Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PKN_Presidensial vs Parlementer

PKN_Presidensial vs Parlementer

Ratings: (0)|Views: 368 |Likes:
Published by silenceofryogi

More info:

Published by: silenceofryogi on Aug 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/19/2012

pdf

text

original

 
PRESIDENSIAL vs PARLEMENTER|
1
 Oliviane WennoXII Ilmu Alam 1 @ BINSUS Tomohon
Pembahasan essay meliputi :
 
Pandangan mengenai berbagai system pemerintahan
 
Positif dan negative sistem-sistem pemerintahan tersebut
 
H
al yang harus dipertahankan dan dikembangkan dalammelaksanakan sistem pemerintahan presidensial di IndonesiaPRESIDENSIAL vs PARLEMENTERBaik sistem presidensial dan parlementer pernah diterapkan dalampemerintahan Indonesia. Di era 1950-an, kita menerapkan sistemparlementer. Era ini ditandai dengan jatuh bangunnya kabinet sehinggamenimbulkan trauma. Sistem presidensial digunakan sejak JenderalSoeharto tampil sebagai presiden. Sistem ini dengan topangan superioritaslembaga eksekutif terhadap DPR dan peran dwifungsi ABRI menghasilkankehidupan politis yang stabil, namun meniadakan kehidupan politik yangdemokratis.Kekukuhan sistem presidensial ala Soeharto itu mulai redup sejak1998 yang ditandai dengan bertiupnya angin reformasi yangmenghendaki demokratisasi, yang mencapai puncaknya dalam tragediTrisakti. Lengser keprabonnya Pak
H
arto, melahirkan sistem demokrasibaru dengan digelarnya pemilu 1999 yang demokratis dan pemilu 2004yang memilih presiden secara langsung. Di era reformasi ini, tidak ada lagidominasi Golkar, ABRI dan eksekutif.Debat di kalangan ilmuwan politik yang mempertentangkanantara bentuk pemerintahan presidensial versus pemerintahanparlementer dapat ditemukan dalam banyak literatur. Salah satunya,artikel Juan Linz berjudul The Perils of Presidentialism mengajukanargumen yang mengaitkan antara desain konstitusi dan stabilitasdemokrasi. Secara eksplisit ia mendukung sistem parlementer sebagaijalan menuju demokrasi yang stabil. Jadi kita dapat membuat kesimpulanbahwa konsolidasi demokrasi lebih sulit dipertahankan dalam sistempresidensial dibandingkan dalam sistem parlementer. Menurut Linz, adaempat hal pokok terkait dengan isu tersebut:
 
PRESIDENSIAL vs PARLEMENTER|
2
 Oliviane WennoXII Ilmu Alam 1 @ BINSUS Tomohon
Pertama, dalam sistem presidensial, presiden dan legislatif salingbersaing mengklaim sebagai pihak yang mendapat legitimasi rakyat(popular legitimacy). Sebaliknya, bentuk parlementer justeru untukmeniadakan masalah dual legitimacy ini, karena lembaga eksekutif didalam sistem parlementer tidak independen dari legislatif.Kedua, karena masa jabatan presiden sudah ditetapkan berapa lama,Linz mengklaim sistem presidentialisme kurang fleksibel dibandingkansystem parlementer. Pembatasan masa jabatan itu justru membuatkekakuan dalam sistem politik, karena itu kurang baik bagi kehidupandemokrasi. Ini berbeda pada parlementer, karena ada mekanisme mosi tidak percaya dan pembubaran kabinet oleh parlemen. Keberadaaneksekutif selalu tergantung pada kepercayaan yang diberikan parlemen.Ketiga, sistem presidensial pada dasarnya adalah zero-sum electionsdan pemenang mengambil semua (winner take all) dan pesaingnya yangkalah dalam pemilu tersingkir dari kekuasaan eksekutif selama periode tertentu. Berbeda dengan sistem parlementer, power-sharing danpembentukan koalisi adalah sesuatu yang lazim terjadi, dan si pemegangkekuasaan (incumbent) karena itu memberi perhatian pada permintaandan kepentingan pihak lain, termasuk partai-partai kecil. Sedangkandalam sistem presidensial, presiden yang memenangkan pemilu merasa tidak perlu melakukan koalisi atau memberi konsesi kepada lawan-lawanpolitiknya.Keempat, di dalam sistem presidensial, suasana yang terbentuk kurangmenguntungkan bagi demokrasi dibandingkan pada sistem parlementer,karena perasaan didukung oleh seluruh bangsa setelah terpilih dalampemilu bisa mendorong seorang presiden kurang bertoleransi dengankelompok oposisi. Karena merasa memiliki kekuasaan penuh, mendapatmandat penuh dari rakyat, bisa menyebabkan seorang presiden menjadibertindak di luar batas pluralitas yang ada.
H
al ini bisa menjadi bumerang,dengan meningkatnya penolakan dari masyarakat yang merasa tidak terwakili.Ringkasnya, benang merah dari argumen Linz adalah sistemresidensial kurang kondusif untuk mendorong demokrasi yang stabil,
 
PRESIDENSIAL vs PARLEMENTER|
3
 Oliviane WennoXII Ilmu Alam 1 @ BINSUS Tomohon
dibandingkan sistem parlementer. Dalam banyak hal, ide-ide Linz diaminioleh ilmuwan politik lainnya, namun perlu bukti empiris yang solid.Sebenarnya menurut saya presidensialisme tidak otomatismenghambat kinerja dan stabilitas demokrasi di suatu negara. Ia menjadimasalah kalau berkombinasi dengan sistem kepartaian multipartai. Dalamobservasinya terhadap 31 negara yang sudah stabil demokrasinya, yaitunegara-negara yang mampu mempertahankan demokrasinya terusmenerus sejak 1967 hingga 1992 Mainwaring menemukan bahwa seluruhnegara presidensial yang berhasil mempertahankan demokrasi ternyatamenganut sistem dwipartai. Logika di balik pola ini adalah sebagaiberikut.Pertama, sistem multipartai di dalam sistem presidensial bisamendorong hubungan eksekutif dan legislatif menjadi deadlock,dibandingkan jika sistem multipartai dipadukan dengan sistemparlementer. Dalam sistem dwipartai, partai pendukung presiden biasanyamerebut suara mayoritas, atau sekurang-kurangnya mendekati hal itu.Ini terjadi jika hanya ada dua partai yang bersaing dalam pemilu. Namun,di dalam sistem multipartai, kejadian seperti itu lebih sulit dicapai.Kedua, sistem dwipartai lebih cocok dengan sistem demokrasipresidensial, karena polarisasi ideologis akan berkurang jika menganutsistem dwipartai. Sistem ini akan menjadi tembok besar yang efektif mencegah aktor-aktor politik yang beraliran ideologi radikal masuk kearena politik. Selain itu, dengan sistem dwipartai, akan mendorong terjadinya moderasi, untuk mendapatkan dukungan politik lebih luas darimasyarakat.Ketiga, kombinasi presidensial dan multipartisme lebih menyulitkankarena sulitnya membangun koalisi antarpartai. Koalisi multipartai dalamsistem parlementer berbeda dengan koalisi antarpartai dalam sistempresidensial dalam beberapa hal pokok. Pertama, di dalam sistemparlementer, koalisi partai-partai yang memilih kepala pemerintahan dananggota kabinet tetap bertanggung jawab untuk memberi dukungan terus-menerus kepada pemerintahan yang terbentuk. Sedangkan dalam

Activity (3)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
MelLa nu'ARy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->