Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
3Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
intuisi

intuisi

Ratings: (0)|Views: 370|Likes:
Published by Ega Tassha Perwira

More info:

Published by: Ega Tassha Perwira on Jul 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

10/23/2012

pdf

text

original

 
Judul Buku
: Pengetahuan Intuitif Model Husserl & Suhrawardi
Pengarang
: Mohammad Muslih
Penerbit
: CIOS
Tahun Terbit
: Juni 2010Dalam sejarah perkembangan ilmu, model pengetahuan rasionalistik telah melewatisejarah pembentukan yang cukup panjang. Itulah barangkali sebabnya, keberadaan model pengetahuan ini cukup dominan, tidak hanya pada tradisi keilmuan Barat, tetapi juga pada tradisi keilmuan Islam. Konon, pengetahuan demikian diletakkan dasar-dasarnyaoleh Aristoteles, bahkan ada yang menyatakan oleh filsuf-filsuf sebelumnya, sepertiZeno, Socrates, Plato. Perjalanan panjang proses pembentukan pengetahuan rasionalistik ini, melewati filsuf peripatetik muslim, seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibn Shina, Ibn Ruysd,dll., lalu tampil dengan wajahnya yang relatif baru pada filsuf Barat Modern, seperti ReneDescartes, Leibniz, Imamnuel Kant, August Comte, dst. Dalam epistemologi klasik,model pengetahuan rasionalistik itu tampil dengan konsep-konsep seperti:
 form, substansi, hylemorphy, category, kausalitas, apriori, idea,
dst., sementara padaepistemologi modern, tampil dalam bentuk metodology.Dalam kajian epistemologi, setidaknya dapat ditemukan empat ciri pokok model-model pengetahuan yang bersifat rasionalistik, yaitu formalistik, naturalistik, saintistik, daninstrumentalistik. Formalistik mengandaikan bahwa kebenaran itu dapat diperolehdengan rumus-rumus rasional. Naturalistik mengandaikan bahwa seluruh fenomenasejalan dengan hukum alam. Saintistik mengandaikan sains benar-benar merupakanrepresentasi realitas. Dan instrumentalistik dimaksudkan sebagai melihat subjektivitasdan pra-andaian manusia tidak ada kaitannya dengan proses pengetahuan, karenamanusia dengan rasionya bertindak sebagai instrumen.Dengan karakternya yang demikian, pengetahuan kemudian dijamin dapat benar-benar merupakan representasi fakta bahkan realitas. Artinya, pegetahuan dapat sama persisdengan realitas. Inilah yang disebut objektifisme atau saintisme. “Tugas” pengetahuanmemang merepresentasikan realitas. Tetapi persoalannya, apakah realitas dapatdihadirkan tanpa reduksi? Bagaimana proses menghadirkan kembali realitas itu; apakah proses itu bisa dipertanggungjawabkan? Persoalan selanjutnya, jika itu bisa dilakukan, dimana peran eksistensi manusia sebagai subjek pengetahuan? Inilah beberapa pertanyaanepistemologis yang sampai saat ini belum tuntas dijawab. Dan, yang palingmenggelisahkan adalah soal klaimnya yang dapat mengantarkan manusia untuk sampai pada pengetahuan yang benar sekalipun terkait objek ghaib.Di sinilah kehadiran Husserl dan Suhrawardi menjadi penting, bukan hanya karena telahmenunjukkan kelemahan model pengetahuan rasionalistik, tetapi lebih dari itu, merekamenawarkan model pengetahuan alternatif, yang dalam buku ini disebut “pengetahuanintuitif”. Husserl hadir dengan memperkenalkan “kesadaran intuitif” untuk melihatlangsung kompleksitas realitas, tanpa perantara dan tanpa perspektif. Dalam pemikiranBarat, gagasan Husserl ini tentu dipandang sebagai sesuatu yang ganjil, termasuk sampaidewasa ini. Sama seperti Husserl, problem mendasar di sekitar kemunculan Suhrawardiadalah soal “validitas pengetahuan”, di mana pemegang otoritas satu-satunya saat itu

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->