Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
SNA2010 Seminar HSA Rontoknya Mitos Karakter Bangsa

SNA2010 Seminar HSA Rontoknya Mitos Karakter Bangsa

Ratings: (0)|Views: 83 |Likes:

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Bintang Y. Soepoetro on Aug 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/31/2012

pdf

text

original

 
 
SARASEHAN
 
NASIONAL
 
 ANTROPOLOGI
 
2010
1
 
“Re‐invensi Antropologi Indonesia di EraDemokrasi dan Globalisasi”
Cisarua, 21‐23 Juli 2010
SEMINAR
 
 ANTROPOLOGI
 
TERAPAN
 
 Antropologi
 
dalam
 
Lintasan
 
Pembangunan
 
Indonesia”
 
RONTOKNYA
 
MITOS
 
KARAKTER
 
BANGSA
 
INDONESIA
 
-
SEBUAH
 
TAFSIR
 
 ANTROPOLOGIS
-
HEDDY 
 
SHRI
 
 AHIMSA
-
PUTRA
 
 ANTROPOLOGI
 
BUDAYA
 
FAKULTAS
 
ILMU
 
BUDAYA,
 
UNIVERSITAS
 
GAJAH
 
MADA
 
1
 
Copyright of Forum Kajian Antropologi Indonesia, 2010. This publication is a copyright and remains the intellectual property of Forum Kajian Antropologi Indonesia and its writer. No part of it may be reproduced by any means without prior written permission of Forum Kajian Antropologi Indonesia and the writer 
 
 
 
1
RONTOKNYA MITOSKARAKTER BANGSA INDONESIA
- SEBUAH TAFSIR ANTROPOLOGIS -
HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRAANTROPOLOGI BUDAYAFAKULTAS ILMU BUDAYA1. PENGANTAR
Masalah karakter bangsa kembali menjadi salah satu topik hangat dalam pembica-raanmengenai keadaan masyarakat dan negara Indonesia di masa kini. Ada tiga pola palingtidak, yang dapat kita tengarai dari isi pembicaraan di situ. Pola pertama terda-pat padapembicaraan informal di sebagian kalangan yang mengeluhkan dan merasa prihatin denganterjadinya kemerosotan pada moral, akhlak dan karakter bangsa In-donesia sebagaimanatercermin dari berita-berita dalam media massa. Namun, mereka merasa tidak dapat berbuatapa-apa. Pola kedua berisi pembicaraan yang lebih meng-arah pada mengeluhkan dankemudian mencela, dan bahkan menertawakan moral dan karakter bangsa Indonesia yangbertambah buruk tersebut (pembicaraan sebagian an-tropolog termasuk dalam kategori ini).Pada kalangan yang lain lagi, terutama di ka-langan ilmuwan (dan tentu saja di kalanganahli antropologi Indonesia), birokrat dan budayawan pembicaraan terlihat lebih serius. Disini isi pembicaraan bukan lagi hanya keluhan, keprihatinan, celaan atau kesinisan, tetapi juga cetusan-cetusan pemikiran tentang bagaimana karakter yang buruk tersebut sebaiknyadiubah, sehingga menjadi lebih baik.Dalam makalah ini saya mencoba untuk memahami munculnya berbagai variasi wa-canatentang karakter bangsa Indonesia di atas, dengan menempatkannya dalam kon-teks tekno-sosio-kultural masyarakat Indonesia di masa kini. Dari pemahaman ini bisa saja kemudianmuncul pemikiran-pemikiran tentang siasat atau strategi yang sebaiknya diambil untukmembangun atau mewujudkan karakter bangsa yang diinginkan, tetapi bisa juga sebaliknya,yakni pemikiran tentang tidak perlunya masalah karakter bangsa tersebut terlalu dirisaukan.
2. ANTROPOLOGI DAN KARAKTER (SUKU)BANGSA
Masalah karakter bangsa sebenarnya bukan masalah baru dalam antropologi. Sa-lah satutopik yang muncul dalam perbincangan antropologi di awal kemunculannya ti-dak lainadalah soal karakter bangsa tersebut. Bangsa ketika itu lebih banyak dimaknai sebagai’sukubangsa’, bukan ’nation’. Etnologi (
ethnology, ethnologie
) -yang merupa-kan istilah lainuntuk antropologi- adalah ilmu tentang bangsa dalam arti sukubangsa. Deskripsi yangdiberikan oleh para penjelajah (
explorer 
), pengelana (
traveler)
, missio-naris, dan pegawakolonial mengenai suku-sukubangsa yang mereka temui biasanya berisi juga deskripsitentang sifat-sifat.watak atau karakter yang umum terlihat pada warga sukubangsa tersebut.Sebagaimana kita pernah ingat, Ruth Benedict -ahli antropologi Amerika Serikat-membuka lembaran baru wacana mengenai karakter suku-sukubangsa di kalangan ahliantropologi ketika dia menulis tentang sifat atau ciri-ciri watak beberapa sukubangsa didunia dalam bukunya
Patterns of Culture
. Dari studinya mengenai etnografi sukubang-satersebut Benedict sampai pada rumusan mengenai ciri-ciri watak suatu sukubangsa. Adasukubangsa yang kemudian disebutnya tipe Dyonisian, ada pula yang disebutnya tipeApollonian. Buku yang pernah populer di Amerika tersebut kemudian juga diterje-mahkanke bahasa Indonesia, menjadi
Pola-Pola Kebudayaan
. Sayangnya, buku Be-nedict ini tidakpernah menjadi populer di kalangan ahli antropologi maupun kalangan awam d Indonesia.Setelah studinya mengenai watak-watak sukubangsa tersebut, Benedict juga mela-kukanstudi mengenai watak sebuah bangsa, yakni bangsa Jepang. Studi yang dida-sarkan pada
 
 
2
berbagai data kebudayaan dan etnografi tentang orang Jepang yang ber-hasil diperolehtanpa melalui penelitian lapangan ini kemudian menghasilkan sebuah buku berjudul
TheChrysantemum and the Sword
(
Bunga Sakura dan Samurai
). Buku Benedict inilah sebenarnyabuku yang sangat relevan untuk perbincangan tentang wa-tak atau karakter bangsa denganperspektif antropologi.Dari buku-buku inilah kemudian muncul sebuah aliran pemikiran atau paradigma da-lam antropologi yang dikenal sebagai aliran
Culture and Personality
(Kebudayaan danKepribadian) atau
Culture Personality
(Kepribadian Kebudayaan). Di sini ada anggapanbahwa sebuah masyarakat atau kebudayaan itu dapat memiliki ”kepribadian” tertentusebagaimana halnya individu. Anggapan ini didasarkan pada fakta bahwa suatu ma-syarakat pada dasarnya terdiri dari individu-individu. Individu-individu ini memiliki ke-pribadian yang mirip satu sama lain, sebagaimana terlihat dari berbagai pola perilaku dantindakan mereka sehari-hari. Kepribadian individu-individu ini kemudian juga me-wujuddalam kebudayaan mereka, sehingga kebudayaan mereka kemudian terlihat ju-ga memilikicorak tertentu, yang berbeda dengan corak kebudayaan yang lain.Telaah lebih lanjut mengenai hubungan antara corak kebudayaan dan kepribadiantersebut membawa sejumlah ahli antropologi yang berminat pada bidang tersebut padakajian mengenai proses terbentuknya corak-corak kepribadian, yang kemudian meng-hasilkan corak kepribadian dari sebuah kebudayaan atau sukubangsa. Dari sinilah lahirkemudian berbagai penelitian mengenai proses-proses sosialisasi anak-anak dalam keluarga,sebagaimana yang dilakukan oleh Cora du Bois di kalangan orang Alor dan dilakukan olehMargaret Mead di kalangan orang Bali. Pandangan mengenai adanya hubungan antaracorak kepribadian dan proses sosialisasi ini pula yang tampaknya telah mendorong HildredGeertz meneliti mengenai keluarga Jawa dengan fokus pada proses pendewasaan anak-anakdalam masyarakat Jawa, yang hasilnya kemudian di-bukukan menjadi
The Javanese Family
,Keluarga Jawa. Minat untuk mempelajari hu-bungan antara corak kepribadian dankebudayaan itu pula yang kemudian melahirkan satu spesialisasi baru dalam antropologi,yang kemudian dikenal sebagai antropologi psikologi.Bidang antropologi psikologi ini pernah menjadi populer di kalangan mahasiswa an-tropologi Indonesia di pertangahan tahun 1970an dan awal 1980an. Ahli antropologi In-donesia yang kemudian mendalam bidang ini adalah James Danandjaja, sebagaimanaterlihat dengan cukup jelas dalam disertasinya mengenai petani Trunyan di Bali. Dalambuku yang berasal dari disertasi ini Danandjaja memaparkan proses sosialisasi yang ada dikalangan anak-anak Trunyan. Pengaruh filsafat positivisme dari pembimbingnya yakniprof.Koentjaraningrat, membuat James Danandjaja kemudian banyak mengguna-kanmetode penelitian kuantitatif. Akibatnya, sisi tafsiriah sebagaimana yang terlihat pada kajianRuth Benedict kurang terlihat jejaknya di situ. Meskipun demikian, kajian yang dilakukanoleh Danandjaja ini perlu diakui sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembanganantropologi di Indonesia, walaupun penancapan tonggak antro-pologi psikologi tersebutternyata tidak diikuti oleh penancapan tonggak-tonggak beri-kutnya oleh ahli antropologiIndonesia yang lain. Tonggak keilmuan berupa sebuah et-nografi tebal berjudul
PetaniTrunyan
tersebut merupakan tonggak yang menunjukkan bahwa embrio kajian watak(suku)bangsa sebenarnya pernah ada dalam antropologi di Indonesia. Entah mengapa minatini kemudian semakin lama semakin pudar, dan kini tampaknya hilang sama sekali darikalangan ahli antropologi Indonesia.Hilangnya minat terhadap kajian tentang sosialisasi anak, dan hubungannya denganpembentukan kepribadian, dan watak (suku)bangsa yang semula tidak begitu dirasa-kan,bahkan juga tidak disedihkan, ini baru terasa ketka antropologi Indonesia diminta berbicaramengenai karakter bangsa, watak bangsa, sebagaimana yang terjadi seka-rang. Saya merasa -mudah-mudahan ini hanya perasaan saya sendiri saja- bahwa an-tropologi Indonesiamenjadi terlihat tidak siap sama sekali untuk membahas masalah tersebut. Padahal, dikalangan ahli antropologi di Barat (baca: Amerika Serikat) antro-pologi psikologi justru

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->