universal, di tingkat internasional dan pada tingkat konstitusi nasional dengandicabutnya UU No. 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, kemudian digantidengan UU No. 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang lalu diperbaharuidengan UU No 32 tentang Pemerintahan Daerah tahun 2004, dimana di dalamnyamemberikan ruang bagi
exercise
otonomi-otonomi asli. Sifat otonomi aslikomunitas-komunitas masyarakat adat adalah menjaga kelangsungan ruang hidupkomunitas.Dengan demikian dapat dipahami bahwa dalam UU No. 32/2004 tentangPemerintahan Daerah, otonomi daerah dirumuskan sebagai
hak, wewenang, dankewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan
(Pasal 1 ayat 5). Jelas bahwa otonomi di sini diletakkansebagai sebuah kondisi yang diberikan oleh Negara kepada sebuah
DaerahOtonom
. Mengenai daerah otonom, UU yang sama menyebutkan:
Daerahotonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurusurusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia
(Pasal 1 ayat 6).
Adanya kebijakan otonomi daerah, dapat merupakan tantangan sekaligus peluang untuk menata kembali sistem pemberdayaan masyarakat adat. Kebijakan inidi samping sebagai respons terhadap aspirasi yang berkembang, juga sesuai dengan
trend
pembangunan yang lebih bernuansa pemberdayaan regional atau lokal.
3