pemikiran al-Thahthawi cukup berpengaruh dalam masyarakat Mesir saatitu. Di antara pembaharuan yang digaungkan al-Thahthawi adalahpenyesuaian penafsiran/interpretasi syari’at dengan kondisi zamanmodern.Setelah ia wafat, barulah Jamaluddin al-Afghani datang ke Mesir, danmenyuarakan hal yang serupa. Pembaharuan yang dibawa al-Afghaniselanjutnya dilanjutkan oleh Muhammad ‘Abduh dan muridnya RasyidRidla.Menurut Harun, pembaharuan yang digerakkan oleh mereka itu memakaipendekatan teologi atau pemikiran Mu’tazilah (rasionalisme). Dari sini pulamuncul tokoh-tokoh sekular- liberal, sebut saja misalnya, Musthafa A.Raziq, Sa’ad Zaghlul, Ahmad Amin, Thaha Husein, ‘Ali Abdul Raziq, danlain-lainnya yang senada.Merambah ke IndonesiaGaung dan gerakan pembaharuan di Mesir rupanya juga merambah keIndonesia. Melalui KH. Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya,pembaharuan Islam dimulai. Gagasan pembaharuan Kyai Dahlan sendirimerupakan pengaruh dari tokoh-tokoh Mesir. Ketika pendiriMuhammadiyah itu melakukan perjalanan ke Mekah untuk belajar di sana,di tengah perjalanan ia membaca karya ‘Abduh dan Ridla, Tafsir al-Manar.Sepulangnya dari menimba ilmu itu, rupanya Tafsir al-Manar telahmenginspirasi KH. Ahmad Dahlan untuk melakukan pembaharuan Islam diIndonesia. Selain karena pengaruh Mesir, penetrasi misi Katholik-Protestandari penjajah (Spanyol, Portugis, dan Belanda) dan parktik takhayul,khurafat serta bid’ah di masyarakat Indonesia telah membuat KH. AhmadDahlan prihatin sekaligus protes keras. Faktor-faktor inilah yangmendorong pembaharuan Islam oleh Kyai. Dahlan bersamaMuhammadiyahnya.Kendati begitu, dalam pandangan Harun, pembaharuan yang disuarakanMuhammadiyah bukanlah pembaharuan yang prinsipil dan menyangkuthal-hal dasar (ushul), tapi pada masalah cabang (furu’). Misalnya, soalru’yah al-Hilal, patung, gambar, musik, kenduri, tahlilan, dan lain-lainnya.Pembaharuan demikian berbeda dengan yang terjadi di Mesir dan Turki.
Add a Comment