Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
30Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
retensi urin

retensi urin

Ratings: (0)|Views: 4,606|Likes:
Published by Putri Poetri

More info:

Published by: Putri Poetri on Aug 01, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/10/2013

pdf

text

original

 
Dunia Kesehatan 
sehat itu adalah karunia yang tak terhingga
Selasa, 27 April 2010
retensi urine 
RETENSI URINEPENDAHULUANTraktus urinarius bagian bawah memiliki dua fungsi utama, yaitu: sebagai tempat untuk menampung produksi urine dan sebagai fungsi ekskresi.Selama kehamilan, saluran kemih mengalami perubahan morfologi dan fisiologi. Perubahanfisiologis pada kandung kemih yang terjadi saat kehamilan berlangsung merupakan predisposisiterjadinya retensi urine satu jam pertama sampai beberapa hari post partum. Perubahan ini jugadapat memberikan gejala dan kondisi patologis yang mungkin memberikan dampak pada perkembangan fetus dan ibu. Donald, SaultzResidu urine setelah berkemih normalnya kurang atau sama dengan 50 ml, jika residu urine inilebih dari 200 ml dikatakan abnormal dan dapat juga dikatakan retensi urine.Ostergard¶sInsiden terjadinya retensi urine post partum berkisar 1,7% sapai 17,9%. Secara umum penanganannya diawali dengan kateterisasi. Jika residu urine lebih dari 700 ml, antibiotik  profilaksis dapat diberikan karena penggunaan kateter dalam jangka panjang dan berulang.SaultzRetensi urine post partum dapat terjadi pada pasien yang mengalami kelahiran normal sebagaiakibat dari peregangan atau trauma dari dasar kandung kemih dengan edema trigonum. Faktor-faktor predisposisi lainnya dari retensio urine meliputi epidural anestesia, pada gangguansementara kontrol saraf kandung kemih , dan trauma traktus genitalis, khususnya pada hematomayang besar, dan sectio cesaria.kapita, SaultzPATOFISIOLOGIProses berkemih melibatkan 2 proses yang berbeda yaitu pengisian dan penyimpanan urine dan pengosongan kandung kemih. Hal ini saling berlawanan dan bergantian secara normal. Aktivitasotot-otot kandung kemih dalam hal penyimpanan dan pengeluaran urin dikontrol oleh sistemsaraf otonom dan somatik. emed void disSelama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urindikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yangdikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra. emedvoid disPengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor danrelaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyaineurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. emed void dis
 
Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung gangliondorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase pengosongankandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan timbul kontraksi ototdetrusor. emed void disHambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra trigonaldan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan otot halus danskelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi saluran yangminimal.emed void disRetensi postpartum paling sering terjadi. Setelah terjadi kelahiran pervaginam spontan, disfungsikandung kemih terjadi 9-14 % pasien; setelah kelahiran menggunakan forcep, angka inimeningkat menjadi 38 %. Retensi ini biasanya terjadi akibat dari dissinergis antara otot detrusor-sphincter dengan relaksasi uretra yang tidak sempurna yang kemudian menyebabkan nyeri danedema. Sebaliknya pasien yang tidak dapat mengosongkan kandung kemihnya setelah sectiocesaria biasanya akibat dari tidak berkontraksi dan kurang aktifnya otot detrusor. donalETIOLOGIBerkemih yang normal melibatkan relaksasi uretra yang diikuti dengan kontraksi otot-ototdetroser. Pengosongan kandung kemih secara keseluruhan dikontrol didalam pusat miksi yaitudiotak dan sakral. Terjadinya gangguan pengosongan kandung kemih akibat dari adanyagangguan fungsi di susunan saraf pusat dan perifer atau didalam genital dan traktus urinarius bagian bawah.OstergPada wanita, retensi urine merupakan penyebab terbanyak inkontinensia yang berlebihan. Dalamhal ini terdapat penyebab akut dan kronik dari retensi urine. Pada penyebab akut lebih banyak terjadi kerusakan yang permanen khususnya gangguan pada otot detrusor, atau ganglion parasimpatis pada dinding kandung kemih. Pada kasus yang retensi urine kronik, perhatiandikhususkan untuk peningkatan tekanan intravesical yang menyebabkan reflux ureter, penyakittraktus urinarius bagian atas dan penurunan fungsi ginjal.ostergPasien post operasi dan post partum merupakan bagian yang terbanyak menyebabkan retensiurine akut. Fenomena ini terjadi akibat dari trauma kandung kemih dan edema sekunder akibattindakan pembedahan atau obstetri, epidural anestesi, obat-obat narkotik, peregangan atautrauma saraf pelvik, hematoma pelvik, nyeri insisi episiotomi atau abdominal, khususnya pada pasien yang mengosongkan kandung kemihnya dengan manuver Valsalva. Retensi urine posoperasi biasanya membaik sejalan dengan waktu dan drainase kandung kemih yangadekuat.ostergGAMBARAN KLINISRetensi urine memberikan gejala gangguan berkemih, termasuk diantaranya kesulitan buang air kecil; pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-putus; ada rasa tidak puas, dan keinginanuntuk mengedan atau memberikan tekanan pada suprapubik saat berkemih. ostergSuatu penelitian melaporkan bahwa gejala yang paling bermakna dalam memprediksikan adanyagangguan berkemih adalah pancaran kencing yang lemah, pengosongan kandung kemih yangtidak sempurna, mengedan saat berkemih, dan nokturia.OstergDIAGNOSISPada pasien dengan keluhan saluran kemih bagian bawah, maka anamnesis dan pemeriksaan
 
fisik yang lengkap, pemeriksaan rongga pelvis, pemeriksaan neurologik, jumlah urine yangdikeluarkan spontan dalam 24 jam, pemeriksaan urinalisis dan kultur urine, pengukuran volumeresidu urine, sangat dibutuhkan.OstergFungsi berkemih juga harus diperiksa, dalam hal ini dapat digunakan uroflowmetry, pemeriksaantekanan saat berkemih, atau dengan voiding cystourethrography.OstergDikatakan normal jika volume residu urine adalah kurang atau sama dengan 50ml, sehingga jikavolume residu urine lebih dari 200ml dapat dikatakan abnormal dan biasa disebut retensi urine. Namun volume residu urine antara 50-200ml menjadi pertanyaan, sehingga telah disepakati bahwa volume residu urine normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria.OstergPENATALAKSANAANKetika kandung kemih menjadi sangat menggembung diperlukan kateterisasi, kateter Foleyditinggal dalam kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung kemih tetap kosongdan memungkinkan kandung kemih menemukan kembali tonus normal dan sensasi.kapitaBila kateter dilepas, pasien harus dapat berkemih secara spontan dalam waktu 4 jam. Setelah berkemih secara spontan, kandung kemih harus dikateter kembali untuk memastikan bahwaresidu urine minimal. Bila kandung kemih mengandung lebih dari 100 ml urine, drainasekandung kemih dilanjutkan lagi.kapitaKOMPLIKASIKarena terjadinya retensi urine yang berkepanjangan, maka kemampuan elastisitas vesicaurinaria menurun, dan terjadi peningkatan tekanan intra vesika yang menyebabkan terjadinyareflux, sehingga penting untuk dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan ureter atau dapat juga dilakukan foto BNO-IVP.oestrgrdKESIMPULANWanita dengan inkontinensia dan gejala gangguan kandung kemih yang lain meningkatkanresiko terjadinya kesulitan berkemih dan dan retensi. Akibat dari retensi adalah timbulnya infeksitraktus urinarius yang rekuren dengan kemungkinan gangguan pada traktus urinarius bagian atas.Pendeteksian terhadap kondisi tersebut merupakan hal yang penting dalam penangananfarmakologi dan pembedahan pada wanita dengan inkontinensia urine yang cenderung menjadieksaserbasi kesulitan berkemih dan retensi kronik. clinicaDiposkan oleh Fendy PMR di4/27/2010 09:19:00 AM Reaksi:
0 komentar:Poskan KomentarLink ke posting ini
Buat sebuah Link  Posting Lama Beranda  Langgan:Poskan Komentar (Atom) 

Activity (30)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Idha Y Syarfia liked this
dlestari_34 liked this
We Mot Mey liked this
Fhyra N. Salupa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->