Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
7Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pangan Murah Atau Kesejahteraan Petani

Pangan Murah Atau Kesejahteraan Petani

Ratings: (0)|Views: 712 |Likes:
Published by maryamshahab

More info:

Published by: maryamshahab on Jul 14, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2012

pdf

text

original

 
PANGAN MURAH ATAU KESEJAHTERAAN PETANI?
Ada suatu keunikan cara pandang kita pada kebijakan pangan dan isu kemakmuran petani.Secara sadar atau tidak sadar baik perorangan maupun kolektif sebagai bangsa, nampaknyakita masih memiliki logika berpikir dan cara pandang yang ambivalen terkait dengankebijakan pertanian dan lebih khusus lagi pangan.Di satu sisi, sejak awal kemerdekaan kita memiliki jargon terhadap perbaikan nasib rakyatkecil yang sebagian besar adalah petani-petani gurem di berbagai penjuru tanah air. Hal yangcukup nyata adalah prioritas pembangunan yang pada awalnya difokuskan pada pertanian.Revolusi hijau (green revolution) yang dikenalkan sejak awal 1970-an dengan berbagai program pendukungnya merupakan salah satu contoh upaya untuk memberi perhatian perbaikan nasib petani.Dalam beberapa dekade terakhir, isu perbaikan nasib rakyat kecil juga menjadi salah satutema sentral yang kerap mencuat ketika menjelang masa pemilihan anggota legislatif pusatdan daerah serta pemilihan kepala daerah dan pucuk pimpinan negara. Jargon keberpihakan pada wong cilik dan petani gurem menjadi primadona bagi setiap kampanye untumendulang perolehan suara pemilih.Logika atas jargon pembelaan pada rakyat kecil dengan menjanjikan dan mempromosikan berbagai program pembangunan pertanian adalah untuk meningkatkan produksi pertaniansehingga pendapatan petani meningkat dan pada gilirannya kehidupan ekonominyamembaik. Di sisi yang lain, pada saat yang sama juga dihembuskan janji-janji manis untuk menciptakan sandang dan pangan murah bagi rakyat. Isu pangan murah selalu menjadi salahsatu kata kunci kampanye baik di pusat dan daerah. Tengok saja pada berbagai?kempanyecalon anggota legislatif dan juga calon kepala daerah bahkan juga calon kepala negara.Ada sesuatu yang menyesatkan (missleading), bagaimana mungkin petani akan memperoleh pendapatan yang lebih baik kalau tenyata harga bahan pangan yang diproduksinya dengankerja sangat keras juga dikampanyekan untuk dihargai dengan sangat murah (ideologi panganmurah). Meskipun dalam batas tertentu masih ada kemungkinan adanya kenaikan pendapatandengan upaya penggunaan berbagai input dan tekonologi baru yang mampu meningktkan produktifitas. Sehingga meskipun dengan tingkat harga yang sama tetapi jika kuantitasnyameningkat maka total pendapatannya akan meningkat.Sejarah panjang pembangunan pertanian telah menunjukkan, lebih khusus dalam hal produktifitas padi sawah, Indonesia dengan produktivitas padi sebesar 5-6 ton/ha sebenarnyatelah mencapai tingkat produktifitas yang tinggi secara internasional dan hanya kalah dariJepang, Cina, Korea dan Taiwan. Melihat fenomena ini, meskipun masih ada kemungkinanditingkatkan, tetapi nampaknya tidak akan ada dampak yang luar biasa. Sehingga harapankenaikan pendapatan petani tanpa perubahan kebijakan harga sulit diwujudkan. Peningkatan produktivitas saja tidak akan banyak membantu perbaikan pendapatan petani.Kepemilikan lahan petani kita juga sangat kecil, petani Indonesia termasuk dalam golongan petani gurem yang umumnya hanya mengelola lahan sekitar 0,25 hektar/keluarga tani.Bahkan cukup banyak petani kita yang sebenarnya buruh tani karena mereka tidak memilikilahan sama sekali (landless) dan mereka menggantungkan hidupnya dari jasa buruh untuk  berbagai aktivitas pertanian atau sebagian merupakan panyakap dan penyewa. Dengankepemilikan lahan yang sangat kecil, peningkatan produksi tidak akan berdampak nyata bagi peningkatan pendapatan yang diterima petani. Apalagi kalau harga yang diterima juga tidak  berubah.
1
 
Idelogi pangan murah pada awalnya memang diterapkan di banyak negara terutama pada saatgencarnya tahap awal pembangunan ekonomi. Sebagimana dinyatakan oleh PC. Timmer (2002), kebijakan harga pangan murah awalnya ditempuh untuk membantu sektor indutri.Dengan harga pangan yang rendah maka upah tenaga kerja sektor indutri juga dapat ditekandan sebagai akibatnya keuntungan sektor industri akan meningkat. Keuntungan ini yangdiharapkan akan dinvestasikan kembali sehingga secara keseluruhan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.Dari kebijakan harga pangan murah ini tentu sektor yang sangat diuntungkan adalah sektor industri karena dapat menekan upah buruhnya. Namun bagi sektor pertanian, kebijakan inisangat memprihatinkan, petani menjadi tidak bergairah untuk menerapkan inovasi baru sertameningkatkan produktivitasnya karena tidak ada rangsangan atau insentif terhadap peningkatan pendapatannya. Apakah mungkin kemakmuran petani akan meningkat kalauharga pangan murah? Nampaknya tidak akan terjadi, apalagi kalau melihat situasi sumber daya pertanian Indonesia dimana rerata kepemilikan lahan untuk memproduksi pertaniansangat kecil.Bagaimanapun nampaknya kebijakan perbaikan harga pertanian perlu dilakukan. Para politisi perlu menyadari bahwa kampanye pangan murah justru akan menyusahkan petani bukannyamenguntungkan seperti jargon-jargon yang selalu dihembuskan di panggung politik. Kenaikan harga produk pertanian akan memberikan rangsangan bagi para produsenyaitu petani, mereka akan bergairah untuk bekerja lebih keras sehingga produktivitasnyameningkat karena tahu kalau mereka melakukan itu pendapatnnya akan meningkat dankehidupan ekonomi keluarganya akan membaik. Selain itu, petani akan memiliki kemampuandaya beli (purcashing power) yang lebih baik terhadap barang industri dan jasa sehingga permintaan akan barang industri juga akan meningkat. Pada gilirannnya, sektor industri dan jasa juga akan terdorong untuk lebih produktif karena adanya peningkatan permintaan.Akhirnya siklus ini secara keseluruhan juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.Tentu kebijakan pangan yang tidak murah akan berdampak dan menyulitkan bagi beberapa pihak. Pihak yang akan sangat terimbas adalah kelompok miskin baik di kota maupun didesa. Untuk mengatasi persoalan ini, tentunya pemerintah bisa meluncurkan program jaring pengaman sosial (social safety nets) seperti distribusi beras murah dengan sistem pentargetanyang baik dan akurat dan bahkan bisa memberikan beras gratis untuk golongan yang tidak memiliki kemampuan untuk mengakses pangan.Kisah sukses Jepang yang mengalami masa sulit bagi petaninya di awal pembangunanekonomi selain karena kebijakan pangan murah dan pajak pertanian yang tinggi, akhirnyadapat terbayar dari kebijakan pembangunan pertanian yang sangat berpihak dan melindungi petani. Kebijakan harga pertanian yang berpihak pada produsen serta kebijakan-kebijakanyang lain dapat meningkatkan kemakmuran petani. Saat ini petani Jepang meskipun memilikimasalah kelangkaan tenaga kerja, namun secara ekonomi mereka adalah golonganmasyakarat yang memiliki kehidupan sangat mapan.SubejoDosen Universitas Gadjah Mada;The University of Tokyo, Department of Agricultural andResource Economics (PhD Candidate) Ketua IASA (Indonesian Agricultural SciencesAssociation) Jepang
2
 
30 March 2009 | Dilihat 180 kali
Jakarta, KOMPAS-Ketersediaan pangan Indonesia kian bergantung pada petani yanglahannya semakin sempit. Hingga saat ini pemerintah belum melakukan perubahan mendasar dalam pembangunan sektor pertanian.Demikian disampaikan Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Henry Saragih dalamdiskusi ‘Kritik atas Kebijakan Pertanian Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla’ di Jakarta,Rabu (4/2). Henry mengatakan, ketergantungan pada petani yang lahannya semakin sempitakan menimbulkan persoalan serius di masa datang.“Apalagi konversi lahan pertanian terus terjadi. Konflik agraria juga terus meningkatsepanjang tahun. Di sisi lain, jumlah petani kecil yang tergusur dari lahan garapannya sebagaidampak kebijakan pemerintah yang proliberalisasi juga semakin banyak,” ujar Henry.Pengamat pertanian, Khudori, menjelaskan, porsi petani berlahan sempit, atau petani gurem, pada tahun 1993 hanya 51,9 persen dari 20,8 juta rumah tangga petani saat itu. Tahun 2003,atau 10 tahun kemudian, porsi petani gurem 53,9 persen dari total rumah tangga petani.Tahun 2008, persentase petani gurem diproyeksikan 55,1 persen.“Dengan semakin banyaknya jumlah petani gurem, usaha tani tanaman pangan menjadikurang menjanjikan,” kata Khudori.Henry menjelaskan, pada tahun 2007 jumlah rumah tangga petani kecil yang tergusur darilahan garapannya 24.257 kepala keluarga. Tahun 2008 meningkat menjadi 31.267 kepalakeluarga. Namun, hingga kini, pemerintah belum juga merealisasikan redistribusi tanah kepada rakyat,seperti yang dicanangkan pemerintahan Yudhoyono-Kalla sejak tahun 2006, dengan ProgramPembaruan Agraria Nasional. Padahal, petani semakin sulit mengakses lahan pertanian.Menurut Henry, konflik agraria dan penurunan luas lahan petani akan terus meningkat selama pemerintah tidak melakukan apa-apa, yaitu menghentikan dan mencegah perluasankepemilikan lahan oleh pemodal, dan penguasaan, pengelolaan, dan pemanfaatan lahan yangmelampaui batas.Dalam kesempatan terpisah, Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyatakan perlunyamengalihkan sebagian atau separuh dari total subsidi pupuk untuk pembangunan infrastruktur  pertanian.Saat ini, menurut Anton, masalah utama yang dihadapi petani adalah infrastruktur, baik jalanmaupun irigasi. Mengalihkan sebagian subsidi pupuk tahun 2009, yang mencapai Rp 17,4triliun, untuk pembangunan infrastruktur pertanian, akan meningkatkan kesejahteraan petani.Mengoptimalkan produktivitas dan indeks pertanaman, kata Anton, bisa meningkatkan produksi beras Indonesia sampai 50 persen. Di Vietnam, misalnya, subsidi pupuk ditiadakan.Akan tetapi, dukungan infrastruktur pertanian ditingkatkan. ***(mas-kompas)
3

Activity (7)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ibnu Sahid liked this
Darsini Suharto liked this
Astri Arcturus liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->