Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Aspek Feminitas Dalam Tarekat

Aspek Feminitas Dalam Tarekat

Ratings: (0)|Views: 333 |Likes:
Published by s4f11sn

More info:

Published by: s4f11sn on Jul 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

 
ASPEK FEMINITAS DALAM TAREKATNAQSYABANDIYAH MUZHARIYAH DI MADURAAchmad Mulyadi, M.Ag 
Dosen STAIN Pamekasan
Abstrak
Wanita sering diidentifikasi sebagai seks kedua. Klaim historis seperti inidiperkuat oleh kultur sosial dari masyarakat yang menempatkan wanita di“belakang”. Wanita ditempatkan sebagai sub-ordinat dari pelbagai kepentingantermasuk penafsiran agama untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Wanitasepertinya tidak memiliki wilayah personal untuk mengekspresikan kebutuhanspiritualnya. Pertanyaannya adalah bagainama wanita mengekspresikanspiritualitasnya? Bagi wanita Madura kebutuhan spiritual merupakan bagiandari penguatan individual dan komunal yang tidak bisa dipandang sebelah mataoleh penafsiran keagamaan. Ekspresi spiritual ini dapat dilihat dalam TarekatNaqsyabandiyah Muzhariyah. Karena tarekat ini memiliki mursyid wanita yangmemiliki pengaruh luas bagi pengikutnya, baik pria maupun wanita, tentunyaberlawanan dengan pemahaman umum masyarakat Madura yang menempatkankyai lebih tinggi derajatnya dari santri. Kyai senantiasa diasosiasikan dengan pria, sementara santri adalah wanita. Untuk itu, kemunculan mursyid wanitadalam tarekat di masyarakat Madura merupakan fenomena baru yang memilikidampak signifikan terhadap jalan bagaimana ekspresi keagamaan dipahamikhususnya yang berkenaan dengan posisi wanita di masyarakat Madura.
Kata Kunci:
  Aspek Feminitas, Puncak Spiritualitas, Silsilah dan Tarekat Naqsyabandiyah.
 
A. PENDAHULUAN
PEREMPUAN seringkali diidentikkan sebagai makhluk kedua.
1
Dosasejarah Adam dan Hawa selalu menjadi klaim bahwa perempuan merupakanpenggoda bagi keterjerumusan kaduanya dalam dosa. Klaim sejarah tersebut
1
Penafsiran yang menyatakan bahwa Hawa dicipta dari tulang rusuk Adammemperkuat pemikiran tentang perempuan sebagai mahluk kedua (
the second sex).
Penafsirantersebut berasal dari surat an-Nisa' ayat
 
1 yang dipahami bahwa
nafs
adalah
Adam
dan
zaujaha
adalah
Hawa
, sehingga muncul pandangan bahwa perempuan merupakan bagian dari laki-laki. Lihat,
.
Mufidah,
Paradigma Gender,
(Malang; Bayumedia, 2004), hlm. 29
 
 
2
diperkuat dengan struktur sosial dalam masyarakat yang menempatkanperempuan sebagai
konco-wingking
, teman belakang.
2
 Dalam konteks tersebut, perempuan selalu hidup diantara ruang-ruangdi belakang rumah, di dapur dengan berbagai aktifitas seperti memasak,mencuci dan menyetrika, bahkan “
melayani suami
“.
 
Pelayanan terhadap suamimerupakan “jihad yang paling mulia“. Bahkan dalam berbagai konteksperempuan kemudian menjadi “senang“ di bawah kuasa laki-laki. Hal inidiperkuat oleh pesan agama yang disampaikan oleh kaum patriarkhal bahwa jihad terbesar perempuan adalah melayani laki-laki. Justifikasi agama yangbersumber dari pemaknaan yang keliru terhadap teks-teks agama, al-Qur’an,menyebabkan perempuan menjadi “korban“.
3
 Realitas ini terjadi pasca kenabian dimana perempuan ditempatkansebagai bagian dari ruang publik yang tidak berkaitan dengan tamu (publik).Berbagai kenyataan historis masa kenabian, mulai dari munculnya Khadijahsebagai pebisnis perempuan, Aisyah sebagai perowi beribu-ribu hadits,maupun Fatima sebagai bagian dari perjuangan Islam, telah “terdistorsi“ olehsejarah patriakhal.
4
Setelah periode ini perempuan diposisikan sebagaisubordinat dari berbagai kepentingan, termasuk penafsiran agama yang“dipelintir“ demi kepentingan sesaat. Perempuan seolah tidak memilikiruang personal yang asasi untuk mengekpresikan kebutuhan spiritualitasnya.
2
Mansour Faqih, "Posisi Perempuan Dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender"dalam
 Membincang Feminisme: Diskursus Gender Pespektif Islam,
(Surabaya; Risalah Gusti, 1996),hlm. 47
 
3
Masdar F. Mas'udi, "Perempuan di Lembaran Kitab Kuning
"
dalam
 MembincangFeminisme
., hlm. 167-180.
 
4
Rasulullah memperlakukan perempuan dan laki-laki secara egaliter, ini dibuktikandari upaya Beliau untuk menjadikan kaum perempuan sebagai media transformasipendidikan. Dalam beberapa even majelis ilmu perempuan tanpak hadir bersama laki-laki.Terdapat beberapa metode pelacakan keum perempuan dalam ilmu pengetahuan khususnyapenyampaian hadis,
 pertama,
hadir dalam majelis khusus dan umum Nabi seperti khotbahNabi pada 'iedul Fitri dan Adha,
kedua,
mendatangi rumah Nabi secara langsung,
ketiga,
bertemu Nabi di jalan,
keempat,
menyaksikan Nabi ketika berbicara dengan orang banyak,
kelima,
berkumpul antara kaum laki-laki dan kaum perempuan seperti pada
haji wada'.
Lihat,Kadarusman.
 Agama, Relasi Gender dan Feminisme,
(Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005) hlm. 55
 
 
 
3
Lalu, bagaimana perempuan mengekspresikan spiritualitasnya? Bagiperempuan Madura kebutuhan spiritual tidak bisa dipadamkan hanyadengan penafsiran yang sempit. Perempun juga terlibat menjadi bagian dariproses pemberdayaan secara individual dan masyarakat. Ekspresikeberagamaan ini terlihat dalam Tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah diMadura.Ada tiga tarekat yang tersebar luas di Madura, yaitu Tarekat Qadiriyahwa Naqsyabandiyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Tijaniyah. Yangpaling belakangan, Tarekat Tijaniyah, telah meraih banyak pengikut diMadura, sedangkan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan TarekatNaqsyabandiyah lebih awal bersaing ketat merebut kesetiaan pendudukMadura. Walaupun demikian, tampaknya tidak pernah ada syaikh tarekatQadiriyah wa Naqsyabandiyah yang ternama di Madura, kecuali kiai dariRejoso (Jombang) yang merupakan keturunan Madura, yang menyebarkanpengaruhnya ke seantero pulau Madura melalui badal-badal beliau. SetelahKiai Mustain Romli bergabung ke Golkar, tarekat ini pelan-pelan kehilanganpengaruh di Madura, walaupun banyak pengikutnya mengalihkan kesetiaanmereka kepada kholifah Kiai Romli yang ada di Surabaya, yaitu Kiai Usman.
5
 Pada saat itu hanya tarekat Tijaniyah dan tarekat Naqsyabandiyah yangberpengaruh di Madura.Di antara dua tarekat tersebut, tarekat Naqsyabandiyah yang memilikipengaruh yang lebih dominan. Tarekat Naqsyabandiyah sudah lahir diMadura sejak akhir abad kesembilan belas. Penganut Naqsyabandiyah diMadura tidak mempunyai hubungan langsung dengan tarekatNaqsyabandiyah di Jawa sebab orang Madura mengikuti cabang lain daritarekat ini, yaitu tarekat Naqsyabandiyah Muzhariyah. Tarekat tersebutmenyebar ke Madura berkat upaya Kiai Abdul Azim Bangkalan, seorangyang telah lama bermukim di Mekkah, telah menjadi khalifah Muhammad
5
Martin van Bruinessen,
Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia,
( Bandung, Mizan, 1992, hlm.185-186)
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->