Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
13Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
NASKAH AKADEMIK

NASKAH AKADEMIK

Ratings: (0)|Views: 817 |Likes:

More info:

Published by: Multatuli Naik Perahu Layar on Jul 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/27/2012

pdf

text

original

 
NASKAH AKADEMIKDASAR ILMIAH DAN POKOK-POKOK PIKIRANPENYUSUNANRANCANGAN UNDANG-UNDANG SISTEMPENYULUHAN PERTANIAN
BAB I
 
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pertanian merupakan sektor yang sangat penting dalamperekonomian nasional. Oleh karena itu, pembangunan ekonominasional abad ke 21 masih akan tetap berbasis pertanian secara luas.Namun demikian, sejalan dengan tahapan-tahapan perkembanganekonomi maka kegiatan jasa-jasa dan bisnis berbasis pertanian jugaakan semakin meningkat, dengan kata lain kegiatan agribisnis akanmenjadi salah satu kegiatan unggulan pembangunan ekonominasional dalam berbagai aspek yang luas.Pembangunan pertanian ke depan diharapkan dapat memberikontribusi yang lebih besar dalam rangka mengurangi kesenjangandan memperluas kesempatan kerja, serta mampu memanfaatkansemua peluang ekonomi yang terjadi sebagai dampak dari globalisasidan liberalisasi perkonomian dunia. Untuk mewujudkan harapantersebut diperlukan sumberdaya manusia yang berkualitas danhandal dengan ciri mandiri, profesional, berjiwa wirausaha,mempunyai dedikasi, etos kerja, disiplin dan moral yang tinggi sertaberwawasan global, sehingga petani dan pelaku usaha pertanian lainakan mampu membangun usahatani yang berdaya saing tinggi.Salah satu upaya untuk meningkatkan SDM pertanian, terutama SDMpetani, adalah melalui kegiatan penyuluhan pertanian. Tantangan pembangunan pertanian dalam menghadapi eraglobalisasi adalah kenyataan bahwa pertanian Indonesia didominasioleh usaha kecil yang dilaksanakan oleh 26 juta KK Tani yangmerupakan 51 % dari penduduk Indonesia, berlahan sempit,bermodal kecil dan memiliki produktivitas yang rendah. Kondisi inimemberi dampak yang kurang menguntungkan terhadap persaingandi pasar global. Oleh karena itu, diperlukan usaha khususpemberdayaan melalui pembangunan sistem penyuluhan pertaniannasional yang mampu membantu petani dan pelaku usaha pertanianlain untuk memperbaiki kehidupan dan penghidupannya sertameningkatkan kesejahteraannya.Penyuluhan pertanian sebagai bagian integral pembangunanpertanian sudah dilakukan sejak sebelum kemerdekaan Indonesia.Dalam pelaksanaannya, penyelenggaraan penyuluhan pertanianpada zaman Hindia Belanda menggunakan pendekatan atas perintahatau pendekatan dari atas (
top down
). Pemerintahan pendudukan Jepang masih menggunakan pendekatan dari atas, bahkan setelahkemerdekaan Pemerintah Indonesia masih juga menggunakanpendekatan dari atas, walaupun dalam perkembangannya kemudianmengalami berbagai modifikasi.Pengalaman menunjukkan bahwa penyuluhan pertanian diIndonesia telah memberikan sumbangan yang sangat signifikan padapencapaian dari berbagai program pembangunan pertanian. Sebagaicontoh, melalui program Bimbingan Massal (Bimas) penyuluhanpertanian dapat menghantarkan Bangsa Indonesia mencapaiswasembada beras pada tahun 1984, yang dilakukan melaluikoordinasi yang ketat antar instansi terkait tapi masih denganmenggunakan pendekatan dari atas yang dimodifikasi. Dengan caraini penyelenggaraan penyuluhan pertanian pada masa Bimas sudahmulai terintegrasi dengan baik.Keberhasilan penyuluhan pertanian yang demikianmenimbulkan anggapan bahwa penyuluhan pertanian yangdilaksanakan selama ini dilakukan dengan pendekatan
dipaksa,
 
terpaksa dan biasa
. Petani dipaksa untuk menerima teknologitertentu, sehingga petani terpaksa melakukannya, dan kemudianpetani menjadi biasa melakukannya, walaupun pada akhirnya petanimeningkat kemampuannya sehingga dapat meningkatkanproduktivitas dan produksi padi yang diusahakan sehingga Indonesiamencapai swasembada beras.Dalam era reformasi dan otonomi sekarang ini, pendekatandari atas tentunya sudah tidak relevan lagi, karena yang kita inginkanadalah bahwa petani dan keluarganya mengelola usahataninyadengan penuh kesadaran, bukan terpaksa, mampu melakukanpilihan-pilihan yang tepat dari alternatif yang ada, yang ditawarkanpenyuluh pertanian dan pihak-pihak lain. Dengan pilihannya itu,petani yakin bahwa dia akan dapat mengelola usahataninya denganproduktif, efisien dan menguntungkan serta berdaya saing tinggi.Dalam melakukan pilihan inilah, petani mendapatkan bantuan daripenyuluh pertanian dan pihak lain yang berkepentingan dalambentuk hubungan kemitrasejajaran, sehingga tidak terjadipemaksaan.Dari pengalaman-pengalaman di atas, kedepan penyelenggaraanpenyuluhan pertanian harus dapat mengakomodasikan aspirasi,harapan, kebutuhan, dan potensi serta peran aktif petani dan pelakuusaha pertanian lainnya. Oleh karena itu penyelenggaraanpenyuluhan pertanian harus menggunakan pendekatan partisipatif dengan didasari pada prinsip-prinsip pemberdayaan dandikembangkan mengacu pada Undang-undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah. Berdasarkan Pasal 11 ayat (3) jisPasal 13 ayat (4) dan Pasal 14 ayat (2) Undang-undang tersebut,urusan pertanian termasuk penyuluhan pertanian merupakan urusanpilihan, tetapi walaupun begitu mengingat pertanian merupakantulang punggung perekonomian nasional dan umumnya jugamerupakan tulang punggung ekonomi sebagian besar daerah(Provinsi dan Kabupaten/Kota), maka seyogyanya Provinsi danKabupaten/Kota menetapkan urusan pertanian menjadi urusanpertama yang akan dikembangkan di wilayahnya, seperti yangdilakukan oleh Pusat yang telah menetapkan pertanian sebagaisektor yang strategis dalam mengembangkan ekonomi Indonesiadengan melakukan revitalisasi pertanian.Penyelenggaraan penyuluhan pertanian akan berjalan denganbaik apabila ada persamaan persepsi dan keterpaduan kegiatanantara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota bahkan sampai ke tingkatDesa dalam satu sistem penyuluhan pertanian yang disepakatibersama dengan melibatkan petani, swasta dan pihak-pihak yangberkepentingan. Dalam kenyataannya sekarang, masing-masinginstansi berjalan sendiri-sendiri, sehingga penyelenggaraanpenyuluhan pertanian menjadi tidak produktif, tidak efektif dan tidakefisien. Penyuluhan pertanian dilaksanakan secara bersama-samaoleh Pemerintah, Provinsi dan Kabupaten/Kota, namun harus jelaskeserasian hubungan antar susunan pemerintahan tersebut dalampenyelenggaraannya.Para penyelengara penyuluhan pertanian melakukannyadengan persepsi, pendekatan dan sistem yang berbeda-beda, tidakterintegrasi karena tidak berdasarkan pada filosofi dan prinsip-prinsippenyuluhan yang sama. Hal demikian menjadikan penyelenggaraanpenyuluhan pertanian tidak efisien dan efektif, sehingga tidakmencapai tujuan dan sasaran yang telah ditentukan. Akhirnyapenyelenggaraan penyuluhan pertanian tidak dapat memberikandukungan terhadap tercapainya tujuan pembangunan pertanian baiksecara nasional maupun secara lokalita.

Activity (13)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Nu Kamit liked this
Hamid Arsyad liked this
Doni Sejaya liked this
Arif Firmansyah liked this
Azri Rasul liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->