2
diperkuat dengan struktur sosial dalam masyarakat yang menempatkanperempuan sebagai
konco-wingking
, teman belakang.
2
Dalam konteks tersebut, perempuan selalu hidup diantara ruang-ruangdi belakang rumah, di dapur dengan berbagai aktifitas seperti memasak,mencuci dan menyetrika, bahkan “
melayani suami
“.
Pelayanan terhadap suamimerupakan “jihad yang paling mulia“. Bahkan dalam berbagai konteksperempuan kemudian menjadi “senang“ di bawah kuasa laki-laki. Hal inidiperkuat oleh pesan agama yang disampaikan oleh kaum patriarkhal bahwa jihad terbesar perempuan adalah melayani laki-laki. Justifikasi agama yangbersumber dari pemaknaan yang keliru terhadap teks-teks agama, al-Qur’an,menyebabkan perempuan menjadi “korban“.
3
Realitas ini terjadi pasca kenabian dimana perempuan ditempatkansebagai bagian dari ruang publik yang tidak berkaitan dengan tamu (publik).Berbagai kenyataan historis masa kenabian, mulai dari munculnya Khadijahsebagai pebisnis perempuan, Aisyah sebagai perowi beribu-ribu hadits,maupun Fatima sebagai bagian dari perjuangan Islam, telah “terdistorsi“ olehsejarah patriakhal.
4
Setelah periode ini perempuan diposisikan sebagaisubordinat dari berbagai kepentingan, termasuk penafsiran agama yang“dipelintir“ demi kepentingan sesaat. Perempuan seolah tidak memilikiruang personal yang asasi untuk mengekpresikan kebutuhan spiritualitasnya.
2
Mansour Faqih, "Posisi Perempuan Dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender"dalam
Membincang Feminisme: Diskursus Gender Pespektif Islam,
(Surabaya; Risalah Gusti, 1996),hlm. 47
3
Masdar F. Mas'udi, "Perempuan di Lembaran Kitab Kuning
"
dalam
MembincangFeminisme
., hlm. 167-180.
4
Rasulullah memperlakukan perempuan dan laki-laki secara egaliter, ini dibuktikandari upaya Beliau untuk menjadikan kaum perempuan sebagai media transformasipendidikan. Dalam beberapa even majelis ilmu perempuan tanpak hadir bersama laki-laki.Terdapat beberapa metode pelacakan keum perempuan dalam ilmu pengetahuan khususnyapenyampaian hadis,
pertama,
hadir dalam majelis khusus dan umum Nabi seperti khotbahNabi pada 'iedul Fitri dan Adha,
kedua,
mendatangi rumah Nabi secara langsung,
ketiga,
bertemu Nabi di jalan,
keempat,
menyaksikan Nabi ketika berbicara dengan orang banyak,
kelima,
berkumpul antara kaum laki-laki dan kaum perempuan seperti pada
haji wada'.
Lihat,Kadarusman.
Agama, Relasi Gender dan Feminisme,
(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005) hlm. 55