Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kejahatan Negara_dan Penegakan HAM

Kejahatan Negara_dan Penegakan HAM

Ratings: (0)|Views: 108 |Likes:
Published by Eddy S'putra
Wajah penegakan hukum di Indonesia
Wajah penegakan hukum di Indonesia

More info:

Published by: Eddy S'putra on Aug 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2013

pdf

text

original

 
Politik, Hukum dan HAM
 Good50x70
Apalah artinya negara yang tak memiliki keadilan selain hanya gerombolan perampok ada dimana-mana 
”, (Santo Agustinus, The City of God c. 427CEI). Mungkin perumpaan“gerombolan perampok” yang dituliskan oleh Agustinus tersebut menjadi sebuah ramalan yangbegitu tepat dimasa sekarang. Mengenai “gerombolan perampok” dan “negara tanpa keadilan”terletak pada keberadaan negara itu sendiri yang memiliki kekuasaan untuk menentukan manayang selayaknya dilakukan. Berbicara mengenai “kejahatan negara”, maka negara itu sendirisebenarnya dapat menjadi penjahat pada saat negara itu melakukan berbagai pelanggaranatas hukum yang dibuatnya sendiri. Sejarah perjalanan penegakan terhadap hak asasi manusiadi Indonesia terlalu kelam. Pengungkapan terhadap penegakan hukum dan perlindunganterhadap HAM di negeri ini menjalani perjalanan yang panjang dan menghabiskan waktu yangmelelahkan, khususnya bagi pihak yang menuntut adanya perbaikan sistem hukum sesuaidengan filosofis yang telah di tuliskan dalam UUD 1945 Negara Indonesia oleh para pendiribangsa.Namun permasalahan tersebut, menjadi perdebatan yang hingga kini masih belum punya satusinergi kesamaan, baik antara pemerintah, elemen sipil dan lembaga penegak hukum itusendiri. Masalah yang cukup pelik adalah tentang kejahatan yang telah di lakukan oleh negara.Pengungkapan kejahatan yang dilakukan oleh negara terhadap masyarakat dalam berbagaikejadian telah menimbulkan pro dan kontra tentunya. Negara disatu sisi dalam hal menjalankandan menggunakan kekuasaannya, beranggapan bahwa mereka-mereka yang dianggapberlawanan dengan pemerintahan harus dihukum sesuai dengan Undang-undang
1 / 5
 
Politik, Hukum dan HAM
sebagaimana yang telah ditentukan oleh si negara.Hal tersebut menimbulkan pertanyaan, benarkah hukuman yang diberikan kepada merekayang dianggap berlawanan dengan pemerintah sesuai sebagaimana yang telah diatur dalamUndang-undang? Pertanyaan tersebut, tentu kembali menimbulkan pro dan kontra. Namun,ekses dari hal tersebut korban pun berjatuhan dari pihak sipil. Penyimpangan yang dilakukanoleh negara secara sistematis melalui aparatur negaranya adalah tindakan pelanggaranterhadap hak asasi manusia.
Definisi Kejahatan Negara
Jika negara menguat atau amat kuat, kejahatan dan penyimpangan oleh negara lebih berupasuatu tindakan aktif (
commission 
) dalam rangka melanggar hak-hak warga negara dengan atautanpa mengindahkan sistem hukum yang ada. Sebaliknya, jika negara melemah sebagaimanaterlihat dewasa ini, maka kejahatan dan penyimpangan oleh negara lebih berupa pembiaran (
omission 
) terkait dengan kejahatan dan penyimpangan yang dilakukan pihak-pihak lain.Definisi kejahatan negara yang digunakan dalam pembahasan ini adalah dari
Green and Ward 
, sebagaimana dikutip Christine A. Monta,
”State organizational deviance involving the violation of human rights.” 
Definisi tersebut kemudian dielaborasi lebih jauh menjadi tiga komponen, yakni negara,penyimpangan organisasi, dan HAM. Yang dimaksud dengan ”negara”, adalah pihak yangmemiliki kewenangan eksklusif untuk menggunakan kekuatan atau kekerasan (
force 
). Sedangkan penyimpangan organisasional menunjuk pada pelanggaran terhadap satu ataulebih standar perilaku (termasuk hukum) dalam rangka mencapai tujuan-tujuan negara.Terakhir, Green & Ward melihat HAM sebagai suatu klaim moral yang dibuat dalam rangkapemenuhan kebutuhan fundamental.Green & Ward melihat beberapa varian aktivitas kejahatan negara. Varian ituadalah: kejahatan yang sering terjadi dan kerap tidak dilaporkan (seperti korupsi, kejahatankorporasi berkolaborasi dengan negara, serta kejahatan terorganisasi), kejahatan yangtermasuk mengerikan dan luar biasa (teror oleh negara, terorisme, penyiksaan, kejahatanperang, dan genosida), serta krisis di mana negara bukanlah pelaku langsungnya (misalnya,bencana alam dan kejahatan terkait kepolisian).Telaah di atas jauh lebih dalam dibanding Robert Elias yang melihat bahwa kejahatan negaraadalah sekadar ilegalitas yang dilakukan oleh negara sendiri. Kejahatan negara dalam hal inidilakukan dengan cara melanggar hukum umum maupun hukum khusus, yang sengajadilakukan untuk membatasi oposisi politik.Memang benar bahwa kejahatan negara lebih banyak dikaitkan dengan politik danpenggunaan kekerasan (salah satunya oleh militer), utamanya ditujukan terhadap perilakupolitik kalangan non-negara atau oposan pemerintah. Pembahasan ini tentu mencari asosiasiantara kejahatan negara dan variabel lainnya yang lebih kurang umum, yakni dalam konteks
2 / 5
 
Politik, Hukum dan HAM
kemasyarakatan (sistem sosial) dan mekanisme pencarian keadilan (sistem hukum).Dengan semakin tingginya kecanggihan (
sophistication 
), terlihat adanya hubungan danprevalensi atau ketermungkinan terjadinya kejahatan negara dalam berbagai jenis, pola, danmotivasinya. Salah satunya adalah pelanggaran hak asasi manusia yang telah terjadi belumpernah terselesaikan secara tuntas sedangkan gejala pelanggaran kian bertambah. Berbagaikasus pelanggaran hak asasi manusia tersebut dapat di temukan dalam kasus Tanjung Priok,DOM Aceh, Papua dan kasus pelanggaran HAM berat Timor-timur selama pra dan pascapendapat belum ada yang terselesaikan hingga kini.Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam laporan tahunannya menyatakanbahwa pemerintah perlu menuntaskan segala bentuk pelanggaran HAM yang pernah terjadi ditanah air sebagai akibat dari struktur kekuasaan orde baru yang otoriter.Berbicara tentang Hak Asasi Manusia, maka kita harus kembali melihat bagaimana sebuah UUDasar negara ini yang mengatur persoalan tersebut. Dalam UUD 1945, pengaturan danpengakuan terhadap HAM baru muncul setelah di awali dengan tahapan amandemen dari UUD1945 tersebut, amandemen yang pertama kali dilakukan tidak luput dari kejatuhan presidenSoeharto yang telah memimpin Indonesia selama 33 tahun (1965 – 1998). Rezim Orde Baru(masa Presiden Soerhato) pada waktu itu dalam membangun negara ini, dipenuhi dengantindakan otoriter yang sangat dan memang menyesakkan bagi mereka yang menuntut adanyapengakuan terhadap hak asasi manusia. Mereka yang menuntut adanya pengakuan danperlindungan terhadap HAM tidak luput dengan penangkapan dan kemudian beralih kepadaperadilan yang menyesatkan. Salah satunya adalah kejadian penghilangan secara paksa padatahun 1997 - 1998.Kemudian setelah runtuhnya rezim orde baru pada tahun 1998, munculnya masa reformasidan kemudian UUD 1945 dilakukan amandemen, tapi tidak serta merta hak asasi manusiamendapat tempat pengaturannya. Baru pada Amandemen kedua dan kemudian jugamelahirkan pula undang-undang organiknya, yakni UU No. 39/1999 tentang Hak AsasiManusia, dan UU No. 26/2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia.Pertanyaannya yang muncul adalah, apakah pengaturan terhadap hak asasi manusia dalamUUD 1945 dan beserta dengan Undang-undang organiknya (UU No 39 tahun 1999 tentangHAM dan UU No 26 tahun 2000 tentang Pengadilan HAM) yang dikeluarkan oleh pemerintahtelah menyelesaikan perkara dalam pengungkapan kejahatan yang telah dilakukan oleh negaradan upaya penegakan hukum sesuai dengan hak asasi manusia? Disatu sisi, pertanyaantersebut mungkin menjawab pertanyaan, bahwa di satu segi, pengaturan dan penghormatanterhadap HAM dalam UUD 1945 lebih baik dilakukan bila dibandingkan dengan masa ketikapemerintahan Presiden Soeharto berjalan. Namun di segi lainnya, pengaturan dan penegakanterhadap HAM bukan hanya sekedar di tulis dan diucapkan, lebih dari itu adalah adanyaimplementasi yang utuh dalam kehidupan bangsa dan negara ini dalam penegakan danpenghormatan terhadap HAM.
Negara dan Sistem
3 / 5

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->