Lintas Kota
3
Edisi 379 Tahun VII 26 Juli s.d. 1 Agustus 2010
Peningkatan harga paling menonjolterjadi pada komoditas sayur mayur,mencapai antara 30-40 persen daribiasanya. Bahkan untuk hargasayuran jenis cabai mengalamipeningkatan sekitar 60 persen.“Kenaikannya sulit diprediksi,berubah-ubah terus tiap harinya,”ujar Dadang Abdul Hamid (38), salahseorang pedagang di Pasar IndukGuntur, Garut, Senin dua pekansilam.Menurut dia, fluktuasinya hargabarang tersebut diakibatkan olehkurangnya antisipasi daripemerintah. Terbukti dari sistemdistribusi barang yang kerapmengalami keterlambatan.Akibatnya persediaan barang ditingkat pedagang kian menipis.“Kami terpaksa menaikkan hargakarena tidak ada pengiriman daripetani,” ujarnya.Namun, meski harga barangmelambung, tambah Dadang, parapedagang tidak berkeuntunganlebih. Soalnya, omzet penjualanbarang melorot drastis. Harga jualsekadar cukup untuk menutupiongkos angkut saja.Sebelum kenaikan harga, diamencontohkan, bisa menjual gulamerah sebanyak 2-3 ton per minggudengan harga Rp6.000 per kilogram.Setelah harganya naik menjadiRp10.000 per kilogram, hanyamampu menjual sebenyak 2 kuintalselama dua pekan. “Kenaikan hargaini juga berpengaruh terhadapmenurunnya daya beli masyarakat,”ujar Dadang.Kenaikan serupa terjadi padasejumlah komoditas lainnya sepertitelur. Telur yang semula dijualRp11.000/kg, kini dilepas pedagangRp14.000 hingga Rp15.000/kg.“Kami jadi pusing menjualnya,” kataHamid, pedagang grosir diKecamatan Ciasem, KabupatenSubang.Menurut dia kenaikan harga telurdiperkirakan berlanjut hinggamenjelang Ramadan mendatang.Pasalnya komoditas tersebut banyakdicari oleh kalangan ibu rumahKecemasan tidak tampak pada parapejabat yang terkait denganpengaturan masalah kebutuhanpokok. Ferry Sofwan Arif misalnya,menegaskan kenaikan hargabarang-barang masih dalam batastoleransi. Walaupun, Kepala DinasPerindustrian dan PerdaganganProvinsi Jawa Barat ini mengakuiharga produk tertentu seperti cabe,daging ayam, dan beras mengalamikenaikan yang cukup tinggi.“Namun harga cabai yang sempatdi atas Rp40.000/kg, kini sudahmenurun di kisaran Rp31.000-32.000,” tuturnya.Apalagi, menjelang bulan puasapada pertengahan Agustus, Ferrymengungkapkan, stok kebutuhanpokok masyarakat khususnya di Jawa Barat akan terpenuhi. Jadidiprediksi kenaikan hargakebutuhan pokok masih bisaditoleransi.Disperindag Jabar besertalembaga terkait, ujar dia, terusmelakukan koordinasi agarkebutuhan pokok masyarakat padabulan Puasa nanti tercukupi.Khusus untuk beras, jika mengalamikenaikan tinggi, Disperindag Jabarberkoordinasi dengan Perum BulogDivre Jabar siap melakukan operasipasar guna menekan permainanpara spekulan.Artinya Disperindag tidakberpangku tangan. Untukmemastikan kenaikan harga-hargakebutuhan pokok di Jawa Barat,tambahnya, Disperindag Jabar jugaterus memantau harga di empatpasar tradisional di Kota Bandung:Pasar Kosambi, Pasar Andir, PasarSederhana, dan Pasar Kiaracondong.Pasar ini dinilai menjadi repren-sentasi pasar yang ada di Jabar.Dikatakan, ada 19 jeniskebutuhan pokok masyarakat yangterus dipantau harganya, yaitu beras,gula pasir, minyak goreng, daging,telur ayam, susu kental manis dansusu bubuk, jagung pipilan, garamberyodium, tepung terigu, kacangkedelai, mi instan, cabe merah,bawang merah, ikan asin teri,kacang hijau, kacang tanah, ketelapohon, gas elpiji, dan semen.Ferry kembali menegaskan, hargakebutuhan pokok di atas umumnyamasih stabil. Kenaikan yang tinggiterjadi untuk komoditas cabai.Untuk daging ayam dan beraskenaikan harganya masih dalamtoleransi.Khusus menjelang Puasa,kebutuhan pokok dari komoditaspertanian diprediksi tercukupi.Soalnya kata Ferry, komoditaspertanian di sentra pertanian JawaBarat siap panen. Sedangkan stok
Saatnya Harga kePuncak Gunung
Harga kebutuhan pokok terus meroket. Di samping disodok kenaikan tarif dasar listrik sebelumnya, kenaikan harga juga dipicu oleh akan masuknya bulan Ramadandilanjutkan Lebaran. Maka, terjadilah kenaikan harga yang sempurna.
tangga maupun pengusaha kateringdan kue.Sementara itu, harga gula pasirnaik dari Rp8.000 menjadi Rp9.000/kg. “Harga gula juga diperkirakanakan terus bergerak naik,” ujarKomar, pedagang di Desa CilamayaHilir Blanakan, Kabupaten Subang.Dikatakan, harga komoditas yanghingga kini masih relatif stabil adalahterigu yang dijual pedagang Rp4.000/kg dan minyak goreng curah masihbertahan di kisaran harga Rp8.700/kg. “Yang memprihatinkan adalahharga beras yang tembus Rp5.500/kg. Padahal musim panen gadumasih lama,” ujar Euis, warga DesaSarengseng, Kecamatan Patokbesi.Merambah berasKenaikan harga bahan pangan juga merambah ke komoditas beras.Pantauan
Medikom
di pasartradisional Kabupaten Subangmenunjukkan harga berasmengalami kenaikan hampirRp1.000 per kilogramnya. Harga beras jenis IR62 naik dari Rp8.500 menjadiRp9.500 per kilogram. IR 64 dijualmenjadi Rp6.500 dari Rp6.100 perkilogram. Beras ketan naik dariRp7.900 menjadi Rp8.600 perkilogram.Sejumlah beras kualitas tinggimengalami kenaikan cukup besar.Beras Pandanwangi naik dariRp6.500 menjadi Rp7.200 perkilogram. Sedangkan jenis berasMuncul, naik dari Rp5.300 menjadiRp6.000 per kilogram.Kenaikan harga beras bukan sajadikeluhkan pembeli, tapi juga parapedagang di pasar. Keduabelah pihaksama-sama merasa dirugikandengan situasi itu. Pedagangterbebani dengan kenaikan semua jenis beras, karena omzet menurundan sepinya pembeli.
Kendali di pemerintah
Sikap pedagang yangmenyalahkan pemerintah mendapatdukungan dari Prof Dr Ina Primiana.Pakar ekonomi dari Unpad Bandungtersebut, menegaskan, seharusnyapemerintah tidak membebanimasyarakat. Ia menilai momenmenaikkan tarif dasar listrik (TDL) yang tidak tepat menjadi salah satubiang permasalahan. Mestinyapemerintah mengatur harga sebelumada wacana kenaikan dandiperhitungkan sejauhmanadampak terhadap masyarakat.“Wacana TDL naik menjadipemicu utama di samping adaoknum yang diduga merusakpasokan sehingga sembako menjadiberkurang di pasaran,” ujar KetuaISEI Cabang Bandung, Koordinator Jabar ini kepada
Medikom
usaipenutupan acara ISEI di Hotel SavoyHomann, Kamis (22/7). Jadi, kata Ina, ketidakjelianpemerintah menanggapi kenaikan TDL yang berimbas pada hargasembako menggoncangkan situasiperekonomian. Seharusnyapemerintah memiliki catatan ketikaPLN akan menaikkan tarif,pemerintah harus sigapmenentukan harga sembako danberapa harga kenaikannya.“Pemerintah harus mensosi-alisasikan kepada masyarakat berapaharga sembako di awal dan berapakenaikannya sehingga pedagangtidak sembarangan menentukanharga,” ujarnya.Selain itu, tambah ibu berjilbabini, sebenarnya harga bisa stabil baikmenjelang Puasa maupun Lebaran.Asalkan, pasokan cukup dandistribusinya bagus. “
Demand
meningkat dan
supplay
-nya cukupmaka tidak ada kenaikan harga danpemerintah harus membantu!”tegasnya.Bila peran pemerintah tidakmaksimal, Ina mengkhawatirkansulitnya kemungkinan harga-hargaakan kembali normal. Karena,semenjak dulu di Indonesia belumpernah mengalami penurunanharga.“Melihat situasi saat ini sepertinyatidak mungkin harga turun, karenatidak ada dalam sejarahnya.Kalaupun turun tidak akan sebesarseperti kenaikan harga,” ujarnya.
(Wulan, Aloy, L Butar Butar, Dadan)
Penangkal Itu Bernama Operasi Pasar
beras juga tercukupi, apalagi PerumBulog sudah menjamin ketersediaanberas untuk beberapa bulan kedepan.Sedangkan kebutuhan pokokmasyarakat yang berasal dari pabrik juga dinilai bisa mencukupikebutuhan masyarakat. Saat inisistem transportasi untukmengangkut logistik ke berbagai wilayah Jabar berjalan lancar.Kepala Dinas PertanianKabupaten Garut Tatang Hidayat juga membantah bila kenaikanharga sayuran di tingkat pedagangdiakibatkan oleh kelangkaanbarang. Menurutnya, produksisayuran selama satu tahun di wilayahnya rata-rata mencapaisekitar 620.000 ton. Hasil produksipertanian setiap tahunnyamengalami surplus.Dia mencontohkan, dalam satutahun produksi cabai mencapai 80-90.000 ton. Sekitar 40 persennyadikonsumsi oleh masyarakat Garut,sedangkan sisanya disuplai ke luardaerah. “Tidak mugkin langka, inihanya hukum pasar saja,” ujarnya.Menurut Tatang, kenaikan harga-harga sayuran merupakan hal yangbiasa. Apalagi menjelang peringatanhari-hari besar keagamaan.Karennya Tatang memprediksi hargasayuran seperti cabai akan terusmengalami kenaikan selama duabulan ke depan menjelang Hari RayaIdulfitri nanti.Sementara, Dinas Perindustriandan Perdagangan KabupatenSubang, langsung melakukan aksidengan menggelar inspeksimendadak ke pasar tradisional. Tujuannya menekan kenaikanharga kebutuhan bahan pokok yangtak terkendali. Meski harganya terusmeroket, Disperindag menjamin stokkebutuhan bahan pokok amanhingga sebulan ke depan.Di Ciamis, Perum Bulog Sub DriveCiamis menyatakan siap melakukanoperasi pasar di kawasan Priangan Timur. Pihaknya juga telahmenerima rekomendasi untukmenggelar operasi pasar dari MenteriPerdagangan RI.“Kami telah menerimarekomendasi Menteri Perdagangan RIterkait harus mengadakan operasipasar yakni beras. Namun untukmelakukannya diwajibkan kepaladaerah dalam hal ini bupati/ walikota merekomendasikannyakepada Bulog,” terang Humas BulogSub Drive Ciamis, Dadi Hadipriatna,kepada wartawan, Selasa (20/7).Menurut Dadi, pihak Bulog SubDrive Ciamis yang meliputi wilayahkerja Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Ciamis, danBanjar, telah siap melakukanoperasi pasar di lima kabupatentersebut. Asalkan, bupati/wali kotamelalui dinas perdaganganmemberikan rekomendasinya kepihak Bulog.“Namun, sampai saat ini, darilima kabupaten/kota belum adasatu pun yang mengajukandigelarnya operasi pasar,” jelasnya.Diakui Dadi, semenjak memasukiawal Juli, beras yang masuk bulogse Priangan Timur drastis menurun.Dari awalnya per hari sebanyak 500ton, saat ini hanya mencapai 250ton. Dengan begitu sudah jelaspasokan beras ke Bulog se Priangan Timur berkurang sebanyak 50 persen.Akibatnya, harga penjualan Bulognaik senilai Rp272, dari awalnyapenjualan Bulog Rp5.500/kg, saatini menjadi Rp5.775/kg.“Namun, meskipun pemasukanberas ke Bulog mengalamipenurunan drastis, tapidikarenakan kami mempunyai stokcadangan beras sebanyak 6.500 ton,Bulog tidak akan keteteran melayanikeperluan beras di masyarakat,”tegasnya seraya mengatakan stoktersebut masih bisa untukmencukupi persediaan masyarakatPriangan Timur sampai akhir 2010.Dadi menilai, penyebab utamakenaikan harga beras adanyabeberapa daerah produsen padi yangmengalami fuso.Di tempat terpisah, KepalaDisperindag Kabupaten Ciamis DrsDucrahman, mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akanmengadakan rapat di tingkatprovinsi. Pada rapat itu, akandibahas pelaksanaan operasi pasar.“Keputusan akan dilakukanoperasi pasar atau tidaknya, itu akanada keputusan di rapat koordinasiDisperindag tingkat Provinsi diBandung,” tegasnya.
(MbayakGinting, Heru, Asep Aloy, Dadan)
Melambungnya harga-hargakebutuhan pokok dirasa sangatmemberatkan kaum ibu. Wajar saja jika belakangan ini, para ibu rumahtangga dibuat rungsing dalammengatur uang belanja.Apalagi bagi keluargaberpenghasilan pas-pasan, kenaikanharga-harga kebutuhan pokokseolah mencekik leher mereka. Atun(39) dan Nani (48) boleh jadimerepresentasikan kaum ibu rumahtangga dengan
income
sekadarnya.Kedua warga sebuah desa dikawasan sejuk Bandung timurtepatnya di Kelurahan Pasirwangi,Kecamatan Ujung Berung, KotaBandung ini, mengail rezeki denganmembuka jongko nasi berukuran 3x 2 meter. Mirip-mirip warteg dipinggir jalan.Bila dirata-ratakan, penghasilanmereka sebesar Rp35.000 per hari.“Itu kalau
rame
. Kalau sepi, palingRp20.000,” tutur Nani. Belum lagi,timpal Atun, “Kita harusmenyisihkan untuk sewa jongkoRp500.000 per bulan. Jadi, kataAtun, untuk kebutuhan bumbudapur saja, sangat beratmemikirkannya. Apalagi sekaranganak masuk sekolah dan sembakopada naik.Sepertinya, mereka berduabernasib kompak. Baik Atunmaupun Nani, bersuamikan lelakikorban PHK tanpa pesangon daripabrik rajutan. Bedanya, suami Atunkini berprofesi sebagai kulibangunan, sedangkan suami Nanimenjadi tukang ojek. Dua profesiberbeda namun berpenghasilansama tidak pastinya.Perbedaan lainnya, Atun barumemiliki tiga orang anak, sedangkanNani sudah beranak empat yangsudah duduk di bangku SD danSMP. Sedikit nasib baik dirasakanNani, karena anak tertuanya sudahdinikahi orang sehingga mengurangibeban biaya sehari-hari. Anaknyatersebut kini berprofesi sebagaitukang cuci. Dengan penghasilanRp25.000 sehari dirasakan Nanicukup lumayan bisa membantu-bantu meringankan beban.Namun salutnya, kondisi sepertiitu, tidak meluruhkan asa mereka.
Ferry Sofwan Arif
Dirungsing Tarif Sembako
Di tengah harga sembako yangmelambung tinggi sepercik harapanke depan masih terpancang: suatusaat sang anak dapat suksesmengangkat keluarga dari cengkramlingkaran kemiskinan.Karenanya, ketidaknyamananhidup yang mereka jalani, seolahterbayar dengan anak-anak mereka yang masih bisa mengenyam bangkusekolah hingga saat ini.Untuk jangka pendek, keinginandan harapan dari Kartini Kartinitangguh ini sederhana. Merekahanya ingin agar harga sembako takmelambung. “Biar biaya hidup tidakberat,” ujar Atun serayamenambahkan, kalau bisa ketemupresiden akan disampaikan,kenaikan harga sembako betul-betulmembuat kelabakan.
(Wulan)
BANDUNG BARAT,
Med ik om –
Memasukiusia ke-3 tahun,Kabupaten BandungBarat belummenunjukkanpertumbuhanpembangunan yangsignifikan. Malahsebaliknya, terkesanada penurunan.Contohnya dalamsektor saranatransportasi, masihbanyak kondisi jalan di wilayah KabupatenBandung Barat yangrusak.
Sarana Tranportasi Bandung Barat Diharapkan Memadai
“Apakah ini tujuan daripemekaran?” tutur salah seorangtokoh masyarakat Kecamatan CililinEdi kepada
Medikaom
baru-baru ini.Menurutnya, sarana teranpor-tasi, pelayanan kesehatan danpendidikan sampai saat ini masihbelum ada peningkatan. Yang palingdirasakan masyarakat BandungBarat adalah sarana transportasi.Kerusakan jalan jelas merugikanmasyarakat bahkan nyawa jaditaruhan, akibat sarana transportasi yang belum memadai.Hal serupa diungkapkan Asep, warga Kecamatan Sindangkerta.Kepada
Medikom
, ia mengatakan,sarana transportasi memangsebagian kondisinya rusak berat.Ironisnya sejauh ini belum adaupaya dari Pemkab Bandung Baratuntuk memperbaiki.“Jadi, kalau engga mampu kenapaharus mekar,” tandas Asep dengannada bertanya.Padahal, tujuan dari pemekarandi antaranya meningkatkanpelayanan kepada masyarakat agarlebih maksimal, dan meningkatkanpertumbuhan ekonomi dimasyarakat agar lebih sejahtera.Kepala Dinas Binamarga danPengairan Kabupaten BandungBarat Ir Giat Sugiawan melaluitelepon selularnya mengatakan, saatini pihaknya baru selesaimengadakan tender untukpembangunan sarana teransportasi(jalan). Rencananya bulan Agustussudah bisa dilaksanakanpembangunan.Giat menambahkan, untukpembangunan jalan dianggarakanRp30 miliar yang bersumber daridana APBD kabupaten, bantuandari APBD provinsi dan pusat. Saatini pihak dinas juga sedangmengadakan tender untukpenerangan jalan umaum (PJU).Anggota DPRD KabupatenBandung Barat dari Komisi C, HeriHilmasyah saat ditemui dikediamannya, Selasa (20/7)mengatakan, utuk keberhasilanpembangunan di Bandung Baratperlu peninjauan kembali di segalabidang. Salah satu di antaranyadalam penempatan SKPD harussesuai dengan keahlianya masing-masing. Pihak pemkab pun mestimengedepankan kesejahteraanmasyarakat dan memberikanpelayanan yang lebih maksimal lagididukung dengan ketransparanandalam penggunaan anggaran.Heri menegaskan, perlu adanyatarget dari masing-masing SKPD.Setelah ada target, jalankan sesuaiatuaran perundang-undangan yangberlaku.“Jangan sampai di sisi lainanggaran minim, tapi dalampelaksanaannya bayak yang bocor.Salah satu pembebasan tanahuntuk pembanguan kator pemda.Dari uang yang dianggarkan untukpembebasan tanah sebesar Rp44miliar, baru dipakai Rp13 miliarsudah ada masalah yangbertentangan dengan peraturan yang berlaku seperti
mark up
harga,”ungkapnya.Heri menambahkan, pada tahunini anggaran Kabupaten BandungBarat baru mencapai Rp800 miliardan itu jelas belum cukup. Untukpembangunan sarana transportasisaja, diperlukan anggaran kuranglebih Rp300 miliar. Dengan anggaranAPBD Kabupaten Bandung Barat yang baru mencapai Rp800 miliar, jelas masih devisit. Idealnya APBDBandung Barat sekitar Rp3 triliun.Dikatakan, saat ini pihak DPRDKabupaten Bandung Barat sedangmenyusun Perda Retribusi untukmendongkrak PAD. Karena sejauhini Bandung Barat masihmenggunakan Perda KabupatenBandung.Ia mengharapkan agarpemerintah fokus dalamperencanaan pembangunan danbagi para SKPD yang tidakkonsekuen dalam perencanaanpembangunan, pihak bupati harusbisa memberikan sanksi yang tegas.
(K Fauzi)BANDUNG,
Medik om
–Pemkot Bandung mensyaratkan setiap kendaraan yang melakukan perpanjangan surat tanda nomor kendaraan (STNK)harus dinyatakan lulus uji emisi gas buang. Hal ini bertujuanmengurangi tingkat pencemaran udara yang disebabkan emisi gasbuang kendaraan bermotor.Demikian diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan Kota BandungPrijo Subandiono kepada wartawan, saat memberikan layanan ujiemisi secara gratis di sekitar kantor PT INTI, Jln Moh. Toha Bandung,pekan lalu.Prijo menjelaskan, ketentuan ini sesuai dengan Peraturan MenteriNegara Lingkungan Hidup No 5/MNLH/8/2006 tentang Ambang BatasEmisi Gas Buang Kendaraan Bermotor. Selain itu, sejalan denganPerda Kota Bandung No 2/2008 tentang Penyelenggaraan Perhubungandi Kota Bandung. Tingkat pencemaran akibat transportasi kendaraan bermotor,lanjutnya, merupakan angka terbesar sebelum kebakaran hutan,rumah tangga, dan industri. Karena itu, tingkat pencemaran akibatemisi gas buang kendaraan bermotor harus bisa ditekan dan dikurangi.Di Kota Bandung, katanya, saat ini terdapat sekitar 1.131.406kendaraan bermotor, yang terdiri atas 808.768 kendaraan bermotorroda dua, 285.635 kendaraan pribadi, serta 45.000 kendaraan umum,bus, dan truk. Dari jumlah tersebut, tingkat pencemaran kendaraanbermotor dan kendaraan umum mencapai 21%, sedangkan kendaraanpribadi 48%.Prijo menambahkan, zat-zat pencemar gas buang kendaraanbermotor terdiri atas karbondioksida, hidrokarbon, nitrogenoksida,timah hitam, dan sulfuroksida. Pemerintah, mengendalikanpencemaran dengan beberapa cara, seperti penghijauan ataupenanaman pohon, pengendalian pencemaran udara, danmemperbaiki struktur bahan bakar yang digunakan.Cara lain yang diterapkan adalah memberlakukan setiap perkantoranuntuk menyeleksi kendaraan yang memiliki emisi gas buang yang baik.Maksudnya, tambahnya, kendaraan bermotor yang parkir di kawasanperkantoran seperti Balai Kota wajib lulus emisi. Demikian pula dengantempat parkir di mal dan di jalan raya, harus membuat standar yangsama.“Terakhir dengan cara setiap penerbitan dan pengesahan SNTK wajiblulus emisi gas buang,” katanya.Prijo menambahkan, kebijakan wajib lulus uji emisi merupakankeputusan Kapolda Jabar dan merupakan pilot project pertama diIndonesia. Jika ini diterapkan, katanya, Kota Bandung atau JawaBarat yang pertama kali melakukan kebijakan ini.
(Dudi)
Perpanjangan STNK HarusLulus Uji Emisi Gas Buang
BANDUNG,
Med ik om
–Pemerintah Kota Bandung melalui DinasKebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dan unsur muspida sertapengusaha hiburan membentuk tim pembinaan usaha hiburan. Tim yang terdiri dari PHRI Kota Bandung H Momon AbdurochmanSE, Ketua Hiphi Barli Iskandar, unsur kejaksaan, tokoh agama,dan tokoh masyarakat diharapkan mampu menekan upaya-upayapemerasan yang dilakukan oknum-oknum tertentu yang selamaini kerap memanfaatkan pengusaha hiburan.Ketua Tim Pembinaan Usaha Hiburan yang juga Kepala DisbudparKota Bandung Priana Wirasaputra, usai rapat, menuturkan,sangkaan terhadap dunia usaha hiburan memang tetap ada. Namundi sisi lain, usaha hiburan harus dipertahankan dan jangan sampaidibinasakan. “Mereka harus dibina agar berusaha dengan baik tanpaharus melanggar aturan. Inilah fungsi tim yang dibentuk,” ujarnya.Priana mengungkapkan, tim pembinaan usaha hiburan jugamerupakan wadah agar usaha hiburan di Kota Bandung tetapberjalan. Pasalnya, usaha hiburan perlu dipupuk serta dibina agarbisa berkembang dan menunjang perekonomian kota. Bahkan disisi lain, usaha hiburan juga bisa memberdayakan dan menyeraptenaga kerja. Saat ini, PAD Kota Bandung dari sektor pariwisatamencapai 60%, termasuk di dalamnya usaha hiburan.Lebih lanjut Priana menambahkan, tim pembinaan usahahiburan secara legalitas sudah disetujui dan dibentuk Wali KotaBandung berdasarkan SK No 556.322/ Kep.439-Disbudpar/2010tertanggal 23 Juni 2010. Tugas tim ini adalah melakukan pembinaan,penyuluhan, pengendalian, dan pengawasan tempat usaha hiburandi Kota Bandung.Diungkapkan, saat ini pihaknya tidak menutup mata terhadaptindakan oknum pengusaha hiburan di Kota Bandung yangmelanggar peraturan dalam menjalankan usaha. Hal itu harusditertibkan karena jika terus-menerus dibiarkan akan menimbulkanefek lain.Namun yang menjadi masalah, tambahnya, dalam penertibanitu terkadang ada oknum-oknum tertentu yang menakut-nakutidan menjadikan pengusaha hiburan sebagai objek pemerasan.“Memang selama ini belum ada satu tim untuk pembinaan usahahiburan. Yang ada masing-masing instansi melakukan pembinaansilih berganti. Dan yang lebih parah, ada oknum-oknum yangmenakut-nakuti pengusaha dan melakukan pemerasan. Mudah-mudahan dengan adanya tim ini situasi menjadi lebih kondusif,”ujarnya.Priana menilai perlu ada sinergi antarinstansi untuk melakukanpembinaan. Artinya, tim tersebut merupakan salah satu wadahuntuk pembinaan. “Perlu disatukan karena baik kepolisian,kejaksaan, Satpol PP adalah instansi pemerintah. Coba kitabayangkan kalau banyak yang masuk, dampaknya jelas akanmengganggu pengusaha hiburan dan tidak memberikan rasa amankepada mereka,” ujarnya seraya menambahkan, kategori yangtermasuk usaha hiburan, karoke, karoke keluarga, diskotek, boling,spa, sauna, biliar, klub malam, bioskop, dan gelanggang permainanmekanik.
(Dudi)
Pemkot Bentuk TimPembinaan Usaha Hiburan