Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
19Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
paper

paper

Ratings: (0)|Views: 1,062|Likes:
Published by freedyunika

More info:

Published by: freedyunika on Aug 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/21/2012

pdf

text

original

 
1
Kasus Steven Johson Syndrom
Oleh Freedy TambunanBercak Merah Pembawa Maut
Rumah Sakit Santo Carolus, Jakarta, dilaporkan telah melakukan tindak malpraktek.Dokter rumah sakit tersebut dituduh bertindak tak sopan dan serampangan memeriksa pasien.TUBUH Marta Manulang terbujur kaku. Seuntai kalung salib melingkar di tangannya yangterlipat didada. Riasan wajah gadis cantik berumur 25 tahun itu tak juga bisa menutupi bengkak di seputar matanya. Itulah hari terakhir dara tersebut berada di tengah keluarga dansahabatnya. Marta meninggal setelah sebelumnya diopname di Rumah Sakit Santo Caroluskarena radang tenggorokan. Keluarganya beranggapan kematian Marta pada 25 Februari itutak wajar. Menurut Nurlela Tambunan, sang ibu, di akhir hayat anak bungsunya itu tak lagimengeluh soal radang tenggorokan yang diderita. "Sekujur tubuhnya penuh bercak merah, bahkan dia sampai mengalami kelumpuhan," katanya. Nurlela menuding dokter di rumahsakit itu telah salah merawat putrinya. Menurut sang ibu, awalnya anak bungsunya itu pergike rumah sakit pada 28 Desember 2004 untuk berobat radang tenggorokan. Namun, setelah beberapa hari, penyakit tersebut kambuh lagi. Maka, sejak 10 Januari silam ia menjalani perawatan di Rumah Sakit Carolus selama dua pekan. Tapi, baru tiga hari di rumah, Martakembali masuk rumah sakit karena dirasa penyakitnya belum tuntas benar. Kali ini ia dirawatselama enam hari. Selama di rumah sakit itu, menurut Nurlela, Marta ditangani Dokter HarisAkman. Namun, tiga hari sebelum pulang, putrinya juga ditangani Dokter Indro Sutirto, ahli penyakit tenggorokan, hidung, dan telinga (THT). Perlakuan Dokter Indro terhadap putrinyadinilai Nurlela sangat tak sopan. Indro, misalnya, pernah suatu ketika memeriksa putrinya didepan pintu kamar mandi. "Padahal Marta belum selesai mandi, sehingga ia hanya menutupitubuhnya dengan handuk," ujar Nurlela. Nurlela juga menyaksikan seorang perawatmenyuntik lengan putrinya dengan kasar. "Dia berteriak kesakitan, tapi tak dihiraukan,"
 
2
 
katanya. Saat terakhir kali disuntik, Nurlela melihat di sekitar lengan Marta muncul bercak merah. "Menurut perawat, bercak itu tak masalah dan akan hilang sendiri," katanya. Ketikameninggalkan rumah sakit, tubuh Marta masih diwarnai bercak-bercak merah. Empat hari berada di rumah, kondisi Marta tak kunjung membaik, bahkan kian buruk. Bercak merahmakin banyak dan tubuhnya panas. Maka, pada 5 Februari, Marta diangkut lagi ke Carolus.Hari itu juga ia masuk unit gawat darurat (UGD). Tiga hari kemudian bercak merah di tubuhMarta mulai berair. Kelopak matanya membengkak. "Dokter bilang dia bisa mengalamikebutaan," kata Tangkas, kakak Marta. Kondisi kesehatan Marta kian buruk hingga beberapahari kemudian Marta mengalami koma, sebelum nyawanya tak tertolong lagi. MenurutTangkas, dokter menyebut-nyebut
 suspected Steven-Johnson syndrome
, penyakit yangmuncul karena reaksi kulit terhadap obat, sebagai penyebab kematian Marta. Kematian Martadinilai janggal oleh Nurlela. Ia beranggapan telah terjadi malpraktek dalam proses perawatananaknya. Karena itu, pada 25 Februari ia mengadukan Rumah Sakit Carolus ke Polda MetroJaya. Wanita itu juga mengadukan Dokter Indro, yang dinilainya bertindak tak sopan saatmemeriksa anaknya. Kamis pekan lalu polisi mulai memeriksa kasus ini. "Kami sudahmenjelaskan semuanya. Semoga proses hukum akan berjalan di sini," kata Tangkas. Pihak Rumah Sakit Carolus menolak tuduhan itu. "Kami sudah mempersiapkan hasil rekam medisdan riwayat penyakit Marta Manulang," kata kuasa hukum rumah sakit tersebut, SuhardiSomomoeljono. Direktur Medis Carolus, Bamby Sutrisno, bahkan menyatakan pihaknyaakan melakukan gugatan balik. "Setelah data-data kami kumpulkan," katanya kepada AsepYogi Junaedi dari
Tempo
. Menurut Bamby, saat masuk ke Carolus, kondisi Marta sudahcukup parah. Marta, masih menurut Bamby, sebelumnya telah menderita sejumlah penyakitseperti infeksi tenggorokan, kelainan kulit, panas, dan demam tinggi yang berulang-ulang."Jadi, kami tidak menjanjikan kesembuhan karena komplikasi makin banyak," katanya.Bamby juga menampik jika dikatakan ada dokter di Carolus yang bertindak tak sopan saatmemeriksa Marta. Bamby menyebutkan, Marta juga menderita suatu penyakit yang tak mungkin diumumkan begitu saja ke publik. "Kami wajib menjaga rahasia penyakit pasien,"katanya. Soal disebut-sebutnya Marta menderita sindrom Steven Johnson
 
 juga ditangkisnya
.
 
3
 
"Itu pernyataan petugas UGD yang sifatnya masih dugaan. Keterangan awal ini bisa dicabut jika tidak benar nantinya. Ini dibenarkan dalam penanganan medis," ujarnya.Kendati sudah ditangani polisi, tampaknya tetap tak mudah membawa kasus ini hingga keruang pengadilan. Menurut seorang polisi, hambatan terbesar adalah sampai saat ini di PoldaMetro belum ada perangkat hukum yang bisa mendefinisikan malpraktek. Karena itu, polisimembutuhkan bantuan saksi dari medis, seperti dokter ahli, untuk menentukan apakah kasustersebut tergolong malpraktek atau bukan. "Masalahnya, jarang sekali dokter ahli yang maudimintai keterangannya," ujar polisi itu. Karena ini pula, kata sumber itu, dari 22 pengaduanmalpraktek yang masuk Polda Metro Jaya, hingga kini belum ada yang masuk pengadilan.Bekas Ketua Ikatan Dokter Indonesia, Kartono Muhammad, menganggap wajar jika ada pasien yang dirugikan rumah sakit dan kemudian melakukan pengaduan ke polisi. "Kasusmalpraktek bisa diproses dengan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Ini semua bergantung pada kemauan polisi, jaksa, dan hakim," tuturnya. Hanya, masalahnya, menurutdia masyarakat sudah pesimistis lantaran merasa vonis hakim akan kurang berpihak padamereka. "Jika polisi, jaksa, dan hakim bertindak benar, mestinya mereka tak perlu takut," ujar Kartono.
N
urlis E. Meuko, Agriceli, dan Yuswardi A. Suud
 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->