Read without ads and support Scribd by becoming a Scribd Premium Reader.
 
Triska S.N. danLilis S.,Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian ISPA
43HUBUNGAN SANITASI RUMAH DENGAN KEJADIAN INFEKSISALURAN PERNAFASAN AKUT (ISPA) PADAANAK BALITA
Triska Susila Nindya
1)
danLilis Sulistyorini
2)
1)
FKM Universitas Airlangga 
2)
Bagian Kesehatan LingkunganFKM Universitas Airlangga 
Abstract:
Acute respiratory infections, together with malnutrition anddiarrheal disease, constitute the most common cause of illness anddeath among children under five years age in developing countries.Acute respiratory infection also becomes the major health problem inIndonesia. Host, environmental and sociocultural-related variablesmay act independently or in concert with other variables to influencethe incidence and severity of acute respiratory infection. Poor housingconditions are associated with a wide range of health condition,including respiratory infection.The aim of this article was to compare the result ofrelationship between housing sanitation and acute respiratoryinfectionstudies in three different areas, in Penjaringan Sari RungkutDistrict, Surabaya (Yusuf, 2004), in Sidomulyo village Buduran district,Sidoarjo (Suryanto. 2003) and in Tual Village Kei Kecil district,Southeast Maluku (Toanubun, 2003). The housing variables includedventilation, dampness, people density in house, natural lighting andtemperature. Natural lighting subvariable also gave significantdifference in twoareas, Sidomulyo and Penjaringan Sari.All of these studies had the same result in ventilation variableand people density. Ventilation and people densitywere significanlytassociated with acute respiratory infenction (Chisquare,p < 0.05).Dampness variable had significant differencebetween Tual area andPenjaringan Sari, while in Sidomulyo there wasno significantdifference.Housing sanitation is important determinant in health,especially in acute respiratory infection among children under fiveyears old. Improving housing sanitation is needed to reduce infectiousdisease.
Keywords: acute respiratory infection, children under five years old,housing sanitation.
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi saluran pernafasan, bersama-sama denganmalnutrisi dan diare merupakan penyebab kesakitan dan kematianutama padaanak Balita di negara berkembang (Sharma et al., 1998).
 
JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN, VOL.2, NO.1, JULI 2005 : 43- 52 
44
Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salahsatu masalah kesehatan yang utama di Indonesia karena masihtingginya angka kejadian ISPA terutama padaanakAnak Balita. ISPAmengakibatkan sekitar 20%- 30% kematiananak Balita (Depkes RI,2000). ISPA juga merupakan salah satu penyebab utama kunjunganpasien pada sarana kesehatan. Sebanyak 40%- 60% kunjunganberobat diPuskesmas dan 15%- 30% kunjungan berobat di bagianrawat jalan dan rawat inap rumah sakit disebabkan oleh ISPA (DirjenP2ML, 2000).
Host 
, lingkungan dan sosiokultural merupakanbeberapa variabel yang dapat mempengaruhi insiden dan keparahanpenyakit infeksi saluran pernafasan akut (Sharma et al., 1998).Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan masyarakat yangmenitikberatkan pada pengawasan terhadap struktur fisik, dimanaorang menggunakannyasebagai tempat berlindung yang mem-pengaruhi derajat kesehatan manusia. Sarana sanitasi tersebutantara lain ventilasi, suhu, kelembaban,kepadatan hunian,penerangan alami, konstruksi bangunan,sarana pembuangansampah, sarana pembuangan kotoran manusia, dan penyediaan airbersih (Azwar, 1990). Sanitasi rumah sangat erat kaitannya denganangka kesakitan penyakit menular, terutama ISPA. Lingkunganperumahan sangat berpengaruh pada terjadinya dan tersebarnyaISPA. Hubungan antara rumah dan kondisi kesehatan sudahdiketahui. Pada komunitas Aborigin prevalensi penyakit yang tinggidisebabkan oleh sanitasi yang buruk, kontrol kondisi lingkungan yangburuk, kepadatan yang tinggi dan penyediaan air bersih yang tidakmemadai (Taylor, 2002). Rumah yang jendelanya kecil menyebabkanpertukaran udara tidakdapatberlangsung dengan baik, akibatnyaasap dapur dan asap rokok dapatterkumpul dalam rumah. Bayi dananak yang sering menghisap asap lebih mudah terserang ISPA.Rumah yang lembab dan basah karena banyak airyang terserap didinding tembok dan matahari pagi sukar masuk dalam rumah jugamemudahkan anak-anak terserang ISPA (Ranuh, 1997).Tujuan dari tulisan ini adalah membandingkan hasil penelitiantentang hubungan sanitasi rumah dengan kejadian ISPA pada anakAnak Balita yang dilakukan di tiga daerah yang berbeda., yaitu diKelurahan Penjaringan Sari Kecamatan Rungkut Kota Surabaya(Yusuf, 2004), di Desa Sidomulyo Kecamatan Buduran KabupatenSidoarjo (Suryanto, 2003) dan di Desa Tual Kecamatan Kei KecilKabupaten Maluku Tenggara (Toanubun, 2003). Persamaan variabelyang diteliti dalam tiga penelitian ini adalah sanitasi fisik rumah.Sanitasi fisik ini meliputi : ventilasi, kepadatan hunian, kelembaban,penerangan alami, dan suhu. Pada penelitian Suryanto (2003)danToanubun (2003) sub variabel sanitasi fisik rumah lain yang ditelitiadalah atap, dinding,plafon, dan lantai.
 
Triska S.N. danLilis S.,Hubungan Sanitasi Rumah dengan Kejadian ISPA
45SANITASI FISIK RUMAH
Sub variabel sanitasi fisik yang diteliti adalah ventilasi,kepadatan penghuni rumah, kelembaban, pencahayaan alami,dansuhu. Semua penelitian ini menggolongkan ventilasi menjadi 2kriteria, yaitu baik jika luas ventilasi
10% luas lantai dan buruk (tidakbaik) jika luas ventilasi < 10% luas lantai. Untuk sub variabelkepadatan penghuni di Desa Sidomulyo Buduran Sidoarjo(Suryanto,2003) dan di Kelurahan Penjaringan Sari Kecamatan RungkutSurabaya(Yusuf, 2004) memberi kriteria yang sama, yaitu baik jikaluas kamar tidur
8 m
2
untuk 2 orang, tetapi penelitian di desa TualKecamatan Kei Kecil Kabupaten Maluku Tenggara(Toanabun, 2003)memberi kriteria kepadatan penghuni baik jika 1 orang menempati 1,2m
2
. Untuk sub variabel kelembaban Suryanto (2003) dan Yusuf (2004)memberi kriteria yang sama yaitu baik bila kelembaban berkisarantara 40–70% dan buruk jika kelembaban< 40% atau > 70%,sedangkan Toanabun (2003) memberikan kriteria yang berbeda yaitukelembaban baik jika berkisar antara 20–60% dan buruk jika < 10%atau > 70%. Pencahayaan alami pada penelitian Suryanto (2003)dianggap baik jika antara 60–120 lux dan buruk jika < 60 lux atau >120 lux. Pada penelitian Yusuf (2004) pencahayaan alami masukdalam kriteria baik jika
60 lux dan kurang bila > 60 lux. Kriteria untuksuhu penelitian Toanabun (2003) dianggap baik jika berkisar antara23-25
0
C dan tidak baik jika suhu < 20
0
C atau >30
0
C, sedangkan padapenelitian Yusuf (2004) suhu baik bila 18-30
0
C, serta kurang baik bila< 18
0
C atau > 30
0
C.PadaTabel1 digambarkan distribusi sanitasifisik pada masing-masing daerah penelitian.Tabel 1. Distribusi Sanitasi Fisikpada Daerah Penelitian
Lokasi PenelitianTual(Toanabun,2003)Sidomulyo(Suryanto, 2003)Penjaringan Sari(Yusuf, 2003)Sanitasi FisikRumahBaik(%)Buruk(%)Baik(%)Buruk(%)Baik(%)Buruk(%)Ventilasi55,4144,59425850,849,2Kelembaban505088123961KepadatanPenghuni58,7841,22386250,849,2PencahayaanAlami--247642,457,6Suhu52,7047,30--47,552,5
Search History:
Searching...
Result 00 of 00
00 results for result for
  • p.
  • Notes
    Load more