Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
22Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peranan Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Arsitektur Joglo Ponorogo)

Peranan Arsitektur Tradisional Jawa Dalam Pembangunan Berkelanjutan (Studi Kasus Arsitektur Joglo Ponorogo)

Ratings: (0)|Views: 4,180|Likes:
Published by herry potter
disajikan pada : SEMINAR NASIONAL Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan FTSP - ITN MALANG,15 JULI 2010
disajikan pada : SEMINAR NASIONAL Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan FTSP - ITN MALANG,15 JULI 2010

More info:

Published by: herry potter on Jul 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2013

pdf

text

original

 
 
1
SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010
Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan
PERANAN ARSITEKTUR TRADISIONAL JAWA DALAM PEMBANGUNANBERKELANJUTAN (STUDI KASUS ARSITEKTUR JOGLO PONOROGO)
Gatot Adi S
gatotadisusilo@gmail.comDosen Program Studi Arsitektur ITN- Malang
 Abstrak 
 Arsitektur tradisional di wilayah nusantara hadir telah mempertimbangkan kondisi alamtropis lembab, arsitektur tradisional tumbuh kembang di dalam alam yang menghijaupenuh dengan tetumbuhan, dan kehidupan menyatu di dalamnya. Selama inikeberlanjutan arsitektur tradisional, telah dibentuk dan didukung oleh nilai-nilai tradisiyang tumbuh di masyarakat. Demikian juga dengan arsitektur tradisional Jawa dapatbertahan tumbuh bersamaan dengan nilai tradisi masyarakat Jawa dengan berbagai tipebangunannya.Penelitian
Joglo 
Ponorogo dalam penjelajahannya ditemukan beberapa hal yangmempertanyakan keberlanjutannya
 joglo 
Ponorogo khususnya dan arsitektur tradisionalJawa pada umumnya. Rangkaian tipe bangunan membentuk fungsi bangunanmenunjukkan bahwa ini bukanlah ciri umum arisitektur tradisional nusantara, demikian juga dengan kenyamanan dan penerangan di dalam ruangnya. Dengan ketersediaanbahan alam yang semakin menipis, tidak mungkin untuk menciptakan kembali arsitekturtradisional Jawa sebesar ini, yang ada sekarang ini hanyalah sebuah warisan obyek arsitektur yang dapat dimanfaatkan.Bagaimana menyikapi dan memanfaatkan arsitektur tradisional Jawa untuk keberlanjutan pembangunan sekarang ini. Sementara itu beraneka aliran warna danteknologi arsitektur terus mengalir deras dari dunia Barat.
Kata kunci:
arsitektur tradisional Jawa, keberlanjutan, metode.
PENDAHULUAN
Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu konsep pembangunan yang menekankanaspek lingkungan dalam pertimbangannya. Konsep ini telah dikenal di berbagai negara didunia, yang isunya berkembang sejak awal tahun 1980-an. Pandangan tentang pemikiran initumbuh semakin pesat akhir-akhir ini seiring dengan hadirnya isu tentang pemanasan globalyang menyebabkan kenaikan suhu bumi. Kemudian berakibat pada perubahan iklim,pencairan kutub yang berakibat naiknya permukaan laut, dan sebagainya.Pemikiran ini mengundang hadirnya beberapa pemikir untuk berfikir keras menurut disiplinmasing-masing ilmunya bagaimana melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.Demikian juga dalam keilmuan arsitektur, muncul beberapa pemikiran bagaimanamenciptakan arsitektur yang berkelanjutan, bagaimana arsitektur yang tidak menimbulkanpengaruh pencemaran lingkungan, bagaimana arsitektur yang tidak menimbulkanpemanasan global, bagaimana arsitektur yang dapat memanfaatkan kondisi alamsemaksimal mungkin, dan lain sebagainya.Makna istilah “tradisional” berasal dari kata tradisi =
trader 
<latin> yang maknanya adalahmewariskan, yaitu memberikan sesuatu yang berasal dari generasi sebelumnya ke generasiberikutnya. Yang akhirnya menjadi adat istiadat, kebiasaan, sebuah riwayat kuno, atauturun temurun. Tradisional dalam konteks arsitektur adalah suatu kegiatan “pewarisan” 
 
 
2
SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010
Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan
arsitektur dari generasi sebelumnya kegenerasi berikutnya yang tertanam dalam bentuk adat istiada, kebiasaan yang turun temurun. Pewarisan dalam konteks ‘arsitektur tradisional’ ada dua macam yang pertama adalah dalam bentuk ‘prosesnya’, petunjuk-petunjuk bagaimana mewujudkan arsitektur. Yang kedua adalah obyek arsitektur (produknya)sebagai benda antik warisan budaya yang layak dilestarikan. Apabila obyek arsitekturnyaadalah arsitektur tradisional Jawa, maka pewarisannya adalah bagaimana proses membuatarsitektur Jawa. Sedangkan obyeknya adalah arsitektur tradisional Jawa yang ada sekarangini yang sedang termakan usia.Dari hal ini muncul pertanyaan, bagaimana posisi arsitektur tradisional Jawa dalam kontekspembangunan berkelanjutan sekarang ini. Bagaimana arsitektur tradisional Jawamengantisipasi pengaruh lingkungan dan iklim yang merupakah salah satu indikasi terhadapberkelanjutan.
 ARSITEKTUR JAWA TERHADAP IKLIM TROPISa.
 
Iklim Tropis lembab
1
.
 Arsitektur tradisional Jawa tumbuh kembang di daerah Jawa Tengan, Jogyakarta dan JawaTimur. Daerah tersebut terletak di sebelah selatan katulistiwa yang beriklim tropis lembab.Kendala utama pada daerah iklim tropis lembab adalah; temperatur udara yang tinggisepanjang tahun dan kelembapan udara yang relatif tinggi pula sepanjang tahun,permasalahannya adalah bagaimana membuat obyek arsitektur agar mencapai standarkenyamanan ideal, adapun standar kenyamanan yang ideal adalah:
 
temperatur efektif sekitar 20 – 26 C, kelembapan udara sekitar 60%
 
dan pergerakan udara 0,25 – 0,5 m/det.Paramater lain yang mempengaruhi agar mencapai standar kenyamanan yang idealterhadap arsitektur adalah, antara lain:1)
 
Orientasi (
orientation 
)Orientasi bangunan terhadap mata angin mempengaruhi perletakkan pembukaan,karena sinar dan panas matahari dapat masuk ke dalam bangunan melalui lubang-lubang dinding tersebut, sekaligus dapat menaikkan suhu di dalam bangunan. Selain ituorientasi dapat pula digunakan untuk menentukan besarnya aliran udara pada suatutempat dan memanfaatkannya sebagai penetralisir kelembapan udara di dalambangunan. Dengan demikian orientasi bangunan sangat diperlukan bagi perencanaanbangunan dan pola tata massa di daerah beriklim tropis lembab.2)
 
Isolasi/Penyekat (
insulation 
)Isolasi terhadap panas, hujan dan pertikel-partikel yang dibawa oleh angin sangatdiperlukan. Atap harus dapat direncanakan untuk menahan hujan dan menahanmasuknya panas matahari ke dalam bangunan. Pemilihan bahan dan sistem konstruksidiperlukan sehingga atap benar-benar dapat digunakan untuk isolasi panas dan hujan.3)
 
Pembayangan (
shading 
)Proses pembayangan adalah merupakan upaya mematahkan sinar matahari yang masuk ke dalam bangunan, kerena sinar matahari memiliki sifat membawa serta panasmatahari.
1
Diambil dari tulisan LMF. Poerwanto, Arsitektur Tropis sebagai Jiwa Arsitektur Nusantara, Surabaya 1999
 
 
3
SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010
Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan
4)
 
Pemanfaatan Tanaman (
using plants 
)Tanaman dapat digunakan sebagai filter debu, berier dari derasnya aliran angin dankebisingan suara. Tanaman juga dapat digunakan untuk menciptakan pembayangan.Selain itu tanaman dapat menciptakan lingkungan yang lebih baik akibat dari prosesfotosintesanya.5)
 
Sistem ventilasi atap (
roof vetilation 
) Atap harus direncanakan memiliki sistem ventilasi yang baik, hal ini disebabkan olehmasuknya panas matahari ke dalam bangunan melalui atap. Namun hal ini dapatdikurangi dengan mengalirkan udara ke dalam atap. Pemilihan bahan penutup atap, danbentuk atap yang dipilih merupakan cara untuk men ciptakan sistem ventilasi di dalamatap.
b.
 
 Arsitektur Jawa/Ponorogo
Telah diketahui bersama tipe bentuk bangunan pada arsitektur Jawa terdiri dari 4(empat)type yaitu,
tajug, joglo, limasan 
dan
kampung 
2
. Adapun jenis ruang dalam rumah Jawa kategori
omah 
(rumah tinggal bukan bangsawan)dalam tabel yang disajikan Arya Ronald
3
jenis ruangnya antara lain adalah:
latar ngarep,latar mburi, latar wetan, latar kulon, sumur, pendopo, pringgitan, dalem, sentong tengah,sentong kiwo, sentong tengen, pawon, pawuhan.
Untuk kategori
griyo 
dan
ndalem 
, jenisruangnya akan terlihat lebih komplek. Jenis ruang tersebut akan tersusun seperti dibawahini:Untuk 
omah 
di Ponorogo susunan ruangnya adalah sebagai berikut:
2
Pembagian type bentuk bangunan ada 4 type berdasarkan Kawruh Kalang R. Sosroworyatmo, adapun typePanggang-pe sama sekali tidak disebut dalam naskah ini.
3
Arya Ronald, Ciri-Ciri Karya Budaya Di balik Tabir Keagungan Rumah Jawa, hal 435
TAJUGLIMASAN KAMPUNGJOGLO
Gambar 1: Type bentuk bangunan Jawa berdasarkan Kawruh Kalang R. SosrowiryatmoGambar 2: Rangkaian ruang
omah 
, termasuk di dalamnya ada
latar 
(halaman) yang terletak didepan, belakang dan samping rumah

Activity (22)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Yudo Pus Pit liked this
amelia_fegi liked this
k91oktavia liked this
Sekar A Utari liked this
ajavanensis liked this
duhapase liked this
vi3Luchious liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->