corak khas Indonesia belum ada dan belumdipikirkan.Tenaga-tenaga belum terdidik non-intelektual, belum menguasai dasar-dasasimatografis.Mengarah ke industri barang dagang, bukan seni atau penerangan atau pendidikan.Film film cerita, belum memikirkan pembuatan film film non-theatrical,kecuali film – film yang dibuat sineas – sineas Belanda secara insidentil dalamkerja-sama dengan atau atas pesanan atau dukungan Pemerintah HindiaBelanda.Produksi di tangan Tionghoa, bersifat kepemilikan keluarga.Film yang dibuat oleh sineas Tionghoa berorientasi ke negeri Tiongkok, sedangkan
7 Gayus Siagian,.
Sejarah Film Indonesia Masa Kelahiran-Pertumbuhan
, (Jakarta: Fakultas Film danTelevisi Institut Kesenian Jakarta, 2010), hlm. 76 – 77.

Activity (6)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Manggala Buana liked this
fifi hasyim liked this
Kiki Zakiyah liked this
dodid_wijanarko liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->